Secara historis, sistem pendidikan di Mesir yang berlaku di sekolah-sekolahnya dipengaruhi oleh modernisasi pendidikan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pendidikan mesir, seperti Muhammad Ali Pasha, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh. Oleh karena itu, sitem pendidikan di Mesir dibagi dalam empat tingkat pendidikan, yaitu Ibtidha’i (Sekolah Dasar), I’dadi (Sekolah Menengah Pertama, Tsanawiyah ‘Ammah (Sekolah Menengah Atas), dan ‘Aliyah ( Pendidikan Tinggi). Walaupun di Mesir juga ada TK (Taman Kanak-kanak) tapi itu tidak termasuk dalam sistem pendidikan dasar. Pengajaran di TK Mesir hampir serupa dengan TK di Indonesia. Sedangkan untuk sekolah dasarnya (Ibda’i) hanya terdiri dari lima tingkatan kelas, kelas satu sampai tiga memuat mata pelajaran sesuai usia, yang berisi kesenian, kecerdasan berhitung dan bahasa Arab, serta agama, sedangkan untuk kelas empat dan lima ditambahkan dengan mata pelajaran biologi, sejarah, dan Bahasa Inggris.
Untuk SMP (I’dadi), siswa yang boleh naik ke jenjang ini, harus memiliki nila banding semua pelajaran berjumlah 350, dan perlu diketahui bahwa nilai banding pelajaran di Mesir ditentukan oleh Departemen Pendidikan Mesir bukan oleh sekolah yang bersangkutan. Setelah lulus I’dadi, siswa yang memiliki nilai tinggi, yaitu diatas 185, dapat melanjukan ke SMU ( Tsanawiyah ‘Ammah) sedangkan yang tidak dapat mencapai nilai 185, atau diantara 165-185 akan masuk ke Sekolah Menengah Perdangan, dan yang dibawah itu dapat memilih Sekolah Mengangah Perindustrian.
SMU di Mesir memiliki sistem pemilihan mata pelajaran. Setiap siswa kelas 1 SMU diwajibkan memilih mata pelajaran antara IPA, Matematika, atau Sastra, masing-masing mata pelajaran tersebut didukung oleh pelajaran- pelajaran yang wajib dikuasai, seperti IPA, harus menguasai biologi, kimia, dan fisika, sedangkan Matematika wajib menguasai kimia, matematika dan fisika, da untuk sastra harus menguasai geografi, filsafat, ilmu kemasyarakatan, sejarah, dan ekonomi.
Ketika siswa naik ke jenjang Pendidikan Tinggi, akademinya sudah ditentukan dari SMU, misalnya siswa yang mengambil mata pelajaran IPA, akan masuk ke akademi kedokteran, sedangkan siswa yang mengambil mata pelajaran satra akan masuk ke akademi musik, perdagangan, atau ekonomi.
Di Mesir sendiri, terdapat Universitas-Universitas yang terkenal, seperti Universitas Al-Azhar yang merupakan universitas tertua kedua di dunia, tapi Universitas Al-Azhar sendiri menempati peringkat ke- 4.628 universitas terbaik di seluruh dunia, masih kalah dengan Universitas Gadjah Mada yang menduduki peringkat ke- 440 dan Universitas Pendidikan Indonesia yang menduduki peringkat ke-1.108 (peringkat ini berdasarkan webometrics bulan Januari tahun 2013).
Universitas yang terbaik pertama di Mesir yaitu Universitas Kairo yang berada di peringkat ke- 1.203 universitas terbaik di dunia. Universitas-universitas Mesir lain yang pernah masuk dalam peringkat Universitas terbaik di dunia yaitu Universitas Alexandria dan Ain Shams. Meskipun begitu, Mesir menduduki peringkat HDI (Human Development Index) ke-112, lebih unggul dari Indonesia yang menduduki peringkat HDI ke-121. Untuk biaya pendidikan di Mesir, terutama di sekolah nageri dibiayai oleh pemerintah dan untuk sekolah swasta mendapat subsidi dari pemerintah.
Di kalangan Mahasiswa Mesir juga terdapat himpunan-himpunan mahasiswa, tapi umumnya himpunan-himpunan berdasarkan asal daerah mereka, seperti Himpunan Mahasiswa Indonesia di Mesir. Selain himpunan mahasiswa, terdapat juga gerakan intra kampus, dan gerakan ekstra kampus. Untuk intra kampus, di Mesir terdapat Ittihad Thulab Misr, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa gabungan dari 20 Universitas di Mesir, yang Sekretaris Jenderalnya yaitu Ahmad Umar (Ketua BEM Universitas Zaqaziq & Mahasiswa IM). Sedangkan gerakan ekstra kampus di Mesir sangat beragam, seperti Jil Nashr Al-Mansyud, yang merupakan gerakan mahasiswa-mahasiswa Ikhwanul Muslimin.
Sekolah-sekolah di Mesir sangat kental dengan islam, ini terbukti dengan terpisahnya sekolah putri dengan sekolah putra, juga sistem pendidikannya yang mewajibkan siswa-siswa dari jenjang TK untuk menghafal Al-Qur’an. Karena itu, syarat S1 di Mesir adalah hafal 15 Juz Al-Qur’an, untuk S2 hafal seluruh Al-Qur’an, dan untuk S3 harus mengulang hafalan Al-Qur’an tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar