Ia terasah tajam
Mampu putuskan harapan
Mampu putuskan kesempatan
Ia terasah tajam
Tak ada yang mampu kendalikan
Kecuali samurai ulung
Yang menghentikan kemarahan
Ia terasah tajam
Hingga sang samurai harus berjuang
Harus di jalan terang
Hingga ia tak sempat memotong segala
Karena samurai telah memotongnya
Total Tayangan Halaman
Kamis, 21 Maret 2013
Jumat, 15 Maret 2013
Bertahan
Ah, Lelah ini menggantung
Tak mampu terhitung
Sampai mampu sakiti jantung
Bahkan juga lambung
Ah, Tuhan dapatkah kukokohkan diri?
Demi amanah yang kau beri
Ah, aku kadang tak kuat
tapi harus tetap bertahan
Tuhan, mohon kuatkan
Tak mampu terhitung
Sampai mampu sakiti jantung
Bahkan juga lambung
Ah, Tuhan dapatkah kukokohkan diri?
Demi amanah yang kau beri
Ah, aku kadang tak kuat
tapi harus tetap bertahan
Tuhan, mohon kuatkan
Sampai Jumpa
Kala
Aku dan diana tak lagi ada
Hanya malam kau tunggu diam
Hanya sunyi kau hampiri
Kala
Aku dan diana dirundung bala
Ketika kau jauh disana
Ketika kau tak datang jua
Kala
Aku dan diana pergi
Kau kan sendiri
Tapi kau harus berseri
Menantang matahari
Aku dan diana tak lagi ada
Hanya malam kau tunggu diam
Hanya sunyi kau hampiri
Kala
Aku dan diana dirundung bala
Ketika kau jauh disana
Ketika kau tak datang jua
Kala
Aku dan diana pergi
Kau kan sendiri
Tapi kau harus berseri
Menantang matahari
Sakura The Love without Name
I. Epilog (Tokio’s Feeling)
“Mengapa kau terus-menerus melukai orang yang kau sayangi?”
Suara ibu, terdengar sangat jelas. Aku mencoba membuka mataku. Sekelilingku terasa asing, aku seperti berada di dunia lain. Apa aku sudah mati? Aku mencari-cari seseorang untuk menjelaskan semua yang terjadi padaku, tapi aku tidak menemukan siapapun.
“Hiro, kau akan baik-baik saja,”
Aku mengerjapkan mataku. Apa aku tidak salah liat? Ayah. Tiba-tiba aku melihat sosok ayah, jelas sekali, apa ini mimpi? Apa yang terjadi?
“Ayah, apa aku sudah mati?”
“Maumu bagaimana? Kau masih ingin hidup, kan? Bukankah ada hal yang harus kau selesaikan?”
Ayah tersenyum tulus. Aku berusaha mengingat hal itu. Sakura, ada hal yang harus kusampaikan pada Sakura, aku harus menyampaikannya sejelas-jelasnya. Aku menatap ayah penuh tanda tanya. Rasa bersalahku padanya bangkit kembali. Aku menatapnya sendu.
“Tidak perlu kau pikirkan, kau harus hidup, ada seorang gadis yang terus menunggumu,”
“Ayah, kenapa aku selalu melukai orang yang kusayangi? Aku melukai ayah, aku juga melukai ibu, kini, aku melukai Sakura, kenapa aku tidak dapat mengubah diriku yang seperti ini? Apa semua orang yang kulukai dapat memaafkanku?”
“Tidak ada yang kau lukai, semuanya hanyalah rasa bersalahmu saja, kau hanya menyalahkan dirimu sendiri karena kau menyanyangi mereka, kau menyayangi semua orang yang kau anggap telah kau lukai,”
Aku terpaku mendengar perkataan ayah. Aku tersenyum tapi sekaligus menangis. Semua yang kulakukan ini adalah karena aku menyayangi mereka. Perasaan ingin melindungi berubah menjadi sikap melukai. Aku berusaha menjauhkan semua orang yang kusayangi dari diriku sendiri karena aku ingin melindunginya dari diriku, dari berbagai hal buruk yang mungkin menimpaku. Aku melakukan itu semua karena aku menyayangi mereka, hanya saja aku salah dalam mengambil sikap. Aku benar-benar bodoh.
Tanpa sadar, aku meneteskan air mata, semakin lama semakin deras mengalir. Rasanya aku ingin meminta maaf pada semua orang yang kusayangi. Tiba-tiba, ada seseoang yang memelukku dengan hangat. Aku menoleh ke belakang dan menemukan sosok ibu yang tersenyum hangat padaku.
“Kau sudah menemukan jawabannya?”
“Ya, tapi aku tidak akan memberitahu ibu sekarang,”
Ibu mengangguk, aku tetap tersenyum menatapnya. Air mataku terus mengalir. Ibu menyeka air mataku dengan lembut lalu tersenyum tulus.
“Ya, beritahu ibu setelah kau kembali bersama Sakura, kau tidak akan membuatnya menunggu, kan? Pergilah, kau harus hidup bahagia, tanpa rasa bersalah,”
Bayangan ayah dan ibu mulai memudar dan menghilang. Aku melihat cahaya yang sangat terang mengiringi kepergian mereka. Aku magerjap-ngerjapkan mataku dan mendapatkan diriku berada disebuah ruangan putih. Sepertinya, Rumah sakit.
Aku kembali mengerjapkan mataku. Seluruh badanku rasanya sakit sekali terutama bagian kepala, benar-benar sakit. Aku mendapatkan sosok Sakura di hadapanku. Ia tersenyum sambil menangis, wajahnya tampak sangat khawatir. Aku berusaha membalas senyumannya walau hanya seulas.
“Kakak, ini Sakura, kakak ingat? Kakak ingat aku, kan? Aku tidak membenci kakak, aku tidak pernah membenci kakak, tolong, jangan lupakan aku, tidak perduli kakak sudah menyembunyikan masa laluku atau sudah menolakku, aku tetap tidak mau kakak melupakanku, aku sudah memaafkan kakak, aku mohon..,”
Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya dan memberinya isyarat untuk tidak bicara lagi. Aku sudah mengerti apa yang ingin ia katakan. Aku tersenyum tulus ke arahnya. Akhirnya, aku dapat merasa lega menatap wajah gadis yang kini tampak mengkhawatirkanku. Rasanya semua rasa bersalahku dan bebanku karena menanggungnya hilang seketika.
“Aku mencintaimu,”
Sakura tampak terkejut, ia tampak tidak percaya. Aku terus tersenyum, rasanya aku bahagia sekali dapat melihatnya.
“Sakura, aku benar-benar mencintaimu,”
“Kakak, kakak bicara apa, sih?”
“Kau tidak dengar? Biar kuulang berkali-kali, aku mencintaimu, sampai mati aku mencintaimu, aku mencintaimu, Sakura,”
“Kakak, hentikan, iya aku dengar, jangan diulang berkali-kali, aku malu,”
Aku tertawa kecil melihat reaksinya. Wajahnya memerah, tersipu malu. Benar-benar manis. Aku menggenggam tangannya erat. Rasanya hatiku damai sekali.
...
Diatas segalanya jujurlah pada diri sendiri artinya setiap kapan pun, kondisi apa pun, selama itu positif, jujurlah pada diri sendiri. Mungkin, itulah pelajaran yang dapat kuambil dari semua yang telah terjadi. Seharusnya, dari awal aku tidak membohongi Sakura, juga tidak membohongi perasaanku. Walau aku berniat melindunginya tapi langkahku yang salah membuatnya terluka, tapi semuanya telah berakhir bahagia.
Aku mengusap batu nisan ibu dan tersenyum menatapnya. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi makam ibu. Aku merindukannya. Aku menghela nafas, tapi nafasku terasa ringan sekali.
“Ibu, aku ingin memberitahu jawaban pertanyaan ibu, aku melukai orang yang kusayangi karena aku ingin melindunginya, aku tidak ingin ia tersakiti olehku, aku tidak ingin ia tidak bahagia bersamaku, tapi kini aku sadar bahwa apa yang kulakukan untuk melindunginya itu salah, yang kulakkukan bukan melindunginya tapi melukainya dan tanpa sadar aku terus melakukannya, tapi, kini aku akan mengubahnya, bu, aku tidak akan melukainya lagi, aku akan melindunginya dengan tulus dan dengan kasih sayang, itu yang diajarkan ibu, benar, kan?”
Aku bersimpuh di depan makam ibu. Mungkin, di alam sana, ibu membenarkan semua ucapanku sambil tersenyum bahagia. Angin berhembus lembut seperti mngusap wajahku, aku menutup mataku untuk merasakan kesejukannya. Rasanya hatiku benar-benar damai.
“Ayah!”
Aku menoleh ke arah anak kecil yang memaggilku ayah. Tokio Hatsuki, putra pertamaku dan Sakura, berlari kecil ke arahku. Aku membungkukkan badan seraya menyambutnya. Dia menghantamku kuat lalu memelukku dan merajuk. Aku mengusap-usap kepalanya. Sakura tampak berjalan mengkutinya, ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Ayah, setelah ini kita mau kemana? Nenek dan kakek pasti sudah puas melihatku, ayo kita jalan-jalan ke tempat lain,”
“Memangnya, Hatsuki mau pergi kemana?”
“Terserah ayah,”
Aku tertawa beberapa saat lalu mengalihkan pandanganku ke arah Sakura, dan tersenyum licik, ia tampak heran. Aku menatap Hatsuki lekat-lekat dan tersenyum yakin.
“Bagaimana kalau kita lihat bunga Sakura? Hari ini Sakura mulai mekar, bukan?”
“Asyik,”
Hatsuki tersenyum lebar, Sakura tertawa kecil setelah mendengar rencanaku. Kami berjalan bersama meninggalkan makam ibu dan ayah. Aku menatap Sakura dengan lembut, sepertinya ia tidak menyadari jika aku memperhatikannya. Tiba-tiba handphone Sakura berdering, ia segera mengangkatnya.
“Iya, Benarkah? Syukurlah. Selamat, ya, presdir, iya, aku akan memberitahukannya,”
Aku menatap Sakura dengan heran. Sepertinya, ia mengerti maksudku. Senyumnya merekah indah, tampak sangat senang, aku jadi semakin heran.
“Itu tadi presdir, dia mengabarkan bahwa minggu ini ia akan menikah,”
“Dengan siapa?”
“Dengan kak Kazumi, benar-benar keajaiban, bukan,”
Aku terkejut sekaligus senang. Aku berharap Keizo adalah pria yang tepat dan pantas untuk Kazumi. Semoga saja, semuanya berakhir bahagia dan indah.
Aku menatap wajah Sakura penuh arti. Dia gadis yang hebat. Ia tidak tahu namaku, tapi masih dapat jatuh cinta padaku dan cintanya begitu tulus. Walau aku sudah melukainya dan menolaknya, ia tetap menyimpan hatinya untukku. Walau ia hilang ingatan, tapi ia dapat kembali mencintaiku untuk kedua kalinya.
“Sakura, kenapa kau masih mencintaiku walau tak tahu siapa aku sebenarnya,”
Sakura tampak heran, ia segera menutup telinga Hatsuki. Hatsuki terlihat bingung tapi tidak memberontak dan tetap tenang.
“Kenapa baru tanya sekarang?”
Aku mengangkat bahuku, ia tertawa. Hatsuki mulai terlihat penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibirku untuk memberi isyarat pada Hatsuki untuk tidak berisik, ia mengangguk patuh.
“Bagiku cinta tidak perlu nama dan tidak ada kata terluka karena cinta, apa jawabanku itu cukup?”
“Ya, aku rasa cukup, tapi, aku punya satu syarat untuk cinta,”
“Apa itu?”
“Kalau kau mencintaiku, jangan pernah pergi lagi dariku,”
Sakura tersenyum dan mengangguk pasti, aku juga tersenyum lega. Hatsuki berusaha melepaskan tangan Sakura dari telinganya, ia mulai merajuk, meminta kami untuk mempercepat langkah. Aku dan Sakura tertawa bersama. Kami berjalan beriringan bersama ditemani kelopak-kelopak bunga Sakura yang berguguran. Indah sekali.
-END-
“Mengapa kau terus-menerus melukai orang yang kau sayangi?”
Suara ibu, terdengar sangat jelas. Aku mencoba membuka mataku. Sekelilingku terasa asing, aku seperti berada di dunia lain. Apa aku sudah mati? Aku mencari-cari seseorang untuk menjelaskan semua yang terjadi padaku, tapi aku tidak menemukan siapapun.
“Hiro, kau akan baik-baik saja,”
Aku mengerjapkan mataku. Apa aku tidak salah liat? Ayah. Tiba-tiba aku melihat sosok ayah, jelas sekali, apa ini mimpi? Apa yang terjadi?
“Ayah, apa aku sudah mati?”
“Maumu bagaimana? Kau masih ingin hidup, kan? Bukankah ada hal yang harus kau selesaikan?”
Ayah tersenyum tulus. Aku berusaha mengingat hal itu. Sakura, ada hal yang harus kusampaikan pada Sakura, aku harus menyampaikannya sejelas-jelasnya. Aku menatap ayah penuh tanda tanya. Rasa bersalahku padanya bangkit kembali. Aku menatapnya sendu.
“Tidak perlu kau pikirkan, kau harus hidup, ada seorang gadis yang terus menunggumu,”
“Ayah, kenapa aku selalu melukai orang yang kusayangi? Aku melukai ayah, aku juga melukai ibu, kini, aku melukai Sakura, kenapa aku tidak dapat mengubah diriku yang seperti ini? Apa semua orang yang kulukai dapat memaafkanku?”
“Tidak ada yang kau lukai, semuanya hanyalah rasa bersalahmu saja, kau hanya menyalahkan dirimu sendiri karena kau menyanyangi mereka, kau menyayangi semua orang yang kau anggap telah kau lukai,”
Aku terpaku mendengar perkataan ayah. Aku tersenyum tapi sekaligus menangis. Semua yang kulakukan ini adalah karena aku menyayangi mereka. Perasaan ingin melindungi berubah menjadi sikap melukai. Aku berusaha menjauhkan semua orang yang kusayangi dari diriku sendiri karena aku ingin melindunginya dari diriku, dari berbagai hal buruk yang mungkin menimpaku. Aku melakukan itu semua karena aku menyayangi mereka, hanya saja aku salah dalam mengambil sikap. Aku benar-benar bodoh.
Tanpa sadar, aku meneteskan air mata, semakin lama semakin deras mengalir. Rasanya aku ingin meminta maaf pada semua orang yang kusayangi. Tiba-tiba, ada seseoang yang memelukku dengan hangat. Aku menoleh ke belakang dan menemukan sosok ibu yang tersenyum hangat padaku.
“Kau sudah menemukan jawabannya?”
“Ya, tapi aku tidak akan memberitahu ibu sekarang,”
Ibu mengangguk, aku tetap tersenyum menatapnya. Air mataku terus mengalir. Ibu menyeka air mataku dengan lembut lalu tersenyum tulus.
“Ya, beritahu ibu setelah kau kembali bersama Sakura, kau tidak akan membuatnya menunggu, kan? Pergilah, kau harus hidup bahagia, tanpa rasa bersalah,”
Bayangan ayah dan ibu mulai memudar dan menghilang. Aku melihat cahaya yang sangat terang mengiringi kepergian mereka. Aku magerjap-ngerjapkan mataku dan mendapatkan diriku berada disebuah ruangan putih. Sepertinya, Rumah sakit.
Aku kembali mengerjapkan mataku. Seluruh badanku rasanya sakit sekali terutama bagian kepala, benar-benar sakit. Aku mendapatkan sosok Sakura di hadapanku. Ia tersenyum sambil menangis, wajahnya tampak sangat khawatir. Aku berusaha membalas senyumannya walau hanya seulas.
“Kakak, ini Sakura, kakak ingat? Kakak ingat aku, kan? Aku tidak membenci kakak, aku tidak pernah membenci kakak, tolong, jangan lupakan aku, tidak perduli kakak sudah menyembunyikan masa laluku atau sudah menolakku, aku tetap tidak mau kakak melupakanku, aku sudah memaafkan kakak, aku mohon..,”
Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya dan memberinya isyarat untuk tidak bicara lagi. Aku sudah mengerti apa yang ingin ia katakan. Aku tersenyum tulus ke arahnya. Akhirnya, aku dapat merasa lega menatap wajah gadis yang kini tampak mengkhawatirkanku. Rasanya semua rasa bersalahku dan bebanku karena menanggungnya hilang seketika.
“Aku mencintaimu,”
Sakura tampak terkejut, ia tampak tidak percaya. Aku terus tersenyum, rasanya aku bahagia sekali dapat melihatnya.
“Sakura, aku benar-benar mencintaimu,”
“Kakak, kakak bicara apa, sih?”
“Kau tidak dengar? Biar kuulang berkali-kali, aku mencintaimu, sampai mati aku mencintaimu, aku mencintaimu, Sakura,”
“Kakak, hentikan, iya aku dengar, jangan diulang berkali-kali, aku malu,”
Aku tertawa kecil melihat reaksinya. Wajahnya memerah, tersipu malu. Benar-benar manis. Aku menggenggam tangannya erat. Rasanya hatiku damai sekali.
...
Diatas segalanya jujurlah pada diri sendiri artinya setiap kapan pun, kondisi apa pun, selama itu positif, jujurlah pada diri sendiri. Mungkin, itulah pelajaran yang dapat kuambil dari semua yang telah terjadi. Seharusnya, dari awal aku tidak membohongi Sakura, juga tidak membohongi perasaanku. Walau aku berniat melindunginya tapi langkahku yang salah membuatnya terluka, tapi semuanya telah berakhir bahagia.
Aku mengusap batu nisan ibu dan tersenyum menatapnya. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi makam ibu. Aku merindukannya. Aku menghela nafas, tapi nafasku terasa ringan sekali.
“Ibu, aku ingin memberitahu jawaban pertanyaan ibu, aku melukai orang yang kusayangi karena aku ingin melindunginya, aku tidak ingin ia tersakiti olehku, aku tidak ingin ia tidak bahagia bersamaku, tapi kini aku sadar bahwa apa yang kulakukan untuk melindunginya itu salah, yang kulakkukan bukan melindunginya tapi melukainya dan tanpa sadar aku terus melakukannya, tapi, kini aku akan mengubahnya, bu, aku tidak akan melukainya lagi, aku akan melindunginya dengan tulus dan dengan kasih sayang, itu yang diajarkan ibu, benar, kan?”
Aku bersimpuh di depan makam ibu. Mungkin, di alam sana, ibu membenarkan semua ucapanku sambil tersenyum bahagia. Angin berhembus lembut seperti mngusap wajahku, aku menutup mataku untuk merasakan kesejukannya. Rasanya hatiku benar-benar damai.
“Ayah!”
Aku menoleh ke arah anak kecil yang memaggilku ayah. Tokio Hatsuki, putra pertamaku dan Sakura, berlari kecil ke arahku. Aku membungkukkan badan seraya menyambutnya. Dia menghantamku kuat lalu memelukku dan merajuk. Aku mengusap-usap kepalanya. Sakura tampak berjalan mengkutinya, ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Ayah, setelah ini kita mau kemana? Nenek dan kakek pasti sudah puas melihatku, ayo kita jalan-jalan ke tempat lain,”
“Memangnya, Hatsuki mau pergi kemana?”
“Terserah ayah,”
Aku tertawa beberapa saat lalu mengalihkan pandanganku ke arah Sakura, dan tersenyum licik, ia tampak heran. Aku menatap Hatsuki lekat-lekat dan tersenyum yakin.
“Bagaimana kalau kita lihat bunga Sakura? Hari ini Sakura mulai mekar, bukan?”
“Asyik,”
Hatsuki tersenyum lebar, Sakura tertawa kecil setelah mendengar rencanaku. Kami berjalan bersama meninggalkan makam ibu dan ayah. Aku menatap Sakura dengan lembut, sepertinya ia tidak menyadari jika aku memperhatikannya. Tiba-tiba handphone Sakura berdering, ia segera mengangkatnya.
“Iya, Benarkah? Syukurlah. Selamat, ya, presdir, iya, aku akan memberitahukannya,”
Aku menatap Sakura dengan heran. Sepertinya, ia mengerti maksudku. Senyumnya merekah indah, tampak sangat senang, aku jadi semakin heran.
“Itu tadi presdir, dia mengabarkan bahwa minggu ini ia akan menikah,”
“Dengan siapa?”
“Dengan kak Kazumi, benar-benar keajaiban, bukan,”
Aku terkejut sekaligus senang. Aku berharap Keizo adalah pria yang tepat dan pantas untuk Kazumi. Semoga saja, semuanya berakhir bahagia dan indah.
Aku menatap wajah Sakura penuh arti. Dia gadis yang hebat. Ia tidak tahu namaku, tapi masih dapat jatuh cinta padaku dan cintanya begitu tulus. Walau aku sudah melukainya dan menolaknya, ia tetap menyimpan hatinya untukku. Walau ia hilang ingatan, tapi ia dapat kembali mencintaiku untuk kedua kalinya.
“Sakura, kenapa kau masih mencintaiku walau tak tahu siapa aku sebenarnya,”
Sakura tampak heran, ia segera menutup telinga Hatsuki. Hatsuki terlihat bingung tapi tidak memberontak dan tetap tenang.
“Kenapa baru tanya sekarang?”
Aku mengangkat bahuku, ia tertawa. Hatsuki mulai terlihat penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibirku untuk memberi isyarat pada Hatsuki untuk tidak berisik, ia mengangguk patuh.
“Bagiku cinta tidak perlu nama dan tidak ada kata terluka karena cinta, apa jawabanku itu cukup?”
“Ya, aku rasa cukup, tapi, aku punya satu syarat untuk cinta,”
“Apa itu?”
“Kalau kau mencintaiku, jangan pernah pergi lagi dariku,”
Sakura tersenyum dan mengangguk pasti, aku juga tersenyum lega. Hatsuki berusaha melepaskan tangan Sakura dari telinganya, ia mulai merajuk, meminta kami untuk mempercepat langkah. Aku dan Sakura tertawa bersama. Kami berjalan beriringan bersama ditemani kelopak-kelopak bunga Sakura yang berguguran. Indah sekali.
-END-
Sakura The Love without Name
XII. Love and name (Sakura’s Feeling)
Bus yang kutumpangi melaju cukup cepat. Aku harus segera kembali ke toko setelah mengambil barangku yang tertinggal di rumah kakak. Padahal, aku sudah tidak ingin menginjakkan kaki di rumah kakak, tapi liontin yang diberikan nenek tertinggal disana dan aku baru menyadarinya, aku memang ceroboh.
Aku turun tepat di halte dekat rumah kakak, aku hanya cukup berjalan sebentar untuk sampai di rumah kakak. Aku berdiri terpaku ketika samapi di depan rumahnya. Rasanya, sudah sangat lama aku tidak melihatnya sejak aku mengambil pindah. Tidak ada yang berubah dengan rumah ini, masih terawat sama seperti saat aku tinggal disini. Semua kenanganku bersama kakak di rumah ini masih dapat kuingat satu persatu. Aku seperti mengulang semua kenangan itu. Begitu indah, sampai aku merasa ingin menangis. Aku menyeka air mataku yang hampir menetes. Semua kebahagiaanku bersama kakak telah hancur setelah kakak menolakku, tapi kenangan indah saat bersamanya selalu teringat di benakku.
Aku menghela nafas, semoga saja mentalku siap untuk masuk ke rumah ini. Aku melangkah perlahan hingga sampai di depan pintu rumah. Aku kembali menghela nafas untuk menenangkan diriku, dan menekan bel, semoga saja kakak tidak ada di rumah.
Aku menunggu beberapa saat, tapi tidak ada jawaban, apa mungkin kakak memang tidak ada. Aku mencoba membunyikan bel sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Aku memutar knop pintu, dan sedikit terkejut, pintunya tidak terkunci, tapi kenapa tidak ada jawaban.
“Permisi,”
Aku berusaha melihat ke dalam, tapi tidak nampak ada orang disini. Lebih baik aku masuk saja, mengambil liotinku lalu segera pergi sebelum kakak datang. Aku melangkah masuk ke kamar yang dulu aku tempati. Kamar ini sedikit berubah, mungkin kakak merubah tata letak perabotnya. Sebuah meja terletak di sudut kamar, meja itu tempatku menaruh barang-barang berharga di lacinnya, semoga saja kakak tidak memindahkan isi lacinya.
Aku membuka laci meja itu dan menemukan liotin yang kucari, aku tersenyum senang, untunglah kakak tidak memindahkannya, aku berniat menutup laci itu kembali, tapi aku melihat sebuah kartu yang menarik perhatianku. Aku mengambil kartu itu, aku menduga itu adalah kartu tanda pengenal, tapi milik siapa? Aku memperhatikan nama yang tertera di kartu itu. Tokio Hiroshi, nama yang tidak asing.
“Aku Sakura, kamu siapa?”
“Tokio, Tokio Hiroshi, salam kenal,”
Deg. Apa itu tadi? Bayangan apa itu? Itu seperti sosok anak laki-laki yang kulihat di bukit waktu itu. Siapa dia? Apakah dia Tokio Hiroshi? Apa hubungannya dengan kakak? Kepalaku terasa pusing. Aku mencoba megingat sesuatu tentang Tokio Hiroshi, sepertinya aku pernah mengenalnya. Anak laki-laki itu, dia yang kupanggil To-chan, bukan? Siapa? Apa hubungannya denganku?
Tiba-tiba aku merasa seperti berada di bukit tempatku melihat bayangan anak laki-laki itu. Seperti bayanganku waktu itu, diriku waktu kecil sedang bercakap-cakap dengan anak laki-laki itu. Aku tampak sangat bahagia tapi anak laki-laki itu bersikap tenang-tenang saja.
“Mmm..To-chan, aku ingin mengatakan sesuatu, apa boleh?”
“Katakan saja, tapi jangan panggil aku seperti itu, aku tidak mau,”
“Kenapa? Bukankah To-chan terkesan manis?”
“Aku tidak manis, jangan panggil begitu,”
“Tapi, kan, To-chan..,”
“Hey! Sudahlah cepat, apa yang mau kau katakan?”
Diriku waktu kecil terlihat gugup, apa yang akan dia akan katakan? Jantungku terasa berdebar-debar, ada apa denganku? Kenapa prasangku jadi buruk?
“Tokio, aku..,”
“Hey, cepatlah!”
“Tokio, aku menyukaimu,”
Apa? Apa yang kukatakan? Kenapa aku bisa mengatakan itu pada anak laki-laki itu? Apa hubungannya denganku? Siapa Tokio bagiku?
Tokio tampak terkejut mendengar ucapanku. Ia tampak memikirkan kata-kata untuk menjawabnya. Kenapa diriku waktu kecil dapat seberani itu mengatakan kata suka padanya?
“Kau ini bicara apa? Kau tidak tahu, ya? Aku itu membencimu,”
Aku tercekat mendengar jawaban Tokio, begitupun aku kecil, ia tampak terkejut dan terlihat pucat. Dirinya terlihat limbung. Perasaan ini sama seperti saat aku ditolak oleh kakak. Apa diriku waktu kecil juga merasa seperti itu? Apa yang akan terjadi setelah ini?
“Ayo pulang, jangan memmikirkan macam-macam,”
Aku kecil terlihat terhuyung-huyung, mungkin ia sangat terluka dengan kata-kata Tokio, dia tampak sangat pucat. Tiba-tiba tanah tempatnya berpijak longsor, ia tampak berteriak dan menggapai tepi bukit. Tokio mendengar teriakannya dan segera pergi ke arahnya. Ia tampak berusaha menolong aku kecil. Ia mengulurkan tangannya. Jantungku berdetak cepat sekali. Apa yang akan terjadi? Apa aku akan mati? Tapi bukankah sekarang aku masih hidup?
“Tokio.., tolong aku,”
“Tenanglah, jangan bergerak-gerak, ayo gapai tanganku,”
“Aku tidak bisa, Tokio,”
Aku kecil terdengar terisak-isak, wajahnya tampak sangat ketakutan. Tokio terus terlihat berusaha menolongku.
“Kau bisa, percayalah padaku,”
“Bukankah Tokio membenciku? Bagaimana aku bisa percaya Tokio?”
Aku kecil tampak sedikit ragu. Pegangannnya mengendur, ia kembali berteriak.
“Sudah jangan banyak bicara! Cepat raih tanganku,”
Aku kecil tampak berusaha meraih tangan Tokio. Ayo, cepatlah, kau bisa Sakura. Jantungku berdegup semakin cepat. Aku kecil menggapai tangan Tokio tapi kemudian terlepas, ia terjatuh dan berteriak memanggil Tokio. Aku menutup mataku. Apa ini? Apa yang kulihat ini? Aku jatuh? Lalu kenapa aku ada disini? Kenapa aku masih hidup? Kenapa aku tidak mengingat aku pernah jatuh ke jurang?
Tidak ingat? Aku hilang ingatan setelah itu, benarkah begitu? Aku memegang kepalaku, sakit. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berputar didalam kepalaku. Aku harus segera pergi dari sini dan melupakan bayangan tadi. Aku terhuyung-huyung. Aku jatuh tersungkur. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari selipan kartu pengenal itu. Foto. Ini fotoku waktu kecil dan yang disebelahnya wajah yang tidak asing. Itu, anak laki-laki itu, anak kecil disampingku itu Tokio. Aku membalik foto itu, ada tulisan dibelakangnya. Hiro dan Sakura. Hiro? Bukankah itu kakak? Aku semakin tidak mengerti. Apa kakak menyembunyikan sesuatu padaku?
Aku harus segera pergi dari sini. Aku mengambil kartu pengenal itu, mungkin aku dapat menyelidiki semua keanehan ini. Aku segera menuju pintu. Saat aku membuka pintu, kakak berdiri tepat di hadapanku, aku sangat terkejut, begitu pun dengannya. Kakak menatapku heran, aku segera berlalu melewati kakak, berusaha idak memperdulikannya, tapi kakak berhasil menggapai tanganku dan menggenngamnya. Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh ke arah kakak. Kepalaku masih terasa sangat pusing.
“Sakura, boleh kita bicara sebentar?”
“Maaf, kak, aku kesini hanya untuk mengambil barangku yang tertinggal, aku harus pergi sekarang, lain kali saja kakak bicara,”
Aku melepaskan genggaman kakak, dan segera pergi secepat mungkin. Kakak terdengar memanggil-manggilku, tapi aku tetap berjalan tanpa memperdulikannya. Aku harus mencaritahu apa yang sebenarnya disembunyikan kakak. Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku kecil dan apa hubungannya dengan kakak. Aku harus cari tahu tentang Tokio Hiroshi.
...
Aku berdiri di depan gedung tinggi, di atasnya tertulis ‘Miura Cooperation’, aku mencocokkannya dengan kartu tanda pengenal yang kutemukan di rumah kakak, sama. Aku terkejut setengah mati. Ini kantor tempat kakak bekerja. Apa Tokio Hiroshi teman kakak? Ataukah ia adalah kakak? Jantungku berdegup kencang. Sebenarnya apa yang kakak ketahui tentangku? Apapun itu, aku harus memastikan siapa sebenarnya orang bernama Tokio Hiroshi ini.
Aku masuk ke dalam gedung dan mendatangi bagian informasi kantor ini. Aku harap dugaanku tentang kakak salah. Aku harap ia tak ada hubungannya dengan Tokio Hiroshi. Petugas informasi itu tersenyum padaku. Aku masih terlihat tidak percaya degan semua ini sehingga terpaku di tempatku tanpa mengatakan apapun.
“Ada yang dapat saya bantu?”
“Ah, itu, saya ingin bertemu dengan Tokio Hiroshi, apa dia bekerja disini?”
“Benar, tuan Tokio bekerja di bagian advertising perusahaan ini, apa nona ada perlu dengannya, apa perlu saya menghubunginya?”
“Ah, tidah perlu, tunjukkan saja ruangannya, aku ingin memberikan surprise untuknya,”
Aku sedikit berbohong kepada petugas informasi itu. Dia tampak mengerti dan tersenyum, aku membalas senyumannya. Dia bersedia mengantarkanku ke ruangan Tokio Hiroshi. Jantungku bergegup semakin cepat. Aku sangat penasaran terhadap orang bernama Tokio Hiroshi itu, siapa dia sebenarnya.
Petugas informasi itu berhenti di depan sebuah ruangan. Aku hampir tidak percaya ia berhenti di depan ruangan itu. Aku dapat melihat orang didalam ruangan itu dari balik kaca. Aku benar-benar tidak percaya. Dia. Orang yang berada didalam ruangan itu adalah kakak. Kakak. Kenapa? Aku tidak percaya semua ini. Aku melihat nama yang tertera di pintu ruangan itu. Tokio Hiroshi. Tidak mungkin. Tokio hiroshi adalah kakak? Apa ini benar? Tidak mungkin.
“Nona?”
“Ah, ya”
“Ini ruangan tuan Tokio, seprtinya dia ada didalam, saya permisi,”
“Baik, terima kasih banyak,”
Petugas informasi itu meninggalkanku yang masih terpaku di depan ruangan menatap kakak yang ada di dalam ruangan itu. Kakak tampak sedang mengerjakan pekerjaannya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kakak adalah Tokio Hiroshi. Apa meksudnya? Apa yang kakak ketahui tentangku? Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku kecil?
Aku terdiam memperhatikan kakak, tiba-tiba saja kakak mengalihkan pandangannya ke arahku, ia tampak terkejut, ia bngkit dari tempat duduknya dan segera berlari ke arah pintu dan membukanya. Aku seperti tidak sadarkan diri dan tetap berdiri di tempatku dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
“Sakura, kenapa kau ada disini?”
“Apa yang kakak sembunyikan dariku? Siapa kakak sebenarnya?”
Kakak tampak sangat terkejut mendengar pertanyaanku, ia terlihat salah tingkah. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Aku tidak percaya semua ini hingga rasanya dadaku terasa sesak sekali. Apa yang kakak sembunyikan dariku? Kenapa ia menyembunyikannya? Kakak melihat papan nama di pintu yang tertera namanya. Ia tidak berani menatapku. Aku jadi malas mengatakan apapun. Aku membalikkan badanku, lebih baik aku pergi tanpa mengatakan apapun pada kakak, mungkin lebih baik aku tidak tahu apapun tentang masa laluku. Aku menghela nafas berat dan berusaha berjalan cepat.
“Sakura, tunggu, aku akan jelaskan semuanya,”
Aku terkejut, aku tidak tahu kalau kakak mengejarku hingga keluar gedung, tapi aku berusaha tidak memperdulikannya dan terus berjalan. Kakak terus memanggilku. Aku berjalan semakin cepat. Aku harus cepat menghilang dari hadapan kakak. Aku menyebrang jalan dengan cepat agar tak terkejar kakak.
“Sakura, awas!”
Aku mendengar suara klakson mobil, terdengar sangat dekat. Aku menoleh ke sebelah kiri, sebuah mobil melaju cepat ke arahku. Aku terpaku di tempatku, tak dapat bergerak, entah apa yang ada di pikiranku. Mobil itu semakin dekat denganku, bukannya menghidar, aku malah berteriak sekerasnya-kerasnya, lututku rasanya lemas sekali, aku sama sekali tidak dapat bergerak. Kakak terus memanggil-manggilku, aku tidak begitu memperhatikannya. Aku menutup mataku.
“Kyaaaaaaa,”
Brak!
Jantungku berdegup cepat sekali. Tunggu. Jantungku masih berdegup? Lalu suara apa tadi? Bukankah aku tertabrak mobil? Kenapa aku tidak merasa sakit?
Aku membuka mataku dalam keadaan duduk tersungkur. Aku menatap ke bawah, aku merasa ada orang di pangkuanku. Kakak. Kakak terbaring berlumuran darah. Aku panik luar biasa. Aku menyentuh kepala kakak yang teluka parah. Bagaimana ini? Apa yang haus aku lakukan?
Orang-orang mulai datang berkumpul. Aku benar-benar panik. Tiba-tiba aku merasa tanganku digenggam kakak. Aku menggenggam tangan kakak erat, kakak masih bernafas. Syukurlah.
“Kakak, bertahanlah,”
Aku meminta tolong seseorang untuk memanggil ambulans. Semua orang yang mengerubungi kami tampak panik. Nafas kakak mulai tersengal-sengal. Tanpa sadar, aku mulai meneteskan air mata. Kakak menyeka air mataku dengan seluruh tenaganya yang tersisa.
“Sakura, maafkan aku, aku tidak mau kau membenciku, aku sangat merasa bersalah padamu, aku ingin mengatakan semuanya padamu sebelum kau mengetahuinya, tapi aku takut, maaf, maaf aku telah menghancurkan hidupmu, aku telah membuatmu terjatuh ke jurang hingga kau hilang ingatan dan aku menyembunyikannya darimu, maaf, a-aku min-minta ma-af, maafkan a-aku, a-aku mencintaimu,”
“Sudahlah, kak, jangan bicara lagi, kakak sudah kehabisan banyak darah,”
Kakak tersenyum menatapku, senyuman kakak yang paling indah yang pernah kulihat. Air mataku semakin deras mengalir. Kakak tersenyum melihatku menangis, tiba-tiba genggaman kakak mengendur, matanya mulai meredup dan akhirnya tertutup. Ia tak sadarkan diri. Aku semakin panik dan terus memanggil-manggilnya.
“Kakak, ayolah, kak, bangun,”
Bus yang kutumpangi melaju cukup cepat. Aku harus segera kembali ke toko setelah mengambil barangku yang tertinggal di rumah kakak. Padahal, aku sudah tidak ingin menginjakkan kaki di rumah kakak, tapi liontin yang diberikan nenek tertinggal disana dan aku baru menyadarinya, aku memang ceroboh.
Aku turun tepat di halte dekat rumah kakak, aku hanya cukup berjalan sebentar untuk sampai di rumah kakak. Aku berdiri terpaku ketika samapi di depan rumahnya. Rasanya, sudah sangat lama aku tidak melihatnya sejak aku mengambil pindah. Tidak ada yang berubah dengan rumah ini, masih terawat sama seperti saat aku tinggal disini. Semua kenanganku bersama kakak di rumah ini masih dapat kuingat satu persatu. Aku seperti mengulang semua kenangan itu. Begitu indah, sampai aku merasa ingin menangis. Aku menyeka air mataku yang hampir menetes. Semua kebahagiaanku bersama kakak telah hancur setelah kakak menolakku, tapi kenangan indah saat bersamanya selalu teringat di benakku.
Aku menghela nafas, semoga saja mentalku siap untuk masuk ke rumah ini. Aku melangkah perlahan hingga sampai di depan pintu rumah. Aku kembali menghela nafas untuk menenangkan diriku, dan menekan bel, semoga saja kakak tidak ada di rumah.
Aku menunggu beberapa saat, tapi tidak ada jawaban, apa mungkin kakak memang tidak ada. Aku mencoba membunyikan bel sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Aku memutar knop pintu, dan sedikit terkejut, pintunya tidak terkunci, tapi kenapa tidak ada jawaban.
“Permisi,”
Aku berusaha melihat ke dalam, tapi tidak nampak ada orang disini. Lebih baik aku masuk saja, mengambil liotinku lalu segera pergi sebelum kakak datang. Aku melangkah masuk ke kamar yang dulu aku tempati. Kamar ini sedikit berubah, mungkin kakak merubah tata letak perabotnya. Sebuah meja terletak di sudut kamar, meja itu tempatku menaruh barang-barang berharga di lacinnya, semoga saja kakak tidak memindahkan isi lacinya.
Aku membuka laci meja itu dan menemukan liotin yang kucari, aku tersenyum senang, untunglah kakak tidak memindahkannya, aku berniat menutup laci itu kembali, tapi aku melihat sebuah kartu yang menarik perhatianku. Aku mengambil kartu itu, aku menduga itu adalah kartu tanda pengenal, tapi milik siapa? Aku memperhatikan nama yang tertera di kartu itu. Tokio Hiroshi, nama yang tidak asing.
“Aku Sakura, kamu siapa?”
“Tokio, Tokio Hiroshi, salam kenal,”
Deg. Apa itu tadi? Bayangan apa itu? Itu seperti sosok anak laki-laki yang kulihat di bukit waktu itu. Siapa dia? Apakah dia Tokio Hiroshi? Apa hubungannya dengan kakak? Kepalaku terasa pusing. Aku mencoba megingat sesuatu tentang Tokio Hiroshi, sepertinya aku pernah mengenalnya. Anak laki-laki itu, dia yang kupanggil To-chan, bukan? Siapa? Apa hubungannya denganku?
Tiba-tiba aku merasa seperti berada di bukit tempatku melihat bayangan anak laki-laki itu. Seperti bayanganku waktu itu, diriku waktu kecil sedang bercakap-cakap dengan anak laki-laki itu. Aku tampak sangat bahagia tapi anak laki-laki itu bersikap tenang-tenang saja.
“Mmm..To-chan, aku ingin mengatakan sesuatu, apa boleh?”
“Katakan saja, tapi jangan panggil aku seperti itu, aku tidak mau,”
“Kenapa? Bukankah To-chan terkesan manis?”
“Aku tidak manis, jangan panggil begitu,”
“Tapi, kan, To-chan..,”
“Hey! Sudahlah cepat, apa yang mau kau katakan?”
Diriku waktu kecil terlihat gugup, apa yang akan dia akan katakan? Jantungku terasa berdebar-debar, ada apa denganku? Kenapa prasangku jadi buruk?
“Tokio, aku..,”
“Hey, cepatlah!”
“Tokio, aku menyukaimu,”
Apa? Apa yang kukatakan? Kenapa aku bisa mengatakan itu pada anak laki-laki itu? Apa hubungannya denganku? Siapa Tokio bagiku?
Tokio tampak terkejut mendengar ucapanku. Ia tampak memikirkan kata-kata untuk menjawabnya. Kenapa diriku waktu kecil dapat seberani itu mengatakan kata suka padanya?
“Kau ini bicara apa? Kau tidak tahu, ya? Aku itu membencimu,”
Aku tercekat mendengar jawaban Tokio, begitupun aku kecil, ia tampak terkejut dan terlihat pucat. Dirinya terlihat limbung. Perasaan ini sama seperti saat aku ditolak oleh kakak. Apa diriku waktu kecil juga merasa seperti itu? Apa yang akan terjadi setelah ini?
“Ayo pulang, jangan memmikirkan macam-macam,”
Aku kecil terlihat terhuyung-huyung, mungkin ia sangat terluka dengan kata-kata Tokio, dia tampak sangat pucat. Tiba-tiba tanah tempatnya berpijak longsor, ia tampak berteriak dan menggapai tepi bukit. Tokio mendengar teriakannya dan segera pergi ke arahnya. Ia tampak berusaha menolong aku kecil. Ia mengulurkan tangannya. Jantungku berdetak cepat sekali. Apa yang akan terjadi? Apa aku akan mati? Tapi bukankah sekarang aku masih hidup?
“Tokio.., tolong aku,”
“Tenanglah, jangan bergerak-gerak, ayo gapai tanganku,”
“Aku tidak bisa, Tokio,”
Aku kecil terdengar terisak-isak, wajahnya tampak sangat ketakutan. Tokio terus terlihat berusaha menolongku.
“Kau bisa, percayalah padaku,”
“Bukankah Tokio membenciku? Bagaimana aku bisa percaya Tokio?”
Aku kecil tampak sedikit ragu. Pegangannnya mengendur, ia kembali berteriak.
“Sudah jangan banyak bicara! Cepat raih tanganku,”
Aku kecil tampak berusaha meraih tangan Tokio. Ayo, cepatlah, kau bisa Sakura. Jantungku berdegup semakin cepat. Aku kecil menggapai tangan Tokio tapi kemudian terlepas, ia terjatuh dan berteriak memanggil Tokio. Aku menutup mataku. Apa ini? Apa yang kulihat ini? Aku jatuh? Lalu kenapa aku ada disini? Kenapa aku masih hidup? Kenapa aku tidak mengingat aku pernah jatuh ke jurang?
Tidak ingat? Aku hilang ingatan setelah itu, benarkah begitu? Aku memegang kepalaku, sakit. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berputar didalam kepalaku. Aku harus segera pergi dari sini dan melupakan bayangan tadi. Aku terhuyung-huyung. Aku jatuh tersungkur. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari selipan kartu pengenal itu. Foto. Ini fotoku waktu kecil dan yang disebelahnya wajah yang tidak asing. Itu, anak laki-laki itu, anak kecil disampingku itu Tokio. Aku membalik foto itu, ada tulisan dibelakangnya. Hiro dan Sakura. Hiro? Bukankah itu kakak? Aku semakin tidak mengerti. Apa kakak menyembunyikan sesuatu padaku?
Aku harus segera pergi dari sini. Aku mengambil kartu pengenal itu, mungkin aku dapat menyelidiki semua keanehan ini. Aku segera menuju pintu. Saat aku membuka pintu, kakak berdiri tepat di hadapanku, aku sangat terkejut, begitu pun dengannya. Kakak menatapku heran, aku segera berlalu melewati kakak, berusaha idak memperdulikannya, tapi kakak berhasil menggapai tanganku dan menggenngamnya. Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh ke arah kakak. Kepalaku masih terasa sangat pusing.
“Sakura, boleh kita bicara sebentar?”
“Maaf, kak, aku kesini hanya untuk mengambil barangku yang tertinggal, aku harus pergi sekarang, lain kali saja kakak bicara,”
Aku melepaskan genggaman kakak, dan segera pergi secepat mungkin. Kakak terdengar memanggil-manggilku, tapi aku tetap berjalan tanpa memperdulikannya. Aku harus mencaritahu apa yang sebenarnya disembunyikan kakak. Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku kecil dan apa hubungannya dengan kakak. Aku harus cari tahu tentang Tokio Hiroshi.
...
Aku berdiri di depan gedung tinggi, di atasnya tertulis ‘Miura Cooperation’, aku mencocokkannya dengan kartu tanda pengenal yang kutemukan di rumah kakak, sama. Aku terkejut setengah mati. Ini kantor tempat kakak bekerja. Apa Tokio Hiroshi teman kakak? Ataukah ia adalah kakak? Jantungku berdegup kencang. Sebenarnya apa yang kakak ketahui tentangku? Apapun itu, aku harus memastikan siapa sebenarnya orang bernama Tokio Hiroshi ini.
Aku masuk ke dalam gedung dan mendatangi bagian informasi kantor ini. Aku harap dugaanku tentang kakak salah. Aku harap ia tak ada hubungannya dengan Tokio Hiroshi. Petugas informasi itu tersenyum padaku. Aku masih terlihat tidak percaya degan semua ini sehingga terpaku di tempatku tanpa mengatakan apapun.
“Ada yang dapat saya bantu?”
“Ah, itu, saya ingin bertemu dengan Tokio Hiroshi, apa dia bekerja disini?”
“Benar, tuan Tokio bekerja di bagian advertising perusahaan ini, apa nona ada perlu dengannya, apa perlu saya menghubunginya?”
“Ah, tidah perlu, tunjukkan saja ruangannya, aku ingin memberikan surprise untuknya,”
Aku sedikit berbohong kepada petugas informasi itu. Dia tampak mengerti dan tersenyum, aku membalas senyumannya. Dia bersedia mengantarkanku ke ruangan Tokio Hiroshi. Jantungku bergegup semakin cepat. Aku sangat penasaran terhadap orang bernama Tokio Hiroshi itu, siapa dia sebenarnya.
Petugas informasi itu berhenti di depan sebuah ruangan. Aku hampir tidak percaya ia berhenti di depan ruangan itu. Aku dapat melihat orang didalam ruangan itu dari balik kaca. Aku benar-benar tidak percaya. Dia. Orang yang berada didalam ruangan itu adalah kakak. Kakak. Kenapa? Aku tidak percaya semua ini. Aku melihat nama yang tertera di pintu ruangan itu. Tokio Hiroshi. Tidak mungkin. Tokio hiroshi adalah kakak? Apa ini benar? Tidak mungkin.
“Nona?”
“Ah, ya”
“Ini ruangan tuan Tokio, seprtinya dia ada didalam, saya permisi,”
“Baik, terima kasih banyak,”
Petugas informasi itu meninggalkanku yang masih terpaku di depan ruangan menatap kakak yang ada di dalam ruangan itu. Kakak tampak sedang mengerjakan pekerjaannya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kakak adalah Tokio Hiroshi. Apa meksudnya? Apa yang kakak ketahui tentangku? Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku kecil?
Aku terdiam memperhatikan kakak, tiba-tiba saja kakak mengalihkan pandangannya ke arahku, ia tampak terkejut, ia bngkit dari tempat duduknya dan segera berlari ke arah pintu dan membukanya. Aku seperti tidak sadarkan diri dan tetap berdiri di tempatku dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
“Sakura, kenapa kau ada disini?”
“Apa yang kakak sembunyikan dariku? Siapa kakak sebenarnya?”
Kakak tampak sangat terkejut mendengar pertanyaanku, ia terlihat salah tingkah. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Aku tidak percaya semua ini hingga rasanya dadaku terasa sesak sekali. Apa yang kakak sembunyikan dariku? Kenapa ia menyembunyikannya? Kakak melihat papan nama di pintu yang tertera namanya. Ia tidak berani menatapku. Aku jadi malas mengatakan apapun. Aku membalikkan badanku, lebih baik aku pergi tanpa mengatakan apapun pada kakak, mungkin lebih baik aku tidak tahu apapun tentang masa laluku. Aku menghela nafas berat dan berusaha berjalan cepat.
“Sakura, tunggu, aku akan jelaskan semuanya,”
Aku terkejut, aku tidak tahu kalau kakak mengejarku hingga keluar gedung, tapi aku berusaha tidak memperdulikannya dan terus berjalan. Kakak terus memanggilku. Aku berjalan semakin cepat. Aku harus cepat menghilang dari hadapan kakak. Aku menyebrang jalan dengan cepat agar tak terkejar kakak.
“Sakura, awas!”
Aku mendengar suara klakson mobil, terdengar sangat dekat. Aku menoleh ke sebelah kiri, sebuah mobil melaju cepat ke arahku. Aku terpaku di tempatku, tak dapat bergerak, entah apa yang ada di pikiranku. Mobil itu semakin dekat denganku, bukannya menghidar, aku malah berteriak sekerasnya-kerasnya, lututku rasanya lemas sekali, aku sama sekali tidak dapat bergerak. Kakak terus memanggil-manggilku, aku tidak begitu memperhatikannya. Aku menutup mataku.
“Kyaaaaaaa,”
Brak!
Jantungku berdegup cepat sekali. Tunggu. Jantungku masih berdegup? Lalu suara apa tadi? Bukankah aku tertabrak mobil? Kenapa aku tidak merasa sakit?
Aku membuka mataku dalam keadaan duduk tersungkur. Aku menatap ke bawah, aku merasa ada orang di pangkuanku. Kakak. Kakak terbaring berlumuran darah. Aku panik luar biasa. Aku menyentuh kepala kakak yang teluka parah. Bagaimana ini? Apa yang haus aku lakukan?
Orang-orang mulai datang berkumpul. Aku benar-benar panik. Tiba-tiba aku merasa tanganku digenggam kakak. Aku menggenggam tangan kakak erat, kakak masih bernafas. Syukurlah.
“Kakak, bertahanlah,”
Aku meminta tolong seseorang untuk memanggil ambulans. Semua orang yang mengerubungi kami tampak panik. Nafas kakak mulai tersengal-sengal. Tanpa sadar, aku mulai meneteskan air mata. Kakak menyeka air mataku dengan seluruh tenaganya yang tersisa.
“Sakura, maafkan aku, aku tidak mau kau membenciku, aku sangat merasa bersalah padamu, aku ingin mengatakan semuanya padamu sebelum kau mengetahuinya, tapi aku takut, maaf, maaf aku telah menghancurkan hidupmu, aku telah membuatmu terjatuh ke jurang hingga kau hilang ingatan dan aku menyembunyikannya darimu, maaf, a-aku min-minta ma-af, maafkan a-aku, a-aku mencintaimu,”
“Sudahlah, kak, jangan bicara lagi, kakak sudah kehabisan banyak darah,”
Kakak tersenyum menatapku, senyuman kakak yang paling indah yang pernah kulihat. Air mataku semakin deras mengalir. Kakak tersenyum melihatku menangis, tiba-tiba genggaman kakak mengendur, matanya mulai meredup dan akhirnya tertutup. Ia tak sadarkan diri. Aku semakin panik dan terus memanggil-manggilnya.
“Kakak, ayolah, kak, bangun,”
Sakura The Love without Name
XI. Don’t Touch My Girl (Tokio’s Feeling)
Tanpa kusadari, aku mencengkram stang motorku. Aku benar-benar kesal melihat pemandangan di depanku. Sial. Jangan sentuh Sakura, dia milikku. Rasanya amarahku meletup-letup dan naik sampai kepala. Aku terus melihatnya dengan mata penuh amarah, tapi aku tetap tidak beranjak dari tempatku.
Benar-benar menyebalkan. Padahal, aku berniat untuk mengunjungi apartemen Sakura yang baru untuk menanyakan keadaannya dan meminta maaf, tapi aku malah melihat hal yang paling tidak ingin kulihat. Hal yang sangat kutakutkan akan terjadi dan yang paling kubenci.
Keizo masih memeluk Sakura dengan erat. Argh, kenapa saat ini aku sama sekali tidak dapat melakukan apa pun? Mengesalkan. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh dan merasa sangat kesal, tapi tak berbuat apa-apa. Aku seperti pria malang yang menyedihkan, benar-benar mengesalkan.
Aku menghela nafas, dan berusaha berpikir jernih, menenangkan marahku. Seharusnya, aku tidak perlu sekesal ini. Aku sudah menolak Sakura, dan menginginkannya menjauh dariku, jadi seharusnya aku senang melihatnya dengan pria lain, tapi perasaanku saat ini tidak seperti itu, aneh sekali. Rasanya aku benar-benar kesal sampai ingin memukul pria yang memeluk Sakura. Aku ingin memukulnya dan menjauhkannya dari Sakura sejauh-jauhnya, tapi aku tidak melakukan itu dan tidak akan dapat melakukannya
Nafasku rasanya menggebu-gebu, hatiku rasanya panas sekali, tapi aku hanya diam tak bergerak. Sekarang, aku tidak punya hak untuk marah. Aku sudah melukai Sakura, dan itu berarti Sakura sudah tidak ada hubungan apa pun denganku. Urusannya bukanlah urusannya. Seharusnya, aku tidak mencampuri apa pun yang ia lakukan, aku tidak ada kaitannya.
Aku menutup mataku dan menghirup udara sampai aku merasa benar-benar tenang. Aku mengalihkan pandanganku dari mereka, beruntung, mereka tidak menyadari kehadiranku, itu lebih baik. Aku harus segera pergi dari sini dan menenangkan diriku, melupakan apa yang kulihat, seakan-akan aku memang tidak pernah melihatnnya. Aku segera menyalakan mesin motor dan mengendarainya secepat mungkin.
...
“Bukankah itu yang kau inginkan?”
Kazumi berbicara tanpa melihat ke arahku, ia seperti tidak perduli dengan ceritaku tentang apa yang kulihat semalam di depan apartemen Sakura. Aku menghela nafas. Aku sedikit kesal dengan sikapnya itu, tapi ucapannya benar, jadi seharusnya aku kesal dengan diriku sendiri. Aku terdiam sesaat, memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
“Ya, aku memang menginginkan itu, tapi entah mengapa rasanya aku kesal sekali,”
Kazumi mengalihkan pandangannya ke arahku, tatapannya seperti menyalahkanku. Aku hanya terdiam dan manghindari tatapannya itu. Kazumi seperti sedang mengintrogasiku layaknya buronan. Aku menghela nafas, dan tetap tidak berani menatap Kazumi.
“Kau tidak punya hk untuk keesal atau marah, kau tahu itu, kan?”
“Ya, aku sangat mengerti itu, tapi, Kazumi, aku...”
“Seharusnya kau mengatakan ini pada Sakura, bukan padaku,”
Aku tercekat mendengar ide Kazumi. Itu adalah ide tergila. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa aku kesal melihatnya dipeluk pria lain, sedangkan aku sudah menolak perasaannya? Aku memandang Kazumi dengan ragu, tapi ia tetap tidak mengubah tatapan menyalahkannya itu. Aku merasa serba salah.
“Kazumi, kau tahu, kan, aku tidak...”
“Tidak mungkin melakukannya? Jika kau belum mencobanya, kau tidak akan pernah tahu, Tokio, jadi kusarankan kau untuk mencobanya,”
Aku kembali menghela nafas, Kazumi tampak seperti menantangku. Benar-benar tantangan yang sulit. Jika aku melakukan itu, apakah ada harapan Sakura akan memaafkanku? Lalu jika dia memang memaafkanku, apa rasa bersalahku ini akan dengan mudah menghilang? Lagi-lagi aku menatap Kazumi dengan ragu. Kazumi tidak merubah tatapan menantangnya padaku. Aku hanya tertawa karena menyadari bahwa ide itu gila. Kazumi terlihat seperti merendahkanku. Mungkin, ia berpikir aku adalah pria paling pengecut di dunia ini.
“ Kau tetap tidak mau mencobanya?”
“Kazumi, bagaimana jik ia memaafkanku? Bagaimana caranya aku menghilangkan rasa bersalahku ini? Aku tidak mungkin melakukan itu, memikirkannya saja sudah membuatku gila, aku tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi setelah itu, kau mengerti itu, kan?”
“Lalu, kau akan selalu bersembunyi dari resiko itu? Kau tidak akan mendapatkan apa pun jika terus menghindar, percayalah, itu hanya akan menyakiti dirimu juga Sakura,”
Aku terpaku dan terdiam,mencoba mencerna ucapan Kazumi dengan baik dan jelas. Dia benar, seratus persen benar. Aku mencintai sakura sebesar apapun tidak akan pernah tersampaikan padanya, malah sebaliknya, dengan cinta itulah aku melukai dirinya dan diriku sendiri. Terus berulang seperti itu. Sejak aku bertemu dengan Sakura pertama kali aku sudah melakukan itu, menyembunyikan perasaanku dan terus mendorongnya menjauh dengan melukainya. Seketika, aku teringat ucapan ibu, itu terus terngiang di telingaku seperti mantra.
“Mengapa kau selalu melukai orang yang kau sayangi?”
Kata-kata itu terus menempel di ingatanku, jawabannya tetap tidak kudapatkan. Aku memegang kepalaku, rasanya semua memori saat aku melukai orang yang kusayangi terulang kembali di depan mataku. Saat ayah tertabrak mobil karena melindungiku yang hampir tertabrak, saat ibu menderita sakit parah karena sangat merindukan ayah hingga tak mau makan, dan saat aku mencelakai Sakura hingga ia hilang ingatan dan tidak pernah lagi bertemu kedua orangtuanya, semuanya dapat kulihat kembali dalam benakku. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Aku menatap telapak tanganku, tidak dapat kubayangkan berapa kesalahan yang telah kulakukan jika kau menghitungnya. Seharusnya, diriku ini pantas dikucilkan semua orang, atau mungkin dibunuh saja agar semua kesalahanku dapat hilang seketika. Air mataku mulai mengalir deras, aku menghapusnya dan berusaha tertawa untuk menghentikannya. Kazumi tampak memperhatikanku yang tiba-tiba menangis. Mengesalkan, ini sudah kedua kalinya aku terlihat memalukan di depannya. Paling tidak, kali ini, aku harus segera pergi untuk menghindari pertanyaannya.
“Kazumi, maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang,”
Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan meninggalkan Kazumi yang masih terlihat heran melihat perubahan sikapku. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, tiba-tiba aku mendengarnya memamanggilku, aku segera menoleh ke belakang.
“Tokio, kau harus ingat, jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi, pikirkan baik-baik, kalau kau butuh aku temui aku kapanpun, kau mengerti?”
Aku hanya membalas dengan seulas senyum. Sepertinya, Kazumi jadi sedikit mengkhawatirkanku, tapi aku masih tidak dapat memahami diriku sendiri. Aku kembali berjalan meninggalkan Kazumi dengan rasa berat di dadaku.
...
Lagi-lagi aku harus melihatnya bersama orang yang kusayangi. Sebenarnya, apa yang ia rencanakan. Emosiku seperti dipermainkannya, benar-benar mengesalkan. Saat itu aku melihatnya memeluk Sakura, sekarang, aku melihatnya bercakap-cakap dengan akrab bersama Kazumi. Siapa sebenarnya dia? Apa ia sengaja melakukan ini untuk memancing emosiku? Tanpa sadar, aku mengepalkan kedua tanganku. Darahku naik ke kepala dan rasanya hatiku panas sekali. Kakiku seperti berjalan sendiri ke arahnya dan Kazumi yang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Amarahku benar-benar memuncak. Langkahku semakin lama semakin dekat. Aku yakin mereka pasti menyadari kehadiranku.
Keizo menatapku dengan terkejut, tapi itu sudah terlambat, pukulanku terlanjur mendarat di rahangnya. Kazumi tampak tercekat, tapi aku terlanjur kalap dan terus memukuli keizo tanpa henti. Kazumi mulai panik melihatku yang terus memukuli Keizo walau ia tidak melawan. Keizo hanya berusaha menghindari pukulanku, tapi aku sudah tidak perduli, aku tetap memukulnya tanpa ampun. Aku tidak perduli dia tahu atau tidak, alasan mengapa aku memukulnya. Aku hanya memukulnya terus dngan amarah yang semakin memuncak.
“Hentikan! Tokio, hentikan! Kau ini apa-apaan?!”
Kazumi terus berteriak untuk menghentikanku, tapi aku terus melanjutkannya tanpa memperdulikannya. Orang-orang sekitar kami juga mulai ikut panik. Mereka tampak ingin menghentikanku, tapi tiba-tiba saja, Keizo membalas pukulanku tepat di wajahku. Aku menyentuh bagian yang ia pukul, setetes darah segar menempel di jariku. Aku menatap Keizo dengan murka, tapi ia terlihat heran dengan sikapku.
“Apa alasanmu memukulku tiba-tiba? Jelaskan padaku!”
Aku tersenyum licik padanya. Seharusnya, dia tahu alasannya. Aku tertawa seakan menantangnya. Benar-benar mengesalkan. Amarahku tidak kunjung reda, aku kembali mengepalkan tanganku. Keizo tampak menuntut jawaban dari pertanyaannya.
“Kau itu benar-benar tidak tahu malu, ya? Waktu itu kau memeluk Sakura, lalu sekarang kau dapat dengan tenangnya bercakap-cakap dengan Kazumi, kau itu pria macam apa, hah?”
Bukannya memikirkan apa yang kuucapkan, Keizo malah tertawa keras. Ia terlihat seperti sedang merendahkanku. Aku menatapnya heran sekaligus semakin kesal. Apa-apaan dia, apa maksudnya ia tertawa? Aku berusaha menahan amarahku untuk menunggunya menjelaskan maksud tertawanya.
“Kau memperhatikan Sakura? Bukankah, kau yang menolaknya, apa kau masih punya hak untuk marah jika ia dekat dengan pria lain?”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Aku benar-benar tidak dapat membalas ucapannya itu. ia kembali tertawa. Sepertinya, ia menyadari bahwa aku tidak dapat membalas ucpannya.
“Kau tahu, sedalam apa kau melukai Sakura? Kau pikir dengan memukuliku maka luka Sakura akan menghilang? Jadi, siapa yang sebenarnya tidak tahu malu? Aku atau kau?”
Mata Keizo tampak merendahkanku. Dia tertawa semakin keras, dan terdengar menantangku. Aku masih terpaku untuk mencerna semua ucapan Keizo. Aku merasa kesal, menyadari bahwa semua ucapannya itu benar. Seharusnya, aku tidak mengurusi urusan Sakura lagi, dia bukan milikku, bukan siapa-siapa bagiku, tapi di hatiku yang paling dalam, aku masih menyimpan perasaan padanya.
“Jika kau ingin mencampuri urusan Sakura, pikirkanlah lagi, apa hubunganmu dengan Sakura? Dan bagaimana perasaannya saat ini padamu?”
Kepalan tanganku semakin mengeras, tapi aku tidak sempat memukul Keizo kembali karena ia sudah terlanjur meninggalkanku dan Kazumi yang masih terdiam di tempat kami. Tiba-tiba, Kazumi menggenggam tanganku yang masih mengepal. Mungkin, ia menyadari perasaanku saat ini. Kepalan tanganku lama-lama mengendur. Aku berusaha menenangkan emosiku. Rasanya, aku seperti berada di jalan buntu, tak tahu harus melangkah kemana.
“Dia benar, kau harus memastikan perasaanmu pada Sakura, kau harus menjelaskan semuanya, dan apapun resikonya, kau harus siap menanggungnya, oh, ya, sekedar informasi, aku dan Keizo sudah berteman sejak lima tahun yang lalu, jadi kau tidak perlu curiga dengan hubungan kami, kuharap kali ini kau tidak salah memilih keputusan,”
Setelah mengatakan itu, Kazumi mengambil tasnya dan segera meninggalkanku sendirian. Aku mematung dan mencoba memahami semua ucapan Keizo dan Kazumi. Sepertinya, suatu hari aku akan hancur dengan sendirinya, jika terus tidak mengubah semua keputusanku.
Tanpa kusadari, aku mencengkram stang motorku. Aku benar-benar kesal melihat pemandangan di depanku. Sial. Jangan sentuh Sakura, dia milikku. Rasanya amarahku meletup-letup dan naik sampai kepala. Aku terus melihatnya dengan mata penuh amarah, tapi aku tetap tidak beranjak dari tempatku.
Benar-benar menyebalkan. Padahal, aku berniat untuk mengunjungi apartemen Sakura yang baru untuk menanyakan keadaannya dan meminta maaf, tapi aku malah melihat hal yang paling tidak ingin kulihat. Hal yang sangat kutakutkan akan terjadi dan yang paling kubenci.
Keizo masih memeluk Sakura dengan erat. Argh, kenapa saat ini aku sama sekali tidak dapat melakukan apa pun? Mengesalkan. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh dan merasa sangat kesal, tapi tak berbuat apa-apa. Aku seperti pria malang yang menyedihkan, benar-benar mengesalkan.
Aku menghela nafas, dan berusaha berpikir jernih, menenangkan marahku. Seharusnya, aku tidak perlu sekesal ini. Aku sudah menolak Sakura, dan menginginkannya menjauh dariku, jadi seharusnya aku senang melihatnya dengan pria lain, tapi perasaanku saat ini tidak seperti itu, aneh sekali. Rasanya aku benar-benar kesal sampai ingin memukul pria yang memeluk Sakura. Aku ingin memukulnya dan menjauhkannya dari Sakura sejauh-jauhnya, tapi aku tidak melakukan itu dan tidak akan dapat melakukannya
Nafasku rasanya menggebu-gebu, hatiku rasanya panas sekali, tapi aku hanya diam tak bergerak. Sekarang, aku tidak punya hak untuk marah. Aku sudah melukai Sakura, dan itu berarti Sakura sudah tidak ada hubungan apa pun denganku. Urusannya bukanlah urusannya. Seharusnya, aku tidak mencampuri apa pun yang ia lakukan, aku tidak ada kaitannya.
Aku menutup mataku dan menghirup udara sampai aku merasa benar-benar tenang. Aku mengalihkan pandanganku dari mereka, beruntung, mereka tidak menyadari kehadiranku, itu lebih baik. Aku harus segera pergi dari sini dan menenangkan diriku, melupakan apa yang kulihat, seakan-akan aku memang tidak pernah melihatnnya. Aku segera menyalakan mesin motor dan mengendarainya secepat mungkin.
...
“Bukankah itu yang kau inginkan?”
Kazumi berbicara tanpa melihat ke arahku, ia seperti tidak perduli dengan ceritaku tentang apa yang kulihat semalam di depan apartemen Sakura. Aku menghela nafas. Aku sedikit kesal dengan sikapnya itu, tapi ucapannya benar, jadi seharusnya aku kesal dengan diriku sendiri. Aku terdiam sesaat, memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
“Ya, aku memang menginginkan itu, tapi entah mengapa rasanya aku kesal sekali,”
Kazumi mengalihkan pandangannya ke arahku, tatapannya seperti menyalahkanku. Aku hanya terdiam dan manghindari tatapannya itu. Kazumi seperti sedang mengintrogasiku layaknya buronan. Aku menghela nafas, dan tetap tidak berani menatap Kazumi.
“Kau tidak punya hk untuk keesal atau marah, kau tahu itu, kan?”
“Ya, aku sangat mengerti itu, tapi, Kazumi, aku...”
“Seharusnya kau mengatakan ini pada Sakura, bukan padaku,”
Aku tercekat mendengar ide Kazumi. Itu adalah ide tergila. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa aku kesal melihatnya dipeluk pria lain, sedangkan aku sudah menolak perasaannya? Aku memandang Kazumi dengan ragu, tapi ia tetap tidak mengubah tatapan menyalahkannya itu. Aku merasa serba salah.
“Kazumi, kau tahu, kan, aku tidak...”
“Tidak mungkin melakukannya? Jika kau belum mencobanya, kau tidak akan pernah tahu, Tokio, jadi kusarankan kau untuk mencobanya,”
Aku kembali menghela nafas, Kazumi tampak seperti menantangku. Benar-benar tantangan yang sulit. Jika aku melakukan itu, apakah ada harapan Sakura akan memaafkanku? Lalu jika dia memang memaafkanku, apa rasa bersalahku ini akan dengan mudah menghilang? Lagi-lagi aku menatap Kazumi dengan ragu. Kazumi tidak merubah tatapan menantangnya padaku. Aku hanya tertawa karena menyadari bahwa ide itu gila. Kazumi terlihat seperti merendahkanku. Mungkin, ia berpikir aku adalah pria paling pengecut di dunia ini.
“ Kau tetap tidak mau mencobanya?”
“Kazumi, bagaimana jik ia memaafkanku? Bagaimana caranya aku menghilangkan rasa bersalahku ini? Aku tidak mungkin melakukan itu, memikirkannya saja sudah membuatku gila, aku tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi setelah itu, kau mengerti itu, kan?”
“Lalu, kau akan selalu bersembunyi dari resiko itu? Kau tidak akan mendapatkan apa pun jika terus menghindar, percayalah, itu hanya akan menyakiti dirimu juga Sakura,”
Aku terpaku dan terdiam,mencoba mencerna ucapan Kazumi dengan baik dan jelas. Dia benar, seratus persen benar. Aku mencintai sakura sebesar apapun tidak akan pernah tersampaikan padanya, malah sebaliknya, dengan cinta itulah aku melukai dirinya dan diriku sendiri. Terus berulang seperti itu. Sejak aku bertemu dengan Sakura pertama kali aku sudah melakukan itu, menyembunyikan perasaanku dan terus mendorongnya menjauh dengan melukainya. Seketika, aku teringat ucapan ibu, itu terus terngiang di telingaku seperti mantra.
“Mengapa kau selalu melukai orang yang kau sayangi?”
Kata-kata itu terus menempel di ingatanku, jawabannya tetap tidak kudapatkan. Aku memegang kepalaku, rasanya semua memori saat aku melukai orang yang kusayangi terulang kembali di depan mataku. Saat ayah tertabrak mobil karena melindungiku yang hampir tertabrak, saat ibu menderita sakit parah karena sangat merindukan ayah hingga tak mau makan, dan saat aku mencelakai Sakura hingga ia hilang ingatan dan tidak pernah lagi bertemu kedua orangtuanya, semuanya dapat kulihat kembali dalam benakku. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Aku menatap telapak tanganku, tidak dapat kubayangkan berapa kesalahan yang telah kulakukan jika kau menghitungnya. Seharusnya, diriku ini pantas dikucilkan semua orang, atau mungkin dibunuh saja agar semua kesalahanku dapat hilang seketika. Air mataku mulai mengalir deras, aku menghapusnya dan berusaha tertawa untuk menghentikannya. Kazumi tampak memperhatikanku yang tiba-tiba menangis. Mengesalkan, ini sudah kedua kalinya aku terlihat memalukan di depannya. Paling tidak, kali ini, aku harus segera pergi untuk menghindari pertanyaannya.
“Kazumi, maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang,”
Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan meninggalkan Kazumi yang masih terlihat heran melihat perubahan sikapku. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, tiba-tiba aku mendengarnya memamanggilku, aku segera menoleh ke belakang.
“Tokio, kau harus ingat, jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi, pikirkan baik-baik, kalau kau butuh aku temui aku kapanpun, kau mengerti?”
Aku hanya membalas dengan seulas senyum. Sepertinya, Kazumi jadi sedikit mengkhawatirkanku, tapi aku masih tidak dapat memahami diriku sendiri. Aku kembali berjalan meninggalkan Kazumi dengan rasa berat di dadaku.
...
Lagi-lagi aku harus melihatnya bersama orang yang kusayangi. Sebenarnya, apa yang ia rencanakan. Emosiku seperti dipermainkannya, benar-benar mengesalkan. Saat itu aku melihatnya memeluk Sakura, sekarang, aku melihatnya bercakap-cakap dengan akrab bersama Kazumi. Siapa sebenarnya dia? Apa ia sengaja melakukan ini untuk memancing emosiku? Tanpa sadar, aku mengepalkan kedua tanganku. Darahku naik ke kepala dan rasanya hatiku panas sekali. Kakiku seperti berjalan sendiri ke arahnya dan Kazumi yang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Amarahku benar-benar memuncak. Langkahku semakin lama semakin dekat. Aku yakin mereka pasti menyadari kehadiranku.
Keizo menatapku dengan terkejut, tapi itu sudah terlambat, pukulanku terlanjur mendarat di rahangnya. Kazumi tampak tercekat, tapi aku terlanjur kalap dan terus memukuli keizo tanpa henti. Kazumi mulai panik melihatku yang terus memukuli Keizo walau ia tidak melawan. Keizo hanya berusaha menghindari pukulanku, tapi aku sudah tidak perduli, aku tetap memukulnya tanpa ampun. Aku tidak perduli dia tahu atau tidak, alasan mengapa aku memukulnya. Aku hanya memukulnya terus dngan amarah yang semakin memuncak.
“Hentikan! Tokio, hentikan! Kau ini apa-apaan?!”
Kazumi terus berteriak untuk menghentikanku, tapi aku terus melanjutkannya tanpa memperdulikannya. Orang-orang sekitar kami juga mulai ikut panik. Mereka tampak ingin menghentikanku, tapi tiba-tiba saja, Keizo membalas pukulanku tepat di wajahku. Aku menyentuh bagian yang ia pukul, setetes darah segar menempel di jariku. Aku menatap Keizo dengan murka, tapi ia terlihat heran dengan sikapku.
“Apa alasanmu memukulku tiba-tiba? Jelaskan padaku!”
Aku tersenyum licik padanya. Seharusnya, dia tahu alasannya. Aku tertawa seakan menantangnya. Benar-benar mengesalkan. Amarahku tidak kunjung reda, aku kembali mengepalkan tanganku. Keizo tampak menuntut jawaban dari pertanyaannya.
“Kau itu benar-benar tidak tahu malu, ya? Waktu itu kau memeluk Sakura, lalu sekarang kau dapat dengan tenangnya bercakap-cakap dengan Kazumi, kau itu pria macam apa, hah?”
Bukannya memikirkan apa yang kuucapkan, Keizo malah tertawa keras. Ia terlihat seperti sedang merendahkanku. Aku menatapnya heran sekaligus semakin kesal. Apa-apaan dia, apa maksudnya ia tertawa? Aku berusaha menahan amarahku untuk menunggunya menjelaskan maksud tertawanya.
“Kau memperhatikan Sakura? Bukankah, kau yang menolaknya, apa kau masih punya hak untuk marah jika ia dekat dengan pria lain?”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Aku benar-benar tidak dapat membalas ucapannya itu. ia kembali tertawa. Sepertinya, ia menyadari bahwa aku tidak dapat membalas ucpannya.
“Kau tahu, sedalam apa kau melukai Sakura? Kau pikir dengan memukuliku maka luka Sakura akan menghilang? Jadi, siapa yang sebenarnya tidak tahu malu? Aku atau kau?”
Mata Keizo tampak merendahkanku. Dia tertawa semakin keras, dan terdengar menantangku. Aku masih terpaku untuk mencerna semua ucapan Keizo. Aku merasa kesal, menyadari bahwa semua ucapannya itu benar. Seharusnya, aku tidak mengurusi urusan Sakura lagi, dia bukan milikku, bukan siapa-siapa bagiku, tapi di hatiku yang paling dalam, aku masih menyimpan perasaan padanya.
“Jika kau ingin mencampuri urusan Sakura, pikirkanlah lagi, apa hubunganmu dengan Sakura? Dan bagaimana perasaannya saat ini padamu?”
Kepalan tanganku semakin mengeras, tapi aku tidak sempat memukul Keizo kembali karena ia sudah terlanjur meninggalkanku dan Kazumi yang masih terdiam di tempat kami. Tiba-tiba, Kazumi menggenggam tanganku yang masih mengepal. Mungkin, ia menyadari perasaanku saat ini. Kepalan tanganku lama-lama mengendur. Aku berusaha menenangkan emosiku. Rasanya, aku seperti berada di jalan buntu, tak tahu harus melangkah kemana.
“Dia benar, kau harus memastikan perasaanmu pada Sakura, kau harus menjelaskan semuanya, dan apapun resikonya, kau harus siap menanggungnya, oh, ya, sekedar informasi, aku dan Keizo sudah berteman sejak lima tahun yang lalu, jadi kau tidak perlu curiga dengan hubungan kami, kuharap kali ini kau tidak salah memilih keputusan,”
Setelah mengatakan itu, Kazumi mengambil tasnya dan segera meninggalkanku sendirian. Aku mematung dan mencoba memahami semua ucapan Keizo dan Kazumi. Sepertinya, suatu hari aku akan hancur dengan sendirinya, jika terus tidak mengubah semua keputusanku.
Sakura The Love without Name
X. Move on (Sakura’s Feeling)
Hatiku sakit, rasanya panas sekali seperti tersayat-sayat. Air mataku terus mengalir sejak pulang dari rumah kakak. Aku tidak menyangka akan melihat hal itu, aku tidak pernah tahu kakak dan kak Kazumi mempunyai hubungan yang sedekat itu. Aku benar-benar bodoh. Padahal, aku sudah berniat untuk melupakan perasaanku pada kakak, tapi saat aku melihatnya bersama kak Kazumi tadi, hatiku rasanya sakit sekali. Aku ingin memukul kakak sekeras-kerasnya, mengatakan bahwa ia seharusnya memberitahu alasannya menolakku, tapi aku tidak bisa, aku benar-benar tidak mungkin melakukan itu pada kakak.
Aku menatap kosong ke luar jendela, bus yang kutumpangi terasa berjalan sangat lambat, padahal aku ingin segera sampai apartemen dan melupakan apa yang kulihat hari ini. Rasanya cuaca terasa dingin sekali. Aku menghapus air mataku berkali-kali, tapi berkali-kali juga ia mengalir kembali. Aku tidak tauh sampai kapan aku terus begini. Tetap menyukai kakak, walaupun ia sudah menolakku dan melukaiku. Sampai kapan aku tetap menyukainya. Tuhan, kenapa aku tidak dapat mneyukai orang lain selainnya? Aku ingin melupakan kakak.
“Sakura, kau benar-benar bodoh,”
Aku menggumamkannya berkali-kali. Bodoh, aku bodoh, benar-benar bodoh. Mencintai lalu terluka, lalu sekarang, aku tetap mencintai. Kapan semuanya berakhir? Kapan aku dapat pergi dari bayang-bayang kakak?
Aku menghela nafas berkali-kali air mataku tetap tak mau berhanti. Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku tidak bisa terus bersama kakak? Padahal kukira kakak juga menyukaiku, tapi aku salah, itu hanya khayalanku saja. Seharusnya, aku tidak pernah menyukai kakak. Seharusnya, aku tidak pernah menyatakan perasaanku.
Aku harus dapat melupakan kakak. Aku harus yakin dapat menyukai orang lain selain kakak. Aku menghapus air mataku kembali dan menahan tangisku. Aku terisak-isak, sulit sekali menghentikan tangisku,tapi aku harus menghentikan ini. Tenanglah, Sakura, ini bukan akhir segalanya. Aku menepuk-nepuk dadaku. Aku bisa melakukan ini, aku akan melupakan kakak dan menyukai orang lain lalu kembali menjalani hidupku dengan bahagia.
...
“Akhir-akhir ini kau tampak semangat sekali,”
Aku menatap paman Yuzo dan tersenyum manis, dia tertawa melihat reaksiku. Sepertinya, sejak tadi ia memperhatikanku bekerja.
“Apa paman pikir begitu? Menurutku itu bagus,”
“Ya, dengan begitu, presdir akan semakin menyukaimu,”
Paman Yuzo tertawa setelah mengatakan itu, aku merengut kesal. Dasar, paman Yuzo selalu mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku dan presdir memang dekat tapi hubungan kami bukan sepesang kekasih. Paman Yuzo selalu menggoda kami tentang hubungan kami itu. aku jadi sedikit kesal dengannya.
“Apa paman tidak bisa berhenti bercanda tentang hal itu?”
“Kau ini, kalian itu cocok, bukankah lebih baik kalian menjadi sepasang kekasih, menurutku itu bagus,”
“Paman!”
“Menurutku itu juga bagus, paman,”
Deg. Suara presdir. Aku membalikkan badanku, dugaanku tepat, itu memang presdir. Ia berjalan menghampiri aku dan paman. Aku tersenyum kecut melihatnya, paman tampak tertawa senang. Aku menatap paman kesal, giliran presdir yang tertawa melihat tingkahku. Aku jadi terlihat serba salah.
“Bagaimana, Sakura? Lihat, menurut presdir usulku itu juga bagus,”
Aku menghela nafas, mendengar ucapan paman membuatku kesal saja.
“Sudahlah, paman, jangan membahas hal itu,”
Presdir dan paman tertawa serempak mendengar ucapanku itu. aku jadi tidak mengerti dan menatap mereka heran, tapi mereka semakin tertawa keras. Aku mendengus kesal, lalu membalikkan badanku, berniat untuk pergi meninggalkan mereka.
“Kau mau kemana? Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“Sudah,”
Aku menjawab pertanyaan presdir tanpa menoleh dan tetap berjalan. Tiba-tiba aku merasa ada yang menahan tanganku. Aku menoleh dam mendapatkan presdir sedang menggenggam tanaganku erat. Aku menatapnya penug dengen tanda tanya.
“Kalau kau sudah selesai, apa aku boleh mengantarmu pulang, nona?”
Presdir tersenyum manis menggodaku, aku tertawa melihat tingkahnya yang memperlakukanku seperti nona bangsawan. Aku menggeleng-gelengkan kepala, aku mulai berpikir bahwa presdir pintar menggoda wanita. Paman Yuzo tertawa melihat kami, aku jadi merasa malu, aku segera melepaskan tanganku dari genggaman presdir, dan tersenyum manis.
“Kalau tuan tidak keberatan,”
...
Presdir terus bercanda denganku sepanjang perjalanan, aku jadi terus tertawa karenanya. Perjalanan kami jadi terasa sangat cepat, hingga tidak terasa kami sudah sampai di depan apartemenku. Sudah hampir sebulan aku tinggal di apartemen dan selama itu presdir cukup sering berkunjung untuk sekedar menemuiki atau mengantarku pulang kerja. Entah sejak kapan, aku tidak lagi terlalu memnikirkan kakak, walau terkadang jika mengingat kenangan manis bersama kakak, aku kembali menangis.
“Kau itu suka sekali melamun, ya?”
Aku tersadar dari lamunanku dan segera mengalihkan pandanganku ke arah presdir. Sepertinya benar apa yang dikatakan presdir, aku merasa akhir-akhir ini aku seing sekali melamun.
“Maaf, aku jadi mengabakan presdir, apa presdir mau masuk sebentar untuk minum teh?”
“Ah, lain kali saja, oh, ya, apa kau memberitahu alamat apartemenmu ini pada kakakmu itu?”
Aku menghela nafas, kenapa presdir harus menanyakan itu? Aku jadi ingat saat aku memberitahu kakak alamat apartemenku, tapi ia terlihat tidak perduli bahkan ia langsung masuk ke rumah dan menutup pintu. Benar-benar mengesalkan.
“Hey! Kau itu benar-benar suka melamun,”
“Maaf, maaf, oh, iya, tentang itu, aku memberitahunya pada kakak, tapi mungkin menurutnya itu tidak begitu penting,”
“Benarkah? Apa mungkin ia sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu?”
Ya, itu mungkin, walau aku tidak berharap begitu, tapi seertinya memang terlihat seperti itu. Seharusnya dengan begitu, aku dapat dengan mudh melupakan kakak, tapi aku tetap merasa sulit untuk melakukan itu. Sangat sulit untuk menghilangkan perasaanku padanya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu dan tidak mengerti dengannya,”
Presdir tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengulurkan tangannya lalu mengusap kepalaku sambil tersenyum manis. Entah mengapa, rasanya aku merasa jantungku berdebar keras. Aku hanya memandangnya dengan heran, ia tetap tersenyum manis tanpa memperdulikan keherananku.
“Tenanglah, kau cukup menatap jauh ke depan, kau cukup menutup matamu saat melihatnya, kau cukup melupakannya dan mencintai pria lain, aku yakin kau dapat melakukan itu, Sakura, walau kedengarannya sulit, tapi kau pasti bisa, jika kau merasa tidak mungkin melakukan itu, datanglah padaku, dan aku akan membantumu kapan pun kau membutuhkanku,”
Aku terpaku mendengar ucapan predir, tanpa kusadari air mataku mulai mengalir. Aku tidak tahu mengapa aku menangis, padahal aku tidak merasa sesak seperti saat kakak menolakku, aku juga tidak merasa sedih, dan tidak merasa senang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Aku tertawa menyadari air mataku tidak dapat berhenti, aku terus tertawa sambil mengusapnya. Presdir tersenyum melihat tingakahku yang aneh ini. Tiba-tiba ia mpenggapaiku dan memelukku, aku terkejut tapi tak sempat menahannya. Presdir memelukku erat.
“Menangislah sepuasmu, tidak apa-apa, aku hanya berharap kau akan lebih tenang di pelukanku,”
Aku terkejut sekaligus terharu mendengar ucapan presdir. Entahlah, aku jadi tidak mengerti perasaanku, rasanya tidak karuan dan campur aduk. Aku hanya menngis dalam pelukan presdir tanpa mengatakan apa pun. Air mataku, entah mengapa, semakin mengalir deras.
Aku tahu presdir menyukaiku, tapi aku tetap tidak dapat menyukai presdir, aku masih sering memikirkan kakak. Padahal, presdir begitu baik padaku, tapi aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apa pun padanya. Rasanya aku ingin meminta maaf padanya, tapi kata-kata maaf itu sulit sekali aku ucapkan.
Mungkin, lebih baik tetap begini. Aku terus menyukai kakak tanpa memperdulikan perasaan presdir, walau aku yakin presdir mengetahui hal itu, tapi ia hanya diam dan berpura-pura tidak tahu. Seharusnya, aku berusaha melupakan kakak dan berpindah hati ke presdir, tapi aku tidak dapat melakuka itu, walau apa pun yang dilakukan presdir untukku. Terkadang, aku berpikir aku seperti orang jahat jika melakukan itu, tapi aku tetap melakukannya, dan tidak berubah. Aku terus bergantung pada presdir tapi hatiku terus mencintai kakak. Aku seperti gadis yang tamak.
Aku terus menangis dalam pelukan presdir. Menyadari perasaanku yang sebenarnya sangat menakitkan. Aku seperti berada di tengah-tengah labirin yang membingungkan dan aku tidak dapat keluar dari sana. Aku sama sekali tidak dapat berpindah hati dari kakak, dan tanpa kusadari aku terus menyakiti presdir. Menyedihkan.
Hatiku sakit, rasanya panas sekali seperti tersayat-sayat. Air mataku terus mengalir sejak pulang dari rumah kakak. Aku tidak menyangka akan melihat hal itu, aku tidak pernah tahu kakak dan kak Kazumi mempunyai hubungan yang sedekat itu. Aku benar-benar bodoh. Padahal, aku sudah berniat untuk melupakan perasaanku pada kakak, tapi saat aku melihatnya bersama kak Kazumi tadi, hatiku rasanya sakit sekali. Aku ingin memukul kakak sekeras-kerasnya, mengatakan bahwa ia seharusnya memberitahu alasannya menolakku, tapi aku tidak bisa, aku benar-benar tidak mungkin melakukan itu pada kakak.
Aku menatap kosong ke luar jendela, bus yang kutumpangi terasa berjalan sangat lambat, padahal aku ingin segera sampai apartemen dan melupakan apa yang kulihat hari ini. Rasanya cuaca terasa dingin sekali. Aku menghapus air mataku berkali-kali, tapi berkali-kali juga ia mengalir kembali. Aku tidak tauh sampai kapan aku terus begini. Tetap menyukai kakak, walaupun ia sudah menolakku dan melukaiku. Sampai kapan aku tetap menyukainya. Tuhan, kenapa aku tidak dapat mneyukai orang lain selainnya? Aku ingin melupakan kakak.
“Sakura, kau benar-benar bodoh,”
Aku menggumamkannya berkali-kali. Bodoh, aku bodoh, benar-benar bodoh. Mencintai lalu terluka, lalu sekarang, aku tetap mencintai. Kapan semuanya berakhir? Kapan aku dapat pergi dari bayang-bayang kakak?
Aku menghela nafas berkali-kali air mataku tetap tak mau berhanti. Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku tidak bisa terus bersama kakak? Padahal kukira kakak juga menyukaiku, tapi aku salah, itu hanya khayalanku saja. Seharusnya, aku tidak pernah menyukai kakak. Seharusnya, aku tidak pernah menyatakan perasaanku.
Aku harus dapat melupakan kakak. Aku harus yakin dapat menyukai orang lain selain kakak. Aku menghapus air mataku kembali dan menahan tangisku. Aku terisak-isak, sulit sekali menghentikan tangisku,tapi aku harus menghentikan ini. Tenanglah, Sakura, ini bukan akhir segalanya. Aku menepuk-nepuk dadaku. Aku bisa melakukan ini, aku akan melupakan kakak dan menyukai orang lain lalu kembali menjalani hidupku dengan bahagia.
...
“Akhir-akhir ini kau tampak semangat sekali,”
Aku menatap paman Yuzo dan tersenyum manis, dia tertawa melihat reaksiku. Sepertinya, sejak tadi ia memperhatikanku bekerja.
“Apa paman pikir begitu? Menurutku itu bagus,”
“Ya, dengan begitu, presdir akan semakin menyukaimu,”
Paman Yuzo tertawa setelah mengatakan itu, aku merengut kesal. Dasar, paman Yuzo selalu mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku dan presdir memang dekat tapi hubungan kami bukan sepesang kekasih. Paman Yuzo selalu menggoda kami tentang hubungan kami itu. aku jadi sedikit kesal dengannya.
“Apa paman tidak bisa berhenti bercanda tentang hal itu?”
“Kau ini, kalian itu cocok, bukankah lebih baik kalian menjadi sepasang kekasih, menurutku itu bagus,”
“Paman!”
“Menurutku itu juga bagus, paman,”
Deg. Suara presdir. Aku membalikkan badanku, dugaanku tepat, itu memang presdir. Ia berjalan menghampiri aku dan paman. Aku tersenyum kecut melihatnya, paman tampak tertawa senang. Aku menatap paman kesal, giliran presdir yang tertawa melihat tingkahku. Aku jadi terlihat serba salah.
“Bagaimana, Sakura? Lihat, menurut presdir usulku itu juga bagus,”
Aku menghela nafas, mendengar ucapan paman membuatku kesal saja.
“Sudahlah, paman, jangan membahas hal itu,”
Presdir dan paman tertawa serempak mendengar ucapanku itu. aku jadi tidak mengerti dan menatap mereka heran, tapi mereka semakin tertawa keras. Aku mendengus kesal, lalu membalikkan badanku, berniat untuk pergi meninggalkan mereka.
“Kau mau kemana? Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“Sudah,”
Aku menjawab pertanyaan presdir tanpa menoleh dan tetap berjalan. Tiba-tiba aku merasa ada yang menahan tanganku. Aku menoleh dam mendapatkan presdir sedang menggenggam tanaganku erat. Aku menatapnya penug dengen tanda tanya.
“Kalau kau sudah selesai, apa aku boleh mengantarmu pulang, nona?”
Presdir tersenyum manis menggodaku, aku tertawa melihat tingkahnya yang memperlakukanku seperti nona bangsawan. Aku menggeleng-gelengkan kepala, aku mulai berpikir bahwa presdir pintar menggoda wanita. Paman Yuzo tertawa melihat kami, aku jadi merasa malu, aku segera melepaskan tanganku dari genggaman presdir, dan tersenyum manis.
“Kalau tuan tidak keberatan,”
...
Presdir terus bercanda denganku sepanjang perjalanan, aku jadi terus tertawa karenanya. Perjalanan kami jadi terasa sangat cepat, hingga tidak terasa kami sudah sampai di depan apartemenku. Sudah hampir sebulan aku tinggal di apartemen dan selama itu presdir cukup sering berkunjung untuk sekedar menemuiki atau mengantarku pulang kerja. Entah sejak kapan, aku tidak lagi terlalu memnikirkan kakak, walau terkadang jika mengingat kenangan manis bersama kakak, aku kembali menangis.
“Kau itu suka sekali melamun, ya?”
Aku tersadar dari lamunanku dan segera mengalihkan pandanganku ke arah presdir. Sepertinya benar apa yang dikatakan presdir, aku merasa akhir-akhir ini aku seing sekali melamun.
“Maaf, aku jadi mengabakan presdir, apa presdir mau masuk sebentar untuk minum teh?”
“Ah, lain kali saja, oh, ya, apa kau memberitahu alamat apartemenmu ini pada kakakmu itu?”
Aku menghela nafas, kenapa presdir harus menanyakan itu? Aku jadi ingat saat aku memberitahu kakak alamat apartemenku, tapi ia terlihat tidak perduli bahkan ia langsung masuk ke rumah dan menutup pintu. Benar-benar mengesalkan.
“Hey! Kau itu benar-benar suka melamun,”
“Maaf, maaf, oh, iya, tentang itu, aku memberitahunya pada kakak, tapi mungkin menurutnya itu tidak begitu penting,”
“Benarkah? Apa mungkin ia sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu?”
Ya, itu mungkin, walau aku tidak berharap begitu, tapi seertinya memang terlihat seperti itu. Seharusnya dengan begitu, aku dapat dengan mudh melupakan kakak, tapi aku tetap merasa sulit untuk melakukan itu. Sangat sulit untuk menghilangkan perasaanku padanya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu dan tidak mengerti dengannya,”
Presdir tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengulurkan tangannya lalu mengusap kepalaku sambil tersenyum manis. Entah mengapa, rasanya aku merasa jantungku berdebar keras. Aku hanya memandangnya dengan heran, ia tetap tersenyum manis tanpa memperdulikan keherananku.
“Tenanglah, kau cukup menatap jauh ke depan, kau cukup menutup matamu saat melihatnya, kau cukup melupakannya dan mencintai pria lain, aku yakin kau dapat melakukan itu, Sakura, walau kedengarannya sulit, tapi kau pasti bisa, jika kau merasa tidak mungkin melakukan itu, datanglah padaku, dan aku akan membantumu kapan pun kau membutuhkanku,”
Aku terpaku mendengar ucapan predir, tanpa kusadari air mataku mulai mengalir. Aku tidak tahu mengapa aku menangis, padahal aku tidak merasa sesak seperti saat kakak menolakku, aku juga tidak merasa sedih, dan tidak merasa senang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Aku tertawa menyadari air mataku tidak dapat berhenti, aku terus tertawa sambil mengusapnya. Presdir tersenyum melihat tingakahku yang aneh ini. Tiba-tiba ia mpenggapaiku dan memelukku, aku terkejut tapi tak sempat menahannya. Presdir memelukku erat.
“Menangislah sepuasmu, tidak apa-apa, aku hanya berharap kau akan lebih tenang di pelukanku,”
Aku terkejut sekaligus terharu mendengar ucapan presdir. Entahlah, aku jadi tidak mengerti perasaanku, rasanya tidak karuan dan campur aduk. Aku hanya menngis dalam pelukan presdir tanpa mengatakan apa pun. Air mataku, entah mengapa, semakin mengalir deras.
Aku tahu presdir menyukaiku, tapi aku tetap tidak dapat menyukai presdir, aku masih sering memikirkan kakak. Padahal, presdir begitu baik padaku, tapi aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apa pun padanya. Rasanya aku ingin meminta maaf padanya, tapi kata-kata maaf itu sulit sekali aku ucapkan.
Mungkin, lebih baik tetap begini. Aku terus menyukai kakak tanpa memperdulikan perasaan presdir, walau aku yakin presdir mengetahui hal itu, tapi ia hanya diam dan berpura-pura tidak tahu. Seharusnya, aku berusaha melupakan kakak dan berpindah hati ke presdir, tapi aku tidak dapat melakuka itu, walau apa pun yang dilakukan presdir untukku. Terkadang, aku berpikir aku seperti orang jahat jika melakukan itu, tapi aku tetap melakukannya, dan tidak berubah. Aku terus bergantung pada presdir tapi hatiku terus mencintai kakak. Aku seperti gadis yang tamak.
Aku terus menangis dalam pelukan presdir. Menyadari perasaanku yang sebenarnya sangat menakitkan. Aku seperti berada di tengah-tengah labirin yang membingungkan dan aku tidak dapat keluar dari sana. Aku sama sekali tidak dapat berpindah hati dari kakak, dan tanpa kusadari aku terus menyakiti presdir. Menyedihkan.
Sakura The Love without Name
IX. Mistake (Tokio’s Feeling)
Aku mengaduk-aduk kopiku, tak bersemangat. Sejak tadi pagi, aku sering sekali menghela nafas, rasanya apa yang terjadi akhir-akhir ini membuatku sulit bernapas. Kemarin malam Sakura tidak pulang, tadi pagi, ia juga belum terlihat di rumah. Aku sudah melakukan kesalahan, aku melukainya lebih dalam dari sebelumnya.
Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan hal itu, tapi entah mengapa kata-kat itu keluarr tanpa sadar keluar dari mulutku. Saat itu aku hanya ingin membuatnya menjauh dariku, aku tidak ingin mencelakainya dua kali. Rasa bersalahku terlalu besar padanya hingga aku tak ingin ia terluka lagi olehku, tapi nyatanya aku malah semakin melukainya.
Aku tidak dapat mengetakan hal yang sebenarnya dan malah terus-menerus menipunya. Aku selalu merasa menjadi orang yang benar-benar jahat. Menipunya dan menipu diriku sendiri selama bertahun-tahun. Diriku dengan dinginnya mengacuhkannya begitu saja, tidak perduli dengan semua perasaannya. Aku seperti tidak punya hati. Aku menyadari itu, tapi terus saja aku lakukan, dan semakin lama aku menipunya aku merasa semakin tersiksa, tapi tak dapat mengubahnya sedikit pun, aku malah terus menyiksa diriku sendiri. Aku benar-benar bodoh.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kazumi yang sekarang duduk di depanku. Aku terdiam sesaat. Kazumi tampak menatapku dengan tanda tanya yang besar. Aku sengaja meneleponnya untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi sekarang aku malah tidak sanggup untuk menceritakan pada Kazumi. Aku takut ia merasa aku hanya memerlukannya jika ada masalah. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Kazumi terlihat semakin heran.
“Hey, Tokio! Katakan saja apa yang terjadi antara kau dan Sakura, aku, kan pernah bilang, aku selalu ada jika kau memerlukan bantuanku, katakan saja, aku tidak akan berpikir macam-macam,”
Aku tersenyum setulus mungkin, tapi aku yakin pandanganku terlihat sendu saat ini. Kazumi masih terlihat menungguku untuk bicara. Aku menghela nafas, mengatur emosiku.
“Sakura menyatakan perasaannya padaku,”
“Lalu apa masalahnya? Bukankah itu bagus, berarti kau dan Sakura mempunyai perasaan yang sama, kan?”
“Aku menolaknya,”
Kazumi terdiam sesaat, wajahnya tampak sangat terkejut. Aku sudah menduga reaksinya akan seperti itu, karena aku sendiri pun sempat terkejut dengan apa yang kulakukan pada Sakura.
“Kenapa kau menolaknya? Bukankah kau juga menyukai Sakura sejak dulu, apa yang kau pikirkan,”
“Aku tidak ingin melukainya untuk kedua kali, aku takut akan mencelakainya lagi, aku takut apa yang terjadi dulu terulang lagi, aku benar-benar takut jika ia mengenaliku,”
“Aku tidak mengerti maksudmu, mengapa kau takut melukainya, bukankah menolaknya sama saja dengan melukainya, apa yang kau takutkan? Kenapa kau tidak mau ia mengenalimu? Kau harus bersikap tegas, Tokio,”
Aku kembali menghela nafas, sebenarnya aku juga ingin bersikap tegas, tapi inilah yang akhirnya terjadi. Aku menatap ragu Kazumi, ia tidak tahu inti masalahku dengan Sakura yang sebenarnya dan itu lebih berat dari yang ia pikirkan.
“Aku pernah mencelakainya hingga ia hilang ingatan, ia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya lagi sejak saat itu, tidak ada yang memberitahunya tentang keberadaan orang tuanya, yang ia tahu, ia hidup bersama neneknya sejak kecil, dan sekarang neneknya pergi meniggalkannya, bukankah itu sama saja aku menghancurkan separuh hidupnya? Apa menurutmu aku masih pantas menyatakan perasaanku padanya atau menerima perasaannya dengan senang hati? Aku tidak dapat melakukan itu, Kazumi,”
Kazumi terllihat sangat terkejut dengan penjelasanku. Ia pasti tidak mengira masalahnya sebesar itu. Aku menatapnya pasrah dan sendu. Mengingat kejadian itu membuat dadaku terasa sakit sekali. Ekspresi ketakutan Sakura terbayang jelas di benakku. Rasanya aku jadi sulit bernapas. Menyedihkan. Aku bahkan tak berbuat apa-apa saat hal itu terjadi.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela dan menghela nafas yang terasa sangat berat. Aku takut Kazumi menyadari bahwa aku sedang menahan tangis. Memalukan. Aku tidak akan menangis di depan Kazumi atau di depan siapapun juga, kecuali ibu.
“Kapan hal itu terjadi? Kapan kau mencelakainya?”
Aku menatap Kazumi lekat-lekat. Wajah terkejutnya, entah kapan menghilang. Kini, wajahnya berubah menjdi ekspresi penasaran. Semoga saja ia benar-benar dapat membantuku menyelesaikan ini, atau paling tidak menenangkan diriku untuk sementara waktu.
“Waktu umurku 11 tahun, saat aku mengajaknya ke sebuah bukit di belakang sekolah, dulu kami satu sekolah,”
“Berarti kau dan Sakura sudah akrab sejak kecil?
Aku menganggukkan kepalaku tanpa mengatakan apapun. Kazumi tampak menggelengkan kepalanya seperti tak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Ayolah, Tokio, itu sudah 14 tahun yang lalu, dan aku pikir jika kau dan dia dapat bertemu untuk kedua kalinya dan kembali dekat, itu berarti kau dan Sakura benar-benar berjodoh, kenapa kau tidak melupakan hal itu, dan melihat Sakura yang sekarang, bukan yang dulu,”
“Aku tidak dapat melakukan itu, walau kami berjodoh sekalipun, aku tidak akan dapat melupakan kejadian itu, dan bagaimana jika ia mengingat apa yang pernah kulakukan padanya, apa kau pikir dia akan memaafkanku begitu saja? Apa kau pikir dia tetap akan menyukaiku?”
Kazumi menghela nafasnya. Ia menatapku dengan pandangan merendahkan. Aku menundukkan kepalaku, menolak menatap Kazumi yang seperti itu. Aku tahu ia pasti berpikir aku ini pria bodoh yang terkurung dalam masa lalunya dan tidak brusaha untuk keluar. Tidak apa jika ia menganggapku seperti itu, karena akupun berpikir seperti itu.
“Tokio, kau harus menjelaskan semuanya pada Sakura,”
Aku sangat terkejut mendengar usul Kazumi. Bagaimana caraku menjelaskannya pada Sakura? Kau tidak mungkin menjelaskannya. Aku tidak siap dan tidak sanggup. Itu terlalu sulit, itu sama saja aku membuka lukanya yang telah tertutup rapat.
“Aku tidak dapat melakukan itu, aku tidak akan sanggup melakukan itu,”
“Kenapa? Aku tahu itu sulit untukmu dan juga Sakura, tapi jika kau membiarkannya seperti ini, semakin lama cinta Sakura padamu akan menipis,”
Memang itu yang kuinginkan. Aku ingin menghapus perasaan Sakura padaku, begitupun sebaliknya. Lebih baik kami saling membenci atau menjauh hingga tak saling mengenal. Ya, menurutku itulah yang lebih baik, tapi aku juga tidak dapat membiarkannya menjauh, aku tidak dapat menghapus perasaanku pada Sakura, walaupun seandainya ia sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku.
Kazumi melihatku yang terlihat ragu. Sepertinya, ia tahu apa yang ada di benakku dan ia juga tahu perasaanku yang tidak pasti ini. Aku terus mengalihkan pandanganku darinya. Ia menghela nafas.
“Sepertinya kau tidak mengerti perasaanmu sendiri, kan hatimu pasti semakin tidak baik, tenangkan dulu dirimu, baru kau pikirkan lagi sebesar apa perasaanmu pada Sakura, aku temani kau pulang,”
Kazumi bangkit dari tempat duduknya dan memanggil pelayan, ia membayar tagihan kami. Ia lalu menatapku dan memberi isyarat untuk segera pergi. Terpaksa, aku mengikuti sarannya untuk pulang dan menenangkan diri.
...
“Semoga kau cepat menyadari perasaanmu itu,”
Aku tertawa mendengar ucapan Kazumi, ia tersenyum tulus, tak perduli dengan tawaku. Aku selalu ditolong olehnya. Apapu masalahnya, dia benar-benar selalu ada untuk menolongku. Gadis yang sangat baik. Tidak perduli aku telah melukainya berkali-kali, ia tetap bersikap baik padaku. Aku menggapai tangan Kazumi dan menggenggamnya erat, Kazumi melihatnya dengan wajah yang memerah, ia tetap tersenyum manis.
“Terima kasih sudah menemaniku pulag, tapi bagaimana kau pulang?”
“Haha- kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku dapat pulang sendiri, oh, ya , mau kuberitahu sesuatu?”
“Apa? Katakan saja selama itu tidak menyinggungku,”
Aku menatap Kazumi dengan tatapan mengancam, ia tertawa melihtku da, menepuk pundakku dengan tangan kirinya, tangan kanannya masih kugenggam erat.
“Kau tahu, kesalahan terbesar adalah ketika cinta itu menipis, pikirkan apa yang ingin kau lakukan, kau tidak mau membuat kesalahan, kan?”
Aku terpaku takjub mendengarkan Kazumi, ia tersenyum manis sambil mengatakan itu semua. Rasanya hatiku menjadi sedikit lebih tenang. Tanpa sadar aku menarinya dan memeluknya erat. Aku yakin Kazumi pasti sangat terkejut, tapi aku tidak perduli, aku tetap memeluknya semakin erat.
“Maaf aku mengganggu,”
Aku mengalihkan pandanganku denagan terkejut. Kazumi segera melepaskan pelukanku. Sakura berdiri mematung di depan kami. Kami merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan kejahatn besar. Mata Sakura terlihat berkaca-kaca. Aku terdiam terpaku menatapnya sesaat lalu mengalihkan pandanganku. Saat ini, aku merasa menjadi kriminal. Aku tidak sanggup menatap langsung ke arah sakura. Aku jadi merasa serba salah. Kazumi juga tampak bersikap seperti itu. Ia jadi salah tingkah dan terlihat gugup.
“Akhirnya aku tahu alasan mengapa kakak menolakku,”
Aku tetap terdiam dan tidak menjelaskan apapun, aku tidak perduli apapun yang akan Sakura katakan. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya. Aku memang bodoh. Kazumi menatapku bingung, ia terlihat menuntutku untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Sakura, tapi aku tetap tutup mulut dan mengalihkan pandanganku dari Sakura. Kazumi menghela nafas, tak percaya padaku. Ia kembali menatap Sakura dan terlihat berusaha mengatur apa yang ingin ia katakan.
“Sakura ini tidak seperti yang kau lihat, ah, tidak, dia memelukku bukan karena itu, ini tidak seperti yang kau pikirkan, percayalah, aku dapat menjelaskannya,”
Sakura menghapus air matanya yang sempat mengalir, aku memperhatikannya sekilas dengan rasa bersalah, tapi aku tetap tidak melakukan apapun. Rasanya aku tampak seperti seorang pecundang, aku benar-benar bodoh. Sakura kembali menatapku dan kazumi. Aku hampir tidak percaya mendapatkannya tersenyum kepada kami sambil menahan tangis.
“Tidak apa, kak Kazumi tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku hanya ingin memberitahu pada kakak, mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen, aku sudah memindahkan sebagian barangku, sisanya aku ambil lain kali, terima kasih sudah mengizinkanku menumpang selama ini, sampai jumpa,”
Sakura membalikkan badannya setelah memberi salam padaku. Sekilas, aku melihat tubuhnya tampak bergetar, menahan tangis. Kazumi menarik-narik bajuku dan memberi isyarat agar aku mengejar Sakura, tapi aku mengacuhkannya dan tetap terdiam. Kazumi menatapku seakan tidak percaya lalu terlihat ingin mengejar Sakura. Aku mengulurkan tanganku untuk mencegahnya, Kazumi tampak terkejut.
“Tidak perlu, kau tidak perlu mengejarnya, biarkan saja,”
Aku mengaduk-aduk kopiku, tak bersemangat. Sejak tadi pagi, aku sering sekali menghela nafas, rasanya apa yang terjadi akhir-akhir ini membuatku sulit bernapas. Kemarin malam Sakura tidak pulang, tadi pagi, ia juga belum terlihat di rumah. Aku sudah melakukan kesalahan, aku melukainya lebih dalam dari sebelumnya.
Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan hal itu, tapi entah mengapa kata-kat itu keluarr tanpa sadar keluar dari mulutku. Saat itu aku hanya ingin membuatnya menjauh dariku, aku tidak ingin mencelakainya dua kali. Rasa bersalahku terlalu besar padanya hingga aku tak ingin ia terluka lagi olehku, tapi nyatanya aku malah semakin melukainya.
Aku tidak dapat mengetakan hal yang sebenarnya dan malah terus-menerus menipunya. Aku selalu merasa menjadi orang yang benar-benar jahat. Menipunya dan menipu diriku sendiri selama bertahun-tahun. Diriku dengan dinginnya mengacuhkannya begitu saja, tidak perduli dengan semua perasaannya. Aku seperti tidak punya hati. Aku menyadari itu, tapi terus saja aku lakukan, dan semakin lama aku menipunya aku merasa semakin tersiksa, tapi tak dapat mengubahnya sedikit pun, aku malah terus menyiksa diriku sendiri. Aku benar-benar bodoh.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kazumi yang sekarang duduk di depanku. Aku terdiam sesaat. Kazumi tampak menatapku dengan tanda tanya yang besar. Aku sengaja meneleponnya untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi sekarang aku malah tidak sanggup untuk menceritakan pada Kazumi. Aku takut ia merasa aku hanya memerlukannya jika ada masalah. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Kazumi terlihat semakin heran.
“Hey, Tokio! Katakan saja apa yang terjadi antara kau dan Sakura, aku, kan pernah bilang, aku selalu ada jika kau memerlukan bantuanku, katakan saja, aku tidak akan berpikir macam-macam,”
Aku tersenyum setulus mungkin, tapi aku yakin pandanganku terlihat sendu saat ini. Kazumi masih terlihat menungguku untuk bicara. Aku menghela nafas, mengatur emosiku.
“Sakura menyatakan perasaannya padaku,”
“Lalu apa masalahnya? Bukankah itu bagus, berarti kau dan Sakura mempunyai perasaan yang sama, kan?”
“Aku menolaknya,”
Kazumi terdiam sesaat, wajahnya tampak sangat terkejut. Aku sudah menduga reaksinya akan seperti itu, karena aku sendiri pun sempat terkejut dengan apa yang kulakukan pada Sakura.
“Kenapa kau menolaknya? Bukankah kau juga menyukai Sakura sejak dulu, apa yang kau pikirkan,”
“Aku tidak ingin melukainya untuk kedua kali, aku takut akan mencelakainya lagi, aku takut apa yang terjadi dulu terulang lagi, aku benar-benar takut jika ia mengenaliku,”
“Aku tidak mengerti maksudmu, mengapa kau takut melukainya, bukankah menolaknya sama saja dengan melukainya, apa yang kau takutkan? Kenapa kau tidak mau ia mengenalimu? Kau harus bersikap tegas, Tokio,”
Aku kembali menghela nafas, sebenarnya aku juga ingin bersikap tegas, tapi inilah yang akhirnya terjadi. Aku menatap ragu Kazumi, ia tidak tahu inti masalahku dengan Sakura yang sebenarnya dan itu lebih berat dari yang ia pikirkan.
“Aku pernah mencelakainya hingga ia hilang ingatan, ia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya lagi sejak saat itu, tidak ada yang memberitahunya tentang keberadaan orang tuanya, yang ia tahu, ia hidup bersama neneknya sejak kecil, dan sekarang neneknya pergi meniggalkannya, bukankah itu sama saja aku menghancurkan separuh hidupnya? Apa menurutmu aku masih pantas menyatakan perasaanku padanya atau menerima perasaannya dengan senang hati? Aku tidak dapat melakukan itu, Kazumi,”
Kazumi terllihat sangat terkejut dengan penjelasanku. Ia pasti tidak mengira masalahnya sebesar itu. Aku menatapnya pasrah dan sendu. Mengingat kejadian itu membuat dadaku terasa sakit sekali. Ekspresi ketakutan Sakura terbayang jelas di benakku. Rasanya aku jadi sulit bernapas. Menyedihkan. Aku bahkan tak berbuat apa-apa saat hal itu terjadi.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela dan menghela nafas yang terasa sangat berat. Aku takut Kazumi menyadari bahwa aku sedang menahan tangis. Memalukan. Aku tidak akan menangis di depan Kazumi atau di depan siapapun juga, kecuali ibu.
“Kapan hal itu terjadi? Kapan kau mencelakainya?”
Aku menatap Kazumi lekat-lekat. Wajah terkejutnya, entah kapan menghilang. Kini, wajahnya berubah menjdi ekspresi penasaran. Semoga saja ia benar-benar dapat membantuku menyelesaikan ini, atau paling tidak menenangkan diriku untuk sementara waktu.
“Waktu umurku 11 tahun, saat aku mengajaknya ke sebuah bukit di belakang sekolah, dulu kami satu sekolah,”
“Berarti kau dan Sakura sudah akrab sejak kecil?
Aku menganggukkan kepalaku tanpa mengatakan apapun. Kazumi tampak menggelengkan kepalanya seperti tak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Ayolah, Tokio, itu sudah 14 tahun yang lalu, dan aku pikir jika kau dan dia dapat bertemu untuk kedua kalinya dan kembali dekat, itu berarti kau dan Sakura benar-benar berjodoh, kenapa kau tidak melupakan hal itu, dan melihat Sakura yang sekarang, bukan yang dulu,”
“Aku tidak dapat melakukan itu, walau kami berjodoh sekalipun, aku tidak akan dapat melupakan kejadian itu, dan bagaimana jika ia mengingat apa yang pernah kulakukan padanya, apa kau pikir dia akan memaafkanku begitu saja? Apa kau pikir dia tetap akan menyukaiku?”
Kazumi menghela nafasnya. Ia menatapku dengan pandangan merendahkan. Aku menundukkan kepalaku, menolak menatap Kazumi yang seperti itu. Aku tahu ia pasti berpikir aku ini pria bodoh yang terkurung dalam masa lalunya dan tidak brusaha untuk keluar. Tidak apa jika ia menganggapku seperti itu, karena akupun berpikir seperti itu.
“Tokio, kau harus menjelaskan semuanya pada Sakura,”
Aku sangat terkejut mendengar usul Kazumi. Bagaimana caraku menjelaskannya pada Sakura? Kau tidak mungkin menjelaskannya. Aku tidak siap dan tidak sanggup. Itu terlalu sulit, itu sama saja aku membuka lukanya yang telah tertutup rapat.
“Aku tidak dapat melakukan itu, aku tidak akan sanggup melakukan itu,”
“Kenapa? Aku tahu itu sulit untukmu dan juga Sakura, tapi jika kau membiarkannya seperti ini, semakin lama cinta Sakura padamu akan menipis,”
Memang itu yang kuinginkan. Aku ingin menghapus perasaan Sakura padaku, begitupun sebaliknya. Lebih baik kami saling membenci atau menjauh hingga tak saling mengenal. Ya, menurutku itulah yang lebih baik, tapi aku juga tidak dapat membiarkannya menjauh, aku tidak dapat menghapus perasaanku pada Sakura, walaupun seandainya ia sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku.
Kazumi melihatku yang terlihat ragu. Sepertinya, ia tahu apa yang ada di benakku dan ia juga tahu perasaanku yang tidak pasti ini. Aku terus mengalihkan pandanganku darinya. Ia menghela nafas.
“Sepertinya kau tidak mengerti perasaanmu sendiri, kan hatimu pasti semakin tidak baik, tenangkan dulu dirimu, baru kau pikirkan lagi sebesar apa perasaanmu pada Sakura, aku temani kau pulang,”
Kazumi bangkit dari tempat duduknya dan memanggil pelayan, ia membayar tagihan kami. Ia lalu menatapku dan memberi isyarat untuk segera pergi. Terpaksa, aku mengikuti sarannya untuk pulang dan menenangkan diri.
...
“Semoga kau cepat menyadari perasaanmu itu,”
Aku tertawa mendengar ucapan Kazumi, ia tersenyum tulus, tak perduli dengan tawaku. Aku selalu ditolong olehnya. Apapu masalahnya, dia benar-benar selalu ada untuk menolongku. Gadis yang sangat baik. Tidak perduli aku telah melukainya berkali-kali, ia tetap bersikap baik padaku. Aku menggapai tangan Kazumi dan menggenggamnya erat, Kazumi melihatnya dengan wajah yang memerah, ia tetap tersenyum manis.
“Terima kasih sudah menemaniku pulag, tapi bagaimana kau pulang?”
“Haha- kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku dapat pulang sendiri, oh, ya , mau kuberitahu sesuatu?”
“Apa? Katakan saja selama itu tidak menyinggungku,”
Aku menatap Kazumi dengan tatapan mengancam, ia tertawa melihtku da, menepuk pundakku dengan tangan kirinya, tangan kanannya masih kugenggam erat.
“Kau tahu, kesalahan terbesar adalah ketika cinta itu menipis, pikirkan apa yang ingin kau lakukan, kau tidak mau membuat kesalahan, kan?”
Aku terpaku takjub mendengarkan Kazumi, ia tersenyum manis sambil mengatakan itu semua. Rasanya hatiku menjadi sedikit lebih tenang. Tanpa sadar aku menarinya dan memeluknya erat. Aku yakin Kazumi pasti sangat terkejut, tapi aku tidak perduli, aku tetap memeluknya semakin erat.
“Maaf aku mengganggu,”
Aku mengalihkan pandanganku denagan terkejut. Kazumi segera melepaskan pelukanku. Sakura berdiri mematung di depan kami. Kami merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan kejahatn besar. Mata Sakura terlihat berkaca-kaca. Aku terdiam terpaku menatapnya sesaat lalu mengalihkan pandanganku. Saat ini, aku merasa menjadi kriminal. Aku tidak sanggup menatap langsung ke arah sakura. Aku jadi merasa serba salah. Kazumi juga tampak bersikap seperti itu. Ia jadi salah tingkah dan terlihat gugup.
“Akhirnya aku tahu alasan mengapa kakak menolakku,”
Aku tetap terdiam dan tidak menjelaskan apapun, aku tidak perduli apapun yang akan Sakura katakan. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya. Aku memang bodoh. Kazumi menatapku bingung, ia terlihat menuntutku untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Sakura, tapi aku tetap tutup mulut dan mengalihkan pandanganku dari Sakura. Kazumi menghela nafas, tak percaya padaku. Ia kembali menatap Sakura dan terlihat berusaha mengatur apa yang ingin ia katakan.
“Sakura ini tidak seperti yang kau lihat, ah, tidak, dia memelukku bukan karena itu, ini tidak seperti yang kau pikirkan, percayalah, aku dapat menjelaskannya,”
Sakura menghapus air matanya yang sempat mengalir, aku memperhatikannya sekilas dengan rasa bersalah, tapi aku tetap tidak melakukan apapun. Rasanya aku tampak seperti seorang pecundang, aku benar-benar bodoh. Sakura kembali menatapku dan kazumi. Aku hampir tidak percaya mendapatkannya tersenyum kepada kami sambil menahan tangis.
“Tidak apa, kak Kazumi tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku hanya ingin memberitahu pada kakak, mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen, aku sudah memindahkan sebagian barangku, sisanya aku ambil lain kali, terima kasih sudah mengizinkanku menumpang selama ini, sampai jumpa,”
Sakura membalikkan badannya setelah memberi salam padaku. Sekilas, aku melihat tubuhnya tampak bergetar, menahan tangis. Kazumi menarik-narik bajuku dan memberi isyarat agar aku mengejar Sakura, tapi aku mengacuhkannya dan tetap terdiam. Kazumi menatapku seakan tidak percaya lalu terlihat ingin mengejar Sakura. Aku mengulurkan tanganku untuk mencegahnya, Kazumi tampak terkejut.
“Tidak perlu, kau tidak perlu mengejarnya, biarkan saja,”
Sakura The Love without Name
VIII. Heart break (Sakura’s Feeling)
Ilusi? Kakak mengatakan perasaanku hanya ilusi. Apa maksudnya? Pikiranku kosong. Aku hanya terdiam, tak bisa mengatakan apapun. Apa ini mimpi? Ini mimpi kan? Kakak tidak mungkin mengatakan itu padaku. Perasaanku bukan ilusi, ini kenyataan, aku yakin itu. Apa maksudnya itu? Apa itu berarti kakak menolak perasaanku? Rasanya hatiku sakit sekali. Rasanya menyesakkan mendengar ucapan kakak itu. Aku hampir tidak dapat bernafas. Rasanya benar-benar sesak.
Kakak berdiri dan meninggalkanku yang masih terpaku. Ia pergi begitu saja. Aku ingin menyusulnnya untuk menanyakan maksud perkataannya, tapi tubuhku terasa lemas sampai tak dapat bergerak. Ini terlalu cepat. Aku baru saja tertawa bersama kakak, tapi sekarang rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Kakak semakin jauh, tapi aku tetap diam di tempatku. Kepalaku terasa berat sekali.
Aku merasakan air mataku mulai mengenangi mataku. Setetes demi setetes jatuh mengalir di pipiku. Aku tidak bisa menahan rasa sesak ini. Air mataku tidak dapat berhenti. Apakah ini rasanya patah hati? Tidak, aku tidak patah hati. Aku merasa air mataku semakin deras. Sakit. Sakit sekali. Aku memukul-mukul pipiku. Ayolah Sakura, berhentilah menangis. Ini pasti hanya mimpi, kakak tidak mungkin mengatakan itu. aku tidak ingin percaya bahwa kakak yang mengatakan itu padaku. Berhentilah menangis. Sakit. Kenapa rasanya sakit sekali? Aku ingin teriak sekerasnya-kerasnya.
“Ah, ini mimpi Sakura, ini mimpi, kau tidak perlu mempercayainya, ini tidak nyata,”
Aku terus meneriakkan kata itu, tapi air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tidak dapat menahan rasa sesak ini. Aku mengenggam dadaku, berharap rasa sakit itu menghilang, tapi harapanku sia-sia, rasanya semaakin sakit.
Kenapa? Aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya, aku tidak mengatakan perasaanku. Aku terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan kakak, tapi aku yakin perasaanku bukan ilusi, aku yakin sekali. Seharusnya, kakak tidak mengatakan itu. Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Itu bukan kakak, bukan, kakak tidak mungkin mengatakan hal yang sangat menykitkan seperti itu. aku ingin mempercayai hal itu, aku ingin percaya bahwa itu bukan kakak, bahwa itu hanya mimpi, tapi aku bahkan tidak dapat terbangun dari mimpi buruk ini. Aku benar-benar mengerti bahwa ini nyata, tapi ini terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa pulang ke rumah dalam keadaan hati yang seperti ini, bahkan air mataku belum juga dapat berhenti. Rasa sakit itu benar-benar menyiksaku hingga terasa ke seluruh tubuhku. Apa yang harus kulakukan?
Aku mencoba untuk berdiri, tapi aku terjatuh. Aku kembali mencobanya, tapi terjatuh lagi. Aku teriak sekeras-kerasnya. Sakura kau harus sanggup bangkit, ayolah! Aku bahkan tak kuat mempercayai hatiku sendiri. Berhentilah menangis. Aku mohon. Tuhan, tolonglah aku, aku mohon, aku ingin menghilangkan rasa sakit ini.
Aku kembali mencoba berdiri, dan akhirnya aku berhasil, walau aku merasa tubuhku berat sekali. Kepalaku seperti berputar. Air mataku belum juga dapat berhenti, itu membuatku pusing. Tubuhku limbung.
Aku berusaha untuk turun bukit. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa sulit melakukannya. Berkali-kali aku jatuh lalu bangun kembali. Tubuhku benar-benar lemas. Aku berjalan perlahan dengan air mata yang belum juga mengering. Semakin jauh aku berjalan, entah mengapa air mataku semakin deras mengalir.
“Ayolah Sakura, ayo bangkit, kau bisa, ini bukan akhir semuanya, aahh,”
Sesak. Walau aku berteriak sekeras mungkin, rasa sesak dan sakit itu tidak juga hilang. Aku tidak bisa menyemangati diriku sendiri. Bagaimana caranya agar aku melupakan semua yang terjadi tadi? Tolonglah. Seseorang tolong aku.
“Sakura, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?”
Aku mengangkat kepalaku dan mendapatkan presdir mengulurkan tangannya dengan wajah khawatir. Kenapa presdir ada disini? Aku ingin menanyakan hal itu, tapi rasanya suaraku tidak dapat keluar. Aku menyambut uluran tangan presdir, ia membantuku untuk berdiri. Kakiku terasa sakit, mungkin tersayat ranting-ranting saat aku turun bukit tadi. Aku baru merasakan sakitnya sekarang, mungkin karena aku hanya merasa sakit di hatiku sejak tadi.
Aku meringis kesakitan, sepertinya presdir menyadari itu. Ia berlutut dan memeriksa luka di kakiku. Ia menghela nafas, dan berdiri kembali lalu membalikkan badannya membelakangiku. Aku masih terdiam di tempatku. Tubuhku masih terasa lemas dan rasanya kepalaku seperti kosong.
“Ayo naik ke atas tubuhku, aku akan menggendongmu,”
Deg. Ini seperti apa yang dilakukan kakak waktu aku tersesat. Entah mengapa, tiba-tiba aku melihat presdir seperti kakak. Air mataku kembali mengalir. Rasa sesak itu kemabali lagi setelah aku sempat menghilangkannya. Andai saja saat ini kakak yang ingin menggendongku, tapi itu tidak mungkin. Dia baru saja menolakku, dan sekarang aku sadar itu nyata.
“Hei! Kenapa kau malah menangis? kau tidak akan bisa berjalan dengan kaki seperti itu, cepatlah naik! Aku akan membawamu ke mobil dan mengantarmu pulang,”
Aku mengapus air mataku, tapi ia mengalir kembali, tidak dapat berhenti. Presdir menggerakkan tangannya, memberiku isyarat untuk naik ke punggungnya. Terpaksa, aku naik dan berpegangan erat pada presdir.
...
Mataku menatap kosong keluar jendela mobil. Pikiranku entah pergi kemana. Rasanya aku diantara sadar dan tidak. Semuanya berlalu dengan cepat. Aku hampir tak dapat mempercayainya. Beruntung, presdir tidak bertanya apa-apa padaku. Ia hanya diam dan tenang menyetir.
Jika, aku pulang ke rumah, lalu apa yang akan kulakukan? Aku tidak bisa bertemu kakak sekarang. Aku tidak akan sanggup melihatnya. Jikalau kakak sudah tertidur saat aku pulang nanti, aku tetap tidak dapat bertemu muka dengannya besok pagi. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus pergi dari rumah kakak, tapi tidak mungkin mencari apartemen selarut ini. Aku harus kemana sekarang?
Aku menatap presdir yang tetap tenang menyetir tanpa bicara sepatah kata pun. Jalanan yang dilalui oleh kami adalah jalan untuk ke rumah kakak. Aku tidak mau pulang, itulah yang harus kusampaikan pada presdir, tapi aku tidak mau membuatnya khawatir. Aku menghela nafas, mencoba meyakinkan diriku. Aku harus mengatakannya, mungkin saja presdir dapat memberi solusi untukku.
“Aku tidak mau pulang, bisakah presdir putar balik?”
Presdir menatapku penuh tanda tanya. Dugaanku tepat, wajahnya berubah menjadi khawatir. Ia pasti mengira-ngira alasanku menolak pulang. Presdir menghentikan mobilnya.
“Apa yang terjadi? Apa ada masalah dengan kakakmu itu?”
Aku kembali menghela nafas, rasanya kejadian saat kakak menolakku tadi. Tiba-tiba rasa sakit itu kembali lagi. Dadaku terasa sesak. Air mataku mulai menggenangi mataku. Pandanganku jadi sedikit buram. Aku mengalihkan pandanganku ke arah presdir, sepertinya ia menyadari bahwa aku hampir menangis.
“Kau menangis? Ada apa sebenarnya? Ceritakanlah padaku, mungkin aku dapat membantumu, Sakura,”
Air mataku mulai menetes, presdir mengulurkan tangan untuk meghapusnya. Aku semakin terisak. Bagaimana aku menceritakannya pada presdir? Mengingatnya saja membuatku merasa sangat sesak. Aku tidak sanggup menceritakannya.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat, kuharap kau dapat menenangkan dirimu dan menceritakan semuanya padaku,”
Aku hanya dapat mengangguk sambil terus terisak. Presdir kembali memegang setir dan memutar balik arah mobil. Aku tidak tahu ia akan membawamu kemana, tapi aku berharap aku benar-benar dapat menenangkan diriku disana, lagipula saat ini, aku hanya dapat mengandalkan presdir untuk membawaku jauh dari kakak.
Aku menatap presdir penuh harap dan kecewa. Aku kecewa karena pada saat ini bukan kakak yang ada di sampingku seperti biasanya. Bukan kakak yang menghiburku, melainkan kakaklah yang membuatku seperti ini, kakak yang melukaiku. Mungkin, mulai saat ini kakak bukan lagi malaikat pelindungku.
...
Aku terpaku menalatap kela-kelip lampu kota. Sudah cukup lama aku terdiam menatapi pemandangan ini. Hatiku merasa sedikit tenang, rasa sakit itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Rasa dingin yang harusnya aku rasakan, sama sekali tidak dapat kurasakan. Presdir membawaku ke jembatan ini dan menemaniku tanpa bicara apa-apa. Aku rasa, aku sudah merepotkannya, padahal ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Paling tidak, aku seharusnya menceritakan sedikit pada presdir. Aku menghela nafas, mencari kata yang tepat untuk memulainya. Aku menatap presdir yang kini menyuguhkan segelas kopi panas, aku tersenyum dan menerimanya. Ia benar-benar baik, tidak seharusnya aku mendiamkannya seperti ini.
“Kakak menolak perasaanku, dia bilang itu hanya ilusi, aku benar-benar bodoh, ya, hanya aku yang merasa senang saat bertamunya, aku sama sekali tidak memperdulikan perasaannya padaku, haha-“
“Kenapa kau malah tertawa? aku rasa wajar jika kau menangis seperti tadi, sudah seharusnya kau menangis sekeras-kerasnya jika kau memang mencintainya,”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah presdir dengan terkejut. Presdir seperti dapat menebak isi hatiku. Rasanya hatiku menjadi damai setelah mendengar ucapannya.
“Terima kasih banyak, tapi sepertinya air mataku sudah kering, aku terlalu lama menangis tadi,”
Presdir tersenyum tulus, aku juga membalasnya dengan senyuman yang termanis. Dia mengusap rambutku sambil terus tersenyum. Aku merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Senyum presdir terlihat sangat tulus dan penuh kehangatan. Entah mengapa, aku jadi ingin menangis lagi.
“Kalau kau masih ingin menangis, menangislah, menangislah sepuas-puasnya, hingga kau dapat menghilangkan rasa sakit itu, aku akan selalu ada untuk membendung kesedihanmu itu,”
Aku tertawa mendengar ucapannya, ia sudah terlalu baik padaku. Tanpa kusadari air mataku mengalir lagi. Aku benar-benar bingung, kenapa aku menangis lagi, sedangkan aku masih tertawa, aku benar-benar merasa menjadi orang aneh. Aku merasakan diriku lega sekali, rasa sakit itu hilang bersama air mataku yang terus mengalir. Presdir tersenyum melihat tngkahku itu. Ia mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku. Mungkin, semalaman aku akan terus menangis seperti ini.
“Lalu malam ini kau akan pulang kemana?”
Aku menggelengkan kepala, aku benar-benar tidak tahu harus kemana setelah ini, sedangkan aku benar-benar tidak siap bertemu kakak. Presdir terlihat sedikit berpikir, lalu menepukkan kedua tangannya.
“Malam ini kau menginaplah di apartemenku, besok aku akan menemanimu mencari apartemen, kau tidak mau kembali ke rumah kakakmu itu kan? Kau setuju?”
Aku cukup terkejjut dengan ide itu, tapi kurasa hanya ide itulah yang paling memungkinkan. Aku menatap presdir ragu-ragu. Aku memang berniat pindah dari rumah kakak, dan mencari apartemen, tapi aku tidak terpikir olehku untuk menginap di rumah presdir. Presdir mungkin sadar dengan apa yang aku khawatirkan. Ia tertawa dan menepuk pundakku.
“Tenang saja, di apartemenku ada adik perempuanku, kau akan tidur dengannya malam ini, aku yakin ia tidak akan keberatan, kau setuju, kan?”
Akhirnya, ak mengangguk setuju dan mengikuti presdir pulang ke apartemennya. Semoga saja tidak ada lagi hal buruk yang terjadi. Hari ini aku merasa lelah sekali.
Ilusi? Kakak mengatakan perasaanku hanya ilusi. Apa maksudnya? Pikiranku kosong. Aku hanya terdiam, tak bisa mengatakan apapun. Apa ini mimpi? Ini mimpi kan? Kakak tidak mungkin mengatakan itu padaku. Perasaanku bukan ilusi, ini kenyataan, aku yakin itu. Apa maksudnya itu? Apa itu berarti kakak menolak perasaanku? Rasanya hatiku sakit sekali. Rasanya menyesakkan mendengar ucapan kakak itu. Aku hampir tidak dapat bernafas. Rasanya benar-benar sesak.
Kakak berdiri dan meninggalkanku yang masih terpaku. Ia pergi begitu saja. Aku ingin menyusulnnya untuk menanyakan maksud perkataannya, tapi tubuhku terasa lemas sampai tak dapat bergerak. Ini terlalu cepat. Aku baru saja tertawa bersama kakak, tapi sekarang rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Kakak semakin jauh, tapi aku tetap diam di tempatku. Kepalaku terasa berat sekali.
Aku merasakan air mataku mulai mengenangi mataku. Setetes demi setetes jatuh mengalir di pipiku. Aku tidak bisa menahan rasa sesak ini. Air mataku tidak dapat berhenti. Apakah ini rasanya patah hati? Tidak, aku tidak patah hati. Aku merasa air mataku semakin deras. Sakit. Sakit sekali. Aku memukul-mukul pipiku. Ayolah Sakura, berhentilah menangis. Ini pasti hanya mimpi, kakak tidak mungkin mengatakan itu. aku tidak ingin percaya bahwa kakak yang mengatakan itu padaku. Berhentilah menangis. Sakit. Kenapa rasanya sakit sekali? Aku ingin teriak sekerasnya-kerasnya.
“Ah, ini mimpi Sakura, ini mimpi, kau tidak perlu mempercayainya, ini tidak nyata,”
Aku terus meneriakkan kata itu, tapi air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tidak dapat menahan rasa sesak ini. Aku mengenggam dadaku, berharap rasa sakit itu menghilang, tapi harapanku sia-sia, rasanya semaakin sakit.
Kenapa? Aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya, aku tidak mengatakan perasaanku. Aku terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan kakak, tapi aku yakin perasaanku bukan ilusi, aku yakin sekali. Seharusnya, kakak tidak mengatakan itu. Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Itu bukan kakak, bukan, kakak tidak mungkin mengatakan hal yang sangat menykitkan seperti itu. aku ingin mempercayai hal itu, aku ingin percaya bahwa itu bukan kakak, bahwa itu hanya mimpi, tapi aku bahkan tidak dapat terbangun dari mimpi buruk ini. Aku benar-benar mengerti bahwa ini nyata, tapi ini terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa pulang ke rumah dalam keadaan hati yang seperti ini, bahkan air mataku belum juga dapat berhenti. Rasa sakit itu benar-benar menyiksaku hingga terasa ke seluruh tubuhku. Apa yang harus kulakukan?
Aku mencoba untuk berdiri, tapi aku terjatuh. Aku kembali mencobanya, tapi terjatuh lagi. Aku teriak sekeras-kerasnya. Sakura kau harus sanggup bangkit, ayolah! Aku bahkan tak kuat mempercayai hatiku sendiri. Berhentilah menangis. Aku mohon. Tuhan, tolonglah aku, aku mohon, aku ingin menghilangkan rasa sakit ini.
Aku kembali mencoba berdiri, dan akhirnya aku berhasil, walau aku merasa tubuhku berat sekali. Kepalaku seperti berputar. Air mataku belum juga dapat berhenti, itu membuatku pusing. Tubuhku limbung.
Aku berusaha untuk turun bukit. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa sulit melakukannya. Berkali-kali aku jatuh lalu bangun kembali. Tubuhku benar-benar lemas. Aku berjalan perlahan dengan air mata yang belum juga mengering. Semakin jauh aku berjalan, entah mengapa air mataku semakin deras mengalir.
“Ayolah Sakura, ayo bangkit, kau bisa, ini bukan akhir semuanya, aahh,”
Sesak. Walau aku berteriak sekeras mungkin, rasa sesak dan sakit itu tidak juga hilang. Aku tidak bisa menyemangati diriku sendiri. Bagaimana caranya agar aku melupakan semua yang terjadi tadi? Tolonglah. Seseorang tolong aku.
“Sakura, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?”
Aku mengangkat kepalaku dan mendapatkan presdir mengulurkan tangannya dengan wajah khawatir. Kenapa presdir ada disini? Aku ingin menanyakan hal itu, tapi rasanya suaraku tidak dapat keluar. Aku menyambut uluran tangan presdir, ia membantuku untuk berdiri. Kakiku terasa sakit, mungkin tersayat ranting-ranting saat aku turun bukit tadi. Aku baru merasakan sakitnya sekarang, mungkin karena aku hanya merasa sakit di hatiku sejak tadi.
Aku meringis kesakitan, sepertinya presdir menyadari itu. Ia berlutut dan memeriksa luka di kakiku. Ia menghela nafas, dan berdiri kembali lalu membalikkan badannya membelakangiku. Aku masih terdiam di tempatku. Tubuhku masih terasa lemas dan rasanya kepalaku seperti kosong.
“Ayo naik ke atas tubuhku, aku akan menggendongmu,”
Deg. Ini seperti apa yang dilakukan kakak waktu aku tersesat. Entah mengapa, tiba-tiba aku melihat presdir seperti kakak. Air mataku kembali mengalir. Rasa sesak itu kemabali lagi setelah aku sempat menghilangkannya. Andai saja saat ini kakak yang ingin menggendongku, tapi itu tidak mungkin. Dia baru saja menolakku, dan sekarang aku sadar itu nyata.
“Hei! Kenapa kau malah menangis? kau tidak akan bisa berjalan dengan kaki seperti itu, cepatlah naik! Aku akan membawamu ke mobil dan mengantarmu pulang,”
Aku mengapus air mataku, tapi ia mengalir kembali, tidak dapat berhenti. Presdir menggerakkan tangannya, memberiku isyarat untuk naik ke punggungnya. Terpaksa, aku naik dan berpegangan erat pada presdir.
...
Mataku menatap kosong keluar jendela mobil. Pikiranku entah pergi kemana. Rasanya aku diantara sadar dan tidak. Semuanya berlalu dengan cepat. Aku hampir tak dapat mempercayainya. Beruntung, presdir tidak bertanya apa-apa padaku. Ia hanya diam dan tenang menyetir.
Jika, aku pulang ke rumah, lalu apa yang akan kulakukan? Aku tidak bisa bertemu kakak sekarang. Aku tidak akan sanggup melihatnya. Jikalau kakak sudah tertidur saat aku pulang nanti, aku tetap tidak dapat bertemu muka dengannya besok pagi. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus pergi dari rumah kakak, tapi tidak mungkin mencari apartemen selarut ini. Aku harus kemana sekarang?
Aku menatap presdir yang tetap tenang menyetir tanpa bicara sepatah kata pun. Jalanan yang dilalui oleh kami adalah jalan untuk ke rumah kakak. Aku tidak mau pulang, itulah yang harus kusampaikan pada presdir, tapi aku tidak mau membuatnya khawatir. Aku menghela nafas, mencoba meyakinkan diriku. Aku harus mengatakannya, mungkin saja presdir dapat memberi solusi untukku.
“Aku tidak mau pulang, bisakah presdir putar balik?”
Presdir menatapku penuh tanda tanya. Dugaanku tepat, wajahnya berubah menjadi khawatir. Ia pasti mengira-ngira alasanku menolak pulang. Presdir menghentikan mobilnya.
“Apa yang terjadi? Apa ada masalah dengan kakakmu itu?”
Aku kembali menghela nafas, rasanya kejadian saat kakak menolakku tadi. Tiba-tiba rasa sakit itu kembali lagi. Dadaku terasa sesak. Air mataku mulai menggenangi mataku. Pandanganku jadi sedikit buram. Aku mengalihkan pandanganku ke arah presdir, sepertinya ia menyadari bahwa aku hampir menangis.
“Kau menangis? Ada apa sebenarnya? Ceritakanlah padaku, mungkin aku dapat membantumu, Sakura,”
Air mataku mulai menetes, presdir mengulurkan tangan untuk meghapusnya. Aku semakin terisak. Bagaimana aku menceritakannya pada presdir? Mengingatnya saja membuatku merasa sangat sesak. Aku tidak sanggup menceritakannya.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat, kuharap kau dapat menenangkan dirimu dan menceritakan semuanya padaku,”
Aku hanya dapat mengangguk sambil terus terisak. Presdir kembali memegang setir dan memutar balik arah mobil. Aku tidak tahu ia akan membawamu kemana, tapi aku berharap aku benar-benar dapat menenangkan diriku disana, lagipula saat ini, aku hanya dapat mengandalkan presdir untuk membawaku jauh dari kakak.
Aku menatap presdir penuh harap dan kecewa. Aku kecewa karena pada saat ini bukan kakak yang ada di sampingku seperti biasanya. Bukan kakak yang menghiburku, melainkan kakaklah yang membuatku seperti ini, kakak yang melukaiku. Mungkin, mulai saat ini kakak bukan lagi malaikat pelindungku.
...
Aku terpaku menalatap kela-kelip lampu kota. Sudah cukup lama aku terdiam menatapi pemandangan ini. Hatiku merasa sedikit tenang, rasa sakit itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Rasa dingin yang harusnya aku rasakan, sama sekali tidak dapat kurasakan. Presdir membawaku ke jembatan ini dan menemaniku tanpa bicara apa-apa. Aku rasa, aku sudah merepotkannya, padahal ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Paling tidak, aku seharusnya menceritakan sedikit pada presdir. Aku menghela nafas, mencari kata yang tepat untuk memulainya. Aku menatap presdir yang kini menyuguhkan segelas kopi panas, aku tersenyum dan menerimanya. Ia benar-benar baik, tidak seharusnya aku mendiamkannya seperti ini.
“Kakak menolak perasaanku, dia bilang itu hanya ilusi, aku benar-benar bodoh, ya, hanya aku yang merasa senang saat bertamunya, aku sama sekali tidak memperdulikan perasaannya padaku, haha-“
“Kenapa kau malah tertawa? aku rasa wajar jika kau menangis seperti tadi, sudah seharusnya kau menangis sekeras-kerasnya jika kau memang mencintainya,”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah presdir dengan terkejut. Presdir seperti dapat menebak isi hatiku. Rasanya hatiku menjadi damai setelah mendengar ucapannya.
“Terima kasih banyak, tapi sepertinya air mataku sudah kering, aku terlalu lama menangis tadi,”
Presdir tersenyum tulus, aku juga membalasnya dengan senyuman yang termanis. Dia mengusap rambutku sambil terus tersenyum. Aku merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Senyum presdir terlihat sangat tulus dan penuh kehangatan. Entah mengapa, aku jadi ingin menangis lagi.
“Kalau kau masih ingin menangis, menangislah, menangislah sepuas-puasnya, hingga kau dapat menghilangkan rasa sakit itu, aku akan selalu ada untuk membendung kesedihanmu itu,”
Aku tertawa mendengar ucapannya, ia sudah terlalu baik padaku. Tanpa kusadari air mataku mengalir lagi. Aku benar-benar bingung, kenapa aku menangis lagi, sedangkan aku masih tertawa, aku benar-benar merasa menjadi orang aneh. Aku merasakan diriku lega sekali, rasa sakit itu hilang bersama air mataku yang terus mengalir. Presdir tersenyum melihat tngkahku itu. Ia mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku. Mungkin, semalaman aku akan terus menangis seperti ini.
“Lalu malam ini kau akan pulang kemana?”
Aku menggelengkan kepala, aku benar-benar tidak tahu harus kemana setelah ini, sedangkan aku benar-benar tidak siap bertemu kakak. Presdir terlihat sedikit berpikir, lalu menepukkan kedua tangannya.
“Malam ini kau menginaplah di apartemenku, besok aku akan menemanimu mencari apartemen, kau tidak mau kembali ke rumah kakakmu itu kan? Kau setuju?”
Aku cukup terkejjut dengan ide itu, tapi kurasa hanya ide itulah yang paling memungkinkan. Aku menatap presdir ragu-ragu. Aku memang berniat pindah dari rumah kakak, dan mencari apartemen, tapi aku tidak terpikir olehku untuk menginap di rumah presdir. Presdir mungkin sadar dengan apa yang aku khawatirkan. Ia tertawa dan menepuk pundakku.
“Tenang saja, di apartemenku ada adik perempuanku, kau akan tidur dengannya malam ini, aku yakin ia tidak akan keberatan, kau setuju, kan?”
Akhirnya, ak mengangguk setuju dan mengikuti presdir pulang ke apartemennya. Semoga saja tidak ada lagi hal buruk yang terjadi. Hari ini aku merasa lelah sekali.
Sakura The Love without Name
VII. Aishiteru (Tokio’s Feeling)
“Sakura, kau tahu bukit yang ada di belakang sekolah kita?”
Sakura mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. Aku sudah mengira ia pasti tidak tahu. Padahal dia sudah cukup lama tinggal di daerah ini, dia memang anak yang buta arah. Aku menghela nafas dan ikut menggelengkan kepala, bukan karena aku tidak tahu tapi aku tidak percaya perkiraanku tentangnya itu benar. Dasar Sakura si gadis bodoh dan payah.
“Memangnya ada apa disana? Aku tidak tahu ada bukit di belakang sekolah kita, aku pikir tidak ada bukit di Tokyo,”
“Kau ini memang payah, kau seperti baru sehari tinggal di Tokyo, bukit itu memang jauh dari pusat kota tapi kan bukit itu ada di belakang sekolah kita, masa kau tidak tahu, payah!”
Sakura merengut kesal, aku menjulurkan lidahku untuk meledeknya. Huh, dasar anak payah. Ia semakin terlihat kesal, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Aku tidak mau melanjutkan pembicaraanku dengan Sakura. Bicara dengannya hanya membuatku lelah saja, benar-benar membuang waktu. Tiba-tiba tangan Sakura menghentikanku yang sedang merapikan buku. Aku menatapnya bingung, ia tersenyum memohon. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke buku-bukuku. Ia menarik-narik lenganku, merajuk. Menyebalkan.
“Ayolah, kau kan sudah tahu aku belum pernah kesana, ayo ajak aku kesana,”
Aku menghela nafas. Inilah sebabnya aku tidak bisa menang darinya, jika ia memaksa, pasti ia merajuk dengan tersenyum manis padaku. Menyulitkanku saja.
“Iya, iya, aku akan mengajakmu kesana, besok sepulang sekolah aku tunggu di gerbang belakang, jangan sampai telat, kalau kau telat, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi,”
“Siap, kapten!”
Sakura tersenyum gembira, aku hanya membalasnya dengan seulas senyum terpaksa. Aku mengambil tasku dan pergi meninggalkannya yang masih tersenyum dengan lebarnya. Anak payah dan aneh, dia membuatku kesal saja.
...
Seluruh kota Tokyo terlihat kecil dari sini. Awan terlihat seperti lukisan yang sangat indah berkilauan. Sinar matahari menyeruak masuk melalui celah-celah pohon, terlihat seperti pantulan cahaya yang menyilaukan. Aku meletakkan tanganku di atas pelipisku. Silau. Aku teringat saat aku membawa Sakura ke bukit ini. Ia tak berhenti tersenyum takjub sejak sampai disini. Ia melihat sudut kota yang terlihat hingga berkali-kali tanpa bosan. Tanpa sadar, aku tersenyum karena mengingat ekspresi wajahnya saat itu. Dia terlihat sangat polos waktu itu. Dalam pandanganku, saat itu dialah anak perempuan yang paling manis, walau aku terkadang kesal padanya. Setiap ia tersenyum, rasanya hatiku sangat damai, tapi pada waktu yang sama juga kesal karena menyadari bahwa ia menyukaiku. Dulu, aku tidak mempunyai perasaan apapun pada Sakura, bagiku dia hanya anak perempuan yang menyebalkan dan selalu mengikutiku kemana pun, anak yang sering sekali menyulitkanku. Tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mencelakainya, melukainya, bahkan menghancurkan masa kecilnya. Di bukit inilah semua perasaanku tercampur aduk. Kejadian menyenangkan juga menyedihkan terjadi pada waktu yang sama di bukit ini. Kejadian yang sangat cepat berganti, dari tawa menjadi tangis.
Aku menghela nafas sambil menyandarkan tubuhku di sebuah batang pohon. Angin yang berhembus masih menemaniku. Perasaanku sekarang seperti berlari kemana-mana. Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan dengan Sakura. Berulang kali aku mencoba membencinya, tapi berulang kali juga, aku merasakan jantungku berdebar saat bersamanya. Perasaan damai saat melihatnya tersenyum tidak pernah hilang. Kejadian malam itu membuatku semakin sulit membencinya. Aku bahkan tanpa sadar memberitahu namaku padanya, walau itu hanya penggalan dari namaku, dan aku yakin ia tidak akan menyadari bahwa namaku sebenarnya adalah Tokio Hiroshi. Entah mengapa aku terpikir untuk memberitahunya nama panggilan ayah untukku. Hiro, penggalan kata dari Hiroshi.
Hal yang membuatku bingung adalah mengapa Sakura ada di bukit ini malam itu, dan orang yang bersamanya malam itu membuatku makin bingung. Kenapa presdir Keizo mengajaknya ke bukit ini? Aku tidak pernah tahu ada yang pernah ke bukit ini selain aku dan Sakura kecil. Sebenarnya, siapa presdir Keizo. Ah, pikiranku muluk sekali. Bukit ini kan bukan milikku, pasti ada orang lain selainku yang megetahui keberadaannya. Aku kembali menghela nafas. Semakin aku pikirkan, aku malah semakin tidak menemukan jawabannya. Bukan masalah presdir mengetahui bukit ini, tapi masalah mengapa Sakura bisa pingsan di bukit ini. Apa yang membuat kepalanya sakit dan pingsan? Aku sama sekali tidak mengerti.
Aku mengadahkan tangan, sebuah daun yang gugur jatuh ke atas tanganku. Aku memperhatikannya dengan seksama. Daun rapuh yang tertiup angin, ia tidak bisa melawan kerasnya angin yang menghatamnya, hingga akhirnya jatuh tanpa melawan. Aku rasa, suatu saat aku pun akan seprti daun itu, jatuh karena tak sanggup menahan cobaan yang menekan batinku. Semakin lama aku hidup, aku rasa akan semakin banyak orang yang kulukai. Aku ingin mengubah hal itu, tapi sulit sekali melakukannya.
Aku mengangkat kepalaku, menatap awan yanag terlihat sangat cerah, bertolak belakang dengan hatiku yang selalu gelap. Aku merasa diriku hampa, tapi aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengisinya. Menyimpan perasaan tak tentu ini benar-benar melelahkan.
Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir sore. Aku ingat punya janji dengan Sakura hari ini, tapi aku merasa diriku belum siap bertemunya. Kejadian malam itu selalu terbayang di benakku. Aku jadi serba salah setiap bertemunya. Aku harus mengatur perasaanku sebelum bertemunya. Padahal kami bertemu setiap hari di rumah, tapi aku tetap merasa berdebar jika bertemunya. Aku tidak boleh seperti ini. Semakin dia berada dekat denganku, aku harus semakin membenci dan menjauhinya. Aku harus bersikap tenang seperti biasa. Apapun yang terjadi dan apapun yang dikatakan Sakura, aku harus mengacuhkannya, aku harus menyikapinya dengan tenang dan biasa saja. Ya, aku harus melakukan itu.
Aku menegakkan tubuhku. Aku rasa aku sudah bisa mengendalikan diriku. Aku harus siap bertemu dengan Sakura, apapun yang terjadi. Aku berjalan perlahan menuruni bukit. Setiap langkah, aku menghela nafasku. Aku harap dengan cara itu, aku dapat benar-enar tenang saat brtemunya.
Aku mengira-ngira untuk apa Sakura meminta waktu untuk bertamuku, padahal kami dapat bertemu setiap hari di rumah. Apa yang ingin ia rencanakan? Aku melihat tanggal di jam tanganku. Hari ini bukan ulang tahunku, dan aku yakin juga bukan ulang tahunnya. Tanggal 14, bulan 2, memangnya ini hari apa? Tunggu, 14 februari. Aku menelan ludah, terkejut mengetahui bahwa hari ini adalah valentine. Prasangkaku jadi buruk.
Aku harus menghindari pertemuan ini. Aku harus ke tempat lain dan berpura-pura tidak ingat jika akan bertemunya. Aku segera mengambil helmku dan menaiki motor. Aku harus pergi ke mana saja, jika bisa, aku akan pulang tengah malam nanti, jadi Sakura tidak bisa bertemu denganku hari ini. Rencana yang sempurna.
“Kak Hiro!”
Hampir saja aku menyalakan mesin motor, tiba-tiba aku mendengar suara Sakura. Aku menelan ludah, semoga saja hanya suaranya yang mirip, tapi dia memanggil ‘kak Hiro’, semoga saja aku salah dengar. Aku menoleh ke sumber suara, jantungku berdebar keras. Aku hampir tidak bisa berpikir ketika menemukan sosok Sakura yang berjalan menghampiriku. Dugaanku benar, memang Sakura yang memanggilku. Hancur sudah rencanaku.
Sakura menghampiriku dengan senyum terkembang di bibirnya, ia kelihatan sangat senang. Aku melepas helmku dan dengan terpaksa, turun dari motor. Sakura membawa sebuah kantung kertas di tangannya, aku sudah menduga isinya, walau aku berharap bukan cokelat yang ia bawa. Aku berdiri di depan motorku dengan wajah setenang mungkin. Sakura harus menganggapku bersikap seperti biasa, walau sebenarnya jantungku rasanya seperti mau meledak
“Kakak mau kemana? Apakah kakak baru turun dari bukit ini?”
“Ya, aku baru saja mau pulang, apa yang kau lakukan disini?”
“Kakak pulang sangat lama jadi aku mengira-ngira ke mana kakak pergi, ternyata perkiraanku benar, kakak memang ada disini,”
Mataku rasanya seperti membesar saking terkejutnya. Kenapa ia bisa mengira aku ada disini? Aku hanya mengajaknya satu kali yaitu waktu ia kecil dan sebelum kejadian itu. Apakah ia mengingat sesuatu tentang bukit ini? Tidak, mungkin saja dia ngat aku bertemunya disini malam itu, jadi pasti ia berpikir aku sering kesini.
“Ya, aku cukup sering kesini, tapi seharusnya kau tunggu saja di rumah, kau tidak perlu datang kesini mencariku,”
Sakura tertawa, tapi menundukkan kepalanya, seakan mnta maaf. Aku sempat terpaku melihatnya. Dia memang gadis aneh yang manis. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya, beruntung, aku segera menghilangkan senyum itu ketika ia kembali mengangkat kepalanya.
“Maaf, kak, aku terlalu senang sampai rasanya lama sekali waktu kalau aku menunggu kakak di rumah,”
Entah mengapa, ia segera menutup mulutnya dengan tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Aku tertawa kecil melihat sikapnya yang spontan itu. Sakura sepertinya menyadari bahwa aku menertawainya. Wajahnya memerah seketika. Dia terlihat malu sekali. Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku dan mengusap kepalanya. Sakura menatapku dengan heran, aku segera sadar dan menarik tanganku kembali. Aku bodoh sekali, seharusnya aku tidak melakukan itu. Sakura kembali menunduk malu, tapi beberapa saat kemudian, ia menghela nafas dan mengangkat kepalanya kembali. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kalau begitu, ayo kita pulang!”
Aku menyembunyikan rasa penasaranku. Aku tidak boleh memberikannya kesempatan untuk memberikanku cokelat atau apapun, walau aku tidak tahu apa yang ingin ia lakukan, tapi prasangkaku sekarang benar-benar buruk. Aku takut situasi yang tidak kuinginkan terjadi lagi.
“Kakak, tunggu sebentar, aku ingin mengobrol dengan kakak disini sebentar lagi, boleh kan?”
“Kenapa tidak di rumah saja?”
“Ah, kalau di rumah, aku takut aku malah tidak bisa mengatakan apapun, tidak apa-apa kan, kak? Sebentar saja, aku mohon,”
Ia tersenyum merajuk seperti saat dia memintaku untuk membawanya ke bukit ini. Kalau ia sudah seperti ini, aku benar-benar sulit melawannya. Aku menghela nafas dan menatapnya dengan tatapan mengancam. Ia tetap tersenyum merajuk dengan polosnya. Dasar pemaksa. Aku tidak bisa menang melawannya.
“Terserah kau sajalah, ayo naik ke atas, kau ini membuatku lelah saja,”
Bukannya meminta maaf, ia malah tersenyum semakin lebar mendengar perkataanku. Aku tidak habis pikir dengannya. Benar-benar gadis menyebalkan.
Aku berjalan kembali menaiki bukit, Sakura mengikutiku dari belakang. Terkadang ia tersandung batu-batu kecil, tapi aku tidak menghiraukannya. Ia terkihat kesal beberapa saat lalu kembali tersenyum senang. Lagi-lagi hal itu membuatku tersenyum sedikit.
Aku sudah sampai di puncak bukit, dan menatap langit yang hampir gelap. Aku mengalihkan pandangan ke Sakura, ia masih tertatih-tatih menaiki bukit, tapi wajahnya kelihatan bersemangat sekali. Aku jadi tertawa melihatnya. Rasa penasaranku tentang apa yang ingin ia katakan padaku jadi semakin besar, aku berharap itu bukan hal yang harus kubenci.
Sakura berhasil mencapai bukit dengan terengah-engah, aku bertepuk tangan melihatnya, tapi ia malah merengut kesal, membuatku kembali tertawa. Ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon sambil terus menatap kesal ke arahku. Aku mengangkat bahuku dan mengatur wajah seakan-akan sedang merendahkannya, tapi ia malah tertawa melihat tingkahku itu. Aneh. Sekarang, dia malah duduk di atas batang pohon yang sudah rubuh. Dasar, sebenarnya apa yang ia ingin katakan? Harus berapa lama aku menunggunya bicara.
“Apa kakak mempunyai kenangan di bukit ini?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya, tapi aku segera menenangkan diriku kembali. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Jarak kami menjadi cukup dekat. Sebenanya, aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya, tubuhku seperti bergerak sendiri menghampirinya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kenanganku itu penting untukmu?”
Aku berkata ketus lagi padanya. Hal yang aku tidak mengerti samapai sekarang adalah mengapa aku bisa dengan tenang bersikap ketus pada Sakura, sementara jantungku berdebar sangat kencang. Aku jadi seperti orang aneh di depannya.
“Ah, tidak, aku hanya ingin memastikan bayangan yang terbesit di benakku pada malam itu,”
Bayangan? Apa itu sebagian dari ingatannya yang hilang? Apa ia mengingat sesuatu tentangku? Gawat. Aku benar-benar takut jika ingatannya kembali.
“Bayangan apa yang terbesit di benakmu itu?”
“Seorang gadis kecil dan anak laki-laki yang sedang bercengkrama di bukit ini, gadis kecil itu terlihat seperti aku, tapi aku merasa tidak mengenal anak laki-laki yang bersamanya, dan kakak tahu, yang membuatku semakin bingung adalah ekspresi gadis kecil itu yang terlihat sangat gembira,padahal aku yakin aku tidak pernah terlihat sesenang itu saat bersama anak laki-laki,”
Tidak mungkin. Bayangan yang ia lihat itu adalah kejadian waktu itu, saat semuanya mulai berubah. Kenapa ingatan itu kembali? Kepalaku terasa berat. Perasaan takut itu kembali menghantuiku. Tuhan, dapatkah kau buat ia melupakan hal itu? Aku berusaha mengendalikan pikiran yang berkecamuk di benakku. Aku harus tetap terlihat tenang, jangan membuatnya curiga padaku.
“Mungkin itu memang ingatan masa kecilmu, wajar, kan , jika kau tidak mengingatnya, itu sudah cukup lama,”
Aku mencoba berdalih agar ia tidak terlalu memikirkan hal itu.
“Benar kata kakak, itu pasti masa kecilku yang mungkin aku lupakan, sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya, kan?”
Aku mengangguk, mengiyakan. Bagus. Sudah seharusnya ia tidak memikirkannya, kalau ia memikirkannya, itu hanya membuatku sulit saja.
“Tapi, kak...,”
Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, cemas dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“Aku berpikir dan mungkin berharap anak laki-laki itu adalah kakak,”
Apa? Aku semakin terkejut, tapi Sakura malah semakin tersenyum senang. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Situasi ini menyulitkanku.
“Kenapa kau berharap itu aku? Mana mungkin itu aku, jangan berharap yang tidak-tidak,”
Sakura tertawa melihat reaksiku. Aku tetap menatapnya dengan datar. Aku harus menyembuyikan keterkejutanku ini.
“Tidak apa, maaf jika aku lancang, tapi aku ingin menyerahkan sesuatu pada kakak,”
Sakura mengambil tas kertas yang tadi dipegangnya, ia terlihat berusaha mengeluarkan isinya. Aku dengan cemas dan takut menunggunya membuka isi tas itu. Semoga saja itu bukan cokelat, tapi ternyata harapanku itu hancur saat Sakura mengeluarkan kotak berbentuk hati dan berwwrna pink dari tas itu. Aku yakin sekali itu adalah cokelat. Sial. Ini membuatku jadi kesal.
“Ini untuk kakak, aku sudah berusaha membuatnya dengan sepenuh hati, maaf jika ternyata rasanya tidak enak,”
Aku tidak mengatakan apapun dan tidak melakukan apa pun, rasanya aku kesal sekali. Aku ingin sekali menerimanya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menghancurkan cokelat itu berkeping-keping. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya perasaan kesal yang kini ada di hatiku. Aku kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa mengambil sikap.
“Dan ada satu hal lagi yang ingin kukatakan pada kakak,”
Wajah Sakura tampak memerah. Pikiranku jadi semakin buruk. Apalagi yang ingin ia katakan sekarang? Rasanya aku benar-benar ingin pergi dari sini secepatnya.
“Kak, aku...,”
Aku benar-benar kesal. Aku benci situasi ini.
“Aku mencintai kakak, sudah lama aku menyimpan perasaan ini, aku benar-benar mencintai kakak,”
“Itu hanya ilusimu saja,”
“Sakura, kau tahu bukit yang ada di belakang sekolah kita?”
Sakura mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. Aku sudah mengira ia pasti tidak tahu. Padahal dia sudah cukup lama tinggal di daerah ini, dia memang anak yang buta arah. Aku menghela nafas dan ikut menggelengkan kepala, bukan karena aku tidak tahu tapi aku tidak percaya perkiraanku tentangnya itu benar. Dasar Sakura si gadis bodoh dan payah.
“Memangnya ada apa disana? Aku tidak tahu ada bukit di belakang sekolah kita, aku pikir tidak ada bukit di Tokyo,”
“Kau ini memang payah, kau seperti baru sehari tinggal di Tokyo, bukit itu memang jauh dari pusat kota tapi kan bukit itu ada di belakang sekolah kita, masa kau tidak tahu, payah!”
Sakura merengut kesal, aku menjulurkan lidahku untuk meledeknya. Huh, dasar anak payah. Ia semakin terlihat kesal, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Aku tidak mau melanjutkan pembicaraanku dengan Sakura. Bicara dengannya hanya membuatku lelah saja, benar-benar membuang waktu. Tiba-tiba tangan Sakura menghentikanku yang sedang merapikan buku. Aku menatapnya bingung, ia tersenyum memohon. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke buku-bukuku. Ia menarik-narik lenganku, merajuk. Menyebalkan.
“Ayolah, kau kan sudah tahu aku belum pernah kesana, ayo ajak aku kesana,”
Aku menghela nafas. Inilah sebabnya aku tidak bisa menang darinya, jika ia memaksa, pasti ia merajuk dengan tersenyum manis padaku. Menyulitkanku saja.
“Iya, iya, aku akan mengajakmu kesana, besok sepulang sekolah aku tunggu di gerbang belakang, jangan sampai telat, kalau kau telat, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi,”
“Siap, kapten!”
Sakura tersenyum gembira, aku hanya membalasnya dengan seulas senyum terpaksa. Aku mengambil tasku dan pergi meninggalkannya yang masih tersenyum dengan lebarnya. Anak payah dan aneh, dia membuatku kesal saja.
...
Seluruh kota Tokyo terlihat kecil dari sini. Awan terlihat seperti lukisan yang sangat indah berkilauan. Sinar matahari menyeruak masuk melalui celah-celah pohon, terlihat seperti pantulan cahaya yang menyilaukan. Aku meletakkan tanganku di atas pelipisku. Silau. Aku teringat saat aku membawa Sakura ke bukit ini. Ia tak berhenti tersenyum takjub sejak sampai disini. Ia melihat sudut kota yang terlihat hingga berkali-kali tanpa bosan. Tanpa sadar, aku tersenyum karena mengingat ekspresi wajahnya saat itu. Dia terlihat sangat polos waktu itu. Dalam pandanganku, saat itu dialah anak perempuan yang paling manis, walau aku terkadang kesal padanya. Setiap ia tersenyum, rasanya hatiku sangat damai, tapi pada waktu yang sama juga kesal karena menyadari bahwa ia menyukaiku. Dulu, aku tidak mempunyai perasaan apapun pada Sakura, bagiku dia hanya anak perempuan yang menyebalkan dan selalu mengikutiku kemana pun, anak yang sering sekali menyulitkanku. Tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mencelakainya, melukainya, bahkan menghancurkan masa kecilnya. Di bukit inilah semua perasaanku tercampur aduk. Kejadian menyenangkan juga menyedihkan terjadi pada waktu yang sama di bukit ini. Kejadian yang sangat cepat berganti, dari tawa menjadi tangis.
Aku menghela nafas sambil menyandarkan tubuhku di sebuah batang pohon. Angin yang berhembus masih menemaniku. Perasaanku sekarang seperti berlari kemana-mana. Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan dengan Sakura. Berulang kali aku mencoba membencinya, tapi berulang kali juga, aku merasakan jantungku berdebar saat bersamanya. Perasaan damai saat melihatnya tersenyum tidak pernah hilang. Kejadian malam itu membuatku semakin sulit membencinya. Aku bahkan tanpa sadar memberitahu namaku padanya, walau itu hanya penggalan dari namaku, dan aku yakin ia tidak akan menyadari bahwa namaku sebenarnya adalah Tokio Hiroshi. Entah mengapa aku terpikir untuk memberitahunya nama panggilan ayah untukku. Hiro, penggalan kata dari Hiroshi.
Hal yang membuatku bingung adalah mengapa Sakura ada di bukit ini malam itu, dan orang yang bersamanya malam itu membuatku makin bingung. Kenapa presdir Keizo mengajaknya ke bukit ini? Aku tidak pernah tahu ada yang pernah ke bukit ini selain aku dan Sakura kecil. Sebenarnya, siapa presdir Keizo. Ah, pikiranku muluk sekali. Bukit ini kan bukan milikku, pasti ada orang lain selainku yang megetahui keberadaannya. Aku kembali menghela nafas. Semakin aku pikirkan, aku malah semakin tidak menemukan jawabannya. Bukan masalah presdir mengetahui bukit ini, tapi masalah mengapa Sakura bisa pingsan di bukit ini. Apa yang membuat kepalanya sakit dan pingsan? Aku sama sekali tidak mengerti.
Aku mengadahkan tangan, sebuah daun yang gugur jatuh ke atas tanganku. Aku memperhatikannya dengan seksama. Daun rapuh yang tertiup angin, ia tidak bisa melawan kerasnya angin yang menghatamnya, hingga akhirnya jatuh tanpa melawan. Aku rasa, suatu saat aku pun akan seprti daun itu, jatuh karena tak sanggup menahan cobaan yang menekan batinku. Semakin lama aku hidup, aku rasa akan semakin banyak orang yang kulukai. Aku ingin mengubah hal itu, tapi sulit sekali melakukannya.
Aku mengangkat kepalaku, menatap awan yanag terlihat sangat cerah, bertolak belakang dengan hatiku yang selalu gelap. Aku merasa diriku hampa, tapi aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengisinya. Menyimpan perasaan tak tentu ini benar-benar melelahkan.
Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir sore. Aku ingat punya janji dengan Sakura hari ini, tapi aku merasa diriku belum siap bertemunya. Kejadian malam itu selalu terbayang di benakku. Aku jadi serba salah setiap bertemunya. Aku harus mengatur perasaanku sebelum bertemunya. Padahal kami bertemu setiap hari di rumah, tapi aku tetap merasa berdebar jika bertemunya. Aku tidak boleh seperti ini. Semakin dia berada dekat denganku, aku harus semakin membenci dan menjauhinya. Aku harus bersikap tenang seperti biasa. Apapun yang terjadi dan apapun yang dikatakan Sakura, aku harus mengacuhkannya, aku harus menyikapinya dengan tenang dan biasa saja. Ya, aku harus melakukan itu.
Aku menegakkan tubuhku. Aku rasa aku sudah bisa mengendalikan diriku. Aku harus siap bertemu dengan Sakura, apapun yang terjadi. Aku berjalan perlahan menuruni bukit. Setiap langkah, aku menghela nafasku. Aku harap dengan cara itu, aku dapat benar-enar tenang saat brtemunya.
Aku mengira-ngira untuk apa Sakura meminta waktu untuk bertamuku, padahal kami dapat bertemu setiap hari di rumah. Apa yang ingin ia rencanakan? Aku melihat tanggal di jam tanganku. Hari ini bukan ulang tahunku, dan aku yakin juga bukan ulang tahunnya. Tanggal 14, bulan 2, memangnya ini hari apa? Tunggu, 14 februari. Aku menelan ludah, terkejut mengetahui bahwa hari ini adalah valentine. Prasangkaku jadi buruk.
Aku harus menghindari pertemuan ini. Aku harus ke tempat lain dan berpura-pura tidak ingat jika akan bertemunya. Aku segera mengambil helmku dan menaiki motor. Aku harus pergi ke mana saja, jika bisa, aku akan pulang tengah malam nanti, jadi Sakura tidak bisa bertemu denganku hari ini. Rencana yang sempurna.
“Kak Hiro!”
Hampir saja aku menyalakan mesin motor, tiba-tiba aku mendengar suara Sakura. Aku menelan ludah, semoga saja hanya suaranya yang mirip, tapi dia memanggil ‘kak Hiro’, semoga saja aku salah dengar. Aku menoleh ke sumber suara, jantungku berdebar keras. Aku hampir tidak bisa berpikir ketika menemukan sosok Sakura yang berjalan menghampiriku. Dugaanku benar, memang Sakura yang memanggilku. Hancur sudah rencanaku.
Sakura menghampiriku dengan senyum terkembang di bibirnya, ia kelihatan sangat senang. Aku melepas helmku dan dengan terpaksa, turun dari motor. Sakura membawa sebuah kantung kertas di tangannya, aku sudah menduga isinya, walau aku berharap bukan cokelat yang ia bawa. Aku berdiri di depan motorku dengan wajah setenang mungkin. Sakura harus menganggapku bersikap seperti biasa, walau sebenarnya jantungku rasanya seperti mau meledak
“Kakak mau kemana? Apakah kakak baru turun dari bukit ini?”
“Ya, aku baru saja mau pulang, apa yang kau lakukan disini?”
“Kakak pulang sangat lama jadi aku mengira-ngira ke mana kakak pergi, ternyata perkiraanku benar, kakak memang ada disini,”
Mataku rasanya seperti membesar saking terkejutnya. Kenapa ia bisa mengira aku ada disini? Aku hanya mengajaknya satu kali yaitu waktu ia kecil dan sebelum kejadian itu. Apakah ia mengingat sesuatu tentang bukit ini? Tidak, mungkin saja dia ngat aku bertemunya disini malam itu, jadi pasti ia berpikir aku sering kesini.
“Ya, aku cukup sering kesini, tapi seharusnya kau tunggu saja di rumah, kau tidak perlu datang kesini mencariku,”
Sakura tertawa, tapi menundukkan kepalanya, seakan mnta maaf. Aku sempat terpaku melihatnya. Dia memang gadis aneh yang manis. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya, beruntung, aku segera menghilangkan senyum itu ketika ia kembali mengangkat kepalanya.
“Maaf, kak, aku terlalu senang sampai rasanya lama sekali waktu kalau aku menunggu kakak di rumah,”
Entah mengapa, ia segera menutup mulutnya dengan tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Aku tertawa kecil melihat sikapnya yang spontan itu. Sakura sepertinya menyadari bahwa aku menertawainya. Wajahnya memerah seketika. Dia terlihat malu sekali. Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku dan mengusap kepalanya. Sakura menatapku dengan heran, aku segera sadar dan menarik tanganku kembali. Aku bodoh sekali, seharusnya aku tidak melakukan itu. Sakura kembali menunduk malu, tapi beberapa saat kemudian, ia menghela nafas dan mengangkat kepalanya kembali. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kalau begitu, ayo kita pulang!”
Aku menyembunyikan rasa penasaranku. Aku tidak boleh memberikannya kesempatan untuk memberikanku cokelat atau apapun, walau aku tidak tahu apa yang ingin ia lakukan, tapi prasangkaku sekarang benar-benar buruk. Aku takut situasi yang tidak kuinginkan terjadi lagi.
“Kakak, tunggu sebentar, aku ingin mengobrol dengan kakak disini sebentar lagi, boleh kan?”
“Kenapa tidak di rumah saja?”
“Ah, kalau di rumah, aku takut aku malah tidak bisa mengatakan apapun, tidak apa-apa kan, kak? Sebentar saja, aku mohon,”
Ia tersenyum merajuk seperti saat dia memintaku untuk membawanya ke bukit ini. Kalau ia sudah seperti ini, aku benar-benar sulit melawannya. Aku menghela nafas dan menatapnya dengan tatapan mengancam. Ia tetap tersenyum merajuk dengan polosnya. Dasar pemaksa. Aku tidak bisa menang melawannya.
“Terserah kau sajalah, ayo naik ke atas, kau ini membuatku lelah saja,”
Bukannya meminta maaf, ia malah tersenyum semakin lebar mendengar perkataanku. Aku tidak habis pikir dengannya. Benar-benar gadis menyebalkan.
Aku berjalan kembali menaiki bukit, Sakura mengikutiku dari belakang. Terkadang ia tersandung batu-batu kecil, tapi aku tidak menghiraukannya. Ia terkihat kesal beberapa saat lalu kembali tersenyum senang. Lagi-lagi hal itu membuatku tersenyum sedikit.
Aku sudah sampai di puncak bukit, dan menatap langit yang hampir gelap. Aku mengalihkan pandangan ke Sakura, ia masih tertatih-tatih menaiki bukit, tapi wajahnya kelihatan bersemangat sekali. Aku jadi tertawa melihatnya. Rasa penasaranku tentang apa yang ingin ia katakan padaku jadi semakin besar, aku berharap itu bukan hal yang harus kubenci.
Sakura berhasil mencapai bukit dengan terengah-engah, aku bertepuk tangan melihatnya, tapi ia malah merengut kesal, membuatku kembali tertawa. Ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon sambil terus menatap kesal ke arahku. Aku mengangkat bahuku dan mengatur wajah seakan-akan sedang merendahkannya, tapi ia malah tertawa melihat tingkahku itu. Aneh. Sekarang, dia malah duduk di atas batang pohon yang sudah rubuh. Dasar, sebenarnya apa yang ia ingin katakan? Harus berapa lama aku menunggunya bicara.
“Apa kakak mempunyai kenangan di bukit ini?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya, tapi aku segera menenangkan diriku kembali. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Jarak kami menjadi cukup dekat. Sebenanya, aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya, tubuhku seperti bergerak sendiri menghampirinya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kenanganku itu penting untukmu?”
Aku berkata ketus lagi padanya. Hal yang aku tidak mengerti samapai sekarang adalah mengapa aku bisa dengan tenang bersikap ketus pada Sakura, sementara jantungku berdebar sangat kencang. Aku jadi seperti orang aneh di depannya.
“Ah, tidak, aku hanya ingin memastikan bayangan yang terbesit di benakku pada malam itu,”
Bayangan? Apa itu sebagian dari ingatannya yang hilang? Apa ia mengingat sesuatu tentangku? Gawat. Aku benar-benar takut jika ingatannya kembali.
“Bayangan apa yang terbesit di benakmu itu?”
“Seorang gadis kecil dan anak laki-laki yang sedang bercengkrama di bukit ini, gadis kecil itu terlihat seperti aku, tapi aku merasa tidak mengenal anak laki-laki yang bersamanya, dan kakak tahu, yang membuatku semakin bingung adalah ekspresi gadis kecil itu yang terlihat sangat gembira,padahal aku yakin aku tidak pernah terlihat sesenang itu saat bersama anak laki-laki,”
Tidak mungkin. Bayangan yang ia lihat itu adalah kejadian waktu itu, saat semuanya mulai berubah. Kenapa ingatan itu kembali? Kepalaku terasa berat. Perasaan takut itu kembali menghantuiku. Tuhan, dapatkah kau buat ia melupakan hal itu? Aku berusaha mengendalikan pikiran yang berkecamuk di benakku. Aku harus tetap terlihat tenang, jangan membuatnya curiga padaku.
“Mungkin itu memang ingatan masa kecilmu, wajar, kan , jika kau tidak mengingatnya, itu sudah cukup lama,”
Aku mencoba berdalih agar ia tidak terlalu memikirkan hal itu.
“Benar kata kakak, itu pasti masa kecilku yang mungkin aku lupakan, sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya, kan?”
Aku mengangguk, mengiyakan. Bagus. Sudah seharusnya ia tidak memikirkannya, kalau ia memikirkannya, itu hanya membuatku sulit saja.
“Tapi, kak...,”
Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, cemas dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“Aku berpikir dan mungkin berharap anak laki-laki itu adalah kakak,”
Apa? Aku semakin terkejut, tapi Sakura malah semakin tersenyum senang. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Situasi ini menyulitkanku.
“Kenapa kau berharap itu aku? Mana mungkin itu aku, jangan berharap yang tidak-tidak,”
Sakura tertawa melihat reaksiku. Aku tetap menatapnya dengan datar. Aku harus menyembuyikan keterkejutanku ini.
“Tidak apa, maaf jika aku lancang, tapi aku ingin menyerahkan sesuatu pada kakak,”
Sakura mengambil tas kertas yang tadi dipegangnya, ia terlihat berusaha mengeluarkan isinya. Aku dengan cemas dan takut menunggunya membuka isi tas itu. Semoga saja itu bukan cokelat, tapi ternyata harapanku itu hancur saat Sakura mengeluarkan kotak berbentuk hati dan berwwrna pink dari tas itu. Aku yakin sekali itu adalah cokelat. Sial. Ini membuatku jadi kesal.
“Ini untuk kakak, aku sudah berusaha membuatnya dengan sepenuh hati, maaf jika ternyata rasanya tidak enak,”
Aku tidak mengatakan apapun dan tidak melakukan apa pun, rasanya aku kesal sekali. Aku ingin sekali menerimanya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menghancurkan cokelat itu berkeping-keping. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya perasaan kesal yang kini ada di hatiku. Aku kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa mengambil sikap.
“Dan ada satu hal lagi yang ingin kukatakan pada kakak,”
Wajah Sakura tampak memerah. Pikiranku jadi semakin buruk. Apalagi yang ingin ia katakan sekarang? Rasanya aku benar-benar ingin pergi dari sini secepatnya.
“Kak, aku...,”
Aku benar-benar kesal. Aku benci situasi ini.
“Aku mencintai kakak, sudah lama aku menyimpan perasaan ini, aku benar-benar mencintai kakak,”
“Itu hanya ilusimu saja,”
Sakura The Love without Name
VI. Hiro (Sakura’s Feeling)
Aku menggenggam tanganku. Ingatanku kembali ke saat kakak menggenggam tanganku. Aku merasa, rasa hangat itu masih tersisa di tanganku. Tangan kakak yang besar menggenggam tanganku erat, sangat hangat, bahkan walau tak memakai sarung tangan aku tidak merasa dingin sedikit pun. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Kemarin malam benar-benar malam yang indah, aku masih dapat merasakan bahagianya sampai sekarang. Kakak, apakah mungkin ia juga menyukaiku? Aku selalu berharap seperti itu, dan jika itu terjadi, aku yakin akan menjadi wanita yang paling bahagia. Aku benar-benar bahagia. Dari kemarin malam, aku terus tersenyum. Seandainya, malam itu tidak cepat berakhir, dan kakak tidak melepaskan tanganku, semakin indahnya hari itu. Kakak tidak terlihat dingin seperti biasanya, aku merasa kakak malam itu sangat hangat. Aku benar-benar tidak dapat berhenti tersenyum. Aku sangat senang, rasanya seperti mimpi.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Aku tersentak, segera aku menoleh ke arah suara. Paman Yuzo tersenyum menggodaku. Ia berdehem. Aku menundukkan kepalaku, malunya, paman menemukanku sedang melamun sambil tersenyum sendiri. Ah, pasti aku kelihatan seperti orang aneh. Aku bodoh.
“Maaf, aku akan kembali bekerja,”
“Tunggu dulu, kau harus...,”
Bruk. Aku menabrak seseorang. Gawat. Beruntung, aku sedang tidak membawa barang. Aku segera berdiri, menoleh ke arah orang yang kutabrak. Seketika, aku terkejut, aku menutup mulutku, hampir berteriak. Presdir menatapku tajam. Lagi-lagi aku menabraknya. Ya, Tuhan, aku dalam masalah, aku bisa dikeluarkan. Aku membungkukkan badan dalam-dalam.
“Maaf, maafkan aku, presdir Keizo, maaf, tolong beri aku kesempatan lagi, tolong maafkanlah aku, maaf, tolong jangan pecat aku, presdir,”
Aku menutup mataku. Bayangan buruk menghantui pikiranku. Ya, Tuhan, tolonglah aku. Tiba-tiba aku mendengar suara tawa. Aku melirik ke arah presdir dan menemukannya tertawa terbahak-bahak.
“Haha- sudahlah, tegapkan badanmu, sudah, aku tidak akan memecatmu,”
Presdir menutup mulutnya, menahan tawa, tapi sepertinya tidak berhasil, ia terus saja tertawa. Aku benar-benar malu. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku kembali menundukkan kepalaku. Pipiku rasanya panas sekali, malunya. Ini benar-benar memalukan. Paman menepuk pundakku sambil berdehem. Aku tetap tak berkutik. Pikiranku jadi kosong karena terlalu malu.
“Aku baru ingin menyuruhmu mengangkat kepala, tapi kau sudah terlanjur menabrak presdir, kau ini, berhati-hatilah, ayo angkat kepalamu!”
Paman menepuk pundakku lagi lalu menghampiri presdir. Aku mengangkat kepalaku dengan rasa takut bercampur malu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Presdir masih tertawa. Dia tampak berusaha menahan tawanya lagi. Aku berusaha tersenyum padanya, tapi ia malah tertawa lebih keras. Bagaimana ini?
“Kenapa kau sering sekali menabrakku, sih?”
“Aku kan baru melakukannya dua kali, ini yang terakhir, presdir, aku berjanji,”
Aku tersenyum memohon padanya, tapi ia kembali tertawa. Ada apa dengannya? Ah, aku jadi serba salah. Paman ikut tertawa, tapi kemudian meninggalkan kami berdua sambil mengedipkan sebelah mata padaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Presdir tertawa dan aku harus menahan malu, sama sekali tidak bagus. Rasanya aku kesal sendiri. Presdir, kumohon berhentilah tertawa.
“Maaf, maaf, aku menertawaimu, kau itu polos sekali, aku sama sekali tidak dapat menahan tawaku,”
Aku mengerucutkan bibirku. Menyebalkan. Sebenarnya, apa yang lucu? Aku semakin tidak mengerti. Kenapa presdir mengatakan bahwa aku polos? Apa memang begitu? Beberapa saat kemudian, presdir berhenti tertawa. Sepertinya, dia melihatku yang tampak kesal. Ia menegapkan tubuhnya dan merapikan jasnya.
“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan kejadian tadi, tenang saja, aku tidak akan memecatmu, karena kau sedang tidak membawa barang, lain kali berhati-hatilah, dan angkat kepalamu jika berjalan, kau mengerti?”
“Baik, aku akan berhati-hati lain kali, terima kasih banyak,”
“Kau tidak perlu berterima kasih, tapi aku rasa kau harus dapat hukuman karena kau menabrakku,”
Aku menatap presdir dengan terkejut. Hukuman? Apa yang harus aku lakukan untuk membayar kesalahanku? Presdir mengulum senyumnya. Ia tampak seperti sedang menggodaku. Jantungku berdegup kencang, ketakutan. Ya, Tuhan hukuman apa yang akan ia berikan? Tolonglah aku.
“Kalau aku boleh tahu, apa hukumannya, presdir?”
“Tentu saja kau harus tahu, hukumannya adalah kau harus makan malam bersamaku malam ini, bagaimana?”
“Makan malam? Dengan presdir? Itu hukumanku?”
“Yap, tepat sekali, dan aku harap kau tidak menolaknya,”
Presdir tersenyum meyakinkan. Aku menatapnya heran dan tidak percaya. Kenapa ia menghukumku dengan makan malam bersamanya? Ah, sudahlah, presdir sudah terlalu baik padaku, lagipula jika ini hukuman, berarti aku harus melakukannya. Aku tersenyum pada presdir dan mengangguk pasti. Presdir tampak senang.
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu sepulang kerja, oh, ya, kau tidak boleh kabur, mengerti?”
“Tenang saja aku tidak akan kabur, aku akan menunggu presdir dengan senang hati,”
...
Aku mengaduk-aduk makananku. Presdir menatapku lekat-lekat. Aku tidak mau menatapnya, karena aku tidak yakin dapat membalas tatapannya. Aku tetap mengaduk-aduk makananku tanpa memakannya. Sepertinya, hukuman ini sangat berat bagiku. Tadinya aku mengira, makan malam dengan presdir bukanlah hal yang buruk, tapi ternyata aku salah, presdir membuatku berdebar-debar, dan menurutku itu sama sekali tidak bagus. Aku benar-benar gugup, tidak tahu harus mengatakan apa. Beberapa menit berlalu, tapi situasi diantara kami tetap hening, hanya musik jazz yang terdengar mengalun dari atas panggung. Aku menunduk menatap makananku. Aku merasa presdir menatapku dengan penuh arti. Ah, perasaanku campur aduk. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Kau tidak suka makanannya? Apa kau mau menggantinya?”
Deg. Sumpit di tanganku hampir jatuh. Aku mengankat kepalaku dan menatap presdir, ia tersenyum. Senyumannya sungguh menawan. Aku berusaha membalas senyumannya, sulit sekali. Akhirnya, aku berhasil membalas senyumannya, walau pasti terlihat terpaksa.
“Tidak, ini enak, enak sekali, aku baru saja mau memakannya, presdir tenang saja,”
Aku tertawa terbata, benar-benar gugup. Sepertinya, presdir menyadari kegugupanku. Ia mulai memakan makanannya setelah mempersilahkanku untuk menikmati makananku. Syukurlah, presdir berhenti menatapku dengan tatapan penuh arti itu.
Saat kami sedang menikmati hidangan, tiba-tiba presdir meletakkan sumpitnya dan mengambil serbet. Aku segera mengalihkan pandanganku kepada presdir. Dia tampak mengelap sekitar mulutnya. Aku melihat hidangan di depan presdir, ia masih menyisakan hidangan itu. Aku ikut melakukan hal yang sama dengan presdir. Kini, presdir tersenyum dan kembali menatapku dengan penuh arti, tapi aku tak mengerti maksud tatapannya itu.
“Bagaimana dengan kakakmu? Apa dia baik-baik saja?”
Aku merasa seperti tersedak. Kejadian kemarin malam seperti terulang lagi. Kakak menggenggam tanganku dan menarikku masuk ke rumah. Seketika itu pipiku terasa panas. Presdir seperti menyadari wajahku yang tiba-tiba memerah. Memalukan, kenapa aku selalu terlihat memalukan di depan presdir?
“Apa terjadi sesuatu antara kau dan kakakmu?”
Aku segera menggelengkan kepalaku. Presdir tidak boleh menyadari apa yang kupikirkan.
“Tidak, tidak ada, dan kakak baik-baik saja, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan kakak, ah, presdir jangan berpikir yang tidak-tidak,”
“Dari ekspresimu, sepertinya kau sedang berbohong,”
Hah? Aku terkejut mendengar ucapan presdir. Ia tersenyum seakan menyindirku. Aku tersenyum kecut. Apa aku memang tidak bisa berbohong? Menyebalkan.
“Ternyata benar kalau kau menyukai kakakmu itu,”
Aku segera menggelengkan kepalaku keras. Presdir menatapku penuh tanda tanya.
“Itu tidak benar, kan sudah kubilang, presdir jangan berpikir macam-macam,”
Presdir tertawa mendengar ucapanku. Bodoh, kenapa aku harus bersikeras untuk membohongi presdir. Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum kecut.
“Haha- kau ini benar-benar tidak bisa berbohong, kau tahu? Lagipula, kenapa kau bersikeras untuk membohongiku tentang perasaanmu itu? Kau ini aneh sekali,”
Itulah yang aku tidak tahu. Sebenarnya, untuk apa aku membohongi presdir tentang perasaanku pada kakak. Aku kembali menunduk. Aku tidak tahu alasan mengapa presdir tidak boleh megetahui perasaanku pada kakak.
“Maafkan aku, tapi aku mohon persdir tidak membicarakan hal itu lagi,”
“Ya, aku juga minta maaf padamu, sebenarnya aku juga tidak ingin tahu tentang perasaanmu padanya, tapi entah mengapa aku ingin menanyakannya, maaf jika membuatmu gugup,”
Presdir tersenyum tulus padaku. Aku memperhatikannya berubah sedikit sedih. Lagi-lagi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada presdir.
“Kau tidak menghabiskan makananmu? Kenapa?”
“Presdir sendiri tidak menghabiskannya, kenapa?”
Aku tersenyum menyindirnya, tapi ia kembali tertawa. Ia merapikan jasnya, seperti bersiap untuk pergi. Aku mengambil tas tanganku. Kini, ia mengannguk padaku.
“Kalau kau juga sudah selesai, ayo kita pergi, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu,”
“Baik, tapi kita akan kemana? Aku takut kakak khawatir jika aku tidak segera pulang,”
“Tenang saja kau tidak akan pulang larut malam, aku pastikan itu,”
Presdir memanggil sekretarisnya dan menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan kami. Setelah itu, presdir menghampiriku dan mengulurkan tangannya tapi aku tidak menyambutnya, tetap tak bergeming. Presdir terlihat heran melihat reaksiku, tapi kemudian ia berdehem dan menarik tangannya kembali. Ia pergi lebih dulu setelah memberi isyarat kepadaku, aku mengikutinya dari belakang.
...
Aku menatap kagum melihat pemandangan di depanku. Aku dapat melihat seluruh kota Tokyo dari atas bukit ini. Lampu-lampu bangunan terlihat berkelip seperti bintang. Kaca-kaca bagaikan memantulkan sinar rembulan. Suara bising jalan terdengar seperti alunan musik yang menemani malam yang sepi. Benar-benar indah. Udara dingin tidak membuatku enggan untuk terus berdiri di atas bukit ini. Ini luar biasa indah.
“Ini indah sekali, lihat, Tokyo terlihat seperti gugusan bintang, kau lihat kan, To-chan,”
“Kau ini bodoh, ya, mana mungkin Tokyo seperti gugusan bintang, menurutku ini tidak lebih indah dari pemandangan di Kyoto,”
“Kau pernah tinggal di Kyoto?”
“Ya, dulu nenekku tinggal disana, tapi sekarang, ia juga pindah ke Tokyo,”
“Tapi menurutku ini benar-benar indah,”
“Kau ini, terserah kau sajalah,”
Aku tersentak. Apa itu tadi? Baru saja, aku seperti melihat dua anak yang sedang bercengkrama disini. Siapa mereka? Kenapa tiba-tiba bayangan mereka terbesit di benakku? Seorang anak perempuan yang terlihat seperti diriku, dan seorang anak laki-laki bernama To-chan? Siapa To-chan? Kenapa aku berada disini dengannya dan bercengkrama dengan akrab? Kapan hal itu terjadi? Ah, kepalaku sakit sekali. Pikiranku seperti berada dimana-mana dalam satu waktu. Sakit. Aku memegang kepalaku. Sakit sekali. Ada apa denganku?
“Sakura, kau tidak apa-apa? Sakura kau baik-baik saja, ada apa?”
Presdir menyentuh lengnku. Aku menoleh ke arahnya, wajahnya terlihat khawatir. Ah, kepalaku sakit sekali. Semakin aku berpikir semakin sakit.
“Hey, Sakura! Kau kenapa? Apa kepalamu sakit?”
Aku tidak dapat berbicara apa-apa, aku hanya mengangguk lemah. Ah, kenapa aku tiba-tiba begini? Aku sudah merepotkan presdir.
“Aku akan memapahmu ke mobil, ayo, pegang tanganku, hati-hati,”
Aku memegang tangan presdir dengan erat. Kepalaku masih terasa sakit. Rasanya, aku hampir pingsan. Dari jauh, aku melihat samar-samar bayangan seorang pria. Siapa? Aku yakin itu bukan presdir karena presdir ada di sampingku sambil terus memapahku menuruni bukit ini, lalu siapa laki-laki itu?
“Sakura, Presdir Keizo?! Apa yang kalian lakukan, ah, Sakura, apa yang terjadi padanya?”
Suara kakak. Aku mendengarnya dengan jelas, ia bertanya pada presdir tentang keadaanku. Pendengaranku mulai samar. Sepertinya, presdir mencoba menjelaskan keadaanku pada kakak. Sepertinya, aku mulai tak sadarkan diri. Kakak tolong bawa aku pulang segera. Aku ingin mengatakan itu, tapi aku seperti tak sanggup melakukannya. Ah, kesadaranku semakin menghilang.
...
Aku berusaha membuka mataku. Aku dimana? Aku mencium wangi yang tak asing. Ini wangi tubuh kakak. Benar, aku yakin tidak salah mengenalinya. Aku berusaha mengangkat kepalaku, sakit, aku sulit melakukannya. Sepertinya, kepalaku disandarkan di pundak kakak. Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengangkat kepalaku, rasanya masih sedikit pusing. Aku mengaduh, rasanya kepalaku berat sekali.
“Kau sudah sadar Sakura?”
Kakak menatap ke arahku, tapi pandanganku masih kabur. Wajah kakak terlihat sangat khawatir. Ah, aku ingat, tadi aku pergi ke bukit dengan presdir dan melihat bayangan itu, saat itulah kepalaku terasa sakit sekali. Aku kembali berusaha mengangkat kepalaku, tapi tiba-tiba tangan kakak menahannya. Ah, kenapa? aku harus segera bangun agar tidak membuatnya khawatir.
“Jangan langsung mengangkat kepalamu, bodoh, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu kepalamu pasti sakit sekali, jadi memaksakan diri untuk langsung bangun, kau ini baru saja pingsan, kau tahu?”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Setiap aku dalam masalah pasti kakak selalu ada untukku. Saat aku tersesat, saat presdir hampir melakukan sesuatu padaku, dan kini saat kepalaku terasa sakit sekali. Kakak benar-benar malaikat pelindungku. Aku yakin aku tidak salah menyukai kakak.
Tiba-tiba aku teringat dengan bayangan anak laki-laki yang bercengkrama dengan diriku di bukit tadi. Aku tidak ingat siapa anak itu, tapi saat aku melihat bayangannya tadi, aku merasa ada rasa hangat yang menjalar di tubuhku. Diriku waktu kecil yang aku lihat bersamanya juga tampak merasakan bahagia. Dari wajahnya saja, aku sudah dapat menduga bahwa diriku saat itu sangat bahagia bersama anak laki-laki itu, tapi siapa dia? Aku mencoba mengingat-ingat bayangan pada saat aku memanggilnya. To-chan. Ya, aku memanggilnya To-chan. Apakah itu kakak? Atau aku pernah menyukai seseorang selain kakak? Tapi, aku yakin aku tidak pernah terlihat sebahagia itu kecuali saat aku bersama kakak. Aku mencoba menatap kakak, wajahnnya tetap tenang seperti biasanya. Aku sangat berharap anak laki-laki itu adalah kakak, walau aku tidak mengingat kapan hal itu terjadi. Harapan itu membuatku tersenyum tanpa sadar.
“Kakak, apa aku benar-benar tidak boleh mengetahui nama kakak, walau hanya nama kecil kakak, atau panggilan kakak? Apa benar-benar tidak boleh?”
“Hey, kau baru saja sadar, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Tapi, akhir-akhir ini aku selalu memikirkan hal itu, aku rasa, jika aku mengetahui nama kakak, aku akan dapat semakin akrab dengan kakak, aku mohon beritahu aku nama kakak,”
Kakak menghela nafas, lalu menatapku dengan pasrah. Aku mencoba memasang senyum semanis mungkin. Kakak kembali mengalihkan pandangannya dariku. Dia kembali menghela nafas. Sepertinya, kakak sedang memikirkannya matan-matang. Ayolah, beritahu aku namamu, sedikit saja, aku mohon.
“Hiro,”
Aku terdiam sesaat. Hiro. Dia memberitahu namanya. Syukurlah. Aku benar-benar beruntung. Nama yang indah. Hiro, aku akan selalu mengingat itu. aku tersenyum senang. Akhirnya, harapanku terkabul, kakak memberitahukannya. Ah, rasanya aku senang sekali sampai tak dapat berkata apa-apa, aku hanya dapat tersenyum terus. Kakak menatapku dengan heran.
“Sesenang itukah kau mengetahui namaku? Kau ini benar-benar gadis aneh,”
Aku hanya menanggapi ucapan kakak dengan senyuman yang terus terkembang di bibirku. Ya, walau hanya satu kata dari namanya, aku sudah sangat senang.
“Jadi, aku bisa memanggil kakak dengan ‘kak Hiro’, boleh, kan aku memanggil kakak begitu?”
“Ya, terserah kau saja, yang terpenting, apa kepalamu sudah lebih baik, kalau sudah, ayo berdiri, ini sudah malam, kita harus segera pulang,”
Aku mengangguk dan berdiri sesuai apa yang kakak suruh. Aku menaiki motor kakak, setelah ia memberiku isyarat untuk cepat naik. Kakak mengendarai motornya dengan perlahan, mungkin, ia takut terjadi sesuatu padaku. Aku masih tersenyum, tapi tiba-tiba aku merasa melupakan sesuatu. Ah, presdir. Bukankah aku tadi pergi bersama presdir, lalu bagaimana dengannya? Ah, sudahlah, mungkin ia sudah pulang lebih dulu. Aku mempererat peganganku pada kakak. Malam ini adalah malam terindah. Sepanjang malam ini aku akan menggumamkan kata itu, Hiro.
Aku menggenggam tanganku. Ingatanku kembali ke saat kakak menggenggam tanganku. Aku merasa, rasa hangat itu masih tersisa di tanganku. Tangan kakak yang besar menggenggam tanganku erat, sangat hangat, bahkan walau tak memakai sarung tangan aku tidak merasa dingin sedikit pun. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Kemarin malam benar-benar malam yang indah, aku masih dapat merasakan bahagianya sampai sekarang. Kakak, apakah mungkin ia juga menyukaiku? Aku selalu berharap seperti itu, dan jika itu terjadi, aku yakin akan menjadi wanita yang paling bahagia. Aku benar-benar bahagia. Dari kemarin malam, aku terus tersenyum. Seandainya, malam itu tidak cepat berakhir, dan kakak tidak melepaskan tanganku, semakin indahnya hari itu. Kakak tidak terlihat dingin seperti biasanya, aku merasa kakak malam itu sangat hangat. Aku benar-benar tidak dapat berhenti tersenyum. Aku sangat senang, rasanya seperti mimpi.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Aku tersentak, segera aku menoleh ke arah suara. Paman Yuzo tersenyum menggodaku. Ia berdehem. Aku menundukkan kepalaku, malunya, paman menemukanku sedang melamun sambil tersenyum sendiri. Ah, pasti aku kelihatan seperti orang aneh. Aku bodoh.
“Maaf, aku akan kembali bekerja,”
“Tunggu dulu, kau harus...,”
Bruk. Aku menabrak seseorang. Gawat. Beruntung, aku sedang tidak membawa barang. Aku segera berdiri, menoleh ke arah orang yang kutabrak. Seketika, aku terkejut, aku menutup mulutku, hampir berteriak. Presdir menatapku tajam. Lagi-lagi aku menabraknya. Ya, Tuhan, aku dalam masalah, aku bisa dikeluarkan. Aku membungkukkan badan dalam-dalam.
“Maaf, maafkan aku, presdir Keizo, maaf, tolong beri aku kesempatan lagi, tolong maafkanlah aku, maaf, tolong jangan pecat aku, presdir,”
Aku menutup mataku. Bayangan buruk menghantui pikiranku. Ya, Tuhan, tolonglah aku. Tiba-tiba aku mendengar suara tawa. Aku melirik ke arah presdir dan menemukannya tertawa terbahak-bahak.
“Haha- sudahlah, tegapkan badanmu, sudah, aku tidak akan memecatmu,”
Presdir menutup mulutnya, menahan tawa, tapi sepertinya tidak berhasil, ia terus saja tertawa. Aku benar-benar malu. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku kembali menundukkan kepalaku. Pipiku rasanya panas sekali, malunya. Ini benar-benar memalukan. Paman menepuk pundakku sambil berdehem. Aku tetap tak berkutik. Pikiranku jadi kosong karena terlalu malu.
“Aku baru ingin menyuruhmu mengangkat kepala, tapi kau sudah terlanjur menabrak presdir, kau ini, berhati-hatilah, ayo angkat kepalamu!”
Paman menepuk pundakku lagi lalu menghampiri presdir. Aku mengangkat kepalaku dengan rasa takut bercampur malu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Presdir masih tertawa. Dia tampak berusaha menahan tawanya lagi. Aku berusaha tersenyum padanya, tapi ia malah tertawa lebih keras. Bagaimana ini?
“Kenapa kau sering sekali menabrakku, sih?”
“Aku kan baru melakukannya dua kali, ini yang terakhir, presdir, aku berjanji,”
Aku tersenyum memohon padanya, tapi ia kembali tertawa. Ada apa dengannya? Ah, aku jadi serba salah. Paman ikut tertawa, tapi kemudian meninggalkan kami berdua sambil mengedipkan sebelah mata padaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Presdir tertawa dan aku harus menahan malu, sama sekali tidak bagus. Rasanya aku kesal sendiri. Presdir, kumohon berhentilah tertawa.
“Maaf, maaf, aku menertawaimu, kau itu polos sekali, aku sama sekali tidak dapat menahan tawaku,”
Aku mengerucutkan bibirku. Menyebalkan. Sebenarnya, apa yang lucu? Aku semakin tidak mengerti. Kenapa presdir mengatakan bahwa aku polos? Apa memang begitu? Beberapa saat kemudian, presdir berhenti tertawa. Sepertinya, dia melihatku yang tampak kesal. Ia menegapkan tubuhnya dan merapikan jasnya.
“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan kejadian tadi, tenang saja, aku tidak akan memecatmu, karena kau sedang tidak membawa barang, lain kali berhati-hatilah, dan angkat kepalamu jika berjalan, kau mengerti?”
“Baik, aku akan berhati-hati lain kali, terima kasih banyak,”
“Kau tidak perlu berterima kasih, tapi aku rasa kau harus dapat hukuman karena kau menabrakku,”
Aku menatap presdir dengan terkejut. Hukuman? Apa yang harus aku lakukan untuk membayar kesalahanku? Presdir mengulum senyumnya. Ia tampak seperti sedang menggodaku. Jantungku berdegup kencang, ketakutan. Ya, Tuhan hukuman apa yang akan ia berikan? Tolonglah aku.
“Kalau aku boleh tahu, apa hukumannya, presdir?”
“Tentu saja kau harus tahu, hukumannya adalah kau harus makan malam bersamaku malam ini, bagaimana?”
“Makan malam? Dengan presdir? Itu hukumanku?”
“Yap, tepat sekali, dan aku harap kau tidak menolaknya,”
Presdir tersenyum meyakinkan. Aku menatapnya heran dan tidak percaya. Kenapa ia menghukumku dengan makan malam bersamanya? Ah, sudahlah, presdir sudah terlalu baik padaku, lagipula jika ini hukuman, berarti aku harus melakukannya. Aku tersenyum pada presdir dan mengangguk pasti. Presdir tampak senang.
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu sepulang kerja, oh, ya, kau tidak boleh kabur, mengerti?”
“Tenang saja aku tidak akan kabur, aku akan menunggu presdir dengan senang hati,”
...
Aku mengaduk-aduk makananku. Presdir menatapku lekat-lekat. Aku tidak mau menatapnya, karena aku tidak yakin dapat membalas tatapannya. Aku tetap mengaduk-aduk makananku tanpa memakannya. Sepertinya, hukuman ini sangat berat bagiku. Tadinya aku mengira, makan malam dengan presdir bukanlah hal yang buruk, tapi ternyata aku salah, presdir membuatku berdebar-debar, dan menurutku itu sama sekali tidak bagus. Aku benar-benar gugup, tidak tahu harus mengatakan apa. Beberapa menit berlalu, tapi situasi diantara kami tetap hening, hanya musik jazz yang terdengar mengalun dari atas panggung. Aku menunduk menatap makananku. Aku merasa presdir menatapku dengan penuh arti. Ah, perasaanku campur aduk. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Kau tidak suka makanannya? Apa kau mau menggantinya?”
Deg. Sumpit di tanganku hampir jatuh. Aku mengankat kepalaku dan menatap presdir, ia tersenyum. Senyumannya sungguh menawan. Aku berusaha membalas senyumannya, sulit sekali. Akhirnya, aku berhasil membalas senyumannya, walau pasti terlihat terpaksa.
“Tidak, ini enak, enak sekali, aku baru saja mau memakannya, presdir tenang saja,”
Aku tertawa terbata, benar-benar gugup. Sepertinya, presdir menyadari kegugupanku. Ia mulai memakan makanannya setelah mempersilahkanku untuk menikmati makananku. Syukurlah, presdir berhenti menatapku dengan tatapan penuh arti itu.
Saat kami sedang menikmati hidangan, tiba-tiba presdir meletakkan sumpitnya dan mengambil serbet. Aku segera mengalihkan pandanganku kepada presdir. Dia tampak mengelap sekitar mulutnya. Aku melihat hidangan di depan presdir, ia masih menyisakan hidangan itu. Aku ikut melakukan hal yang sama dengan presdir. Kini, presdir tersenyum dan kembali menatapku dengan penuh arti, tapi aku tak mengerti maksud tatapannya itu.
“Bagaimana dengan kakakmu? Apa dia baik-baik saja?”
Aku merasa seperti tersedak. Kejadian kemarin malam seperti terulang lagi. Kakak menggenggam tanganku dan menarikku masuk ke rumah. Seketika itu pipiku terasa panas. Presdir seperti menyadari wajahku yang tiba-tiba memerah. Memalukan, kenapa aku selalu terlihat memalukan di depan presdir?
“Apa terjadi sesuatu antara kau dan kakakmu?”
Aku segera menggelengkan kepalaku. Presdir tidak boleh menyadari apa yang kupikirkan.
“Tidak, tidak ada, dan kakak baik-baik saja, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan kakak, ah, presdir jangan berpikir yang tidak-tidak,”
“Dari ekspresimu, sepertinya kau sedang berbohong,”
Hah? Aku terkejut mendengar ucapan presdir. Ia tersenyum seakan menyindirku. Aku tersenyum kecut. Apa aku memang tidak bisa berbohong? Menyebalkan.
“Ternyata benar kalau kau menyukai kakakmu itu,”
Aku segera menggelengkan kepalaku keras. Presdir menatapku penuh tanda tanya.
“Itu tidak benar, kan sudah kubilang, presdir jangan berpikir macam-macam,”
Presdir tertawa mendengar ucapanku. Bodoh, kenapa aku harus bersikeras untuk membohongi presdir. Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum kecut.
“Haha- kau ini benar-benar tidak bisa berbohong, kau tahu? Lagipula, kenapa kau bersikeras untuk membohongiku tentang perasaanmu itu? Kau ini aneh sekali,”
Itulah yang aku tidak tahu. Sebenarnya, untuk apa aku membohongi presdir tentang perasaanku pada kakak. Aku kembali menunduk. Aku tidak tahu alasan mengapa presdir tidak boleh megetahui perasaanku pada kakak.
“Maafkan aku, tapi aku mohon persdir tidak membicarakan hal itu lagi,”
“Ya, aku juga minta maaf padamu, sebenarnya aku juga tidak ingin tahu tentang perasaanmu padanya, tapi entah mengapa aku ingin menanyakannya, maaf jika membuatmu gugup,”
Presdir tersenyum tulus padaku. Aku memperhatikannya berubah sedikit sedih. Lagi-lagi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada presdir.
“Kau tidak menghabiskan makananmu? Kenapa?”
“Presdir sendiri tidak menghabiskannya, kenapa?”
Aku tersenyum menyindirnya, tapi ia kembali tertawa. Ia merapikan jasnya, seperti bersiap untuk pergi. Aku mengambil tas tanganku. Kini, ia mengannguk padaku.
“Kalau kau juga sudah selesai, ayo kita pergi, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu,”
“Baik, tapi kita akan kemana? Aku takut kakak khawatir jika aku tidak segera pulang,”
“Tenang saja kau tidak akan pulang larut malam, aku pastikan itu,”
Presdir memanggil sekretarisnya dan menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan kami. Setelah itu, presdir menghampiriku dan mengulurkan tangannya tapi aku tidak menyambutnya, tetap tak bergeming. Presdir terlihat heran melihat reaksiku, tapi kemudian ia berdehem dan menarik tangannya kembali. Ia pergi lebih dulu setelah memberi isyarat kepadaku, aku mengikutinya dari belakang.
...
Aku menatap kagum melihat pemandangan di depanku. Aku dapat melihat seluruh kota Tokyo dari atas bukit ini. Lampu-lampu bangunan terlihat berkelip seperti bintang. Kaca-kaca bagaikan memantulkan sinar rembulan. Suara bising jalan terdengar seperti alunan musik yang menemani malam yang sepi. Benar-benar indah. Udara dingin tidak membuatku enggan untuk terus berdiri di atas bukit ini. Ini luar biasa indah.
“Ini indah sekali, lihat, Tokyo terlihat seperti gugusan bintang, kau lihat kan, To-chan,”
“Kau ini bodoh, ya, mana mungkin Tokyo seperti gugusan bintang, menurutku ini tidak lebih indah dari pemandangan di Kyoto,”
“Kau pernah tinggal di Kyoto?”
“Ya, dulu nenekku tinggal disana, tapi sekarang, ia juga pindah ke Tokyo,”
“Tapi menurutku ini benar-benar indah,”
“Kau ini, terserah kau sajalah,”
Aku tersentak. Apa itu tadi? Baru saja, aku seperti melihat dua anak yang sedang bercengkrama disini. Siapa mereka? Kenapa tiba-tiba bayangan mereka terbesit di benakku? Seorang anak perempuan yang terlihat seperti diriku, dan seorang anak laki-laki bernama To-chan? Siapa To-chan? Kenapa aku berada disini dengannya dan bercengkrama dengan akrab? Kapan hal itu terjadi? Ah, kepalaku sakit sekali. Pikiranku seperti berada dimana-mana dalam satu waktu. Sakit. Aku memegang kepalaku. Sakit sekali. Ada apa denganku?
“Sakura, kau tidak apa-apa? Sakura kau baik-baik saja, ada apa?”
Presdir menyentuh lengnku. Aku menoleh ke arahnya, wajahnya terlihat khawatir. Ah, kepalaku sakit sekali. Semakin aku berpikir semakin sakit.
“Hey, Sakura! Kau kenapa? Apa kepalamu sakit?”
Aku tidak dapat berbicara apa-apa, aku hanya mengangguk lemah. Ah, kenapa aku tiba-tiba begini? Aku sudah merepotkan presdir.
“Aku akan memapahmu ke mobil, ayo, pegang tanganku, hati-hati,”
Aku memegang tangan presdir dengan erat. Kepalaku masih terasa sakit. Rasanya, aku hampir pingsan. Dari jauh, aku melihat samar-samar bayangan seorang pria. Siapa? Aku yakin itu bukan presdir karena presdir ada di sampingku sambil terus memapahku menuruni bukit ini, lalu siapa laki-laki itu?
“Sakura, Presdir Keizo?! Apa yang kalian lakukan, ah, Sakura, apa yang terjadi padanya?”
Suara kakak. Aku mendengarnya dengan jelas, ia bertanya pada presdir tentang keadaanku. Pendengaranku mulai samar. Sepertinya, presdir mencoba menjelaskan keadaanku pada kakak. Sepertinya, aku mulai tak sadarkan diri. Kakak tolong bawa aku pulang segera. Aku ingin mengatakan itu, tapi aku seperti tak sanggup melakukannya. Ah, kesadaranku semakin menghilang.
...
Aku berusaha membuka mataku. Aku dimana? Aku mencium wangi yang tak asing. Ini wangi tubuh kakak. Benar, aku yakin tidak salah mengenalinya. Aku berusaha mengangkat kepalaku, sakit, aku sulit melakukannya. Sepertinya, kepalaku disandarkan di pundak kakak. Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengangkat kepalaku, rasanya masih sedikit pusing. Aku mengaduh, rasanya kepalaku berat sekali.
“Kau sudah sadar Sakura?”
Kakak menatap ke arahku, tapi pandanganku masih kabur. Wajah kakak terlihat sangat khawatir. Ah, aku ingat, tadi aku pergi ke bukit dengan presdir dan melihat bayangan itu, saat itulah kepalaku terasa sakit sekali. Aku kembali berusaha mengangkat kepalaku, tapi tiba-tiba tangan kakak menahannya. Ah, kenapa? aku harus segera bangun agar tidak membuatnya khawatir.
“Jangan langsung mengangkat kepalamu, bodoh, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu kepalamu pasti sakit sekali, jadi memaksakan diri untuk langsung bangun, kau ini baru saja pingsan, kau tahu?”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Setiap aku dalam masalah pasti kakak selalu ada untukku. Saat aku tersesat, saat presdir hampir melakukan sesuatu padaku, dan kini saat kepalaku terasa sakit sekali. Kakak benar-benar malaikat pelindungku. Aku yakin aku tidak salah menyukai kakak.
Tiba-tiba aku teringat dengan bayangan anak laki-laki yang bercengkrama dengan diriku di bukit tadi. Aku tidak ingat siapa anak itu, tapi saat aku melihat bayangannya tadi, aku merasa ada rasa hangat yang menjalar di tubuhku. Diriku waktu kecil yang aku lihat bersamanya juga tampak merasakan bahagia. Dari wajahnya saja, aku sudah dapat menduga bahwa diriku saat itu sangat bahagia bersama anak laki-laki itu, tapi siapa dia? Aku mencoba mengingat-ingat bayangan pada saat aku memanggilnya. To-chan. Ya, aku memanggilnya To-chan. Apakah itu kakak? Atau aku pernah menyukai seseorang selain kakak? Tapi, aku yakin aku tidak pernah terlihat sebahagia itu kecuali saat aku bersama kakak. Aku mencoba menatap kakak, wajahnnya tetap tenang seperti biasanya. Aku sangat berharap anak laki-laki itu adalah kakak, walau aku tidak mengingat kapan hal itu terjadi. Harapan itu membuatku tersenyum tanpa sadar.
“Kakak, apa aku benar-benar tidak boleh mengetahui nama kakak, walau hanya nama kecil kakak, atau panggilan kakak? Apa benar-benar tidak boleh?”
“Hey, kau baru saja sadar, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Tapi, akhir-akhir ini aku selalu memikirkan hal itu, aku rasa, jika aku mengetahui nama kakak, aku akan dapat semakin akrab dengan kakak, aku mohon beritahu aku nama kakak,”
Kakak menghela nafas, lalu menatapku dengan pasrah. Aku mencoba memasang senyum semanis mungkin. Kakak kembali mengalihkan pandangannya dariku. Dia kembali menghela nafas. Sepertinya, kakak sedang memikirkannya matan-matang. Ayolah, beritahu aku namamu, sedikit saja, aku mohon.
“Hiro,”
Aku terdiam sesaat. Hiro. Dia memberitahu namanya. Syukurlah. Aku benar-benar beruntung. Nama yang indah. Hiro, aku akan selalu mengingat itu. aku tersenyum senang. Akhirnya, harapanku terkabul, kakak memberitahukannya. Ah, rasanya aku senang sekali sampai tak dapat berkata apa-apa, aku hanya dapat tersenyum terus. Kakak menatapku dengan heran.
“Sesenang itukah kau mengetahui namaku? Kau ini benar-benar gadis aneh,”
Aku hanya menanggapi ucapan kakak dengan senyuman yang terus terkembang di bibirku. Ya, walau hanya satu kata dari namanya, aku sudah sangat senang.
“Jadi, aku bisa memanggil kakak dengan ‘kak Hiro’, boleh, kan aku memanggil kakak begitu?”
“Ya, terserah kau saja, yang terpenting, apa kepalamu sudah lebih baik, kalau sudah, ayo berdiri, ini sudah malam, kita harus segera pulang,”
Aku mengangguk dan berdiri sesuai apa yang kakak suruh. Aku menaiki motor kakak, setelah ia memberiku isyarat untuk cepat naik. Kakak mengendarai motornya dengan perlahan, mungkin, ia takut terjadi sesuatu padaku. Aku masih tersenyum, tapi tiba-tiba aku merasa melupakan sesuatu. Ah, presdir. Bukankah aku tadi pergi bersama presdir, lalu bagaimana dengannya? Ah, sudahlah, mungkin ia sudah pulang lebih dulu. Aku mempererat peganganku pada kakak. Malam ini adalah malam terindah. Sepanjang malam ini aku akan menggumamkan kata itu, Hiro.
Sakura The Love without Name
V. Except you (Tokio’s Feeling)
Aku menutup layar laptopku. Pandanganku tertuju lurus ke luar jendela ruang kerjaku. Sudah lama aku tidak menatap langit cerah. Pikiranku seperti kembali ke situasi kemarin malam, saat aku melihat Sakura keluar dari mobil sedan berwarna metalic. Saat itu, pikiranku menerka-nerka apa yang terjadi. Aku ingin Sakura menjelaskan semuanya padaku. Aku ingin ia menjelaskan apa yang terjadi selama di perjalanan, kenapa ia dapat pulang dengan diantar oleh presdir Keizo, apa hubungan Sakura dengannya, aku ingin tahu semuanya, tapi Sakura tidak mengatakan apa pun padaku. Ia bahkan menolak saat aku ingin membahas perasaannya pada presdir Keizo.
Aku menghela nafas. Apa yang kulakukan benar-benar seperti orang bodoh. Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Perasaanku tidak pernah dapat dibohongi. Aku tahu seharusnya aku mengatakan hal ini pada Sakura. Aku tidak suka jika ia dekat dengan pria lain, tapi aku juga ingin menyukai pria lain selain aku. Aku mengerti, aku tidak pantas menyukainya dan seharusnya aku bersyukur jika ia dekat dengan pria lain. Aku mengerti perasaanku tapi pada saat yang sama, aku juga tidak dapat menerti perasaanku. Ini benar-benar membuatku sesak. Rasanya apa saja yang kulakukan jadi serba salah.
“Hey! Apa yang sedang kau pikirkan?”
Seketika, aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kazumi tengah berdiri di depan mejaku. Aku menatapnya heran. Aku yakin tidak ada yang mengetuk pintu ruanganku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kazumi dan pintu ruanganku bergantian. Kapan ia masuk?
“Hey! Aku bertanya padamu, Tokio Hiroshi,”
Aku tetap menatap heran ke arah Kazumi. Ia menghela nafas. Ia pasti merasa aneh melihat sikapku yang seperti orang bingung. Aku memang benar-benar sedang bingung dengan perasaanku. Wajah Kazumi seperti ingin mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, wajahnya terlihat penuh tanda tanya.
“Kazumi, kapan kau masuk ke ruanganku? Aku tidak mendengarmu mengetuk pintu dan tidak melihatmu masuk,”
Kazumi kembali menghela nafas. Ia memperhatikanku dengan tajam. Wajahnya tampak sedikit kesal. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.
“Bagaimana kau mau mendengarku mengetuk pintu dan melihatkku masuk ke ruanganmu, kalau kau saja tidak berada di ruanganmu ini,”
Kini, giliranku yang menghela nafas. Ia benar. Diriku memang seperti tidak berada disini, aku bahkan tidak tahu diriku berada dimana. Pikiranku tidak fokus. Kepalaku sepert berputar-putar, beruntung aku masih dapat menyelesaikan pekerjaanku dengan baik.
“Kau benar, aku memang sedang memikirkan sesuatu, dan itu membuatku pusing,”
“Biar kutebak, apa itu berhubungan dengan Sakura?”
Aku menundukkan kepalaku dan menggeser kursiku ke belakang. Kazumi selalu dapat menebak apa yang sedang kupikirkan. Ia seperti dapat melihat apa yang ada dalam kepalaku.
“Ada masalah apa dengan Sakura? Kau sudah menyatakan perasaanmu?”
Bagaimana aku bisa menyampaikan perasaanku padanya? Aku bahkan merasa aku tidak pantas dengannya. Bayanganku yang akan melukainya lagi selalu terbesit ketika aku bersamanya. Aku bahkan hampir tidak berani mencampuri urusannya. Aku selalu dibayangi rasa bersalah padanya.
“Aku tidak dapat menyatakannya, tidak akan dapat menyatakannya,”
Kazumi kembali menatapku dengan heran. Ia pasti tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Ia tahu siapa aku. Ia tahu sifatku dan semua hal tentangku. Jika, aku menyukai suatu hal, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkannya, tapi lain untuk masalah perasaanku pada Sakura. Walau aku menyukai Sakura, aku tidak akan pernah mendapatkannya, tepatnya, aku tidak pantas mendapatkannya.
“Bukankah ia berada di dekatmu? Aku rasa, kau bisa pasti dapat menyatakan perasaanmu itu padanya, ayolah, Hiro, bukankah kau selalu dapat melakukan hal yang tidak mungkin?”
“Ya, aku memang dapat melakukan hal yang tidak mungkin, tapi tidak untuk hal ini,”
“Hey! Ayolah, bukankah saat kau menyatakan perasaanmu padaku, kau dapat melakukannya, aku yakin, kau juga pasti dapat menyatakan perasaanmu pada Sakura,”
Ah, Kazumi tidak tahu apa yang sudah aku lakukan pada Sakura, hingga aku merasa tidak pantas untuknya. Aku telah melukainya, membuatnya hilang ingatan, dan menghancurkan hidupnya. Aku tidak bisa menyukainya begitu saja. Perasaanku pada Sakura tidak sama dengan perasaanku pada Kazumi. Aku sanggup menyatakan perasaanku pada Kazumi atau pada wanita lain yang kusukai, tapi tidak pada Sakura. Aku sanggup mencintai Kazumi atau wanita lain, tapi aku tidak dapat mencintai Sakura. Aku dapat berada dengan tenang di sisi Kazumi atau wanita lain, tapi di sisi Sakura, aku selalu gelisah. Aku bisa mendapatkan yang kumau kecuali Sakura. Ya, kecuali dia.
“Kazumi, maaf, aku pulang lebih dulu, sepertinya aku harus menenangkan diriku,”
“Hey! Kau belum mengatakan apa masalahmu dengan Sakura,”
Lagi-lagi aku menghela nafas. Ini hari yang berat bagiku.
“Tidak ada, ia hanya diantar pulang dengan pria lain semalam,”
“Dan kau cemburu?”
Aku segera manoleh ke arah Kazumi. Cemburu? Atas dasar apa aku harus cemburu? Aku tidak boleh menyukai Sakura, itu berarti aku juga tidak boleh cemburu dengan pria lain yang dekat dengannya. Aku memang merasa kesal saat melihatnya diantar oleh presdir Keizo, tapi bukan berarti aku cemburu padanya. Tunggu, jangan-jangan rasa kesalku itu bisa diartikan cemburu? Ah, aku jadi semakin kesal mengetahui hal ini. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kalau seperti ini, aku benar-benar seperti sedang disiksa oleh perasaanku sendiri.
“Benarkah kau cemburu?”
“Kazumi, hentikan! Jangan membahas hal itu lagi! Maaf, tapi sepertinya aku harus benar-benar pulang sekarang,”
Aku membuka pintu ruanganku dan segera keluar meninggalkan Kazumi yang tetap berdiri di tempatnya dengan pandangan heran. Aku pergi ke tempat parkir, mencari motorku, menyalakan mesinnya, dan melaju dengan kencang. Hal yang kubutuhkan sekarang adalah istirahat. Aku harus menenangkan diriku. Mungkin, aku tidak akan malam, dan langsung tidur di kamarku. Semoga saja Sakura belum pulang, jadi saat dia pulang nanti, aku tidak perlu melihatnya.
...
“Selamat ulang tahun!”
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Sekitarku terdengar ramai sekali. Aku kembali mengerjapkan mataku, berusaha mengumpulkan kesadaranku sepenuhya. Sebuah kue tart berukuran besar sudah berada di depan wajahku. Aku menoleh ke arah seseorang yang memegang kue itu. Kazumi. Ia tertawa melihatku yang masih sangat mengantuk, di sebelahnya, teman-temanku bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Aku menegakkan badanku. Aku benar-benar terkejut dengan kejutan mereka. Hebat, tapi aku merasa ada seseorang yang kurang, Sakura, dimana dia? Aku mengedarkan pandanganku. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku bertanya-tanya, apakah Kazumi dan teman-temanku meyebutkan namaku di hadapannya, kalau iya, apa ia mengingat semuanya? Bagaimana reaksinya?
“Hey, ayo tiup lilinnya dan buat permohonan, kami sudah menyiapkan ini untukmu, To. Uph”
Aku menutup mulut temanku, Asuka, dan menatapnya tajam. Ia tampak kebingungan dengan reaksiku. Aku kembali mengedarkan pandanganku, tapi aku tetap tidak menemukan Sakura. Aku melepaskan tanganku dari mulut Asuka, dan meletakkan jari telunjuk di depan bibirku. Wajah Asuka semakin bingung, begitu juga dengan Kazumi dan temanku yang lain. Mereka tidak mengetahui masalahku dan Sakura.
“Jangan memanggil namaku di sini,”
“Hah? Apa maksudmu? Kami tidak mengerti,”
“Ya, jangan sampai kalian memanggil namaku di rumahku, terutama jika ada Sakura,”
Mataku mengawasi depan kamarku, aku takut jika Sakura mendengar pembicaraan kami.
“Sakura? Gadis yang mebukakan pintu tadi, ya? Apa dia benar-benar tinggal di rumahmu?”
Aku menghela nafas,dan mengangguk. Wajah teman-temanku tampak sangat terkejut kecuali Kazumi, dia hanya tersenyum simpul. Kazumi menyuguhkan kue itu kembali ke hadapanku.
“Aku berani menjamin mereka tidak akan memanggil namamu di depan Sakura, walau aku tidak tahu alasannya, dan aku harap kau cepat meniup lilinnya dan membuat permohonan, tanganku sudah pegal sekali, kau tahu?”
Kazumi merengut kesal. Aku tahu dia hanya merajuk. Seketika itu kami tertawa karena ucapannya. Kazumi ikut tertawa. Kamarku jadi semakin ramai. Aku meniup lilin di atas kue itu dan mengucapkan permohonan. Aku berharap semoga perasaanku pada Sakura dapat tersampaikan. Aku juga tidak mengerti mengapa aku mengharapkan hal itu, padahal aku tahu, aku sama sekali tidak pantas menyatakan perasaanku pada Sakura. Semua hal yang kulakukan padanya pasti mebuatnya sangat terluka.
Kazumi menatap lurus padaku. Sepertinya, dia tahu isi permohonanku. Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya. Walau apapun yang terjadi Kazumi tetap menunjukkan kebaikannya yang tulus padaku. Asuka memberikanku pisau kue. Aku tertawa melihatnya. Dia itu benar-benar sudah lapar sepagi ini. Rasa kantukku belum hilang, mana mungkin memotong kue. Ah, dasar teman-teman yang menyusahkan, tapi tanpa mereka, aku tidak yakin aku akan hidup baik-baik saja. Paling tidak aku dapat melupakan masalah untuk sementara waktu.
Aku memotong kue itu dengan senyum yang dipaksakan. Seharusnya aku bahagia, tapi walau dapat melupakan Sakura untuk sementara waktu, aku tetap merasa takut. Aku takut jika teman-temanku ini juga terluka olehku. Aku menghela nafas diam-diam. Perasaanku jadi buruk.
“Siapa yang akan pertama kali akan kau berikan kue itu, ayo berikan!”
Sakura. Aku akan memberikan yang pertama untuk Sakura. Tunggu. Kenapa Sakura? Namanya langsung terbesit di benakknu saat Asuka menanyakan orang pertama yang akan kuberi kue. Aku kesal pada diriku sendiri, tapi aku ingin memberikan yang pertama untuk Sakura.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Asuka mengompori yang lain untuk menggodaku. Mereka terus bertanya-tanya siapa orang pertama yang akan kuberi kue. Aku melihat sekilas ke arah Kazumi, dia tampak kecewa, tapi ia tetap tersenyum. Kazumi pasti tahu siapa orang yang akan akau berikan kue pertama kali. Aku keluar dari kamarku, aku harus menemukan Sakura.
Aku pergi ke arah dapur, mungkin Sakura sedang menyiapkan sarapan, tapi saat aku sampai disana, aku tidak menemukannya. Aku pergi ke ruang depan, tapi ia juga tak disana. Kemana Sakura? Kenapa ia tidak ada dimana pun? Teman-temanku mengikuti kemana saja aku pergi untuk mencari Sakura. Sepertinya mereka belum mengerti siapa yang aku cari. Mereka menatapku yang mondar-mandir di rumah sendiri dengan tatapan heran. Kazumi hanya tersenyum, walau ia sadar bahwa teman-teman juga memperhatikannya. Mereka pasti heran aku tidak memberikan kue partama untuk Kazumi, tapi malah mencari-cari orang yang mereka tidak tahu. Wajar saja mereka bingung, karena tidak ada yang tahu bahwa Kazumi bukan pacarku lagi. Sekarang yang terpenting adalah dimana Sakura, aku tidak bisa menemukannya di seluruh bagian rumah. Dimana dia sebenarnya?
“Hey! Kau itu mencari siapa sih? Bukankah Kazumi itu ada di sampingmu,”
Asuka berisik. Sepertinya, dia itu benar-benar lapar. Aku menghela nafas. Berputar-putar di sekitar rumah membuatku pusing. Aku menatap pintu dengan pasrah. Apa dia keluar rumah? Sepagi ini untuk apa dia keluar rumah?
Aku terduduk di sofa ruang tamu, teman-teman menatapku semakin bingung. Beberapa saat kemudian, aku mendengar bunyi pintu terbuka, itu pasti Sakura. Aku segera melihat siapa orang yang membuka pintu itu, dan dugaanku tepat. Sakura melepaskan jaket dan sepatunya, tangannya tampak memegang sesuatu. Ia tampak kedinginan. Tentu saja, keluar sepagi ini pada saat musim dingin di Tokyo termasuk hal buruk. Aku segera menghampiri Sakura, ia tampak takut melihatku. Apa yang terjadi? Ia menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya. Dia menyembunyikan sesuatu padaku. Lihat saja, aku pasti akan segera mengetahuinya.
“Apa yang kau sembunyikan di belakangmu itu?”
Sakura tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Lagi-lagi aku menghela nafas. Sepertinya akhir-akhir ini, aku sering sekali melakukannya. Aku tidak dapat memarahi Sakura, tapi berkata lembut pun aku tidak bisa. Menjengkelkan. Aku mengulurkan kue yang sedari tadi aku pegang ke hadapannya. Ia melihatnya dengan heran dan tampak sedikit terkejut. Ia menunjuk dirinya, memastikan apakah memang benar kue itu untuknya. Aku mengangguk pasti, tapi wajahku tetap datar tanpa senyum. Teman-teman melihatku, Sakura, dan Kazumi bergantian. Aku bisa mengerti mengapa ekspresi mereka seperti itu. Kazumi sepertinya tidak menghiraukan hal itu, ia malah mengulurkan tangannya pada Sakura dan membawanya masuk.
Sakura dan Kazumi menyiapkan sarapan untuk kami. Beruntungnya hari ini adalah hari libur, jadi kami tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan. Pesta ulang tahun dadakanku ini pasti akan lebih lama dari yang kubayangkan. Asuka dan teman-teman yang lain menanyakan hubunganku yang sebenarnya dengan Kazumi dan Sakura. Aku merasa seperti kriminal yang sedang diinterogasi. Benar-benar pagi yang melelahkan.
...
“Selamat ulang tahun, kak,”
Sakura mengulurkan sebuah kotak berwarna cokelat padaku. Wajahnya tampak berkilau disinari cahaya bulan. Ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Aku terdiam sesaat menatapnya, aku terpesona menatap wajah bahagianya itu. Aku menundukkan kepalaku sesaat lalu mengangkatnya lagi sambil berdehem. Aku harus mengontrol perasaanku saat ini. Aku tidak boleh terlalu lama terpesona padanya, walau hatiku menolak presepsiku itu. Aku mengangkat sebelah alisku, seolah-olah bertanya apa maksud dari kotak itu. Sakura menunduk, pipinya tampak merona, sepertinya dia malu. Aku tersenyum simpul. Bagus, aku telah membuatnya salah tingkah. Jantungku terasa berdebar. Aku mengepalkan tanganku, mencoba mengatur hati dan pikiranku. Udara bertambah dingin. Sakura juga tampak kedinginan. Aku meraih tangannya. Ia mengangkat kepalanya, terkejut.
“Disini dingin, lebih baik kita masuk, dan mulai makan malam,”
“Ah, iya, tapi ini...,”
Aku mengambil kotak berwarna cokelat itu dari tangannya. Sakura masih terlihat terkejut, aku segera menariknya masuk ke dalam rumah, beruntung ia tidak menahanku. Tanganku masih menggenggamnya, rasanya hangat. Aku meliriknya diam-diam. Dia tampak sangat kedinginan. Aku mengalihkan pandangan ke tangannya. Seketika itu aku jadi merasa kesal padanya dan pada diriku sendiri. Dia tidak memakai sarung tangan di cuaca yang sedingin ini, dan aku tidak menyadari hal itu, padahal dari tadi aku menggenggam tangannya. Bodoh. Aku segera memasukkan tangannya yang masih kugenggam ke dalam saku mantelku. Ia tersentak dan langsung menatapku dengan salah tingkah. Ia berbisik memanggilku, tapi aku tidak menghiraukannya, aku tetap berusaha tenang dan menariknya masuk ke dalam.
Saat aku membuka pintu, Kazumi menatapku dengan terkejut. Sepertinya ia sedang memakai sepatunya, bersiap-siap pulang. Ia memperhatikanku dan Sakura. Pandangannya menangkap tangan Sakura yang kugenggam di dalam saku mantelku. Aku menghela nafas dan melepaskan tangan Sakura, ia segera menarik tangannya dari dalam saku mantelku. Wajahnya memerah. Aku menatapnya sekilas lalu menatap Kazumi yang tampak menahan tawa.
Kazumi menghampiri kami. Ia menatap Sakura yang menunduk dalam, aku yakin, ia pasti berusaha menahan malunya. Sebenarnya, aku juga merasa malu melakukan tindakan gegabah ini, tapi aku berusaha berwajah tenang, aku benar-benar harus meredam perasaanku ini. Kazumi tertawa sambil terus menatap Sakura, lalu ia menatapku dan juga tertawa. Menyebalkan. Apa dia pikir ini lucu? Dia masih saja tertawa. Heran, kapan dia mau berhenti? Tiba-tiba teman-temanku berdatangan ke ruang depan, tempat kami berada. Mungkin mereka mendengar suara tawa Kazumi yang belum juga berhenti. Aku kembali menghela nafas. Ya, Tuhan, ini benar-benar memalukan.
“Hey! Apa yang kalian lakukan di sana? Pestanya belum selesai, lagipula kemana saja kau dari tadi, To...,”
Kazumi segera menutup mulut Asuka, ia menatapnya dengan tatapan mangancam. Aku tersenyum kecut. Aku menatap Sakura, dia masih tertunduk. Aku rasa dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Asuka. Syukurlah.
“Kalian darimana, kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja, aku sampai bingung mencari kalian,”
Kazumi menggodaku dan Sakura diikuti yang lain. Aku tidak menjawab pertnyaan Kazumi. Konyol. Padahal, dia pernah menjadi pacarku, tapi mengapa ia bisa dengan tenangnya menggodaku yang sedang bersama wanita lain. Aku benar-benar heran. Sakura mengangkat wajahnya. Apa ia ingin menjelaskan yang terajadi pada Kazumi dan teman-teman? Ah, terserah dia saja.
“Maaf, aku yang meminta kakak untuk keluar sebentar, maaf membuat kalian khawatir,”
Sakura mengalihkan pandangan kepadaku. Aku mengetahui hal itu, tapi aku berusaha untuk tidak mengubah ekspresiku. Aku jadi kesal padanya mengingat ia tidak memakai sarung tangan tapi mengajakku keluar rumah.
“Kakak, maaf, aku mengajak kakak keluar hanya untuk memberikan hadiah, padahal cuaca sedingin ini, maafkan aku,”
“Bodoh, apa yang kau pikirkan? Kau keluar tanpa memakai sarung tangan, dan kau masih bisa berpikir untuk minta maaf padaku?”
Tiba-tiba saja emosiku meledak. Suaraku terdengar meninggi. Aku mencoba mengendalikannya, tapi sulit. Aku kesal dengan diriku sendiri. Saat aku mengepalkan tanganku, aku merasa seseorang menggenggam tanganku. Aku menoleh, dan menemukan Kazumi menatapku tajam, dia melepaskan tangannya. Kazumi memberi isyarat agar aku melihat Sakura, aku menurutinya. Sakura terlihat ketakutan. Ah, aku benar-benar bodoh. Aku melukai Sakura. Apa yang aku lakukan, padahal aku sudah berusaha untuk tidak memarahinya. Aku mengulurkan tanganku untuk meyentuh pundak Sakura, tapi Kazumi mendahuluiku. Ia menepuk-nepuk pundak Sakura dan menenangkannya.
“Jangan marah-marah sepeti itu, kendalikan emosimu, itu kan bukan kesalahan besar, lagipula dia sudah minta maaf, kau ini,”
Kazumi memukul lenganku. Ia memakai trik merajuknya lagi padaku. Aku berpura-pura merasa sakit, dan sepertinya ia tahu itu. Teman-teman tertawa melihat tingkah kami, begitu pula dengan Sakura. Syukurlah, ia sudah tak terlihat takut.
“Pesta ulang tahun yang menyenangkan, kami pulang dulu, oh, ya, lain kali kau harus memberitahu kami kalau kau punya adik yang cantik, haha-“
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Asuka. Sakura tersenyum malu-malu. Aku terpaku melihatnya. Menyebalkan, kenapa ia tampak manis sekali?
“Aku tidak memberitahu kalian karena aku yakin kalian akan berebut untuk menggodanya,”
Kami tertawa seketika. Asuka memukul lenganku. Beberapa saat kemudian, rumahku kembali sepi, hanya aku dan Sakura yang tersisa. Aku menutup pintu, Sakura berdiri tepat di belakangku. Sepertinya, ia memperhatikanku dengan seksama. Aku ragu dengan apa yang ia pikirkan. Apa mungkin, ia masih terkejut karena aku memarahinya. Aku membalikkan badanku, pada saat yang bersamaan dia menundukkan kepala. Sepertinya, dugaanku tepat. Aku menghela nafas lalu menghampirinya. Ia masih tak berani menatapku. Dia ini membuatku pusing saja.
“Maaf, aku sudah memarahimu, aku harap kau tidak melakukan hal itu lagi,”
“Kakak tidak perlu minta maaf, itu salahku karena tidak memakai sarung tangan, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,”
Aku menatapnya lekat-lekat, beruntung dia menyadarinya. Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. Payah. Sekarang, apalagi yang harus kukatakan padanya.
Aku memasukkan tanganku ke saku mantel dan menyentuh sesuatu. Apa ini? Kotak? Ah, aku baru ingat, aku belum membuka hadiah dari Sakura. Aku mengeluarkan kotak itu dari sakuku dan menunjukkannya pada Sakura. Ia tampak senang, seulas senyum terkembang di bibirnya. Aku memutar-mutar kotak itu dan mengamatinya. Aku mengira-ngira isi kotak itu. Aku melirik Sakura, dan ternyata dia sedang menertawakan tingkahku. Terkadang dia ini benar-benar menyebalkan.
“Apa isinya? Beritahu aku!”
“Kakak tidak akan tahu jika tidak membukanya, kan?”
Aku mengangkat sebelah alisku. Ya, dia benar, untuk tahu isinya, aku harus membukanya, karena aku tidak yakin dia mau memberitahuku. Aku melepas pita kotak itu dan membukanya. Terlihat sebuah benda mengkilat di dalamnya. Aku mengeluarkannya dari dalam kotak untuk melihatnya lebih jelas. Sebuah gantungan berbentuk segi empat dari logam bertuliskan ‘ganbatte’. Aku menatapnya heran. Kenapa Sakura memberiku ini? Aku menatap Sakura yang tersenyum penuh arti.
“Kenapa kau memberiku gantungan ini?”
Sakura mengulum senyumnya. Aku berharap dia tidak membuatku penasaran terlalu lama. Aku mengisyaratkannya untuk segera menjawab.
“ Karena akhir-akhir ini terlihat lelah sekali, jadi aku berharap kakak kembali bersemangat, aku membelinya dengan terburu-buru, aku tidak tahu kalau kakak berulang tahun hari ini, maaf jika kakak tidak suka,”
Aku tertawa mendengar jawabannya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang membuatku lelah adalah masalah perasaanku padanya. Aku selalu merasa takut akan melukainya lagi setiap aku bertemunya di rumah. Aku selalu memikirkan perasaanku kepadanya yang tidak akan tersampaikan. Aku selalu berusaha membencinya dan bersikap acuh padanya, tapi dia malah mengkhawatirkanku, ini benar-benar lucu. Sakura tampak heran melihatku tertawa. Dia tidak akan mengerti apa yanng membuatku tertawa. Aku tidak akan memberitahu alasanku tertawa padanya, walau ia menanyakannya sekalipun tidak akan kuberitahu.
“Kenapa kakak tertawa, apa ada yang aneh?”
“Tidak, tidak ada yang aneh, aku tertawa karena melihat tulisan di gantungan ini,”
Terpaksa aku berbohong padanya. Aku menghampirinya yang masih terlihat bingung. Aku menatapnya sambil tersenyum lalu mengelus kepalanya. Rambutnya sangat lembut. Aku tahu aku tidak boleh melakukan ini, tapi aku tidak dapat menahannya. Wajah Sakura memerah menatapku yang terus tersenyum padanya, ia lalu menundukkan kepalanya.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, gantungan ini akan kusimpan dengan baik,”
Sakura mengangkat kepalanya, ia menatapku malu-malu. Aku mengulum senyumku dan meninggalkannya yang masih terpaku. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini padanya. Sejak dulu sebenarnya perasaanku tetap sama, tidak pernah berubah, tapi aku selalu menipu diriku sendiri, hingga aku tak dapat menyatakannya lagi. Aku menoleh ke belakang, Sakura masih terdiam di tempatnya. Apa aku melukainya? Kuharap tidak, karena aku tidak ingin melukainya lagi. Aku bertekad, aku boleh jatuh cinta pada wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku boleh menyukai wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku boleh menyayangi wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku masih menatap Sakura yang masih tak bergeming, ia pasti tidak sadar kalau aku memperhatikannya. Aku tersenyum sendu. Aku bersedia jatuh cinta pada wanita mana pun, kecuali padamu. Ya, kecuali kamu Sakura, aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta padamu, walau sepertinya itu sudah terjadi. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan menuju kamarku. Aku harap permohonanku saat ulang tahunku hari ini tidak akan terkabul, kalau itu terkabul, aku tidak yakin akan berbuat apa. Paling tidak, aku merasa ini adalah hari ulang tahunku yang paling indah.
Aku menutup layar laptopku. Pandanganku tertuju lurus ke luar jendela ruang kerjaku. Sudah lama aku tidak menatap langit cerah. Pikiranku seperti kembali ke situasi kemarin malam, saat aku melihat Sakura keluar dari mobil sedan berwarna metalic. Saat itu, pikiranku menerka-nerka apa yang terjadi. Aku ingin Sakura menjelaskan semuanya padaku. Aku ingin ia menjelaskan apa yang terjadi selama di perjalanan, kenapa ia dapat pulang dengan diantar oleh presdir Keizo, apa hubungan Sakura dengannya, aku ingin tahu semuanya, tapi Sakura tidak mengatakan apa pun padaku. Ia bahkan menolak saat aku ingin membahas perasaannya pada presdir Keizo.
Aku menghela nafas. Apa yang kulakukan benar-benar seperti orang bodoh. Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Perasaanku tidak pernah dapat dibohongi. Aku tahu seharusnya aku mengatakan hal ini pada Sakura. Aku tidak suka jika ia dekat dengan pria lain, tapi aku juga ingin menyukai pria lain selain aku. Aku mengerti, aku tidak pantas menyukainya dan seharusnya aku bersyukur jika ia dekat dengan pria lain. Aku mengerti perasaanku tapi pada saat yang sama, aku juga tidak dapat menerti perasaanku. Ini benar-benar membuatku sesak. Rasanya apa saja yang kulakukan jadi serba salah.
“Hey! Apa yang sedang kau pikirkan?”
Seketika, aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kazumi tengah berdiri di depan mejaku. Aku menatapnya heran. Aku yakin tidak ada yang mengetuk pintu ruanganku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kazumi dan pintu ruanganku bergantian. Kapan ia masuk?
“Hey! Aku bertanya padamu, Tokio Hiroshi,”
Aku tetap menatap heran ke arah Kazumi. Ia menghela nafas. Ia pasti merasa aneh melihat sikapku yang seperti orang bingung. Aku memang benar-benar sedang bingung dengan perasaanku. Wajah Kazumi seperti ingin mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, wajahnya terlihat penuh tanda tanya.
“Kazumi, kapan kau masuk ke ruanganku? Aku tidak mendengarmu mengetuk pintu dan tidak melihatmu masuk,”
Kazumi kembali menghela nafas. Ia memperhatikanku dengan tajam. Wajahnya tampak sedikit kesal. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.
“Bagaimana kau mau mendengarku mengetuk pintu dan melihatkku masuk ke ruanganmu, kalau kau saja tidak berada di ruanganmu ini,”
Kini, giliranku yang menghela nafas. Ia benar. Diriku memang seperti tidak berada disini, aku bahkan tidak tahu diriku berada dimana. Pikiranku tidak fokus. Kepalaku sepert berputar-putar, beruntung aku masih dapat menyelesaikan pekerjaanku dengan baik.
“Kau benar, aku memang sedang memikirkan sesuatu, dan itu membuatku pusing,”
“Biar kutebak, apa itu berhubungan dengan Sakura?”
Aku menundukkan kepalaku dan menggeser kursiku ke belakang. Kazumi selalu dapat menebak apa yang sedang kupikirkan. Ia seperti dapat melihat apa yang ada dalam kepalaku.
“Ada masalah apa dengan Sakura? Kau sudah menyatakan perasaanmu?”
Bagaimana aku bisa menyampaikan perasaanku padanya? Aku bahkan merasa aku tidak pantas dengannya. Bayanganku yang akan melukainya lagi selalu terbesit ketika aku bersamanya. Aku bahkan hampir tidak berani mencampuri urusannya. Aku selalu dibayangi rasa bersalah padanya.
“Aku tidak dapat menyatakannya, tidak akan dapat menyatakannya,”
Kazumi kembali menatapku dengan heran. Ia pasti tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Ia tahu siapa aku. Ia tahu sifatku dan semua hal tentangku. Jika, aku menyukai suatu hal, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkannya, tapi lain untuk masalah perasaanku pada Sakura. Walau aku menyukai Sakura, aku tidak akan pernah mendapatkannya, tepatnya, aku tidak pantas mendapatkannya.
“Bukankah ia berada di dekatmu? Aku rasa, kau bisa pasti dapat menyatakan perasaanmu itu padanya, ayolah, Hiro, bukankah kau selalu dapat melakukan hal yang tidak mungkin?”
“Ya, aku memang dapat melakukan hal yang tidak mungkin, tapi tidak untuk hal ini,”
“Hey! Ayolah, bukankah saat kau menyatakan perasaanmu padaku, kau dapat melakukannya, aku yakin, kau juga pasti dapat menyatakan perasaanmu pada Sakura,”
Ah, Kazumi tidak tahu apa yang sudah aku lakukan pada Sakura, hingga aku merasa tidak pantas untuknya. Aku telah melukainya, membuatnya hilang ingatan, dan menghancurkan hidupnya. Aku tidak bisa menyukainya begitu saja. Perasaanku pada Sakura tidak sama dengan perasaanku pada Kazumi. Aku sanggup menyatakan perasaanku pada Kazumi atau pada wanita lain yang kusukai, tapi tidak pada Sakura. Aku sanggup mencintai Kazumi atau wanita lain, tapi aku tidak dapat mencintai Sakura. Aku dapat berada dengan tenang di sisi Kazumi atau wanita lain, tapi di sisi Sakura, aku selalu gelisah. Aku bisa mendapatkan yang kumau kecuali Sakura. Ya, kecuali dia.
“Kazumi, maaf, aku pulang lebih dulu, sepertinya aku harus menenangkan diriku,”
“Hey! Kau belum mengatakan apa masalahmu dengan Sakura,”
Lagi-lagi aku menghela nafas. Ini hari yang berat bagiku.
“Tidak ada, ia hanya diantar pulang dengan pria lain semalam,”
“Dan kau cemburu?”
Aku segera manoleh ke arah Kazumi. Cemburu? Atas dasar apa aku harus cemburu? Aku tidak boleh menyukai Sakura, itu berarti aku juga tidak boleh cemburu dengan pria lain yang dekat dengannya. Aku memang merasa kesal saat melihatnya diantar oleh presdir Keizo, tapi bukan berarti aku cemburu padanya. Tunggu, jangan-jangan rasa kesalku itu bisa diartikan cemburu? Ah, aku jadi semakin kesal mengetahui hal ini. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kalau seperti ini, aku benar-benar seperti sedang disiksa oleh perasaanku sendiri.
“Benarkah kau cemburu?”
“Kazumi, hentikan! Jangan membahas hal itu lagi! Maaf, tapi sepertinya aku harus benar-benar pulang sekarang,”
Aku membuka pintu ruanganku dan segera keluar meninggalkan Kazumi yang tetap berdiri di tempatnya dengan pandangan heran. Aku pergi ke tempat parkir, mencari motorku, menyalakan mesinnya, dan melaju dengan kencang. Hal yang kubutuhkan sekarang adalah istirahat. Aku harus menenangkan diriku. Mungkin, aku tidak akan malam, dan langsung tidur di kamarku. Semoga saja Sakura belum pulang, jadi saat dia pulang nanti, aku tidak perlu melihatnya.
...
“Selamat ulang tahun!”
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Sekitarku terdengar ramai sekali. Aku kembali mengerjapkan mataku, berusaha mengumpulkan kesadaranku sepenuhya. Sebuah kue tart berukuran besar sudah berada di depan wajahku. Aku menoleh ke arah seseorang yang memegang kue itu. Kazumi. Ia tertawa melihatku yang masih sangat mengantuk, di sebelahnya, teman-temanku bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Aku menegakkan badanku. Aku benar-benar terkejut dengan kejutan mereka. Hebat, tapi aku merasa ada seseorang yang kurang, Sakura, dimana dia? Aku mengedarkan pandanganku. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku bertanya-tanya, apakah Kazumi dan teman-temanku meyebutkan namaku di hadapannya, kalau iya, apa ia mengingat semuanya? Bagaimana reaksinya?
“Hey, ayo tiup lilinnya dan buat permohonan, kami sudah menyiapkan ini untukmu, To. Uph”
Aku menutup mulut temanku, Asuka, dan menatapnya tajam. Ia tampak kebingungan dengan reaksiku. Aku kembali mengedarkan pandanganku, tapi aku tetap tidak menemukan Sakura. Aku melepaskan tanganku dari mulut Asuka, dan meletakkan jari telunjuk di depan bibirku. Wajah Asuka semakin bingung, begitu juga dengan Kazumi dan temanku yang lain. Mereka tidak mengetahui masalahku dan Sakura.
“Jangan memanggil namaku di sini,”
“Hah? Apa maksudmu? Kami tidak mengerti,”
“Ya, jangan sampai kalian memanggil namaku di rumahku, terutama jika ada Sakura,”
Mataku mengawasi depan kamarku, aku takut jika Sakura mendengar pembicaraan kami.
“Sakura? Gadis yang mebukakan pintu tadi, ya? Apa dia benar-benar tinggal di rumahmu?”
Aku menghela nafas,dan mengangguk. Wajah teman-temanku tampak sangat terkejut kecuali Kazumi, dia hanya tersenyum simpul. Kazumi menyuguhkan kue itu kembali ke hadapanku.
“Aku berani menjamin mereka tidak akan memanggil namamu di depan Sakura, walau aku tidak tahu alasannya, dan aku harap kau cepat meniup lilinnya dan membuat permohonan, tanganku sudah pegal sekali, kau tahu?”
Kazumi merengut kesal. Aku tahu dia hanya merajuk. Seketika itu kami tertawa karena ucapannya. Kazumi ikut tertawa. Kamarku jadi semakin ramai. Aku meniup lilin di atas kue itu dan mengucapkan permohonan. Aku berharap semoga perasaanku pada Sakura dapat tersampaikan. Aku juga tidak mengerti mengapa aku mengharapkan hal itu, padahal aku tahu, aku sama sekali tidak pantas menyatakan perasaanku pada Sakura. Semua hal yang kulakukan padanya pasti mebuatnya sangat terluka.
Kazumi menatap lurus padaku. Sepertinya, dia tahu isi permohonanku. Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya. Walau apapun yang terjadi Kazumi tetap menunjukkan kebaikannya yang tulus padaku. Asuka memberikanku pisau kue. Aku tertawa melihatnya. Dia itu benar-benar sudah lapar sepagi ini. Rasa kantukku belum hilang, mana mungkin memotong kue. Ah, dasar teman-teman yang menyusahkan, tapi tanpa mereka, aku tidak yakin aku akan hidup baik-baik saja. Paling tidak aku dapat melupakan masalah untuk sementara waktu.
Aku memotong kue itu dengan senyum yang dipaksakan. Seharusnya aku bahagia, tapi walau dapat melupakan Sakura untuk sementara waktu, aku tetap merasa takut. Aku takut jika teman-temanku ini juga terluka olehku. Aku menghela nafas diam-diam. Perasaanku jadi buruk.
“Siapa yang akan pertama kali akan kau berikan kue itu, ayo berikan!”
Sakura. Aku akan memberikan yang pertama untuk Sakura. Tunggu. Kenapa Sakura? Namanya langsung terbesit di benakknu saat Asuka menanyakan orang pertama yang akan kuberi kue. Aku kesal pada diriku sendiri, tapi aku ingin memberikan yang pertama untuk Sakura.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Asuka mengompori yang lain untuk menggodaku. Mereka terus bertanya-tanya siapa orang pertama yang akan kuberi kue. Aku melihat sekilas ke arah Kazumi, dia tampak kecewa, tapi ia tetap tersenyum. Kazumi pasti tahu siapa orang yang akan akau berikan kue pertama kali. Aku keluar dari kamarku, aku harus menemukan Sakura.
Aku pergi ke arah dapur, mungkin Sakura sedang menyiapkan sarapan, tapi saat aku sampai disana, aku tidak menemukannya. Aku pergi ke ruang depan, tapi ia juga tak disana. Kemana Sakura? Kenapa ia tidak ada dimana pun? Teman-temanku mengikuti kemana saja aku pergi untuk mencari Sakura. Sepertinya mereka belum mengerti siapa yang aku cari. Mereka menatapku yang mondar-mandir di rumah sendiri dengan tatapan heran. Kazumi hanya tersenyum, walau ia sadar bahwa teman-teman juga memperhatikannya. Mereka pasti heran aku tidak memberikan kue partama untuk Kazumi, tapi malah mencari-cari orang yang mereka tidak tahu. Wajar saja mereka bingung, karena tidak ada yang tahu bahwa Kazumi bukan pacarku lagi. Sekarang yang terpenting adalah dimana Sakura, aku tidak bisa menemukannya di seluruh bagian rumah. Dimana dia sebenarnya?
“Hey! Kau itu mencari siapa sih? Bukankah Kazumi itu ada di sampingmu,”
Asuka berisik. Sepertinya, dia itu benar-benar lapar. Aku menghela nafas. Berputar-putar di sekitar rumah membuatku pusing. Aku menatap pintu dengan pasrah. Apa dia keluar rumah? Sepagi ini untuk apa dia keluar rumah?
Aku terduduk di sofa ruang tamu, teman-teman menatapku semakin bingung. Beberapa saat kemudian, aku mendengar bunyi pintu terbuka, itu pasti Sakura. Aku segera melihat siapa orang yang membuka pintu itu, dan dugaanku tepat. Sakura melepaskan jaket dan sepatunya, tangannya tampak memegang sesuatu. Ia tampak kedinginan. Tentu saja, keluar sepagi ini pada saat musim dingin di Tokyo termasuk hal buruk. Aku segera menghampiri Sakura, ia tampak takut melihatku. Apa yang terjadi? Ia menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya. Dia menyembunyikan sesuatu padaku. Lihat saja, aku pasti akan segera mengetahuinya.
“Apa yang kau sembunyikan di belakangmu itu?”
Sakura tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Lagi-lagi aku menghela nafas. Sepertinya akhir-akhir ini, aku sering sekali melakukannya. Aku tidak dapat memarahi Sakura, tapi berkata lembut pun aku tidak bisa. Menjengkelkan. Aku mengulurkan kue yang sedari tadi aku pegang ke hadapannya. Ia melihatnya dengan heran dan tampak sedikit terkejut. Ia menunjuk dirinya, memastikan apakah memang benar kue itu untuknya. Aku mengangguk pasti, tapi wajahku tetap datar tanpa senyum. Teman-teman melihatku, Sakura, dan Kazumi bergantian. Aku bisa mengerti mengapa ekspresi mereka seperti itu. Kazumi sepertinya tidak menghiraukan hal itu, ia malah mengulurkan tangannya pada Sakura dan membawanya masuk.
Sakura dan Kazumi menyiapkan sarapan untuk kami. Beruntungnya hari ini adalah hari libur, jadi kami tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan. Pesta ulang tahun dadakanku ini pasti akan lebih lama dari yang kubayangkan. Asuka dan teman-teman yang lain menanyakan hubunganku yang sebenarnya dengan Kazumi dan Sakura. Aku merasa seperti kriminal yang sedang diinterogasi. Benar-benar pagi yang melelahkan.
...
“Selamat ulang tahun, kak,”
Sakura mengulurkan sebuah kotak berwarna cokelat padaku. Wajahnya tampak berkilau disinari cahaya bulan. Ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Aku terdiam sesaat menatapnya, aku terpesona menatap wajah bahagianya itu. Aku menundukkan kepalaku sesaat lalu mengangkatnya lagi sambil berdehem. Aku harus mengontrol perasaanku saat ini. Aku tidak boleh terlalu lama terpesona padanya, walau hatiku menolak presepsiku itu. Aku mengangkat sebelah alisku, seolah-olah bertanya apa maksud dari kotak itu. Sakura menunduk, pipinya tampak merona, sepertinya dia malu. Aku tersenyum simpul. Bagus, aku telah membuatnya salah tingkah. Jantungku terasa berdebar. Aku mengepalkan tanganku, mencoba mengatur hati dan pikiranku. Udara bertambah dingin. Sakura juga tampak kedinginan. Aku meraih tangannya. Ia mengangkat kepalanya, terkejut.
“Disini dingin, lebih baik kita masuk, dan mulai makan malam,”
“Ah, iya, tapi ini...,”
Aku mengambil kotak berwarna cokelat itu dari tangannya. Sakura masih terlihat terkejut, aku segera menariknya masuk ke dalam rumah, beruntung ia tidak menahanku. Tanganku masih menggenggamnya, rasanya hangat. Aku meliriknya diam-diam. Dia tampak sangat kedinginan. Aku mengalihkan pandangan ke tangannya. Seketika itu aku jadi merasa kesal padanya dan pada diriku sendiri. Dia tidak memakai sarung tangan di cuaca yang sedingin ini, dan aku tidak menyadari hal itu, padahal dari tadi aku menggenggam tangannya. Bodoh. Aku segera memasukkan tangannya yang masih kugenggam ke dalam saku mantelku. Ia tersentak dan langsung menatapku dengan salah tingkah. Ia berbisik memanggilku, tapi aku tidak menghiraukannya, aku tetap berusaha tenang dan menariknya masuk ke dalam.
Saat aku membuka pintu, Kazumi menatapku dengan terkejut. Sepertinya ia sedang memakai sepatunya, bersiap-siap pulang. Ia memperhatikanku dan Sakura. Pandangannya menangkap tangan Sakura yang kugenggam di dalam saku mantelku. Aku menghela nafas dan melepaskan tangan Sakura, ia segera menarik tangannya dari dalam saku mantelku. Wajahnya memerah. Aku menatapnya sekilas lalu menatap Kazumi yang tampak menahan tawa.
Kazumi menghampiri kami. Ia menatap Sakura yang menunduk dalam, aku yakin, ia pasti berusaha menahan malunya. Sebenarnya, aku juga merasa malu melakukan tindakan gegabah ini, tapi aku berusaha berwajah tenang, aku benar-benar harus meredam perasaanku ini. Kazumi tertawa sambil terus menatap Sakura, lalu ia menatapku dan juga tertawa. Menyebalkan. Apa dia pikir ini lucu? Dia masih saja tertawa. Heran, kapan dia mau berhenti? Tiba-tiba teman-temanku berdatangan ke ruang depan, tempat kami berada. Mungkin mereka mendengar suara tawa Kazumi yang belum juga berhenti. Aku kembali menghela nafas. Ya, Tuhan, ini benar-benar memalukan.
“Hey! Apa yang kalian lakukan di sana? Pestanya belum selesai, lagipula kemana saja kau dari tadi, To...,”
Kazumi segera menutup mulut Asuka, ia menatapnya dengan tatapan mangancam. Aku tersenyum kecut. Aku menatap Sakura, dia masih tertunduk. Aku rasa dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Asuka. Syukurlah.
“Kalian darimana, kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja, aku sampai bingung mencari kalian,”
Kazumi menggodaku dan Sakura diikuti yang lain. Aku tidak menjawab pertnyaan Kazumi. Konyol. Padahal, dia pernah menjadi pacarku, tapi mengapa ia bisa dengan tenangnya menggodaku yang sedang bersama wanita lain. Aku benar-benar heran. Sakura mengangkat wajahnya. Apa ia ingin menjelaskan yang terajadi pada Kazumi dan teman-teman? Ah, terserah dia saja.
“Maaf, aku yang meminta kakak untuk keluar sebentar, maaf membuat kalian khawatir,”
Sakura mengalihkan pandangan kepadaku. Aku mengetahui hal itu, tapi aku berusaha untuk tidak mengubah ekspresiku. Aku jadi kesal padanya mengingat ia tidak memakai sarung tangan tapi mengajakku keluar rumah.
“Kakak, maaf, aku mengajak kakak keluar hanya untuk memberikan hadiah, padahal cuaca sedingin ini, maafkan aku,”
“Bodoh, apa yang kau pikirkan? Kau keluar tanpa memakai sarung tangan, dan kau masih bisa berpikir untuk minta maaf padaku?”
Tiba-tiba saja emosiku meledak. Suaraku terdengar meninggi. Aku mencoba mengendalikannya, tapi sulit. Aku kesal dengan diriku sendiri. Saat aku mengepalkan tanganku, aku merasa seseorang menggenggam tanganku. Aku menoleh, dan menemukan Kazumi menatapku tajam, dia melepaskan tangannya. Kazumi memberi isyarat agar aku melihat Sakura, aku menurutinya. Sakura terlihat ketakutan. Ah, aku benar-benar bodoh. Aku melukai Sakura. Apa yang aku lakukan, padahal aku sudah berusaha untuk tidak memarahinya. Aku mengulurkan tanganku untuk meyentuh pundak Sakura, tapi Kazumi mendahuluiku. Ia menepuk-nepuk pundak Sakura dan menenangkannya.
“Jangan marah-marah sepeti itu, kendalikan emosimu, itu kan bukan kesalahan besar, lagipula dia sudah minta maaf, kau ini,”
Kazumi memukul lenganku. Ia memakai trik merajuknya lagi padaku. Aku berpura-pura merasa sakit, dan sepertinya ia tahu itu. Teman-teman tertawa melihat tingkah kami, begitu pula dengan Sakura. Syukurlah, ia sudah tak terlihat takut.
“Pesta ulang tahun yang menyenangkan, kami pulang dulu, oh, ya, lain kali kau harus memberitahu kami kalau kau punya adik yang cantik, haha-“
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Asuka. Sakura tersenyum malu-malu. Aku terpaku melihatnya. Menyebalkan, kenapa ia tampak manis sekali?
“Aku tidak memberitahu kalian karena aku yakin kalian akan berebut untuk menggodanya,”
Kami tertawa seketika. Asuka memukul lenganku. Beberapa saat kemudian, rumahku kembali sepi, hanya aku dan Sakura yang tersisa. Aku menutup pintu, Sakura berdiri tepat di belakangku. Sepertinya, ia memperhatikanku dengan seksama. Aku ragu dengan apa yang ia pikirkan. Apa mungkin, ia masih terkejut karena aku memarahinya. Aku membalikkan badanku, pada saat yang bersamaan dia menundukkan kepala. Sepertinya, dugaanku tepat. Aku menghela nafas lalu menghampirinya. Ia masih tak berani menatapku. Dia ini membuatku pusing saja.
“Maaf, aku sudah memarahimu, aku harap kau tidak melakukan hal itu lagi,”
“Kakak tidak perlu minta maaf, itu salahku karena tidak memakai sarung tangan, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,”
Aku menatapnya lekat-lekat, beruntung dia menyadarinya. Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. Payah. Sekarang, apalagi yang harus kukatakan padanya.
Aku memasukkan tanganku ke saku mantel dan menyentuh sesuatu. Apa ini? Kotak? Ah, aku baru ingat, aku belum membuka hadiah dari Sakura. Aku mengeluarkan kotak itu dari sakuku dan menunjukkannya pada Sakura. Ia tampak senang, seulas senyum terkembang di bibirnya. Aku memutar-mutar kotak itu dan mengamatinya. Aku mengira-ngira isi kotak itu. Aku melirik Sakura, dan ternyata dia sedang menertawakan tingkahku. Terkadang dia ini benar-benar menyebalkan.
“Apa isinya? Beritahu aku!”
“Kakak tidak akan tahu jika tidak membukanya, kan?”
Aku mengangkat sebelah alisku. Ya, dia benar, untuk tahu isinya, aku harus membukanya, karena aku tidak yakin dia mau memberitahuku. Aku melepas pita kotak itu dan membukanya. Terlihat sebuah benda mengkilat di dalamnya. Aku mengeluarkannya dari dalam kotak untuk melihatnya lebih jelas. Sebuah gantungan berbentuk segi empat dari logam bertuliskan ‘ganbatte’. Aku menatapnya heran. Kenapa Sakura memberiku ini? Aku menatap Sakura yang tersenyum penuh arti.
“Kenapa kau memberiku gantungan ini?”
Sakura mengulum senyumnya. Aku berharap dia tidak membuatku penasaran terlalu lama. Aku mengisyaratkannya untuk segera menjawab.
“ Karena akhir-akhir ini terlihat lelah sekali, jadi aku berharap kakak kembali bersemangat, aku membelinya dengan terburu-buru, aku tidak tahu kalau kakak berulang tahun hari ini, maaf jika kakak tidak suka,”
Aku tertawa mendengar jawabannya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang membuatku lelah adalah masalah perasaanku padanya. Aku selalu merasa takut akan melukainya lagi setiap aku bertemunya di rumah. Aku selalu memikirkan perasaanku kepadanya yang tidak akan tersampaikan. Aku selalu berusaha membencinya dan bersikap acuh padanya, tapi dia malah mengkhawatirkanku, ini benar-benar lucu. Sakura tampak heran melihatku tertawa. Dia tidak akan mengerti apa yanng membuatku tertawa. Aku tidak akan memberitahu alasanku tertawa padanya, walau ia menanyakannya sekalipun tidak akan kuberitahu.
“Kenapa kakak tertawa, apa ada yang aneh?”
“Tidak, tidak ada yang aneh, aku tertawa karena melihat tulisan di gantungan ini,”
Terpaksa aku berbohong padanya. Aku menghampirinya yang masih terlihat bingung. Aku menatapnya sambil tersenyum lalu mengelus kepalanya. Rambutnya sangat lembut. Aku tahu aku tidak boleh melakukan ini, tapi aku tidak dapat menahannya. Wajah Sakura memerah menatapku yang terus tersenyum padanya, ia lalu menundukkan kepalanya.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, gantungan ini akan kusimpan dengan baik,”
Sakura mengangkat kepalanya, ia menatapku malu-malu. Aku mengulum senyumku dan meninggalkannya yang masih terpaku. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini padanya. Sejak dulu sebenarnya perasaanku tetap sama, tidak pernah berubah, tapi aku selalu menipu diriku sendiri, hingga aku tak dapat menyatakannya lagi. Aku menoleh ke belakang, Sakura masih terdiam di tempatnya. Apa aku melukainya? Kuharap tidak, karena aku tidak ingin melukainya lagi. Aku bertekad, aku boleh jatuh cinta pada wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku boleh menyukai wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku boleh menyayangi wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku masih menatap Sakura yang masih tak bergeming, ia pasti tidak sadar kalau aku memperhatikannya. Aku tersenyum sendu. Aku bersedia jatuh cinta pada wanita mana pun, kecuali padamu. Ya, kecuali kamu Sakura, aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta padamu, walau sepertinya itu sudah terjadi. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan menuju kamarku. Aku harap permohonanku saat ulang tahunku hari ini tidak akan terkabul, kalau itu terkabul, aku tidak yakin akan berbuat apa. Paling tidak, aku merasa ini adalah hari ulang tahunku yang paling indah.
Langganan:
Postingan (Atom)