Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

II. Sakura (Sakura’s Feeling)
“ Hey! Apa yang kau lakukan disini?”
Aku menatap anak laki-laki yang berdiri dihadapanku. Kakak. Dia kakak yang tinggal di samping rumah. Ah, mungkin ia dapat menolongku.
“Aku tersesat, kak, aku mau pulang,”
Aku memasang wajah sepolos mungkin. Ayolah tolong aku. Apa kau mau mengantarku pulang?
“Tersesat? Bagaimana kau bisa tersesat di sekitar rumahmu sendiri?”
Sekitar rumah? Aku masih di sekitar rumah, aku sama sekali tidak menyadarinya. Tapi, aku tak tahu jalan untuk kembali ke rumah, padahal kakak bilang ini masih di sekitar rumah. Iya, aku tidak hafal jalan di sekitar rumah nenek, dan ini di wilayah pegunungan. Bukankah, tidak aneh kalau aku tersesat.
“Aku tidak tahu jalan di sekitar rumah nenek, aku... belum hafal jalan di sekitarnya, aku minta maaf, kak, aku...,”
Aku mulai menangis. Ayolah, kak, tolong aku! Air mataku mulai mengalir deras. Aku mau pulang. Aku tidak mau disini gelap, dingin. Aku tidak mau ada di tempat ini. Tolong aku.
“Dasar bodoh, ayo ikut! Aku akan mengantarmu,”
“Benarkah?”
Kakak mengangguk kepadaku. Kakak benar-benar malaikat pelindungku. Tapi, kenapa wajah kakak terlihat kesal? Sudahlah. Sekarang, aku harus berdiri. Aku mencoba mengangkat tubuhku. Ukh, kakiku terasa sakit sekali. Aku ingat, tadi aku sempat terjatuh, dan kakiku terkilir.
“Mmm, kak, kakiku terklir, aku tidak dapat berdiri,”
“Hah?!”
Gawat. Kakak pasti marah sekali, dia pasti akan semakin membenciku.
“Dasar, sini,”
Kakak membalikkan badannya. Membelakangiku. Apa yang akan ia lakukan?
“Ayo naik! Naik diatas tubuhku, aku akan menggendongmu sampai rumah, ayo naik!”
“Aku? Kakak benar-benar akan menggendongku?”
“Berisik! Naik saja, cepat!”
Ini sungguhan. Kakak menggendongku. Senangnya, aku pasti tidak akan melupakan hari ini. Ini benar-benar menyenangkan. Aku berpegangan erat pada kakak. Mungkin, sepanjang perjalanan kami ke rumah aku akan berbicara panjang lebar dengan kakak. Ini adalah hari keberuntunganku. Sejak itu, aku berjanji, aku akan selalu menyukai satu pria di dunia ini, dan dia adalah kakak.
...
Hari yang cerah. Semoga saja hari ini adalah hari keberuntunganku. Mataharinya benar-benar menyilaukan. Sinarnya memantul di kaca jendela rumah ini. Rumah kakak. Sejak kemarin, aku mulai tinggal di rumah kakak. Aku tidak mau merepotkannya. Jadi, hari ini aku akan mencari kerja. Aku akan mencari banyak uang dan menyewa apartemen yang murah, lalu pergi dari rumah kakak, agar aku tidak merepotkannya lagi. Aku pasti akan berusaha keras.
“Hey! Cepat habiskan sarapanmu! Aku sudah telat ke kentor,”
Kakak sudah berdiri di depanku. Pakaiannya sangat rapi. Kakak terlihat terburu-buru. Itu semua adalah salahku. Pagi ini aku gagal membuatkannya sarapan, dan kakaklah yang akhirnya membuatkan sarapan untuk kami berdua. Aku benar-benar tidak enak hati pada kakak. Aku jadi kesal dengan diriku sendiri.
“Ayo berangkat, kak!”
“Apa rencanamu?”
“Aku akan mencari pekerjaan sepanjang hari ini, aku akan berusaha keras!”
Kakak tersenyum padaku. Aku beruntung. Akhirnya, aku bisa melihat senyuman kakak. Dia menaiki motornya dan memakai helm. Beberapa detik kemudian, dia menoleh padaku.
“Semoga kau beruntung,”
Ucapannya itu membuatku bersemangat. Terima kasih, kak. Aku pasti akan berusaha keras. Aku mengepalkan tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Semangat!”
Teriakanku seperti terdengar menggema. Semangat. Aku pasti bisa mendapat pekerjaan.
...
Matahari semakin terik. Ya, Tuhan, ini benar-benar panas. Musim panas di Tokyo benar-benar mengerikan, bahkan, aku bisa merasa tubuhku seperti terbakar. Aku sangat lelah. Ternyata mencari pekerjaan di Tokyo bukanlah hal mudah. Aku sudah mengunjungi beberapa perusahaan, tapi mereka mentah-mentah menolakku. Aku harus bertahan, aku harus menemukan pekerjaan tetap hari ini juga. Aku tidak boleh menyerah.
Aku meneruskan perjalanan. Di ujung jalan, aku melihat sebuah mini market, di pintu masuknya ada brosur bertuliskan ‘mencari pegawai’. Ini dia yang aku butuhkan. Aku segera masuk ke toko itu. Semoga saja, aku beruntung.
“Mōshiwakearimasen (maaf),”
Aku mendatangi seorang pria setengah baya yang berdiri di belakang kasir. Raut wajahnya cukup bersahabat. Sepertinya ia tidak akan keberatan jika aku melamar pekerjaan di toko ini.
“Iya, nona, ada yang perlu saya bantu?”
“Aku melihat brosur di depan pintu, apa aku boleh melamar untuk pekerjaan itu?”
“Hmm.... berapa umurmu?”
“Dua puluh tahun, apa itu masalah?”
“Tidak, tapi, apa kau sanggup mengangkat barang-barang berat?”
“Ya, tidak masalah, aku yakin, aku cukup kuat,”
“Kalau begitu aku akan memberitahu presdir terlebih dahulu, kau bawa berkas-berkas yang kami perlukan?”
“Ya, aku bawa,”
Aku mengeluarkan semua berkas yang berisi identitasku. Aku yakin pasti aku diterima. Tapi, tunggu dulu, tadi paman itu bilang presdir? Apa ini cabang toko dari sebuah perusahaan besar?
“Paman, apa maksud paman dengan presdir? Apa toko ini bukan milik paman?”
“Ya, toko ini bukan milikku, toko ini adalah salah satu cabang dari Keizo Market, kau tahu, kan, perusahaan Keizo?”
Perusahaan Keizo? Bukankah itu perusahaan kelima terbesar di Jepang? Hebat. Kalau aku diterima bekerja di toko ini, berarti aku akan menjadi salah satu pegawai di perusahaan Keizo. Ini hebat.
“Aku akan menghubungi presdir untuk memberitahu lamaranmu, tunggulah disini,”
“Baik,”
Paman itu masuk ke dalam ruangan di belakang toko, mungkin itu ruang istirahatnya. Aku memperhatikan mini market ini. Cukup rapi. Rak-rak barang berjejer rapi, kebanyakan produk yang dijual adalah produksi perusahaan Keizo. Pengunjungnya juga lumayan banyak. Beberapa pegawai sedang menata barang baru di atas rak. Sepertinya, aku akan baik-baik saja jika bekerja disini,dan mungkin akan menyenangkan.
“Hey, nona!”
“Ya?”
“Kau diterima, kau dapat bekerja mulai hari ini, presdir akan segera datang untuk melihat berkas-berkasmu, sementara itu, tolong bantu pegawai lain mengangkat barang di gudang ke dalam toko, kau mengerti?”
“Iya, saya mengerti,”
“Bagus, bekerjalah dengan baik,”
“Baik,”
Aku segera bergegas pergi ke gudang. Disana sudah banyak pegawai yang keluar masuk untuk mengangkut barang. Akupun mengambil sebuah kardus yang terletak di rak kedua. Ternyata kardus ini cukup berat. Aku harus bisa mengangkatnya, aku harus mengerjakannya dengan baik. Aku berjalan perlahan sambil membawa kardus, aku harus membawanya ke dalam toko. Kardus ini besar sekali, wajahku tertutup sebagian oleh kardus ini, aku jadi sulit melihat. Aduh, ini benar-benar berat. Aku merasa hampir jatuh.
BRUK!
“Hey! Apa yang kau lakukan?”
Gawat. Aku menabrak seseorang. Tubuhku jatuh tersungkur. Sakit sekali. Aku harus minta maaf pada orang itu. Aku mengangkat kepalaku. Seorang pria bertubuh tinggi tegap, pakaiannya rapi sekali, ia memakai coat berwarna cokelat yang dipadukan dengan celana yang berwarna senada. Sepertinya orang kaya.
“Tuan, maafkan sa...,”
“Presdir!”
Apa? Aku menoleh ke arah paman yang tadi menyambutku. Apa kata paman tadi? Presdir? Jadi, aku menabrak presdir Keizo? Gawat. Ini benar-benar gawat.
“Anda tidak apa-apa, presdir?”
“Ya, aku tidak apa-apa, hey, kau!”
Aku menatap presdir dengan masih terduduk di lantai. Aku harus cepat berdiri, tapi badanku sakit sekali. Aku harus memaksanya berdiri.
“Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!”
“Ah, iya, baik,”
Aku memaksa tubuhku berdiri tegap. Barang-barang yang kubawa di dalam kardus tadi, jatuh berhamburan. Hari pertama yang buruk. Aku pasti akan dimarahinya.
“Apa kau tidak dapat bekerja, hah!”
Ah, dugaanku tepat. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
“Ma-maaf, saya benar-benar minta maaf,”
“Kau pikir dengan minta maaf masalahnya akan selesai?”
Hah? Memangnya apa yang terjadi dengannya? Memangnya aku melukainnya? Bukankah aku yang terjatuh? Dia bahkan tidak terluka sedikitpun.
“Apa aku melukai presdir?”
“Bukan itu! Bagaimana kalau barang yang kau bawa tadi itu rusak? Apa kau mau ganti rugi?”
“Ma-maaf, saya yakin barang itu tidak rusak,”
Aku segera merapikan barang-barang yang berserakan tadi. Aku segera menatanya kebali ke dalam kardus. Mana mungkin aku bisa ganti rugi, hari ini bahkan hari pertamaku bekerja. Ini benar-benar buruk. Aku melihat presdir sekilas, ia tengah berbicara dengan paman yang tadi, mungkin membicarakanku. Aduh, prasangkaku buruk.
“Hey, kau!”
“Ah, iya,”
Aku menoleh ke arah presdir, yang tadi memanggilku. Aduh, sekarang apalagi?
“Apa kau pegawai baru?”
“Iya, saya baru bekerja hari ini,”
“Apa benar ini berkas-berkasmu?”
“Iya, itu milik saya,”
Sekarang, prasangku benar-benar buruk.
“Kau diterima.”
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Setelah aku melakukan kesalahan tadi, aku benar-benar diterima bekerja disini? Aku harus memastikannya lagi.
“Aku diterima?”
“Ya, kau bisa bekerja disini, ah, bekerjalah dengan baik, jangan sampai hal tadi terulang lagi, kalau hal itu terrulang lagi, aku tidak akan segan-segan memecatmu, kau mengerti?”
“Baik! Saya akan bekerja dengan baik, terima kasih banyak presdir..,”
“Atsushi, Atsushi Keizo,”
“Apa?”
“Itu namaku, kau panggil aku presdir Keizo, Kau mengerti?”
“Baik, presdir Keizo,”
“Kau, Sakura Hana, benar?”
“Iya,”
“Bagus, bekerjalah dengan baik”
“Baik! Sekali lagi terima kasih banyak, presdir Keizo,”
Presdir mengangguk padaku dan ia tersenyum. Kukira dia orang yang sombong, ternyata ia cukup ramah, dan kalau diperhatikan wajahnya cukup tampan tidak kalah tampan dengan kakak, tapi menurutku masih lebih tampan kakak.
Hari sudah sore, akhirnya pekerjaanku selesai juga. Aku harus cepat pulang dan menyiapkan makan malam untuk kakak, aku juga harus merapikan rumah terlebih dahulu. Aku harus pamit dengan paman dan pegawai lainnya.
“Paman, aku pulang dulu,”
“Ya, hari ini kau sudah bekerja keras, presdir pasti sangat menyukai pekerjaanmu, hati-hatilah di jalan”
“Baik, terima kasih banyak, paman,”
Paman tersenyum kepadaku. Setelah berbelanja bahan-bahan untuk makan malam, aku bergegas pulang. Semoga saja kakak belum pulang. Aku akan menyiapkan makan malam spesial untuk kakak. Aku menatap matahari yang terbenam. Cantik, hari ini aku sudah berjuang keras. Hari pertamaku bekerja cukup sukses. Ini hari keberuntunganku. Semoga besokpun akan menyenangkan. Aku mengepalkan tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Yeah! Aku datang, Tokyo!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar