Total Tayangan Halaman

Kamis, 18 Desember 2014

Dalam Doa

Dalam doa kuucap semua cerita
Tentang kau dan senyumanmu
Yang kurindu dalam sendu
Yang kutatap dalam ratap
Dalam doa tanpa sadar kulukis namamu
Walau dengan takut atas cemburu
Yang Ia goreskan dengan tintanya
Dalam takdir yang ditetapkanNya

Bandung, 18 Desember 2014

Senin, 15 Desember 2014

Langgas

Kaki ini ingin berlari
Tangan ini ingin bergerak
Tanpa siapapun
Tanpa peduli apapun
Lekas
Aku ingin langgas!

Bandung, 24 September 2014

Kamis, 11 Desember 2014

Kentara

Bisa kulihat waktu
Detik yang menggeram melewatiku
Membawa dingin dari hembusan angin
Sekilas tak nyata rupanya
Jika kau tak membuka hatimu selebar mungkin
Lalu
Terlihatlah segala apa yang kau lewati
Dari hembusan rindu yang menggebu

Bandung, 11 Desember 2014

Rabu, 10 Desember 2014

Retak

Malam itu kau dan dirinya datang
Membawa satu set pedang
Dengan beribu atribut pelengkapnya
Hanya lalu saja kau melewatiku
Menghampiri sudut tersembunyi
Di lubuk hati yang retak

Bandung, 10 Desember 2014

Lengkara

Dikenangnya lagi mimpi
Tentang dia yang menepi
Lalu bangunlah ia
Dari tidur panjangnya
Terlontar satu kata pilu
Dari bibirnya yang kelu
Ah
Semua bunga itu
Lengkara

Bandung, 24 September 2014

Selasa, 02 Desember 2014

Menjelang Malam

Masihkah ada alasan
Untukku mengharap cahaya di balik awan
Yang mengendapkan segala rindu tentang rembulan
Lalu senyap yang menggantung menulusuri lorong kesendirian
Masih adakah harapan
Bagiku sekadar menatap mentari
Yang menyinari rerumputan berisik di sanubari
Lalu ramai yang mewarnai sisi-sisi gelap harga diri

Bandung, 8 November 2014

teruntuk yang tengah merindukan cahaya, selamat menikmati malam

Jumat, 28 November 2014

Djakarta


Petang itu masih terbayang di benakku
Saat awan di langit menjulang bertanding dengan mahkotamu
Petang itu masih terngiang di telingaku
Saat kicau burung-burung gagak bersautan dengan titahmu
Tempo dahulu
Terekam kisah syahdu di jubah emasmu
Dan kini
Terkirim salam rindu di singgasanamu
Sunda Kelapa

Bandung, 1 November 2014

Kamis, 27 November 2014

Angin

Aku ingin merasakan denyut nadimu bagai angin
Terasa hembusannya, tak mampu kau rasa sentuhannya
Aku ingin menatap matamu bagai angin
Dengan diam menghampiri, lalu gemerisik rindunya
Aku ingin memeluk sendumu bagai angin
Menghilangkan panas, yang kau sendiri tak sadari

Bandung, 27 November 2014

Denting


Menjelang tepat waktu
Jarum dua belas
Saat langit antara pagi dan malam
Sayup denting mengurung suara
Yang hingga tadi bergaung

Bandung, 26 November 2014

Minggu, 16 November 2014

Garis

Ia memutar pensil di tangannya. Raut mukanya terkesan kesal bercampur sedih. Entah apa yang dia pikirkan. Diketuknya meja tulis di hadapannya. Sesekali, ia menghela nafas panjang. Setelah beberapa saat, ia goreskan pensil yang sedari ia pegang di atas meja. Dari satu titik ke titik yang berbeda. Bulan di belakang bingkai jendela mulai tertutup awan, goresan pensilnya pun berhenti di satu titik. Usai merapikan beberapa alat yang berserakan di atas meja, sosok itu pun meninggalkan kursinya.
...
“Pergi!” Seorang wanita setengah baya melempar bantal ke arah seorang pemuda. Kengerian yang sangat terlihat jelas di wajahnya. Pemuda yang dilemparnya hanya pasrah mengambil kembali bantal itu, meletakkannya di atas sofa di dekatnya. Ia mendekati wanita setengah baya tadi. Sekilas, wajahnya tampak sendu, terlihat ingin menangis. Wanita setengah baya itu meringkuk kengerian. Entah apa yang dipikirkannya.
“Bu, ini Ardi, bu,” ujar pemuda itu lembut.
“Pergi! Pergi! Pergi sana”
Lagi-lagi wanita setengah baya itu berteriak ketakutan. Ardi mencoba meraih tangan wanita yang dipanggil ibunya tersebut. Namun, wanita itu menepisnya kasar, ia malah mencoba mengambil vas bunga di meja sebelah kasurnya. Dengan cepat, Ardi mengambil vas bunga tersebut. Ibunya kembali meringkuk ketakutan, mencoba menjauh dari Ardi sekuat tenaganya.
Ardi menghela nafas berat. Ia mulai menjauh dari ibunya perlahan-lahan, berjalan mundur menuju pintu kamar. Barang-barang kecil, seperti kotak perhiasan, bola tangan, patung-patung hiasan meja berserkan di lantai kamar, membuat Ardi sulit mengambil langkah. Hanya patung bunda maria yang masih tegak berdiri di ujung meja di sebelah kasur ibunya. Cahaya kamar yang redup pun semakin membuat Ardi sulit melihat sosok ibunya saat dia menjauh. Ibunya yang entah mengapa merasakan ketakutan yang sangat saat melihat wajahnya. Bahkan, ia berteriak ngeri saat mendengar namanya disebut-sebut kakaknya di depan pintu sebelum ia masuk.
“Baiklah, Bu, Ardi pergi, ya. Ardi minta maaf, Ibu jaga kesehatan, ya.”
Setelah mendengar beberapa isak tangis ketakutan dari ibunya, Ardi menutup pintu kamar itu perlahan. Meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu, sebenarnya membuat Ardi merasa amat bersalah. Namun, apa daya, ia tak mampu memenuhi keinginan Ibunya, ia pun tak mampu membuat Ibunya mengikuti keinginannya.
Di luar kamar ibunya, ketiga kakak Ardi menatapnya penuh cemas dan harap. Ardi hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman pahit. Wajar, ketiga kakaknya terlihat kecewa. Sudah hampir sebulan keadaan ibunya tidak menentu. Emosinya terkadang turun, terkadang naik. Terkadang seperti orang normal, terkadang terlihat ketakutan yang sangat, terlebih ketika kakak-kakakanya menyebut nama Ardi. Memang ini bukanlah salah Ardi, bahkan ibunyalah yang harusnya mengerti Ardi. Seharusnya ibunya yang mengikuti Ardi ke jalan yang memang seharusnya ia tempuh.
“Aku pamit pulang, Kak Reh,” ucap Ardi seraya menggenggam tangan kakak perempuan ketiganya.
“Kamu yakin mau membiarkan ibu seperti itu? Kamu tahu kamu salah, kan, Di?”
“Aku tidak salah, Kak Rehna, aku yakin aku benar, aku mengambil jalan yang benar,”
“Di, bukannya agamamu juga mengajarkan untuk berbakti pada orangtua? Kalau kamu melakukan ini pada ibu, kamu sudah tidak berbakti padanya, Di.”
Ardi menelan ludahnya pahit. Selalu saja masalah ini yang dibahas. Ujian dari keluarganya inilah yang sering kali membuatnya lemah. Namun, Ardi tetap berkeyakinan bahwa ia telah menemukan Tuhan yang sebenarnya, bukan Tuhan yang selama ini dikenalkan keluarganya. Ia yakin ia telah menempuh jalan yang benar, walau apapun tanggapan keluarganya.
“Kamu harus memikirkan Ibu juga, Di.” Ucap kakak laki-laki keduanya. Yohan namanya.
“Semua ini aku lakukan untuk Ibu juga, Kak Han, aku ingin menyelamatkan Ibu dari siksaNya, aku juga inigin menyelamatkan kalian, keluargaku,”
“Kamu terlalu keras kepala, Di!” Kini giliran kakak laki-laki pertamanya yang angkat bicara. Nada tinggi langsung terdengar di telinga Ardi. Kakak pertamanya ini memang orang yang sangat menentang keputusan Ardi.
“Bukan masalah keras kepala, Kak Yan, aku hanya ingin menempuh jalan yang benar, kembali kepada Ia yang menciptakanku,”
“Jalan yang benar itu jalannya bunda maria! Kamu lebih baik pergi tinggalkan rumah ini dan Desa Karo jika tak mau mengakuinya! Lebih baik kau tak anggap kami lagi sebagai keluargamu!”
Rehna dan Yohan mencoba menenangkan Aryan. Ardi menatap kakak pertamanya itu lekat-lekat. Kemarahan sudah menguasai mata Aryan rupanya. Mungkin, inilah saatnya Ardi benar-benar pergi, mencari tempat yang bisa menerimanya. Ia membalikkan badannya setelah menundukan kepalanya sedikit ke arah ketiga kakaknya, menandakan ia masih menghormati mereka. Diambilnya tas ransel di kursi yang terletak tak jauh dari tempat ketiga kakaknya berdiri.
“Aku akan pergi seperti keinginan Kak Aryan, kudoakan agar kalian dan ibu diberi kesehatan olehNya.”
Ketiga kakaknya hanya diam mematung, melihat sosok Ardi yang melewati pintu rumah, lalu pergi dan menjauh dari pekarangan rumah mereka. Aryan menghela nafas berat. Di dalam hatinya, ia tak mau melihat adik bungsunya meninggalkan keluarga kecil itu. Ia tak pernah bermaksud mengusir adiknya, bahkan, awalnya ia tidak menyalahkan keputusan adiknya untuk pindah agama. Lubuk hatinya mengatakan bahwa agama Ardi yang sekaranglah yang benar, Tuhan Ardi lah Tuhan sebenarnya. Entah karena keadaan ibunya, ia pun terbawa emosi untuk mengusir adiknya, meninggalkan rumah dan desa tempat lahirnya itu.
...
Pesawat yang berangkat dari Bandara Kualanamu, Medan, mendarat di bandara Husein Sastranegara. Penerbangan yang lancar dan tidak terhambat, membuat hampir semua penumpang yang turun berwajah senang. Di antara penumpang yang turun dari tangga pesawat satu-persatu, terlihatlah Ardi. Pemuda itu bermuka muram dan bingung. Raut mukanya benar-benar penuh dengan ketakutan dan keterasingan. Bahkan, awan di langit yang cerah saat itu, sama sekali tidak membawa sesirat senyuman di bibirnya.
Bandung memang tempat yang asing baginya. Hampir tiga puluh tahun lebih ia tinggal di Karo, desa kelahirannya yang tentram, kental dengan budaya Sumatera Utara. Terpaksa memang, ia melangkahkan kakinya dari Medan ke Bandung. Semua penat atas ucapan Kakzaknya, Aryan, menggantung di kelopak matanya. Kesenduan dalam matanya lebih sendu dari langit yang mendung. Buktinya, beberapa orang yang lalu lalang di bandara, dapat melihat dengan jelas, lebam di pelupuk mata Ardi. Bukan karena ia dipukul atau disakiti orang, namun karena terlalu banyak menangis sejak pengusiran oleh kakaknya itu. Ia jelas tidak punya tujuan. Entah karena apa juga dia memilih Bandung sebagai kota pelariannya.
Ardi keluar dari pintu bandara dengan membawa ransel di punggungnya. Ya, hanya sebuah ransel yang menjadi bawaannya. Ransel pemberian ibunya saat dulu ia kuliah. Beberapa supir taksi menawarinya tumpangan. Diliriknya dompet di saku kemejanya. Tak cukup uangnya tuk naik taksi. Penghasilan yang ia bawa dari toko kelontong yang dibangunnya di Karo, tak cukup untuk menjadi bekalnya pergi jauh dari rumah. Dilangkahkan kakinya menuju tempat lain. Setelah menaiki angkutan kota yang ia tak tahu menuju kemana, ia turun di depan sebuah rumah sakit. Kembali bingung menghantuinya. Harus kemanakah ia setelah ini?
Beberapa waktu kemudian, sebuah bus kota datang. Bus berwarna biru dengan tulisan Damri di badannya berhenti tepat di depan Rumah Sakit itu. Ia perhatikan tulisan di kepala bus tersebut. Ledeng- Leuwi Panjang. Heran pasti, karena ia tak tahu letak kedua tempat itu. Tapi, ia tetap menaiki bus tersebut, yang ia pun tak tahu akan membawanya kemana.
Di dalam bus tersebut penuh sesak. Hanya kursi belakang bus yang kosong. Pas sekali, kursi tersebut tinggal untuk satu orang. Ia pun hendak duduk di samping gadis berkerudung panjang. Di sebelah gadis itu, ada lelaki bertubuh tegap dan berperawakan lembut dan kalem. Melihat Ardi hendak duduk di samping gadis berkerudung itu, sang lelaki menyuruh gadis itu bertukar tempat duduk dengannya. Ardi hanya merasa heran dalam hatinya. Tak mau ia tanyakan apa sebab mereka bertukar tempat duduk.
“Baru pertama kali ke Bandung, A’?” Ujar lelaki tersebut pada Ardi. Mungkin, ia melihat kebingungan yang sangat di wajah Ardi.
“Iya, Bang, eh, ‘A,” jawab Ardi kikuk. Maklum, ia tidak tahu bahasa Sunda.
“Asalnya dari mana kitu, ‘A?”
“Medan, A’,”
Mendengar jawaban Ardi, lelaki tersebut tampak terkejut.
“Wah, jauh sekali A’, ada urusan apa kitu ti Bandung, teh? Maaf, ya, saya banyak nanya A’,”
Lelaki tersebut sangat santun. Bahkan dari nada bicaranya pun terdengar seperti itu. Ardi tersenyum pahit dan terdiam sejenak mendengar pertanyaan lelaki tersebut.
“Saya diusir dari rumah dan kampung halaman, A’,”
Lagi-lagi lelaki tersebut tampak terkejut. Namun, kali ini tersirat rasa iba di dalam raut wajahnya.
“Sebabnya, A’? Mungkin, kalau saya tahu, saya bisa bantu Aa’,”
Ardi menghela nafas berat. Terasa penat di kepalanya mulai menghantui. Ujian yang dia terima ini memang sulit. Entah karena apa, ia mulai menceritakan kisah hidupnya kepada lelaki tersebut.
“Saya muallaf, A’. Dulu saya beragama Katolik. Keluarga saya sangat fanatik dalam agamanya. Ketika saya masuk Islam, keluarga saya sangat tidak mendukung. Bahkan, satu bulan setelah saya menjadi muslim, ibu saya stres berat. Ia seperti orang gila, ‘A. Emosinya labil. Biasanya ia bertindak normal, namun, jika kakak-kakak saya menyebut nama saya, ia seperti ketakutan. Ia berteriak histeris dan mulai melempari barang-barang di dekatnya. Sudah tiga minggu ini, ibu saya mengurung dirinya di dalam kamar. Mungkin, stresnya sudah benar-benar memuncak. Kakak-kakak saya menyalahkan saya atas apa yang terjadi pada ibu saya. Mereka terus bersikeras memprovokatori saya untuk kembali ke agama saya yang dulu. Namun, saya yakin bahwa agama saya sekaranglah yang sebenarnya bisa menolong ibu saya,”
Mata Ardi terasa panas. Beberapa detik kemudian, satu dua tetes air mengalir dari pelupuk matanya. Ia menahan ceritanya dengan isak tangis sendu. Ah, berat sekali semua ujian dari Tuhannya ini, pikirnya. Lelaki yang tadi bertanya menyuguhkan selembar tisu padanya.
“Terimakasih, A’,”
“Tak apa, A’, lalu kenapa Aa’ bisa ke Bandung,?”
Ardi menghela nafas berat lagi.
“Saya diusir dari rumah A’ karena keyakinan saya untuk tidak kembali pada agama saya dahulu. Kakak pertama saya mengusir saya dan menyuruh saya tidak menganggap mereka keluarga lagi. Entah karena keyakinan saya yang kuat, atau memang hidayah Allah, saya langsung pergi ke Kualanamu dan naik pesawat menuju Bandung,”
“Aa’ ingin belajar Islam lebih dalam dan meyakinkan keluarga Aa’?”
“Ingin A’, sangat ingin,”
“Saya bisa bantu Aa’ kalau mau, nama saya Miftah,” lelaki tersebut tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya pada Ardi.
“Saya Ardian, A’,”
“Kalau Aa’ mau, Aa’ ikut saja dengan saya, nanti saya kenalkan Aa’ dengan pengurus masjid di dekat rumah saya. Insya Allah di masjid itu, Aa’ bisa menumpang tinggal.”
“Terimakasih, A’, terimakasih banyak.”
Pertemuan Ardi dengan Miftah mungkin menjadi awal kisah baru dalam hidup Ardi. ia akhirnya menemukan tempat ia harus kembali. Menguatkan keinginan dan keimanannya untuk meyakinkan kedua orangtuanya.
Angin berdesir halus, masuk melewati jendela bus yang ditumpangi Ardi. Suara deru bus yang bising namun menentramkan bagi Ardi menemaninya selama perjalanan. Perjalanan menuju hidayahNya yang menggoreskan keyakinan dalam dirinya.
(Bersambung)


Selasa, 27 Mei 2014

Menggapai Mawaddah Dalam Bimbingan Rasulullah

Jika ingin mendapat suami sholeh seperti Ali bin Abi Thalib, maka jadilah Fathimah binti Muhammad, begitupun sebaliknya, jika ingin mendapat istri sholehah seperti Fathimah binti Muhammad, maka jadilah Ali bin Abi Thalib. Pernah mendengar ungkapa seperti itu, SAHABAT? Setuju sama ungkapan itu? Kalau setuju, pernah bertanya dalam hati “kenapa, sih, dengan rumah tangga Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad?” atau “kenapa mereka dijadikan kiasan rumah tangga penuh cinta ideal?” atau “bagaimana, sih, latar belakang pasangan suami istri tersebut hingga rumah tangganya dikatakan sakinah, penuh mawaddah dan warrahmah?” Jika SAHABAT pernah bertanya-tanya seperti itu jawabannya hanya satu. Semua itu karena rumah tangga mereka dibimbing oleh Rasulullah. “Lho? Kok bisa?”
Fathimah binti Muhammad sebagai putri Rasulullah pasti sangat mengetahui rumah tangga beliau, sikap beliau terhadap istri-istrinya, terhadap anak-anaknya dan kelembutannya kepada keluarganya. Begitupun Ali bin Abi Thalib sebagai keponakan Rasulullah dan sahabat Rasulullah serta pernah diasuh oleh beliau pasti mengetahui hal tersebut.
Rasulullah adalah sosok sempurna sebagai suami, sebagai ayah, dan sebagai seorang pemimpin keluarga. Keharmonisan hubungan beliau dengan keluarganya sangat terlihat dari hadits-hadits beliau, baik itu ucapan ataupun perbuatan.
Tirmidzi meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)-ku.” Hadits tersebut menekankan kepada kita perintah untuk memperlakukan keluarga dengan baik.
Saat Rasulullah menerima wahyu pertama, beliau sangat ketakutan dan gemetar ketika turun dari gua hira dan sampai di rumahnya. Dengan kelembutannya, Khodijah menenangkan Rasulullah yang sedang panik dan menyelemutinya. Bahkan saat dakwah dan ucapan Rasulullah tidak dipercaya orang lain, Khodijah adalah orang yang pertama mempercayainya.
Rasulullah selalu memanggil Khodijah dengan panggilan “Ya Habibati” yang berarti “cintaku”. Beliau juga tidak pernah menduakan Khodijah. Setelah Khodijah wafat, barulah Rasulullah menikah kembali.
Selain berlaku lemah lembut terhadap istrinya, beliau juga tidak mau menyusahkan istrinya dan selalu menghargai istrinya serta selalu tanpa segan membantu istrinya. Beliau selalu menambal bajunya sendiri jika koyak tanpa memberitahu istrinya, beliau juga selalu tersenyum dan tanpa segan menyisingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya menyiapkan makanan ketika beliau pulang dan makanan belum siap.
Rasulullah juga memperlakukan anaknya dengan baik. Saat Fathimah binti Muhammad telah menginjak umur siap menikah, banyak yang melamarnya, namun Rasulullah menolaknya, dengan berharap Ali bin Abi Thalib yang melamarnya. Mengapa demikian? Karena Rasulullah mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib berkehendak melamar Fathimah, dan Fathimah pun hanya ingin dilamar oleh Ali bin Abi Thalib.
Setelah Fathimah menikah dengan Ali, Rasulullah membimbing langsung rumah tangga mereka. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Ali merasa kasihan terhadap putri Abu Jahal yag seorang muslim, sedangkan ayahnya kafir, lalu Ali berkehendak untuk melamarnya dengan niat memerdekakannya dari ayahnya. Namun Rasulullah melarang hal itu, karena beliau menganggap Fathimah adalah penggalan dirinya, siapapun yang menyakiti Fathimah, berarti menyakitinya juga.
Ali bin Abi Thalib bukanlah pria kaya dan terkenal, namun adab dan ilmunya sangat tinggi. Saat meminang Fatimah, ia menjual sebagian hartanya bahkan rompi perangnya, karena itu rumah tangga Ali dan Fathimah sangatlah sederhana namun penuh mawaddah karena diberkahi Allah dan mendapat bimbinga Rasulullah secara langsung.
Salman Al Farisi meriwayatkan, bahwa suatu ketika Fatimah ra. berkunjung kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, kedua mata Fatimah mencucurkan air mata dan roman mukanya berubah. Kemudian Nabi SAW bertanya: ” Mengapa engkau hai anakku?” Fatimah ra. menjawab: “Wahai Ayahku, tadi malam aku dan Ali bergurau, dan timbul percakapan yang menyebabkan dia marah kepadaku, karena kata-kata yang terlontar dari mulutku. Ketika aku melihat bahwa Ia marah, aku menyesal dan merasa susah, kemudian aku berkata kepadanya :” Wahai kekasihku, kesayanganku, relakanlah akan kesalahanku, seraya aku mengelilinginya dan merayunya sebanyak tujuh puluh dua kali, sehingga dia menjadi rela dan tertawa kepadaku dengan segala kerelaannya, sedang saya tetap merasa takut kepada Tuhanku.”
Subhanallah, betapa indahnya menggapai mawaddah dalam bimbingan Rasulullah. Nah, SAHABAT, bagi yang sudah menjalani rumah tangga, jalanilah dengan penuh kesetiaan, kepercayaan dan kelembutan seperti rumah tangga Rasulullah, dan Ali-Fathimah. Bagi SAHABAT yang akan membina rumah tangga, mari perbaiki diri agar dapat menggapai mawaddah nantinya.

Selasa, 25 Februari 2014

Rangka

Waktu bukan lagi berdetak
Malah berjalan pun tidak
Semua kosong tanpa rangka
Bahkan hilang jiwa
Ini masa sudah tak berangka
Hanya malang silih ganti datang
Hanya penyakit menggantung diam
Ini waktu sudah tak lagi berdetik
Tak punya angka walau setitik
Waktu bukan lagi ditunggu
Malah lebih dahulu
Jiwa tanpa rangka
Malah ruh pun hilang sudah
Entah terasa apa ia berjiwa
Ini masa hancurlah
Hanya ribu tubuh tak berangka

Sabtu, 15 Februari 2014

Usahaku Untukmu

Langkah tak bersuara
Gerak masih usaha
Di balik jiwa yang bertanya
Jika kau tak bangga
Apalah guna asa
Hanya patah dua kata
Lalu terkirimlah ragu
Dengan penuh cemburu
Jika kau hanya bisu
Apalah mimpi hidupku
Lalu mulai tangis sedu
Dari hati merindu
Tapi kini terbitlah tawa
Karna khawatir kau rasa
Membuat alasan untuk terus usaha
Untukmu yang mengenaliku dunia

Simponi

Tak tahulah ini
Masih alunan hati
Yang mencari
Cari kanan kiri
Hanya bayang temani
Hampir tak sadar Kau menemani
Ilahi
Simponi pun berbunyi
Satu dua nada nurani
Menggema tak henti
Dikau mengerti pasti
Selo alto kunci hati
Dengan sesal mengirimi
Nada do'a mohon diri
Dikau mendengar pasti
Ribu dentingan mengamini
Simponi untukmu Ilahi

Jumat, 24 Januari 2014

Keluh Si Kucing

Lapar
Hampir terkapar
Endus sana
Endus sini
Hanya helai daun sisa
Jilat sana
Jilat sini
Bau hijau kena air
Terasa
Ah aku rindu lain
Bau amis sedap
Lirik sana
Lirik sini
Tak ada sisa Si Ikan
Ah manusia
Teganya
Bahkan seruas tulang
Tak sudi dibuang
Bahkan daging basi
Tak dapat kurasai
Tetaplah perut kosong
Yang kubawa pergi

Lah?

Mega Mega
Perantara senja
Buat Si sangka
Makin menyangka
Lah?
Mana mungkin terima
Walau tanya
Izin Si mpunya istana
Lah?
Berucap temu
Tak sering pula
Kini kirim temu
Rupanya
Lah?
Mana mau
Sibuklah perisainya
Biar sadar
Sudah lama

Solois

Di tengah pengasingan
Kota orang asing
Rindu
Tanpa malu
Nun jauh disitu
Kenang emak ayah gerutu
Solois
Asing
Menyendiri
Dalam keasingan tak rapuh
Solois
Itulah aku
Topeng bahagia
Hidup berdebu
Hayal berganti
Mutiara biru