“Kenapa kamu sering sekali berdiri disitu, Darma?”
Gadis itu melirik ke sumber suara, seorang lelaki muda berbaju putih layaknya nahkoda kapal, tengah berdiri mematung tak jauh darinya. Aga, lelaki itu, Agasa nama panjangnya, seorang awak kapal Jepang yang baru-baru ini berlabuh di pulau tempat tinggal Darma. Darma melangkah menuju Agasa sambil terus memperhatikan burung-burung yang tengah berterbangan menghiasi keindahan pantai sore itu.
“Menurut kamu, Ga?”
Aga menaikkan bahunya, tak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan balik oleh Darma.
“Aku disini untuk berinspirasi, aku disini untuk mencari Nuh,” Ucap Darma dengan yakin. Aga semakin tertarik dengan sikap gadis dihadapannya. Ia pun menggelengkan kepala, takjub sekaligus tak mengerti.
“Nuh? Noah maksudmu? Apa dari sini kau dapat melihat bahtera Nuh yang luar biasa itu? Kau bercanda, Ma?”
Darma menggelengkan kepala. Ia tahu Aga tidak mungkin mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Karena Aga tak pernah tahu siapa yang sebenarnya membuat behtera Nuh, siapa yang membuat Nuh dapat melayarkan bahteranya, Aga tidak pernah tahu karena ia tidak pernah mengenalnya. Berbeda dengan Darma, sejak kecil ia sudah diajari mengenal siapa Dia, Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, yang mampu melayarkan bahtera Nuh ditengah banjir air bah. Darma selalu menjadikan-Nya pelindungnya, menjadikan teori Nuh untuk berlayar dalam pelayarannya, menjadikan sistem bahtera Nuh dalam membuat bahteranya sendiri, dan Darma tahu, tanpa Dia Yang Maha Mengetahui, Darma takkan dapat melakukan semua itu. Sedangkan Aga, ia tak pernah tahu.
“Aku tidak bercanda, Ga, yang kulihat disini bukan bahtera Nuh yang sebenarnya, tapi kekuasaan Tuhan Nuh, yang mampu membuat Nuh membuat bahteranya,”
“Tuhan Nuh? Siapa? Kau mengenal-Nya?” Aga semakin tidak mengerti arah pembicaraan Darma, tapi ia tetap tertarik mendengarkan penjelasan Darma sampai akhir.
“Aku mengenal-Nya tapi belum seutuhnya mengenal-Nya, tapi kau tidak mengenal-Nya, Ga,” Tutur Darma dengan nada kecewa. Tapi Darma ingin Aga mengenal siapa Dia, Darma ingin agar pria penakluk lautan ini tahu betapa nikmatnya memiliki suatu aqidah, memiliki suatu kepercayaan, memiliki dzat yang dapat ia percaya lebih dari siapapun, dan akan senatiasa menolongnya jika ia mau mengenal-Nya dan mengharap pertolongan-Nya. Darma ingin menjelaskan semua kenikmatan itu kepada Aga, tapi ia tak mau membuat Aga tersinggung dengan sikapnya, ia ingin Aga mengetahuinya dengan segala keingintahuan dari hati nuraninya. Tiba-tiba Darma tersenyum simpul. Ia menemukan cara agar Aga dapat mengetahuinya dengan hati nuraninya. Melihat senyum Darma, Aga menundukkan kepalanya, entah apa yang ada di hatinya.
“Kenapa kau malah tersenyum, Ma?”
“Besok ikutlah membuat perahu bersamaku, ayah juga akan mengajariku disana, kau tertarik melihat perahu yang akan kubuat?”
“Tentu saja, aku selalu tertarik dengan kemahiranmu membuat perahu dalam umur semuda ini, dan aku tahu keterampilanmu itu pasti berasal dari ayahmu, aku jadi tak sabar ingin segera berlayar dengan perahumu,”
Darma hanya membalas kata-kata pujian Aga dengan senyum manisnya. Aga tidak tahu bahwa bukan karena ayahnya ia dapat terampil membuat perahu, tapi karena Dia Yang Maha Mengetahui yang telah memberikannya akal, sehingga ia dapat melakukan semua itu. Kini, Darma tidak hanya yakin ia akan mengubah Aga, ia juga yakin Yang Maha Mengetahui pasti akan mengizinkan Aga mengenalnya dengan segala hidayah pemberiannya.
...........
Sore ini adalah sore yang paling istimewa bagi Aga. Ia menunggu hari ini dengan segala debaran hatinya. Bayangan gadis berkulit sawo matang dengan wajah khas asia berkerudung ungu muda dihiasi dengan senyum manis di bibirnya terbayang-bayang di benak hati dan pikiran Aga. Hal itu membuatnya tersenyum sendiri. Entah sejak kapan, Darma menjadi gadis yang ia puja. Keanggunan, kemandirian dan keyakinan Darma dengan prinsipnya membuat Aga jatuh hati padanya sejak menginjakkan kaki di Bulukumba, tempat yang luar biasa bagi para penakluk lautan sepertinya.
Hari ini ia akan melihat Darma membuat sebuah karya besar, memang hanya sebuah perahu, tapi bagi Aga gadis itu dapat membuat perahu terlihat lebih dari sekedar perahu. Terkadang Aga tak heran dengan kemahiran Darma dalam membuat perahu karena keluarga Darma merupakan suku Bugis yang mahir membuat kapal dan perahu, salah satu mahakaryanya adalah kapal Pinisi, kapal yang membuat Aga tertarik untuk berlabuh dan tinggal di tempat ini.
Tanpa terasa, lamunannya membuat Aga sampai di tepi pantai, tempat biasa para pembuat perahu berkumpul untuk membuat berbagai mahakarya. Tentu saja, Aga dapat melihat gadis pujaannya disana. Senyumnya tersungging, membuat lesung pipitnya terlihat jelas. Darma tak sadar ia telah menjadi sorotan bagi Aga, Darma tetap asyik memaku kayu-kayu dan membentuknya melengkung membentuk sebuah rakitan dasar perahu.
Aga menatap Darma dalam diam dan seksama. Sayangnya, Darma cepat menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan seseorang.
“Aga, kau mau tetap berdiri mematung disana?” Teriak Darma sambil melambaikan tangannya kearah Aga. Lambaian tangannya disambut dengan senyuman hangat Aga yang segera menghampirinya.
“Boleh aku melihatmu membuat mahakarya?” Ucap Aga dengan ragu. Darama tertawa kecil mendengar pertanyaan Aga.
“ Jika aku tak membolehkanmu, aku tak mungkin mengundangmu kesini, bukankah begitu?”
Aga tak perlu menjawab pertanyaan Darma. Ia segera duduk di tepi pantai, tak jauh dari tempat Darma membuat perahu. Aga melihat setiap gerak gerik halus dan terampil yang dilakukan Darma. Satu persatu kayu yang bertumpuk di samping Darma berubah menjadi lengkungan-lengkungan teratur membentuk rangkai perahu. Tak lama kemudian, bagian luar perahu dibuat dengan lebih teliti, kayu-kayu yang dibentuk untuk kursi perahu tersusun dengan rapi dan terliahat kuat serta kokoh.
Akhirnya, tiba saat tahap terakhir pembuatan perahu. Mahakarya buatan Darma mulai dicat dengan warna-warna yang elok, membuat perahu lebih sedap dipandang dan lebih menari untuk digunakan. Perahu siap untuk diuji di air, diuji keseimbangan dan daya apung serta muatannya.
Pengujian pelayaran adalah tahap terpenting bagi Darma dan para pembuat perahu lainnya. Bagi Aga, hal ini adalah waktu yang paling menegangkan. Sebuah perahu yang indah tidak akan berguna jika tidak dapat mengapung diatas air.
“Satu, dua, tiga!” Bersamaan dengan teriakan para pembuat perahu, mahakarya buatan Darma pun dilayarkan. Para awak diatas perahu itu mulai ketar ketir ketika perahu semakin menjauh dari tepi pantai. Darma tersenyum riang, mahakarya berhasil berlayar. Aga mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke udara, ia hendak menyalami Darma, tapi segera ditolak dengan halus oleh Darma.
“Boleh aku bercerita kepadamu?” Darma menatap Aga serius, berharap Aga menyetujui permintaannya.
“Tentu saja, Ma, tentang apa? Mahakaryamu tadi benar-benar hebat, kalau kau mau ceritakan juga kepadaku tentang hal itu,”
Darma mengangguk lalu serta merta mengajak Aga duduk di tepi dermaga yang dihiasi burung-burung tengah berterbangan.
“Ga, kamu tahu mengapa aku dapat membuat perahu itu?” Darma mulai memancing rasa ingin tahu Aga.
“Tentu karena kau mahir dan terampil, kau juga keturunan suku bugis, suku pembuat perahu, maka tak heran kau dapat membuat perahu itu,”
Darma mengulum senyumnya. Sebenarnya, ia sudah mengira jawaban itu yang akan diucapkan Aga, tapi Darma tidak akan menyerah untuk mengenalkan Aga pada Dzat Yang Maha Kuasa yang membuatnya dapat menghasilkan mahakarya.
“Jika kau berpikir begitu, apa menurutmu aku dapat melayarkan perahu itu juga karena aku mahir dan terampil serta karena aku keturunan suku bugis?” Aga menganggukkan kepalanya, tanda satuju.
“Salah, Ga, semua itu bukan aku yang membuatnya, bukan aku yang membuat perahu itu ada, bukan aku yang membuat perahu itu berlayar, bukan aku yang membuat mahakarya yang tadi kau lihat?”
Aga tampak heran mendengar penuturan Darma.
“Lalu, siapa yang membuatnya, Ma? Aku tadi melihat bahwa kaulah yang membuat semua itu,”
“Yang membuat semua itu bukan aku, tapi Tuhan Nuh, Tuhanku, juga Tuhanmu,”
“Tuhan Nuh? Apa maksudmu ia adalah Allah? Tuhan yang sering disebut masyarakat disini?” Darma mengangguk mendengar pertanyaan Aga.
“Bukan hanya masyarakat disini, tapi semua umat Islam, dan bahkan alam semesta, karena Dia, Allah pemilik alam semesta, Dia yang menyuruh laut untuk mengapungkan perahuku, Dia yang menyuruh angin untuk melayarkan perahuku, dan Dialah yang membuatku memiliki akal untuk membuat perahu itu,”
Aga tetap terdiam mendengar semua penuturan Darma. Entah mengapa saat nama Allah disebutkan oleh Darma, ada sesuatu yang berdesir di hatinya, membuatnya terasa tenang, seakan menemukan setitik embun di wilayah panas terik.
“Apa aku bisa mengenal Tuhannya Nuh itu? Jika aku mengenal-Nya apa ia mau mengenalku dan menemaniku menaklukan lautan-Nya?”
Darma terkejut mendengar pertanyaan Aga, tapi dengan yakin ia menganggukkan kepalanya, membuat Aga memasang wajah takjub.
“Jika kau mau mengenal-Nya dan hanya mengabdikan diri pada-Nya, Ia pasti akan membantumu, Ia pasti akan menemanimu, Ia pasti akan terus membuat kemudahan dalam setiap langkahmu,”
“Bantu aku mengenal-Nya, Ma, ajari aku tentang agamamu, tentang Islam, tentang Tuhan Nuh, Tuhan pemilik dermaga hatiku, Tuhan pemilik lautan ini, dan Tuhan yang kau bilang Tuhan alam semesta, kau mau membantuku mengenalnya, Ma,”
Darma semakin terkejut, bibirnya tak henti-henti mengucap syukur, Hamdalah kepada-Nya. Ia pun menganggukan kepalanya dengan yakin sekali lagi pada Aga.
“Jika Allah memberi hidayahnya kepadamu melalui diriku, dengan senang hati , aku akan mengantarkanmu ke dermaga hidayah itu, Ga,”
Entah mengapa dalam hati Aga tidak ada keraguan untuk mengenal Tuhan Nuh. Darma membuat separuh hidupnya berubah, dan ia yakin dapat berubah menjadi lebih baik jika berada di sisinya. Ia yakin Darma dapat membawanya ke dalam kehidupan yang lebih bermakna, tidak seperti hidupnya dahulu yang tidak mengenal agama.
“Jika kau bersedia, apa kau juga bersedia aku mengenal dirimu lebih dalam setelah mengenal Allah dan Islam nanti? Bolehkah aku berharap kau dapat berada di sisiku untuk membawaku ke dalam cinta yang tetap, yang tidak akan pupus, bersediakah dirimu?”
Angin semilir menghempas deburan ombak terdengar di dermaga, menyembunyikan segala jawaban Darma untuk hamba Allah di hadapannya kini.