‘Man jadda wajada’, ‘barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil’. Kalian sudah sering mendengar pepatah Arab yang satu ini, kan, sob. Nah, benar sekali pepatah itu. Bersungguh-sungguh itu adalah kunci untuk mencapai kesuksesan, lho!
Kenapa? Karena jika kita mengerjakan pekerjaan apa pun dengan bersungguh-sungguh, pasti pekerjaan itu akan selesai dengan cepat dan menghasilkan hasil yang baik. Tapi ternyata bersungguh-sungguh sulit untuk dilakukan. Terkadang banyak dari kita, terbelenggu oleh musuh sungguh-sungguh yaitu malas. Jadi bagaimana, dong, cara untuk istiqomah dalam bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu?
Rasululllah SAW, pernah bersabda, yang artinya : "Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar manusia yaitu kesehatan dan kelapangan waktu." (Riwayat Bukhari).
Kesehatan dan kelapangan waktu adalah nikmat yang sangat diharapkan oleh setiap manusia. Tapi, dalam hal ini sering kali manusia tidak memakai kedua nikmat itu dengan sebaik mungkin. Ketika sehat, banyak manusia yang hanya menyia-nyiakan kesehatannya dengan melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Ketika ia mendapat kelapangan waktu, banyak dari mereka menunda-nunda pekerjaan, tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya dan menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.
Jika kita melihat ulama terdahulu, mereka selalu mempergunakan dua kenikmatan tadi dengan sebaik mungkin. Mereka selalu mempergunakan kesehatan dan kelapangan waktu mereka untuk hal-hal yang berguna. Mereka menuntut ilmu, beribadah kepada Allah, bekerja untuk keseharian mereka, semuanya mereka lakukan dengan sungguh-sungguh, maka tak heran, jika banyak dari mereka menjadi orang-orang besar yang namanya dicatat sejarah, tidak heran juga, banyak dari mereka menghasilkan berbagai karya yang sangat berpengaruh dalam berbagai bidang ilmu, misalnya Ibnu Sina, karyanya yang berjudul Qanun fi Thib, menjadi rujukan bagi ilmu kedokteran di seluruh dunia, bahkan ia terkenal dengan sebutan ‘Bapak Kedokteran’ dan dikenal di Eropa dengan Avicena. Semua kesuksesan itu tentu saja didapat bukan dengan bermalas-malas dan bersantai-santai ria, tapi dengan bersungguh-sungguh dan berusaha keras dalam menuntut ilmu serta rasa kecintaan pada ilmu itu sendiri.
Dengan memperhatikan fenomena diatas, tentu sudah jelas sekali bahwa kunci kesuksesan adalah bersungguh-sungguh. Dalam islam sendiri, Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, sangat menganjurkan, bahkan mewajibkan seorang muslim untuk bersungguh-sungguh dalam setiap hal. Bukan hanya dalam menuntut ilmu, tapi juga dalam beribadah kepada Rabbnya, dalam bekerja untuk kebutuhan kesehariannya, bahkan dalam memerangi hawa nafsu, harus dengan bersungguh-sungguh.
Imam Hasan Al-Banna dalam perjalanan dakwahnya, mewasiatkan umat islam untuk tidak bergurau, dan bersungguh-sungguh, karena menurut beliau umat yang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam semua perkara. Umat yang berjuang itu selalu bermuhasabah dan tidak mungkin sempat untuk berguarau. Jika umat islam banyak yang bergurau dan tidak bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan perkara, maka sudah pasti masalah-masalah umat islam sulit untuk diselesaikan.
Dalam riwayat lain, Rasulullah pernah bersabda, “ Sesungguhnya Allah s.w.t menyukai apabila seseorang kamu bekerja dan melakukan pekerjaan itu dengan tekun’’ (Riwayat Abu Daud).
Orang yang bersungguh-sungguh dalam setiap perkara, pasti disukai Allah. Jika seseorang sudah disukai Allah, maka ia akan mendapat ridho dan kemudahan dalam setiap langkahnya. Orang tersebut akan mendapatkan kesuksesan, jika ia bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, maka ia akan mendapatkan dua kesuksesan, di dunia dan di akhirat.
Penjelasan-penjelasan diatas sudah sangat mencirikan bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil yang memuaskan. Memang, bersungguh-sungguh bukan hal yang mudah dilakukan, sebagai manusia pastilah kita terkadang merasakan jenuh dan lelah, tapi dengan niat yang kuat, keikhlasan, serta tekad yang bulat, semua hambatan untuk bersungguh-sungguh pasti mudah untuk kita tinggalkan, apalagi ditambah dengan pengetahuan bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dan akan menyukai orang yang bersungguh-sungguh itu.
Karena itulah, tetapkan di hati kita sebuah pepatah Arab yang berbunyi “Ijhad walaa taksal walaa takun ghofilaan fanadamatul ‘uqbaa liman yatakassal”, “bersungguh-sungguhlah dan jangan malas dan jangan menjadi lalai, sesungguhnya penyesalan di akhir bagi orang yang malas”, mari mulai bersungguh-sungguh dalam hidup kita, sob!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar