Ia memutar pensil di tangannya. Raut mukanya terkesan kesal bercampur sedih. Entah apa yang dia pikirkan. Diketuknya meja tulis di hadapannya. Sesekali, ia menghela nafas panjang. Setelah beberapa saat, ia goreskan pensil yang sedari ia pegang di atas meja. Dari satu titik ke titik yang berbeda. Bulan di belakang bingkai jendela mulai tertutup awan, goresan pensilnya pun berhenti di satu titik. Usai merapikan beberapa alat yang berserakan di atas meja, sosok itu pun meninggalkan kursinya.
...
“Pergi!” Seorang wanita setengah baya melempar bantal ke arah seorang pemuda. Kengerian yang sangat terlihat jelas di wajahnya. Pemuda yang dilemparnya hanya pasrah mengambil kembali bantal itu, meletakkannya di atas sofa di dekatnya. Ia mendekati wanita setengah baya tadi. Sekilas, wajahnya tampak sendu, terlihat ingin menangis. Wanita setengah baya itu meringkuk kengerian. Entah apa yang dipikirkannya.
“Bu, ini Ardi, bu,” ujar pemuda itu lembut.
“Pergi! Pergi! Pergi sana”
Lagi-lagi wanita setengah baya itu berteriak ketakutan. Ardi mencoba meraih tangan wanita yang dipanggil ibunya tersebut. Namun, wanita itu menepisnya kasar, ia malah mencoba mengambil vas bunga di meja sebelah kasurnya. Dengan cepat, Ardi mengambil vas bunga tersebut. Ibunya kembali meringkuk ketakutan, mencoba menjauh dari Ardi sekuat tenaganya.
Ardi menghela nafas berat. Ia mulai menjauh dari ibunya perlahan-lahan, berjalan mundur menuju pintu kamar. Barang-barang kecil, seperti kotak perhiasan, bola tangan, patung-patung hiasan meja berserkan di lantai kamar, membuat Ardi sulit mengambil langkah. Hanya patung bunda maria yang masih tegak berdiri di ujung meja di sebelah kasur ibunya. Cahaya kamar yang redup pun semakin membuat Ardi sulit melihat sosok ibunya saat dia menjauh. Ibunya yang entah mengapa merasakan ketakutan yang sangat saat melihat wajahnya. Bahkan, ia berteriak ngeri saat mendengar namanya disebut-sebut kakaknya di depan pintu sebelum ia masuk.
“Baiklah, Bu, Ardi pergi, ya. Ardi minta maaf, Ibu jaga kesehatan, ya.”
Setelah mendengar beberapa isak tangis ketakutan dari ibunya, Ardi menutup pintu kamar itu perlahan. Meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu, sebenarnya membuat Ardi merasa amat bersalah. Namun, apa daya, ia tak mampu memenuhi keinginan Ibunya, ia pun tak mampu membuat Ibunya mengikuti keinginannya.
Di luar kamar ibunya, ketiga kakak Ardi menatapnya penuh cemas dan harap. Ardi hanya membalas tatapan mereka dengan senyuman pahit. Wajar, ketiga kakaknya terlihat kecewa. Sudah hampir sebulan keadaan ibunya tidak menentu. Emosinya terkadang turun, terkadang naik. Terkadang seperti orang normal, terkadang terlihat ketakutan yang sangat, terlebih ketika kakak-kakakanya menyebut nama Ardi. Memang ini bukanlah salah Ardi, bahkan ibunyalah yang harusnya mengerti Ardi. Seharusnya ibunya yang mengikuti Ardi ke jalan yang memang seharusnya ia tempuh.
“Aku pamit pulang, Kak Reh,” ucap Ardi seraya menggenggam tangan kakak perempuan ketiganya.
“Kamu yakin mau membiarkan ibu seperti itu? Kamu tahu kamu salah, kan, Di?”
“Aku tidak salah, Kak Rehna, aku yakin aku benar, aku mengambil jalan yang benar,”
“Di, bukannya agamamu juga mengajarkan untuk berbakti pada orangtua? Kalau kamu melakukan ini pada ibu, kamu sudah tidak berbakti padanya, Di.”
Ardi menelan ludahnya pahit. Selalu saja masalah ini yang dibahas. Ujian dari keluarganya inilah yang sering kali membuatnya lemah. Namun, Ardi tetap berkeyakinan bahwa ia telah menemukan Tuhan yang sebenarnya, bukan Tuhan yang selama ini dikenalkan keluarganya. Ia yakin ia telah menempuh jalan yang benar, walau apapun tanggapan keluarganya.
“Kamu harus memikirkan Ibu juga, Di.” Ucap kakak laki-laki keduanya. Yohan namanya.
“Semua ini aku lakukan untuk Ibu juga, Kak Han, aku ingin menyelamatkan Ibu dari siksaNya, aku juga inigin menyelamatkan kalian, keluargaku,”
“Kamu terlalu keras kepala, Di!” Kini giliran kakak laki-laki pertamanya yang angkat bicara. Nada tinggi langsung terdengar di telinga Ardi. Kakak pertamanya ini memang orang yang sangat menentang keputusan Ardi.
“Bukan masalah keras kepala, Kak Yan, aku hanya ingin menempuh jalan yang benar, kembali kepada Ia yang menciptakanku,”
“Jalan yang benar itu jalannya bunda maria! Kamu lebih baik pergi tinggalkan rumah ini dan Desa Karo jika tak mau mengakuinya! Lebih baik kau tak anggap kami lagi sebagai keluargamu!”
Rehna dan Yohan mencoba menenangkan Aryan. Ardi menatap kakak pertamanya itu lekat-lekat. Kemarahan sudah menguasai mata Aryan rupanya. Mungkin, inilah saatnya Ardi benar-benar pergi, mencari tempat yang bisa menerimanya. Ia membalikkan badannya setelah menundukan kepalanya sedikit ke arah ketiga kakaknya, menandakan ia masih menghormati mereka. Diambilnya tas ransel di kursi yang terletak tak jauh dari tempat ketiga kakaknya berdiri.
“Aku akan pergi seperti keinginan Kak Aryan, kudoakan agar kalian dan ibu diberi kesehatan olehNya.”
Ketiga kakaknya hanya diam mematung, melihat sosok Ardi yang melewati pintu rumah, lalu pergi dan menjauh dari pekarangan rumah mereka. Aryan menghela nafas berat. Di dalam hatinya, ia tak mau melihat adik bungsunya meninggalkan keluarga kecil itu. Ia tak pernah bermaksud mengusir adiknya, bahkan, awalnya ia tidak menyalahkan keputusan adiknya untuk pindah agama. Lubuk hatinya mengatakan bahwa agama Ardi yang sekaranglah yang benar, Tuhan Ardi lah Tuhan sebenarnya. Entah karena keadaan ibunya, ia pun terbawa emosi untuk mengusir adiknya, meninggalkan rumah dan desa tempat lahirnya itu.
...
Pesawat yang berangkat dari Bandara Kualanamu, Medan, mendarat di bandara Husein Sastranegara. Penerbangan yang lancar dan tidak terhambat, membuat hampir semua penumpang yang turun berwajah senang. Di antara penumpang yang turun dari tangga pesawat satu-persatu, terlihatlah Ardi. Pemuda itu bermuka muram dan bingung. Raut mukanya benar-benar penuh dengan ketakutan dan keterasingan. Bahkan, awan di langit yang cerah saat itu, sama sekali tidak membawa sesirat senyuman di bibirnya.
Bandung memang tempat yang asing baginya. Hampir tiga puluh tahun lebih ia tinggal di Karo, desa kelahirannya yang tentram, kental dengan budaya Sumatera Utara. Terpaksa memang, ia melangkahkan kakinya dari Medan ke Bandung. Semua penat atas ucapan Kakzaknya, Aryan, menggantung di kelopak matanya. Kesenduan dalam matanya lebih sendu dari langit yang mendung. Buktinya, beberapa orang yang lalu lalang di bandara, dapat melihat dengan jelas, lebam di pelupuk mata Ardi. Bukan karena ia dipukul atau disakiti orang, namun karena terlalu banyak menangis sejak pengusiran oleh kakaknya itu. Ia jelas tidak punya tujuan. Entah karena apa juga dia memilih Bandung sebagai kota pelariannya.
Ardi keluar dari pintu bandara dengan membawa ransel di punggungnya. Ya, hanya sebuah ransel yang menjadi bawaannya. Ransel pemberian ibunya saat dulu ia kuliah. Beberapa supir taksi menawarinya tumpangan. Diliriknya dompet di saku kemejanya. Tak cukup uangnya tuk naik taksi. Penghasilan yang ia bawa dari toko kelontong yang dibangunnya di Karo, tak cukup untuk menjadi bekalnya pergi jauh dari rumah. Dilangkahkan kakinya menuju tempat lain. Setelah menaiki angkutan kota yang ia tak tahu menuju kemana, ia turun di depan sebuah rumah sakit. Kembali bingung menghantuinya. Harus kemanakah ia setelah ini?
Beberapa waktu kemudian, sebuah bus kota datang. Bus berwarna biru dengan tulisan Damri di badannya berhenti tepat di depan Rumah Sakit itu. Ia perhatikan tulisan di kepala bus tersebut. Ledeng- Leuwi Panjang. Heran pasti, karena ia tak tahu letak kedua tempat itu. Tapi, ia tetap menaiki bus tersebut, yang ia pun tak tahu akan membawanya kemana.
Di dalam bus tersebut penuh sesak. Hanya kursi belakang bus yang kosong. Pas sekali, kursi tersebut tinggal untuk satu orang. Ia pun hendak duduk di samping gadis berkerudung panjang. Di sebelah gadis itu, ada lelaki bertubuh tegap dan berperawakan lembut dan kalem. Melihat Ardi hendak duduk di samping gadis berkerudung itu, sang lelaki menyuruh gadis itu bertukar tempat duduk dengannya. Ardi hanya merasa heran dalam hatinya. Tak mau ia tanyakan apa sebab mereka bertukar tempat duduk.
“Baru pertama kali ke Bandung, A’?” Ujar lelaki tersebut pada Ardi. Mungkin, ia melihat kebingungan yang sangat di wajah Ardi.
“Iya, Bang, eh, ‘A,” jawab Ardi kikuk. Maklum, ia tidak tahu bahasa Sunda.
“Asalnya dari mana kitu, ‘A?”
“Medan, A’,”
Mendengar jawaban Ardi, lelaki tersebut tampak terkejut.
“Wah, jauh sekali A’, ada urusan apa kitu ti Bandung, teh? Maaf, ya, saya banyak nanya A’,”
Lelaki tersebut sangat santun. Bahkan dari nada bicaranya pun terdengar seperti itu. Ardi tersenyum pahit dan terdiam sejenak mendengar pertanyaan lelaki tersebut.
“Saya diusir dari rumah dan kampung halaman, A’,”
Lagi-lagi lelaki tersebut tampak terkejut. Namun, kali ini tersirat rasa iba di dalam raut wajahnya.
“Sebabnya, A’? Mungkin, kalau saya tahu, saya bisa bantu Aa’,”
Ardi menghela nafas berat. Terasa penat di kepalanya mulai menghantui. Ujian yang dia terima ini memang sulit. Entah karena apa, ia mulai menceritakan kisah hidupnya kepada lelaki tersebut.
“Saya muallaf, A’. Dulu saya beragama Katolik. Keluarga saya sangat fanatik dalam agamanya. Ketika saya masuk Islam, keluarga saya sangat tidak mendukung. Bahkan, satu bulan setelah saya menjadi muslim, ibu saya stres berat. Ia seperti orang gila, ‘A. Emosinya labil. Biasanya ia bertindak normal, namun, jika kakak-kakak saya menyebut nama saya, ia seperti ketakutan. Ia berteriak histeris dan mulai melempari barang-barang di dekatnya. Sudah tiga minggu ini, ibu saya mengurung dirinya di dalam kamar. Mungkin, stresnya sudah benar-benar memuncak. Kakak-kakak saya menyalahkan saya atas apa yang terjadi pada ibu saya. Mereka terus bersikeras memprovokatori saya untuk kembali ke agama saya yang dulu. Namun, saya yakin bahwa agama saya sekaranglah yang sebenarnya bisa menolong ibu saya,”
Mata Ardi terasa panas. Beberapa detik kemudian, satu dua tetes air mengalir dari pelupuk matanya. Ia menahan ceritanya dengan isak tangis sendu. Ah, berat sekali semua ujian dari Tuhannya ini, pikirnya. Lelaki yang tadi bertanya menyuguhkan selembar tisu padanya.
“Terimakasih, A’,”
“Tak apa, A’, lalu kenapa Aa’ bisa ke Bandung,?”
Ardi menghela nafas berat lagi.
“Saya diusir dari rumah A’ karena keyakinan saya untuk tidak kembali pada agama saya dahulu. Kakak pertama saya mengusir saya dan menyuruh saya tidak menganggap mereka keluarga lagi. Entah karena keyakinan saya yang kuat, atau memang hidayah Allah, saya langsung pergi ke Kualanamu dan naik pesawat menuju Bandung,”
“Aa’ ingin belajar Islam lebih dalam dan meyakinkan keluarga Aa’?”
“Ingin A’, sangat ingin,”
“Saya bisa bantu Aa’ kalau mau, nama saya Miftah,” lelaki tersebut tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya pada Ardi.
“Saya Ardian, A’,”
“Kalau Aa’ mau, Aa’ ikut saja dengan saya, nanti saya kenalkan Aa’ dengan pengurus masjid di dekat rumah saya. Insya Allah di masjid itu, Aa’ bisa menumpang tinggal.”
“Terimakasih, A’, terimakasih banyak.”
Pertemuan Ardi dengan Miftah mungkin menjadi awal kisah baru dalam hidup Ardi. ia akhirnya menemukan tempat ia harus kembali. Menguatkan keinginan dan keimanannya untuk meyakinkan kedua orangtuanya.
Angin berdesir halus, masuk melewati jendela bus yang ditumpangi Ardi. Suara deru bus yang bising namun menentramkan bagi Ardi menemaninya selama perjalanan. Perjalanan menuju hidayahNya yang menggoreskan keyakinan dalam dirinya.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar