Jika ingin mendapat suami sholeh seperti Ali bin Abi Thalib, maka jadilah Fathimah binti Muhammad, begitupun sebaliknya, jika ingin mendapat istri sholehah seperti Fathimah binti Muhammad, maka jadilah Ali bin Abi Thalib. Pernah mendengar ungkapa seperti itu, SAHABAT? Setuju sama ungkapan itu? Kalau setuju, pernah bertanya dalam hati “kenapa, sih, dengan rumah tangga Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Muhammad?” atau “kenapa mereka dijadikan kiasan rumah tangga penuh cinta ideal?” atau “bagaimana, sih, latar belakang pasangan suami istri tersebut hingga rumah tangganya dikatakan sakinah, penuh mawaddah dan warrahmah?” Jika SAHABAT pernah bertanya-tanya seperti itu jawabannya hanya satu. Semua itu karena rumah tangga mereka dibimbing oleh Rasulullah. “Lho? Kok bisa?”
Fathimah binti Muhammad sebagai putri Rasulullah pasti sangat mengetahui rumah tangga beliau, sikap beliau terhadap istri-istrinya, terhadap anak-anaknya dan kelembutannya kepada keluarganya. Begitupun Ali bin Abi Thalib sebagai keponakan Rasulullah dan sahabat Rasulullah serta pernah diasuh oleh beliau pasti mengetahui hal tersebut.
Rasulullah adalah sosok sempurna sebagai suami, sebagai ayah, dan sebagai seorang pemimpin keluarga. Keharmonisan hubungan beliau dengan keluarganya sangat terlihat dari hadits-hadits beliau, baik itu ucapan ataupun perbuatan.
Tirmidzi meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)-ku.” Hadits tersebut menekankan kepada kita perintah untuk memperlakukan keluarga dengan baik.
Saat Rasulullah menerima wahyu pertama, beliau sangat ketakutan dan gemetar ketika turun dari gua hira dan sampai di rumahnya. Dengan kelembutannya, Khodijah menenangkan Rasulullah yang sedang panik dan menyelemutinya. Bahkan saat dakwah dan ucapan Rasulullah tidak dipercaya orang lain, Khodijah adalah orang yang pertama mempercayainya.
Rasulullah selalu memanggil Khodijah dengan panggilan “Ya Habibati” yang berarti “cintaku”. Beliau juga tidak pernah menduakan Khodijah. Setelah Khodijah wafat, barulah Rasulullah menikah kembali.
Selain berlaku lemah lembut terhadap istrinya, beliau juga tidak mau menyusahkan istrinya dan selalu menghargai istrinya serta selalu tanpa segan membantu istrinya. Beliau selalu menambal bajunya sendiri jika koyak tanpa memberitahu istrinya, beliau juga selalu tersenyum dan tanpa segan menyisingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya menyiapkan makanan ketika beliau pulang dan makanan belum siap.
Rasulullah juga memperlakukan anaknya dengan baik. Saat Fathimah binti Muhammad telah menginjak umur siap menikah, banyak yang melamarnya, namun Rasulullah menolaknya, dengan berharap Ali bin Abi Thalib yang melamarnya. Mengapa demikian? Karena Rasulullah mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib berkehendak melamar Fathimah, dan Fathimah pun hanya ingin dilamar oleh Ali bin Abi Thalib.
Setelah Fathimah menikah dengan Ali, Rasulullah membimbing langsung rumah tangga mereka. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Ali merasa kasihan terhadap putri Abu Jahal yag seorang muslim, sedangkan ayahnya kafir, lalu Ali berkehendak untuk melamarnya dengan niat memerdekakannya dari ayahnya. Namun Rasulullah melarang hal itu, karena beliau menganggap Fathimah adalah penggalan dirinya, siapapun yang menyakiti Fathimah, berarti menyakitinya juga.
Ali bin Abi Thalib bukanlah pria kaya dan terkenal, namun adab dan ilmunya sangat tinggi. Saat meminang Fatimah, ia menjual sebagian hartanya bahkan rompi perangnya, karena itu rumah tangga Ali dan Fathimah sangatlah sederhana namun penuh mawaddah karena diberkahi Allah dan mendapat bimbinga Rasulullah secara langsung.
Salman Al Farisi meriwayatkan, bahwa suatu ketika Fatimah ra. berkunjung kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, kedua mata Fatimah mencucurkan air mata dan roman mukanya berubah. Kemudian Nabi SAW bertanya: ” Mengapa engkau hai anakku?” Fatimah ra. menjawab: “Wahai Ayahku, tadi malam aku dan Ali bergurau, dan timbul percakapan yang menyebabkan dia marah kepadaku, karena kata-kata yang terlontar dari mulutku. Ketika aku melihat bahwa Ia marah, aku menyesal dan merasa susah, kemudian aku berkata kepadanya :” Wahai kekasihku, kesayanganku, relakanlah akan kesalahanku, seraya aku mengelilinginya dan merayunya sebanyak tujuh puluh dua kali, sehingga dia menjadi rela dan tertawa kepadaku dengan segala kerelaannya, sedang saya tetap merasa takut kepada Tuhanku.”
Subhanallah, betapa indahnya menggapai mawaddah dalam bimbingan Rasulullah. Nah, SAHABAT, bagi yang sudah menjalani rumah tangga, jalanilah dengan penuh kesetiaan, kepercayaan dan kelembutan seperti rumah tangga Rasulullah, dan Ali-Fathimah. Bagi SAHABAT yang akan membina rumah tangga, mari perbaiki diri agar dapat menggapai mawaddah nantinya.
