Total Tayangan Halaman

Kamis, 01 September 2011

Di Balik Gelombang Senja

1. Tentang Farah
Langit mulai terang, fajar telah berlalu sejak lalu, tapi hawa di sekitar masjid berkubah biru itu tetap teramat dingin, seakan ingin membekukan hati para jama’ahnya. Dalam masjid itu sesosok gadis manis tengah mengadu pada Tuhan-Nya. Ia duduk dengan menundukkan kepalanya, khidmat. Ia tak bergeming, hanya sesekali bibirnya bergerak melafadzkan kalimat Ilahi.
Dia telah lama terduduk diatas sajadah berwarna merah muda itu. Raut wajah gadis itu teramat gelisah. Semakin lama, tetes-tetes air jatuh dari sela-sela kelopak mata indahnya. Ia teringat segala dosa dan kesalahannya selama 25 tahun ia hidup. Ia berharap Tuhan-Nya benar-benar mengampuninya.
Ibunya sering berkata suatu saat nanti ia pasti akan hidup jauh dari kampung halamannya seperti saat ini karena itu ia harus berhati-hati mengambil sikap. Sebaik-baiknya manusia pasti mempunyai kesalahan kecuali Rasulullah SAW. Tak ada gading yang tak retak. Begitulah yang terjadi sekarang, hidupnya telah lama terjerumus, ya, karena ia sama sekali tidak mengindahkan perkataan ibunya.
Dahulu hidupnya teramat bahagia, ia bahkan tak pernah terlihat menangis. Kedua orangtuanya masih hidup dan sehat, hartanya berlimpah, prestasinya amat bagus. Ia selalu mendapatkan apa yang ia mau dalam hidupnya. Dulu ia tak pernah meninggalkan shalat bahkan ia tak lupa untuk selalu bershalawat. Hidupnya sangat tentram dan bahagia.
Tapi kini, semua berubah 360 derajat, orangtuanya telah meninggal dunia. Ayahnya terkena serangan jantung saat ia lulus SMA, sedangkan ibunya yang tak kuat menerima kenyataan, menderita struk hingga ia meninggal setahun yang lalu. Hartanya lama-lama habis untuk membiayai kuliahnya dan kebutuhannya yang lain. Bertahun-tahun hidup di bawah kerja keras kedua orang tuanya membuatnya tak bisa mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri.
Ia tak kuat. Ia pun menjadi stress. Hampir saja ia gila karena cobaan yang terus datang padanya. Ia terus berdoa pada Allah. Berharap Ia mempermudah bahkan membantu hidupnya. Tapi Allah tidak akan mengubah nasib seseorang sebelum orang itu mengubah hidupnya sendiri. Do’a tidak akan terkabul tanpa usaha. Ia menderita tapi tak dapat berbuat apa-apa.
Suatu hari ia bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang telah menjerumuskan dirinya, lelaki yang menawarinya pekerjaan yang amat dimurkai Tuhannya. Lelaki yang telah menodainya, yang telah membuat ia lupa pada Tuhannya. Lelaki itu membuatnya menjadi seorang wanita yang teramat rendah, menjadi seorang wanita penghibur.
Ia masih ingat saat bertemu dengan lelaki itu. Saat itu ia tengah termenung di bawah pohon rindang, memikirkan nasibnya di kemudian hari. Tiba-tiba laki-laki itu datang. Ia tersenyum ramah padanya. Lalu sekonyong-konyong, ia menawarkan pekerjaan itu padanya dengan ucapan yang teramat indah.
“Ngapain kamu susah-susah cari kerja, kamu itu cantik Farah, kamu tidak perlu susah payah mengeluarkan keringatmu untuk mencari kerja tho pada akhirnya kamu tidak akan dapat juga. Kamu itu ndak bisa cari kerja, Far, bagaimana kalau kamu terima tawaranku, kamu kerja di tempatku, di sana kamu tidak akan lelah, tidak akan capek, dan pekerjaan ini sangat mudah dan menghasilkan uang yang banyak, bagaimana Far? Kamu mau,kan ikut dan bekerja denganku? Terima saja tawaranku ini Far” ucap lelaki itu dahulu.
Saat itu ia masih lugu, ia masih tak mengerti kejam dan buasnya dunia. Maka ia percaya saja dengan lelaki bernama Abraham itu. Lelaki yang menurutnya baik dan sangat perduli padanya.
Sekian lama ia diperkejakan oleh Abraham untuk melayani berpuluh-puluh laki-laki bejat sampai akhirnya ia dibeli olah Aram, seorang tengkulak yang sama sekali tak punya akhlak. Akhlaknya benar-benar nol, tidak ada. Aram tidak menikahinya, tidak pula membebaskannya dari penderitaan, dia malah semakin menambah penderitaannya dengan menjadikannya alat untuk menyenangannya saja. Aram tak segan untuk menyiksanya bahkan sudah teramat sering ia memukulnya dan memperlakukannya dengan kejam jika ia melawannya.
Ia sudah tak bisa berbuat apapun. Ia hanya dapat menangis. Akhirnya ia kembali mendekatkan diri pada-Nya, pada Tuhannya, satu-satunya tempatnya untuk mengadu, satu-satunya tempat ia berkeluh kesah, satu-satunnya tempat ia memohon ampun atas semua kesalahan dan ribuan dosanya yang mungkin sulit tuk dimaafkan. Ia merasa ia sudah amat jauh tersesat bahkan awalnya ia malu tuk memohon maaf pada-Nya.
Matahari mulai meninggi, cahayanya mulai menyilaukan. Farah bangkit dari duduknya dan pergi berwudhu setelah itu ia kembali ke atas sajadahnya untuk memulai shalat Dhuha.
Dalam shalatnya, ia bersujud dengan khidmat dan sangat amat lama. Dalam sujudnya, ia kembali menangis, mengadukannya semuanya pada Tuhannya. Air matanya mengalir berderai-derai, isak tangisnya semakin lama semakin memilukan.
Setelah selesai berdo’a, ia bangkit dari sujudnya, ia selesaikan shalatnya dengan salam ke kanan dan ke kiri. Lalu ia kembali berdo’a dengan khusyu’. Setengah menit kemudian, Farah melepas kain maukenanya. Ia teringat akan Aram. Ia pasti akan disiksa dan dipukul oleh Aram tuk yang kesekian kalinya jika ia tidak pulang ke rumah Aram. Ia melipat maukenanya lalu bergegas pergi.
∙∙∙
Farah membuka pintu rumah Aram dengan hati-hati, ia takut jika Aram melihatnya pulang. Ia berjalan masuk mengendap-endap, menahan kesunyian dalam rumah itu. Setapak demi setapak untuk menuju kamarnya yang disediakan Aram.
“Darimana kamu, Farah?” Tiba-tiba sebuah suara dari belakang Farah mengagetkannya. Ia memutar balik tubuhnya. Ia mendapati sosok Aram tengah berdiri dengan wajag dingin. Ia bergidik ngeri tapi juga merasa mual dan jijik dengan makhluk di hadapannya itu. Ingin rasanya ia menikam mati lelaki biadab yang telah memperlakukannya dengan semena-mena itu. Farah menahan nafas. Mengatur ucapan untuk melawan lelaki itu.
“ Kamu itu enggak punya mulut hah! Aku itu nanya sama kamu Farah, kamu dengar, atau kamu sekarang sudah menjadi tuli hah! Jawab! JAWAB KATAKU!” Suara Aram mulai meninggi. Matanya memerah, marah. Farah masih terdiam. Ia masih mengatur cara untuk melawan lelaki itu. Aram semakin panas. Ia maju selangkah hendak menampar Farah.
Tangan Aram mulai melayang kea rah pipi merah Farah, tapi farah menahan tangan lelaki kurang ajar itu dan mencengkram pergelangan tangannya. Aram meringis. Ia memaksa untuk melepas cengkraman tangannya dan berhasil. Ia menatap Farah dengan amarah yang amat memuncak. Farah tetap bertahan, ia malah mulai menatap tajam lelaki itu.
“Bukan urusan kamu aku mau kemana dan darimana kamu itu bukan siapa-siapa aku dan aku bukan siapa-siapa kamu, aku bisa saja kabur dari rumah ini, kabur dari makhluk biadab seperti kamu, kamu ngerti!, ingat,ya, KAMU BUKAN SIAPA-SIAPA AKU!” Farah akhirnya melawan Aram, wajahnya kini amat marah. Ia lebih berani melawan Aram sekarang. Tapi Aram tak akan pernah mengalah pada Farah. Ia berkacak pinggang lalu tersenyum sinis pada farah.
“Oh, jadi menurut kamu begitu, hahaha, Farah, Farah kamu itu tidak akan bisa lari dariku, dan kamu tidak akan pernah kabur dari rumah ini,ya, kamu tidak akan pernah melakukannya, kamu mau tahu kenapa? Karena kamu tidak akan hidup tanpa aku, Farah, kamu itu tidak bisa apa-apa tanpa aku, haha tenang saja Farah saying, kamu tidak akan kemana-mana karena tahun depan aku akan menikahi kamu dan kamu akan jadi milikku, kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini, tenang saja Farah kita akan menikah, menikah, kamu dengar? Kita akan menikah hahaha─” Aram tertawa puas. Ia pun pergi meninggalkan Farah yang masih berdiri mematung.
Ia kaget luar biasa, ia tak pernah membayangkan ia akan benar-benar menikah dengan lelaki biadab itu. Ia merasa jijik. Perutnya mual membayangkan dirinya dipersunting oleh lelaki macam Aram. Keringat dinginnya menetes membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar muak dengan lelaki itu. Ia benar-benar ingin keluar dari rumah yang lebih mirip neraka baginya.
Farah sangat marah, tapi lagi-lagi ia terjebak dalam kenyataan bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan apapun. Ia teringat kegagalannya yang terus-menerus terjadi saat ia mencaraai pekerjaannya dahulu. Perlahan ia mulai menitikkan ait matanya. Pipinya menjadi hangat karena tetesan-tetesan air matanya yang terus mengalir.
Farah mencoba mengatur diri. Ia bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu ia segera pergi ke kamarnya dan mengambil Al-Qur’an terjemahannya. Satu-persatu ayat i abaca dengan seksama, ia pahami artinya dengan teliti. Tiba-tiba ia menemukan suatu ayat yang membuatnya merinding. Sekujur badannya bergetar membaca arti ayat tersebut. “Sesungguhnya Allah tidak akan pernah memberi cobaan kapada hamba-Nya di luar kemampuannya” ia membaca tafsir ayat tersebut. Sekujur badannya bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang, nafasnya tersengal. Tak terasa bulir-bulir hangat mendesak keluar dari mata indahnya, tangisnya meluap, qolbbunya menangis, terisak-isak bahkan sedu sedan, amat memilukan.
Ia resapi benar-benar tafsir ayat itu, ia benar-benar terkesima atas kuasa-Nya. Allah menunjukkan jalan kepadanya untuk bersabar. Ia teringat akan perkataan seorang ustadz yang ia pernah dengar saat SMA dulu, “Allah akan menolong hamba-Nya yang mau berusaha dan berdo’a kepada-Nya”.
Kata-kata dan tafsir ayat itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Ia mencoba membulatkan tekad. Ia harus keluar dari rumah ini, sekarang, atau tidak aka nada waktu lagi baginya. Ia memperkuat niatnya itu. Hatinya bimbang, tapi ia berusaha menenangkannya. Kata-kata dan tafsir ayat itu seakan menyihirnya. Membuat ia semakin yakin Allah pasti akan membantunya jika ia berusaha. Allah pasti akan memaafkan segala dosa-dosanya jika ia mau bertaubat. Ia ingat tafsir ayat yang pernah i abaca, “sesungguhnya Allah akan memaafkan segala dosa-dosa hambanNya kecuali dosa syirik”. Ia bukan seorang musyrik, ia juag bukan seorang murtad, ia masih muslim, ia masih percaya dengan rukun iman dan rukkun islam, maka setelah mengingat ayat itu, ia semakin yakin Allah pasti akan membantunya. Allah tidak akan pernah menelantarkannya.
Ia mengakhiri bacaan Qur’annya dengan mengucap “shodaqollahul Adzim” , Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Ia sangat yakin dengan ayat yang tadi i abaca, karena Allah sendiri yang menjamin kebenarannya. Ia menutup Al-Qur’annya, lalu merapikan maukena dan sajadahnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, hampir jam 5 sore. Ia menatap keluar jendela. Hari hampir malam. Ia harus cepar bergegas untuk pergi dari rumah ini. Ia harus kabur dari lelaki bejat seperti Arman itu, sejauh-jauhnay hingga ia tak dapat menemukannya.
Ia membuka lemari pekaiannya, ia keluarkan semua baju miliknya. Ia mengambil tas besar, ia susun rapi pakaiannya ke dalam ta situ dengan tergesa-gesa. Ia harus cepat, kalau tidak Arman pasti akan menghalanginya pergi. Setelah menutup tasnya, ia pergi ke ruang kerja Arman. Ia mendapati dompet Arman, ia mengambil uang 3 juta rupiah dari dalamnya sambil memohon ampun pada Allah karena ia telah mencuri, tapi apa boleh buat ia benar-benar memerlukannya. Setelah menutup pintu ruang kerja Arman, ia segera keluar dari pintu belakang, lalu pergi sejauh-jauhnya.