IV. Another heart (Sakura’s Feeling)
“Terima kasih, silahkan datang kembali,”
Aku menutup laci kasir setelah merapikannya. Hari ini cukup banyak pembeli yang datang. Maklum saja, produk-produk Keizo memang terkenal kualitasnya dan sangat terkenal. Produk yang baru kami pasarkan saja sudah separuhnya terjual. Aku merasa beruntung dapat bekerja disini. Dugaanku saat pertama kali diterima di toko ini ternyata tepat. Pegawai yang ramah dan presdir yang juga ramah. Kemarin presdir baru saja mengecek hasil pekerjaan kami selama sebulan ini. Ia benar-benar memeriksanya dengan teliti. Semua barang yang terjual, didatanya sendiri, walau terkadang ia memanggil sekretarisnya untuk membantunya.
Paman Yuzo, paman yang menerima berkas-berkasku dulu, mengawasi anak buahnnya yang sedang menata barang di rak. Kami harus segera merapikan barang-barang baru agar pelanggan dapat membelinya besok.
Aku sudah lelah sekali. Saatnya pergantian shift. Toko ini buka 24 jam, jadi kami harus menjaga secara gantian. Aku beruntung mendapat shift pagi, jadi aku dapat pulang sore hari untuk menyiapkan makan malam untuk kakak. Sejak aku gagal menyiapkan makan malam pada hari pertama, aku berusaha untuk menyiapkannya lebih baik, dan aku berhasil melakukannya. Aku rasa kakak cukup menyukai masakanku. Ajaran nenek tentang cara memasak benar-benar berguna bagiku.
Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul 17.00, aku harus segera pulang. Hari ini aku berniat memasakkan oden untuk kakak. Kakak tidak terlalu suka daging jadi aku selalu memasakkan kakak aneka sayuran. Aku harus pamit dengan pegawai lainnya. Hal yang biasa kami lakukan setelah selesai bekerja.
“Paman, aku pulang dulu, ya”
“Ya, bawalah bahan makanan yang kau butuhkan sebelum pulang,”
“Ya, aku sudah membawanya, paman, terima kasih banyak,”
Tiba-tiba mata paman seperti menatap sesuatu dibalik badanku, menatap keluar jendela. Aku mengikuti arah pandangan paman. Sebuah mobil yang tidak asing, berhenti di depan toko. Mobil sedan berwarna metalic itu adalah milik presdir. Ada masalah apa, presdir tiba-tiba datang ke toko? Bukankah, kemarin ia baru mengecek pekerjaan kami?
Presdir membuka pintu toko. Ia merapikan jasnya. Ia memang selalu berpakaian rapi. Ia berdehem. Membuatku terkejut dan sedikit heran.
“Sakura, apa kau mau pulang?”
Aku menunjuk diriku sendiri. Presdir tersenyum, begitupun halnya paman Yuzo. Presdir datang ke toko hanya untuk menemuiku? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tidak mungkin ia melakukan hal itu.
“Iya, aku baru saja mau pulang, apa presdir Keizo ada perlu denganku?”
“Ya, aku ingin membicarakan sesuatu padamu, boleh aku mengantarmu pulang?”
Presdir mau mengantarku pulang? Apa aku bermimpi? Ini tidak masuk akal. Aku menatap presdir dengan heran. Aku penasaran tentang apa yang ingin presdir bicarakan padaku. Aku tidak mengerti dan tidak percaya situasi ini, tapi presdir terlihat meyakinkan. Tidak ada salahnya aku menerima tawarannya.
“Boleh, maaf merepotkan presdir,”
...
Kami sudah setengah perjalanan, tapi presdir tetap tidak mengatakan apa pun padaku. Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang ingin ia katakan padaku. Sepertinya itu adalah hal penting, kalau tidak, presdir tidak akan sengaja datang ke toko hanya untuk mengantarku pulang. Presdir tetap tenang menyetir sambil mendengarkan musik yang ia putar sedikit keras. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya presdir pikirkan. Sekali-kali ia melirikku diam-diam, seperti orang gugup, lalu bersiul kecil mengikuti irama lagu. Aneh, aku terus menunggu presdir bicara, padahal kami hampir sampai di rumah kakak. Mungkin, hal itu sangat sulit ia katakan.
“Mmm, presdir Keizo? Sebenarnya, apa yang ingin presdir katakan kepada saya?”
Presdir berdehem mendengar ucapanku, lalu kembali diam. Aku jadi semakin penasaran. Hal apa yang ia pikirkan sampai bertingkah aneh sepeti ini. Pasti itu benar-benar sulit ia katakan, atau ia gugup mengatakannya padaku, tapi kenapa ia harus gugup? Perasaanku jadi tidak enak.
Presdir menghentikan mobilnya. Kami, kan, belum sampai, kenapa berhenti? Ini semakin aneh. Aku menatap presdir penuh tanda tanya. Apa yang ia lakukan?
“Sakura, maaf, aku tidak tahu rumahmu ke arah mana, kau pernah bilang di sekitar sini, tapi aku belum tahu yang mana rumahmu,”
Ah, benar juga, presdir belum pernah ke rumah kakak. Aku lupa memberitahunya. Benar-benar bodoh. Aku tersenyum kepada presdir, mungkin itu bisa menebus kesalahanku.
“Maaf aku lupa memberitahu presdir, aku akan menunjukkannya, lurus saja terus,”
Aku menunjukkan arah menuju rumah kakak kepada presdir, tapi selama itu, presdir belum juga bicara. Tepat di depan rumah kakak, ia menghentikan mobilnya. Aku menoleh ke depan rumah kakak, disana motor kakak baru saja tiba, kakak segera turun dari motornya. Ia terlihat memperhatikan mobil presdir yang berhenti di depan rumahnya ini. Pasti ia bertanya-tanya siapa pemilik mobil ini.
Aku memperhatikan presdir. Walau kami sudah sampai, ia tetap tidak mengatakan apapun, bahkan ia tidak mempersilahkanku untuk keluar dari mobilnya. Aku benar-benar bingung dengan sikap presdir.
“Sakura, apa kau tinggal dengan seseorang di rumah ini?”
Syukurlah, dia mulai bicara.
“Iya, aku tinggal dengan kakak, sebenarnya ini juga rumah kakak, bukan rumahku, aku hanya menumpang untuk sementara waktu,”
“Apa dia kakak kandungmu?”
Presdir menatap keluar jendela mobil, tepatnya ke arah kakak yang tetap memperhatikan mobil ini. Mungkin, ia menunggu siapa orang yang akan keluar dari mobil ini.
“Ah, itu bukan kakak kandungku, dia itu kakak yang tinggal disebelah rumahku waktu aku kecil,”
“Maksudmu kau tinggal dengan pria tak dikenal?”
Wajah presdir berubah heran seketika aku memberitahu tentang kakak. Nada bicara tedengar sedikit tinggi. Ia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang kakak. Payah.
“Tidak, aku mengenal kakak dengan baik, walau aku tidak tahu namanya, kakak juga seorang pria baik-baik,”
“Kau bilang kau tidak tahu namanya tapi mengenalnya dengan baik? Apa maksudnya itu?”
“Ya, ia memang tidak pernah memberitahukan namanya padaku, tapi ia sangat baik padaku, tenanglah presdir, aku sudah mengenalnya sejak kecil,”
“Tapi menurutku pria dan wanita yang tidak berhubungan darah tinggal satu atap itu sangat berbahaya,”
Aku menatap presdir heran. Dia harus tahu bahwa kakak itu benar-benar pria baik-baik, ia tidak akan memperlakukan dengan semaunya. Aku menghela nafas. Presdir memang terlihat sangat mengkhawatirkanku, tapi menurutku tinggal di rumah kakak lebih baik daripada tinggal di tempat yang tidak jelas.
“Apa presdir Keizo mengkhawatirkanku?”
“Tentu saja. Kau itu wanita jadi seperti kataku tadi, itu berbahaya,”
“Presdir tidak perlu khawatir aku bisa menjaga diriku sendiri, dan aku yakin aku benar-benar mengenal siapa kakak, jadi itu sama sekali tidak bahaya bagiku,”
“Ya... kalau kau berkata seperti itu apa boleh buat, tapi apa kau akan tinggal selamanya di rumah ini?”
“Tidak, seperti yang kubilang, aku hanya menumpang, jadi setelah mendapat uang untuk menyewa apartemen, aku akan pindah dari sini,”
“Bukankah kau sudah menerima gaji pertamamu? Mengapa kau tidak menggunakannya untuk menyewa apartemen?”
Aku berpikir sebentar. Aku ingat kakak menyuruhku tinggal di rumah ini sampai ia yakin aku mendapatkan tempat tinggal yang cukup aman, ia selalu mengatakan hal itu jika aku mengatakan akan mencari apartemen. Apa kakak juga mengkhawatirkanku?
“Ah, itu, gaji itu... aku belum yakin untuk tinggal sendiri di apartemen,”
“Apa kau menyukai kakakmu itu?”
Apa? Presdir mengetahui perasaanku kepada kakak? Tidak. Dia pasti hanya menebak saja. Ia pasti hanya mengira-ngira perasaanku. Aku tidak akan pernah memberitahu perasaanku pada kakak ke siapa pun. Tidak ada yang boleh tahu, keculi kakak sendiri. Sudah kutanamkan dari kecil, aku tidak akan menyukai pria lain selain kakak, dan tidak ada yang boleh tahu, termasuk presdir. Ia tidak boleh tahu.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
Aku masih terdiam. Kalau presdir tidak boleh tahu perasaanku kepada kakak, apa yang harus aku katakan kepada presdir? Aku tidak dapat berpikir jernih. Kepalaku rasanya penuh sekali. Aku tidak mau presdir mengetahui perasaanku, tapi aku juga tidak mungkin berbohong kepadanya atau berkata kasar padanya. Aku jadi pusing.
“Presdir, maaf, aku...,”
Presdir menatapku penuh tanda tanya, beberapa saat kemudian, seulas senyum menghiasi wajahnya. Ia tersenyum tulus padaku. Rasanya senyuman itu membuatku sedikit berdebar.
“Aku tahu, kau tidak akan bisa menjawab pertanyaanku itu, karena kau sendiri pasti tidak mengerti perasaanmu yang sebenarnya, tapi, kalau boleh aku...,”
Tangan presdir berusaha menggapaiku. Aku menahan nafas. Aku jadi tidak dapat bergerak dan tidak mengerti apa yang terjadi. Apa yang akan presdir lakukan padaku?
“Hey! Apa didalam ada orang?”
Presdir menarik tangannya kembali. Aku segera memalingkan wajahku ke luar jendela. Kakak. Dia ada di luar sana, mengetuk-ngetuk jendela mobil ini. Kakak menyelamatkanku dari situasi tadi. Aku menghela nafasku, akhirnya aku bisa kembali bernafas. Syukurlah.
“Ehem, kalau boleh aku mau berkenalan dengan kakakmu itu,”
“Apa? Iya, tentu saja boleh, aku akan mengenalkan presdir padanya,”
Presdir membuka pintu, begitu juga denganku. Kakak terlihat heran melihatku keluar dari mobil presdir. Ia menatapku dan presdir bergantian. Aku harap kakak tidak curiga.
“Sakura? Dan kau?”
Kakak menunjuk presdir tanpa mengubah ekspresinya. Ia pasti terkejut melihat aku diantar presdir.
“Kakak dia ini presdir perusahaan Keizo, dia yang pernah aku ceritakan pada kakak, apa kakak ingat?”
“Ah, ya, jadi kau presdir baru perusahaan Keizo?”
“Ya, aku baru 3 bulan ini menjadi presdir menggantikan ayahku, namaku Atsushi Keizo, senang berkenalan dengan anda,”
Presdir membungkukkan badannya pada kakak, ia memberi salam. Kakak membalas salamnya dengan menbungkukkan badannya juga.
“Ya, aku juga senang berkenalan denganmu, terima kasih sudah mengantar Sakura, itu bukan tugas seorang presdir, kan?”
“Memang itu bukan tugasku, tapi aku hanya ingin memastikannya pulang dengan selamat,”
Kakak menatap presdir dengan tatapan curiga, beberapa saat kemudian ia tersenyum pada presdir. Kakak menepuk pundak presdir.
“Ya, terima kasih banyak,”
“Sama-sama,”
Presdir mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum. Ia lalu membungkuk memberi salam. Aku jadi tidak enak hati padanya.
“Sakura, aku pulang dulu,”
“Ya, hati-hati di jalan, presdir, maaf sudah merepotkanmu,”
Presdir menaiki mobil dan menyalakan mesinnya. Ia tersenyum kepadaku dan kakak sambil melambaikan tangan. Kami menatap mobilnya yang semakin menjauh.
Kakak kembali menatapku dengan heran. Wajahnya seakan bertanya apa hubunganku dengan presdir. Aku hanya dapat membalas tatapannya dengan menggelengkan kepala, dan mengangkat bahuku, tapi kakak malah tertawa. Aneh.
“Aku rasa dia memang presdir yang sangat ramah, dan aku ragu kalau kau bilang kau tidak menyukainya,”
“Apa? Kenapa lagi-lagi kakak membahas hal itu?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah tertawa dan mengajakku masuk. Sepertinya, hari ini, semua pria yang kukenal bertingkah aneh. Aku jadi semakin pusing melihat tingkah kakak. Melelahkan.
...
Aku membuka tirai jendela kamarku. Langit terlihat cukup cerah malam ini, walau hanya terlihat satu bintang yang bersinar. Aku mengingat-ingat apa yang terjadi tadi. Presdir mengantarku pulang dan hampir saja melakukan sesuatu padaku, walau aku belum tahu pasti apa yang akan ia lakukan padaku. Perasaanku jadi tidak dapat kumengerti. Kenapa aku berdebar saat presdir hampir menyentuhku tadi? Ah, aku tidak boleh seperti ini. Aku sudah menetapkan hatiku untuk kakak. Walau ekspresi kakak saat melihatku diantar presdir tadi, hanya terlihat sedikit heran, ia juga tidak bertanya apa-apa tentang hubunganku dengan presdir, ia malah menduga kalau aku menyukai presdir. Padahal, kalau kakak bertanya padaku, aku pasti akan menjawab bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa dengan presdir selain rekan kerja, dan mungkin aku juga akan mengatakan bahwa pria yang aku sukai di dunia ini hanyalah kakak seorang, tapi sepertinya aku belum siap mengatakan hal itu pada kakak sekarang. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku harus cepat-cepat istirahat dan melupakan kejadian hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar