Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 April 2013

Bersekolah di Mesir

Secara historis, sistem pendidikan di Mesir yang berlaku di sekolah-sekolahnya dipengaruhi oleh modernisasi pendidikan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pendidikan mesir, seperti Muhammad Ali Pasha, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh. Oleh karena itu, sitem pendidikan di Mesir dibagi dalam empat tingkat pendidikan, yaitu Ibtidha’i (Sekolah Dasar), I’dadi (Sekolah Menengah Pertama, Tsanawiyah ‘Ammah (Sekolah Menengah Atas), dan ‘Aliyah ( Pendidikan Tinggi). Walaupun di Mesir juga ada TK (Taman Kanak-kanak) tapi itu tidak termasuk dalam sistem pendidikan dasar. Pengajaran di TK Mesir hampir serupa dengan TK di Indonesia. Sedangkan untuk sekolah dasarnya (Ibda’i) hanya terdiri dari lima tingkatan kelas, kelas satu sampai tiga memuat mata pelajaran sesuai usia, yang berisi kesenian, kecerdasan berhitung dan bahasa Arab, serta agama, sedangkan untuk kelas empat dan lima ditambahkan dengan mata pelajaran biologi, sejarah, dan Bahasa Inggris.
Untuk SMP (I’dadi), siswa yang boleh naik ke jenjang ini, harus memiliki nila banding semua pelajaran berjumlah 350, dan perlu diketahui bahwa nilai banding pelajaran di Mesir ditentukan oleh Departemen Pendidikan Mesir bukan oleh sekolah yang bersangkutan. Setelah lulus I’dadi, siswa yang memiliki nilai tinggi, yaitu diatas 185, dapat melanjukan ke SMU ( Tsanawiyah ‘Ammah) sedangkan yang tidak dapat mencapai nilai 185, atau diantara 165-185 akan masuk ke Sekolah Menengah Perdangan, dan yang dibawah itu dapat memilih Sekolah Mengangah Perindustrian.
SMU di Mesir memiliki sistem pemilihan mata pelajaran. Setiap siswa kelas 1 SMU diwajibkan memilih mata pelajaran antara IPA, Matematika, atau Sastra, masing-masing mata pelajaran tersebut didukung oleh pelajaran- pelajaran yang wajib dikuasai, seperti IPA, harus menguasai biologi, kimia, dan fisika, sedangkan Matematika wajib menguasai kimia, matematika dan fisika, da untuk sastra harus menguasai geografi, filsafat, ilmu kemasyarakatan, sejarah, dan ekonomi.
Ketika siswa naik ke jenjang Pendidikan Tinggi, akademinya sudah ditentukan dari SMU, misalnya siswa yang mengambil mata pelajaran IPA, akan masuk ke akademi kedokteran, sedangkan siswa yang mengambil mata pelajaran satra akan masuk ke akademi musik, perdagangan, atau ekonomi.
Di Mesir sendiri, terdapat Universitas-Universitas yang terkenal, seperti Universitas Al-Azhar yang merupakan universitas tertua kedua di dunia, tapi Universitas Al-Azhar sendiri menempati peringkat ke- 4.628 universitas terbaik di seluruh dunia, masih kalah dengan Universitas Gadjah Mada yang menduduki peringkat ke- 440 dan Universitas Pendidikan Indonesia yang menduduki peringkat ke-1.108 (peringkat ini berdasarkan webometrics bulan Januari tahun 2013).
Universitas yang terbaik pertama di Mesir yaitu Universitas Kairo yang berada di peringkat ke- 1.203 universitas terbaik di dunia. Universitas-universitas Mesir lain yang pernah masuk dalam peringkat Universitas terbaik di dunia yaitu Universitas Alexandria dan Ain Shams. Meskipun begitu, Mesir menduduki peringkat HDI (Human Development Index) ke-112, lebih unggul dari Indonesia yang menduduki peringkat HDI ke-121. Untuk biaya pendidikan di Mesir, terutama di sekolah nageri dibiayai oleh pemerintah dan untuk sekolah swasta mendapat subsidi dari pemerintah.
Di kalangan Mahasiswa Mesir juga terdapat himpunan-himpunan mahasiswa, tapi umumnya himpunan-himpunan berdasarkan asal daerah mereka, seperti Himpunan Mahasiswa Indonesia di Mesir. Selain himpunan mahasiswa, terdapat juga gerakan intra kampus, dan gerakan ekstra kampus. Untuk intra kampus, di Mesir terdapat Ittihad Thulab Misr, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa gabungan dari 20 Universitas di Mesir, yang Sekretaris Jenderalnya yaitu Ahmad Umar (Ketua BEM Universitas Zaqaziq & Mahasiswa IM). Sedangkan gerakan ekstra kampus di Mesir sangat beragam, seperti Jil Nashr Al-Mansyud, yang merupakan gerakan mahasiswa-mahasiswa Ikhwanul Muslimin.
Sekolah-sekolah di Mesir sangat kental dengan islam, ini terbukti dengan terpisahnya sekolah putri dengan sekolah putra, juga sistem pendidikannya yang mewajibkan siswa-siswa dari jenjang TK untuk menghafal Al-Qur’an. Karena itu, syarat S1 di Mesir adalah hafal 15 Juz Al-Qur’an, untuk S2 hafal seluruh Al-Qur’an, dan untuk S3 harus mengulang hafalan Al-Qur’an tersebut.

Jumat, 05 April 2013

Kupu-kupu Kertas

Ia terbang terus meninggi
Menuju matahari
Kepak sayapnya mulai perih terperi
Menahan segala cobaan tak tertandingi
Ia terus terbang tinggi
Tak peduli nyawa hampir mati
Tak peduli sayapnya nyeri
Ia picingkan mata tetapkan hati
Tentukan sasaran tuk bermimpi
Aku dan kupu-kupu terbang tinggi
Menuju taman wangi
Menghisap semua sari-sari
Walau angin besar menghalau kami
Aku dan kupu-kupu terus terbang tinggi
Menuju puncak kelopak tertinggi

Mengenal Keywordnya Sukses

‘Man jadda wajada’, ‘barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil’. Kalian sudah sering mendengar pepatah Arab yang satu ini, kan, sob. Nah, benar sekali pepatah itu. Bersungguh-sungguh itu adalah kunci untuk mencapai kesuksesan, lho!
Kenapa? Karena jika kita mengerjakan pekerjaan apa pun dengan bersungguh-sungguh, pasti pekerjaan itu akan selesai dengan cepat dan menghasilkan hasil yang baik. Tapi ternyata bersungguh-sungguh sulit untuk dilakukan. Terkadang banyak dari kita, terbelenggu oleh musuh sungguh-sungguh yaitu malas. Jadi bagaimana, dong, cara untuk istiqomah dalam bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu?
Rasululllah SAW, pernah bersabda, yang artinya : "Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar manusia yaitu kesehatan dan kelapangan waktu." (Riwayat Bukhari).
Kesehatan dan kelapangan waktu adalah nikmat yang sangat diharapkan oleh setiap manusia. Tapi, dalam hal ini sering kali manusia tidak memakai kedua nikmat itu dengan sebaik mungkin. Ketika sehat, banyak manusia yang hanya menyia-nyiakan kesehatannya dengan melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Ketika ia mendapat kelapangan waktu, banyak dari mereka menunda-nunda pekerjaan, tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya dan menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.
Jika kita melihat ulama terdahulu, mereka selalu mempergunakan dua kenikmatan tadi dengan sebaik mungkin. Mereka selalu mempergunakan kesehatan dan kelapangan waktu mereka untuk hal-hal yang berguna. Mereka menuntut ilmu, beribadah kepada Allah, bekerja untuk keseharian mereka, semuanya mereka lakukan dengan sungguh-sungguh, maka tak heran, jika banyak dari mereka menjadi orang-orang besar yang namanya dicatat sejarah, tidak heran juga, banyak dari mereka menghasilkan berbagai karya yang sangat berpengaruh dalam berbagai bidang ilmu, misalnya Ibnu Sina, karyanya yang berjudul Qanun fi Thib, menjadi rujukan bagi ilmu kedokteran di seluruh dunia, bahkan ia terkenal dengan sebutan ‘Bapak Kedokteran’ dan dikenal di Eropa dengan Avicena. Semua kesuksesan itu tentu saja didapat bukan dengan bermalas-malas dan bersantai-santai ria, tapi dengan bersungguh-sungguh dan berusaha keras dalam menuntut ilmu serta rasa kecintaan pada ilmu itu sendiri.
Dengan memperhatikan fenomena diatas, tentu sudah jelas sekali bahwa kunci kesuksesan adalah bersungguh-sungguh. Dalam islam sendiri, Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, sangat menganjurkan, bahkan mewajibkan seorang muslim untuk bersungguh-sungguh dalam setiap hal. Bukan hanya dalam menuntut ilmu, tapi juga dalam beribadah kepada Rabbnya, dalam bekerja untuk kebutuhan kesehariannya, bahkan dalam memerangi hawa nafsu, harus dengan bersungguh-sungguh.
Imam Hasan Al-Banna dalam perjalanan dakwahnya, mewasiatkan umat islam untuk tidak bergurau, dan bersungguh-sungguh, karena menurut beliau umat yang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam semua perkara. Umat yang berjuang itu selalu bermuhasabah dan tidak mungkin sempat untuk berguarau. Jika umat islam banyak yang bergurau dan tidak bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan perkara, maka sudah pasti masalah-masalah umat islam sulit untuk diselesaikan.
Dalam riwayat lain, Rasulullah pernah bersabda, “ Sesungguhnya Allah s.w.t menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun’’ (Riwayat Abu Daud).
Orang yang bersungguh-sungguh dalam setiap perkara, pasti disukai Allah. Jika seseorang sudah disukai Allah, maka ia akan mendapat ridho dan kemudahan dalam setiap langkahnya. Orang tersebut akan mendapatkan kesuksesan, jika ia bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, maka ia akan mendapatkan dua kesuksesan, di dunia dan di akhirat.
Penjelasan-penjelasan diatas sudah sangat mencirikan bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil yang memuaskan. Memang, bersungguh-sungguh bukan hal yang mudah dilakukan, sebagai manusia pastilah kita terkadang merasakan jenuh dan lelah, tapi dengan niat yang kuat, keikhlasan, serta tekad yang bulat, semua hambatan untuk bersungguh-sungguh pasti mudah untuk kita tinggalkan, apalagi ditambah dengan pengetahuan bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dan akan menyukai orang yang bersungguh-sungguh itu.
Karena itulah, tetapkan di hati kita sebuah pepatah Arab yang berbunyi “Ijhad walaa taksal walaa takun ghofilaan fanadamatul ‘uqbaa liman yatakassal”, “bersungguh-sungguhlah dan jangan malas dan jangan menjadi lalai, sesungguhnya penyesalan di akhir bagi orang yang malas”, mari mulai bersungguh-sungguh dalam hidup kita, sob!