Aku berjalan lunglai, harapanku mungkin akan hancur, sesal dalam hati meluap-luap. Apa guna terus berharap dan berjuang jika akhirnya terpuruk pada situasi yang sama. Kenapa aku harus dilahirkan dalam keluarga yang tak mampu? Tuhan tidak adil pikirku. Berkali-kali aku bermimpi sekolah di luar negeri, tapi orang tuaku bukanlah orang kaya yang dapat membiayai anaknya kuliah di luar negeri, kuliah di dalam negeri pun masih kesulitan. Aku hanya dapat menatap iri pada temanku yang pergi ke Malaysia, Yaman, dan Mesir, melenggang dengan mimpi-mimi mereka. Sedangkan aku? Bermimpi untuk meneruskan sekolah ke perguruan tinggi pun tidak. Masuk perguruan tinggi itu mahal sekali bagiku. Ayahku hanya seorang pedagang kitab yang berkeliling dari masjid ke masjid, sedang ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Heran, tak habis pikir, mengapa seorang ayahku yang cerdas, seorang lulusan akademik publisistik, mau saja menjadi pedagang kitab, menyiarkan islam dengan menjajakan dagangannya di masjid. Padahal, dahulu ayahku adalah orang penting, seorang manajer perusahaan iklan besar, gajinya sangat tinggi, ia juga seorang wartawan majalah terkenal dan termasuk orang yang sangat penting dalam redaksi majalah itu, tapi itu semua hanyalah cerita lama. Sejak aku lahir, ayah meninggalkan pekerjaannya, terjun bebas menjadi pedagang kitab-kitab islam, penghasilannya yang dulu dapat mencapai sepuluh juta perbulannya, menjadi tak tentu, terkadang dalam sebulan, penghasilannya hanya lima ratus ribu rupiah atau mungkin kurang dari itu.
Apa, sih yang ada di pikiran ayah? Terkadang, aku selalu menanyakan hal yang sama seperti itu berkali-kali dalam benakku. Tidak terpikir sama sekali olehku alasan ayah melepaskan semua jabatan pentignya demi menyiarkan islam dan berdagang kitab islami ke masjid-masjid.
“ Kok malah melamun disitu?”
Aku tersentak. Kualihkan pandanganku, dan menemukan sosok ibu yang sudah berdiri dengan heran di depanku. Aku tidak menjawab pertanyaan ibu. Aku menghela nafas dengan jengkel.
“Kenapa, sih, abi jadi pedagang?” ucapku ketus.
Ibu tampak terkejut mendengar pertanyaanku. Jelas saja beliau terkejut, ayah sudah bertahun-tahun menjadi pedagang kitab, tetapi baru sekarang aku menanyakan hal ini. Tiba-tiba ibu tersenyum lirih, entah sedih, entah apa, aku tidak tahu apa yang ibu pikirkan.
“ Kenapa Lintang baru menanyakannya?” Ibu berbalik bertanya.
Ah, sudah kuduga, pasti ibu akan menanyakan alasanku menanyakan alasan ayah menjadi pedagang buku islam. Aku mengerutkan kening. Kalau dipikir-pikir, kenapa aku baru menanyakan hal ini ketika aku telah lulus SMA, kenapa tidak dari dulu aku menanyakannya?
“Mmm....karena Lintang mau kuliah, Lintang mau tetap sekolah sampai jenjang tertinggi, sampai S2, S3, pokoknya sampai jadi orang berguna, tapi abi tidak bisa membiayai Lintang, kan?”
“Oh, jadi Lintang maunya abi jadi manajer perusahaan seperti dulu lagi, biar dapat penghasilan buat membiayai Lintang kuliah, begitu?”
Ibu menatapku masih dengan pandangan yang lirih. Aku merengut, memajukan bibirku ke depan dengan sengaja. Serba salah jika aku menjawab pertanyaan ibu yang satu ini. Kalau aku mengiyakan, pasti ibu akan kesal dan menyuruhku memikirkan kembali apa yang kukatakan, kalau aku membantah pernyataan itu berarti aku berbohong. Aku jadi kesal.
“Kok malah diam? Lintang, kan, sudah dewasa, sudah dapat berpikir mana yang baik, mana yang tidak, mana yang penting, mana yang tidak, mana yang wajib, mana yang sunnah, benar, kan?”
Sepertinya ibu semakin ingin menyudutkanku. Rasanya kepalaku jadi pusing. Lebih baik aku tidak meneruskan pembicaraanku dengan ibu. Beliau selalu saja mengaitkan semua perkataanku dengan kedewasaanku. Terkadang itu membuatku kesal padanya. Aku beranjak dari dudukku, bersiap pergi.
“Kamu mau kemana, Lintang?”
“Ke kamar, tidur,”
Aku bergegas pergi ke kamar. Sepertinya kali ini aku akan mengurung diri di kamar lagi, sampai ibu lupa akan pembicaraan kami tadi.
...
“Kamu mau kuliah dimana, Lin?” Tanya seorang sahabatku.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya, menjawab pertanyaan itu sama saja menyudutkan diriku sendiri. Kuliah? Dengan penghasilan ayahku yang hanya menjual kitab islami? Mana mungkin, tidak akan mampu ayahku membiayai kuliah. Jika aku mau kuliah, maka semampu mungkin, aku harus berusaha untuk medapatkan beasiswa, tapi itu adalah hal yang sangat sulit bagiku.
Tidak sedikit temn yang merasa iba pada diriku. Ah, andai saja ayah masih menjadi seorang manajer seperti dulu, tidak menjadi penjual kitab islami seperti sekarang, pasti aku bisa kuliah dimana pun, bahkan untuk kuliah di luar negeri pun, pasti bisa.
Aku termenung, berandai-andai jika ayah tidak meninggalkan pekerjaannya yang dulu demi menyiarkan islam. Pasti keluargaku tidak perlu bingung dalam masalah keuangan. Kakakku tidak akan merasa terbebani untuk segera bekerja, ibuku tidak perlu lagi menyuci dan memasak sendiri, karena ia akan menyewa jasa pembantu, sedang aku akan mendapatkan apa yang aku mau, tidak perlu susah menabung dan menunggu uang lebaran. Pasti menyenangkan.
“Lin, kamu jangan melamun!”
Aku tersadar dari lamunanku, menatap Ara, sahabatku, yang kini sudah berada di depanku. Aku hanya tersenyum tipis menyapanya. Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Ini, aku mau memberitahu berita ini padamu, selamat, ya,”
Ara menyerahkan sebuah kertas padaku. “Data siswa yang mendapat SMPTN Undangan”. Aku melihat dengan seksama nama-nama yang tertera di kertas itu. Namaku tertera setelah nomor tiga, aku terdiam, tak percaya. Aku dapat undangan masuk perguruan tinggi negeri? Ini hebat. Dalam hatiku, semua rasa bercampur jadi satu, senang, terkejut, terharu, semuanya kurasakan dalam satu waktu, hingga air mataku menetes.
“Ra, bagaimana daftarnya?”
“Kamu masukkan namamu, universitas negeri yang kamu inginkan, serta jurusannya, di website SNMPTN, nanti pada waktu pengumuman, kamu cek namamu lulus seleksi panitia apa tidak,”
Seleksi? Benar aku lupa akan hal itu. Tiba-tiba aku merasa ragu. Jika aku tidak masuk, berarti kesempatanku kuliah sudah tidak ada. Memang, aku bisa mencoba SNMPTN tertulis, tapi darimana aku dapat uang untuk mendaftar SNMPTN tertulis itu? Lagi-lagi aku menyesal dilahirkan sebagai anak seorang peadagang buku islam.
...
Hari pengumuman tiba. Aku mengakses website SNMPTN di handphone, tentu saja karena aku tidak punya komputer, dan hanya handphone yang aku beli dengan uang lebaran ini saja yang dapat kupakai untuk mengakses internet.
Aku memasukkan nama dan nomor pendaftaranku dengan hati berdebar. Aku menunggu hasil yang akan keluar dari website. Seketika tubuhku lemas. Di layar handphone tertera jelas kalimat, “maaf, anda tidak lolos seleksi masuk SNMPTN undangan”.
Dadaku terasa sesak, setetes demi setetes air mataku mengalir. Rasa sesal luar biasa menguasai hati dan pikiranku. Aku gagal. Aku tidak mungkin kuliah. Mimpiku hanya akan berhenti disini. Aku ini hanya anak yang tidak pintar dari keluarga tidak mampu, aku tidak pantas kuliah. Semua pikiran negatif merasuki hatiku. Rasanya aku benar-benar telah gagal dalam hidupku. Semuanya telah berakhir, hidupku telah berakhir, semua cita-citaku hanya akan menjadi angan-angan yang tak tercapai.
Kesal. Ini semua salah ayah. Ini semua karena ayah hanya penjual buku-buku islam. Ini semua karena ayah meninggalkan pekerjaan lamanya demi menyiarkan islam. Aku benci. Aku benar-benar membenci keadaanku saat ini.
“Bagaimana hasilnya, Lin?”
Aku menatap ayah tajam. Ingin rasanya aku melemparkan handphone ke arah beliau. Semua rasa kesalku kutujukan pada ayah. Ayah menatapku dengan heran. Aku masih menatapnya dengan rasa kesal yang luar biasa besar.
“Lintang tidak lulus,”
Ucapku terisak, antara sedih dan juga kesal. Perasaanku bercampur aduk. Membuatku jadi mual. Keinginanku untuk merah mimpi mulai menyurut. Rasanya duniaku hancur lebur.
“Kenapa menangis? Kenapa Lintang harus bersedih?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan ayah. Apa, sih, yang ada dalam pikirannya? Tentu saja aku sedih, sudah pasti aku akan menangis jika mimpiku hancur. Aku telah gagal. Aku telah gagal dalam kesempatan untuk meraih mimpiku.
“Apa, sih, maksud ayah? Lintang tidak mengerti,”
“Jalur undangan itu, kan, bukan karena usaha Lintang, kalaupun lolos, Lintang tidak berbuat apa-apa untuk meraihnya, jadi lebih baik Lintang ikut jalur tertulis,”
Aku tersenyum menyindir ke arah ayah. Kemarahan dan kekesalanku meluap-luap.
“Memangnya ayah punya uang untuk mendaftarkan Lintang jalur tertulis? Ayah, kan Cuma pedagang buku islam, semuanya itu salah ayah, kenapa, sih, ayah meninggalkan pekerjaan ayah yang dahulu hanya untuk menyiarkan islam? Kenapa ayah mau keliling masjid capek-capek hanya untuk menyiarkan islam ke orang lain? Ayah, tuh sudah membuat Lintang kehilangan mimpi Lintang, ayah tahu tidak, sih?”
Kesabarnku rasanya telah habis. Aku sudah tidak dapat mengontrol diriku. Aku menatap ayah, tetapi ekspresi ayah terkesan sangat datar. Ia terlihat tak mau membentakku atas sikapku ini. Aku tahu, apa yang kulakukan saat ini adalah hal yang salah, tapi aku benar-benar tidak tahan lagi.
“Lintang muslim, kan? Agama Lintang islam, kan?”
Lagi-lagi ayah membuatku bingung dengan pertanyaannya yang tidak dapat kumengerti.
“Ya, tentu saja,”
“Siapa Tuhan Lintang?”
“Tentu saja Allah, ayah, tuh, sebenarnya mau bilang apa, sih? Lintang tidak mengerti,”
Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku. Amarahku mulai menurun, pandanganku pada ayah juga mulai melunak.
“Lintang mau tahu kenapa ayah meninggalkan pekerjaan ayah untuk berdagang dan menyiarkan islam?”
Aku mengangguk. Amarahku berubah menjadi rasa penasaran.
“Allah berjanji akan menolong hambanya yang mau menolong agamanya, Lintang percaya janji Allah, kan?”
Lagi-lagi aku mengangguk.
“Ayah yakin Allah akan membantu semua urusan ayah jika ayah menyiarkan islam, bukankah itu sudah terbukti?”
Aku terheran-heran mendengar penjelasan ayah. Jadi, Allah telah membantu semua urusan ayah, apa itu juga termasuk urusan keluarga ayah?
“Apa buktinya, Yah?”
Senyum ayah semakin mengembang. Ayah terlihat senang sekali, membuatku semakin bingung.
“Sampai hari ini Lintang masih bisa makan, kan? Masih bisa hidup enak, kan? Lintang bisa sekolah sampai lulus SMA, kak Agung juga bisa kuliah sampai semester lima, kan? Padahal, coba Lintang pikir, penghasilan ayah sebagai pedagang buku islam itu tidak seberapa, kadang ada pemasukan, kadang tidak, kan? Tapi, coba lihat, kita masih bisa hidup enak, kan? Coba Lintang bandingkan dengan umat-umat Islam yang fakir, kita masih sangat beruntung, Lintang tahu semua itu karena apa? Semuanya karean Allah membantu kita, karena kita membantu agama Allah, apa Lintang tidak menyadari hal itu?”
Hatiku berdesir. Ada sesuatu yang mendorong dan seakan membuat dadaku sesak. Sesuatu yang hebat, rasa keimanan yang selama ini terkubur jauh di dasar hatiku. Rasa yakin bahwa dengan adanya islam, aku bisa hidup, hanya dengan islam, aku bisa bermimpi, hanya dengan keyakinan atas kuasa Allah, aku dapat baik-baik saja. Aku bisa merasakan semua nikmat-Nya, tapi selama ini, aku selalu menyalahkan ayah yang telah berjuang untuk menyiarkan islam, yang telah rela menyerahkan semua jiwa dan harta demi Islam.
Mataku terasa panas. Air mataku mengalir deras. Sesak, hingga aku terisak-isak. Ayah segera menggenggam tanganku, beliau menggenggamnya erat, hingga aku dapat merasakan detak jantung ayah.
“Lintang yakin, kan, bahwa janji Allah itu benar ? Kalau Lintang yakin, Lintang harus daftar SNMPTN jalur tertulis, Lintang tidak perlu memikirkan biayanya atau apapun yang merisaukan Lintang, Allah pasti akan menolong hambanya yang...”
“Yang menolong agama-Nya,”
Aku tersenyum yakin, tekadku sudah bulat. Ya, tanpa islam, aku tidak akan ada, jika Allah tidak menolongku, aku tidak akan hidup sampai saat ini. Jadi , aku harus berjuang demi islam.
...
Beberapa bulan sudah berlalu, SNMPTN jalur tertulis sudah kulewati dengan baik, dan hasilnya membuatku menangis tersedu-sedu. Aku lolos. Aku masuk di universitas dan jurusan yang kuinginkan, walaupun tidak jadi ke luar negeri, aku sangat bangga dengan prestasiku ini.
Saat itu, Allah benar-benar menunjukkan kekuasaan-Nya. Ketika ingin mendaftar SNMPTN tertulis, tiba-tiba ada yang memberikan uang kepada Ayah, ia membeli Al-Qur’an dari tokoku dengan harga yang jauh dari yang ditawarkan ayahku. Saat aku akan mendaftar di universitas, Allah memberikan bantuan dengan pinjaman uang dari kakekku. Kini, aku semakin yakin, semua yang terjadi pada diriku, dari aku kecil sampai aku dapat kuliah, semuanya adalah pertolongan Allah, semuanya karena keluargaku menolong Islam, agama yang benar, agama yang kucintai, insya Allah, sampai Ia mengizinkanku untuk melangkahkan kaki ke surga-Nya.
Tanap islam, aku bukanlah siapa-siapa, aku tidak akan meraih semua mimpiku. Tanpa islam, aku tidak akan hidup damai, tidak akan tersenyum, tidak akan kuliah, bahkan mungkin kini aku sudah tak ada lagi di dunia, karena terpuruk dengan diriku yang dahulu.
“Kakak, kakak, pelajaran ini susah,”
Aku menatap muridku dengan lembut. Meraih buku tulis lusuhnya dengan hati-hati dan meletakkanya diantara aku dan dia. Anak berbaju lusuh itu terlihat sangat antusias, membuatku tersenyum bahagia.
“Intan yang pintar, tidak ada yang sulit di dunia ini, jika kita mencintai Islam dan menolongnya, maka Allah akan menolong kita dari setiap kesulitan, percaya, kan?”
“Iya, kak, Intan mau mencintai Islam biar Intan ditolong sama Allah,”
“Pasti Allah akan membantu Intan, melalui kakak, sini, kakak ajarin, biar Intan tambah pintar,”
Intan tersenyum senang. Memperhatikan penjelasanku dengan seksama. Intan bukan satu-satunya anak yang aku ajar. Saat aku menginjakkan kaki di universitas, aku bertekad merubah generasi islam, mengajarkan anak-anak umat islam yang tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Ya, itulah yang aku bisa lakukan untuk islam, karena aku sadar, tak ada islam, maka tak ada aku.
Total Tayangan Halaman
Selasa, 06 November 2012
Sabtu, 03 November 2012
sesal
akankah dunia dapat berpuatar ulang,
mengembalikan waktuku yang terbuang,
yang entah aku buat ia terang,
atau hanya waktu yang hanya jadi bayang,
mungkin aku lalai tak jarang,
bahkan urung aku ingat akan larang,
atau melihat dalam jurang,
aku hanya melewatkannya terbuang,
dibalik kesibukan yang hanya bayang-bayang,
yang entah kapan tak kupegang,
yang entah kapan tak kukekang,
kubiarkan sia-sia terbuang,
ah, andai dapat terulang,
mungkin penyesalan tak kan bersarang,
mengembalikan waktuku yang terbuang,
yang entah aku buat ia terang,
atau hanya waktu yang hanya jadi bayang,
mungkin aku lalai tak jarang,
bahkan urung aku ingat akan larang,
atau melihat dalam jurang,
aku hanya melewatkannya terbuang,
dibalik kesibukan yang hanya bayang-bayang,
yang entah kapan tak kupegang,
yang entah kapan tak kukekang,
kubiarkan sia-sia terbuang,
ah, andai dapat terulang,
mungkin penyesalan tak kan bersarang,
Label:
poetry
Lokasi:
Sukasari, Bandung, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)