Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

IX. Mistake (Tokio’s Feeling)
Aku mengaduk-aduk kopiku, tak bersemangat. Sejak tadi pagi, aku sering sekali menghela nafas, rasanya apa yang terjadi akhir-akhir ini membuatku sulit bernapas. Kemarin malam Sakura tidak pulang, tadi pagi, ia juga belum terlihat di rumah. Aku sudah melakukan kesalahan, aku melukainya lebih dalam dari sebelumnya.
Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan hal itu, tapi entah mengapa kata-kat itu keluarr tanpa sadar keluar dari mulutku. Saat itu aku hanya ingin membuatnya menjauh dariku, aku tidak ingin mencelakainya dua kali. Rasa bersalahku terlalu besar padanya hingga aku tak ingin ia terluka lagi olehku, tapi nyatanya aku malah semakin melukainya.
Aku tidak dapat mengetakan hal yang sebenarnya dan malah terus-menerus menipunya. Aku selalu merasa menjadi orang yang benar-benar jahat. Menipunya dan menipu diriku sendiri selama bertahun-tahun. Diriku dengan dinginnya mengacuhkannya begitu saja, tidak perduli dengan semua perasaannya. Aku seperti tidak punya hati. Aku menyadari itu, tapi terus saja aku lakukan, dan semakin lama aku menipunya aku merasa semakin tersiksa, tapi tak dapat mengubahnya sedikit pun, aku malah terus menyiksa diriku sendiri. Aku benar-benar bodoh.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kazumi yang sekarang duduk di depanku. Aku terdiam sesaat. Kazumi tampak menatapku dengan tanda tanya yang besar. Aku sengaja meneleponnya untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi sekarang aku malah tidak sanggup untuk menceritakan pada Kazumi. Aku takut ia merasa aku hanya memerlukannya jika ada masalah. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Kazumi terlihat semakin heran.
“Hey, Tokio! Katakan saja apa yang terjadi antara kau dan Sakura, aku, kan pernah bilang, aku selalu ada jika kau memerlukan bantuanku, katakan saja, aku tidak akan berpikir macam-macam,”
Aku tersenyum setulus mungkin, tapi aku yakin pandanganku terlihat sendu saat ini. Kazumi masih terlihat menungguku untuk bicara. Aku menghela nafas, mengatur emosiku.
“Sakura menyatakan perasaannya padaku,”
“Lalu apa masalahnya? Bukankah itu bagus, berarti kau dan Sakura mempunyai perasaan yang sama, kan?”
“Aku menolaknya,”
Kazumi terdiam sesaat, wajahnya tampak sangat terkejut. Aku sudah menduga reaksinya akan seperti itu, karena aku sendiri pun sempat terkejut dengan apa yang kulakukan pada Sakura.
“Kenapa kau menolaknya? Bukankah kau juga menyukai Sakura sejak dulu, apa yang kau pikirkan,”
“Aku tidak ingin melukainya untuk kedua kali, aku takut akan mencelakainya lagi, aku takut apa yang terjadi dulu terulang lagi, aku benar-benar takut jika ia mengenaliku,”
“Aku tidak mengerti maksudmu, mengapa kau takut melukainya, bukankah menolaknya sama saja dengan melukainya, apa yang kau takutkan? Kenapa kau tidak mau ia mengenalimu? Kau harus bersikap tegas, Tokio,”
Aku kembali menghela nafas, sebenarnya aku juga ingin bersikap tegas, tapi inilah yang akhirnya terjadi. Aku menatap ragu Kazumi, ia tidak tahu inti masalahku dengan Sakura yang sebenarnya dan itu lebih berat dari yang ia pikirkan.
“Aku pernah mencelakainya hingga ia hilang ingatan, ia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya lagi sejak saat itu, tidak ada yang memberitahunya tentang keberadaan orang tuanya, yang ia tahu, ia hidup bersama neneknya sejak kecil, dan sekarang neneknya pergi meniggalkannya, bukankah itu sama saja aku menghancurkan separuh hidupnya? Apa menurutmu aku masih pantas menyatakan perasaanku padanya atau menerima perasaannya dengan senang hati? Aku tidak dapat melakukan itu, Kazumi,”
Kazumi terllihat sangat terkejut dengan penjelasanku. Ia pasti tidak mengira masalahnya sebesar itu. Aku menatapnya pasrah dan sendu. Mengingat kejadian itu membuat dadaku terasa sakit sekali. Ekspresi ketakutan Sakura terbayang jelas di benakku. Rasanya aku jadi sulit bernapas. Menyedihkan. Aku bahkan tak berbuat apa-apa saat hal itu terjadi.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela dan menghela nafas yang terasa sangat berat. Aku takut Kazumi menyadari bahwa aku sedang menahan tangis. Memalukan. Aku tidak akan menangis di depan Kazumi atau di depan siapapun juga, kecuali ibu.
“Kapan hal itu terjadi? Kapan kau mencelakainya?”
Aku menatap Kazumi lekat-lekat. Wajah terkejutnya, entah kapan menghilang. Kini, wajahnya berubah menjdi ekspresi penasaran. Semoga saja ia benar-benar dapat membantuku menyelesaikan ini, atau paling tidak menenangkan diriku untuk sementara waktu.
“Waktu umurku 11 tahun, saat aku mengajaknya ke sebuah bukit di belakang sekolah, dulu kami satu sekolah,”
“Berarti kau dan Sakura sudah akrab sejak kecil?
Aku menganggukkan kepalaku tanpa mengatakan apapun. Kazumi tampak menggelengkan kepalanya seperti tak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Ayolah, Tokio, itu sudah 14 tahun yang lalu, dan aku pikir jika kau dan dia dapat bertemu untuk kedua kalinya dan kembali dekat, itu berarti kau dan Sakura benar-benar berjodoh, kenapa kau tidak melupakan hal itu, dan melihat Sakura yang sekarang, bukan yang dulu,”
“Aku tidak dapat melakukan itu, walau kami berjodoh sekalipun, aku tidak akan dapat melupakan kejadian itu, dan bagaimana jika ia mengingat apa yang pernah kulakukan padanya, apa kau pikir dia akan memaafkanku begitu saja? Apa kau pikir dia tetap akan menyukaiku?”
Kazumi menghela nafasnya. Ia menatapku dengan pandangan merendahkan. Aku menundukkan kepalaku, menolak menatap Kazumi yang seperti itu. Aku tahu ia pasti berpikir aku ini pria bodoh yang terkurung dalam masa lalunya dan tidak brusaha untuk keluar. Tidak apa jika ia menganggapku seperti itu, karena akupun berpikir seperti itu.
“Tokio, kau harus menjelaskan semuanya pada Sakura,”
Aku sangat terkejut mendengar usul Kazumi. Bagaimana caraku menjelaskannya pada Sakura? Kau tidak mungkin menjelaskannya. Aku tidak siap dan tidak sanggup. Itu terlalu sulit, itu sama saja aku membuka lukanya yang telah tertutup rapat.
“Aku tidak dapat melakukan itu, aku tidak akan sanggup melakukan itu,”
“Kenapa? Aku tahu itu sulit untukmu dan juga Sakura, tapi jika kau membiarkannya seperti ini, semakin lama cinta Sakura padamu akan menipis,”
Memang itu yang kuinginkan. Aku ingin menghapus perasaan Sakura padaku, begitupun sebaliknya. Lebih baik kami saling membenci atau menjauh hingga tak saling mengenal. Ya, menurutku itulah yang lebih baik, tapi aku juga tidak dapat membiarkannya menjauh, aku tidak dapat menghapus perasaanku pada Sakura, walaupun seandainya ia sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku.
Kazumi melihatku yang terlihat ragu. Sepertinya, ia tahu apa yang ada di benakku dan ia juga tahu perasaanku yang tidak pasti ini. Aku terus mengalihkan pandanganku darinya. Ia menghela nafas.
“Sepertinya kau tidak mengerti perasaanmu sendiri, kan hatimu pasti semakin tidak baik, tenangkan dulu dirimu, baru kau pikirkan lagi sebesar apa perasaanmu pada Sakura, aku temani kau pulang,”
Kazumi bangkit dari tempat duduknya dan memanggil pelayan, ia membayar tagihan kami. Ia lalu menatapku dan memberi isyarat untuk segera pergi. Terpaksa, aku mengikuti sarannya untuk pulang dan menenangkan diri.
...
“Semoga kau cepat menyadari perasaanmu itu,”
Aku tertawa mendengar ucapan Kazumi, ia tersenyum tulus, tak perduli dengan tawaku. Aku selalu ditolong olehnya. Apapu masalahnya, dia benar-benar selalu ada untuk menolongku. Gadis yang sangat baik. Tidak perduli aku telah melukainya berkali-kali, ia tetap bersikap baik padaku. Aku menggapai tangan Kazumi dan menggenggamnya erat, Kazumi melihatnya dengan wajah yang memerah, ia tetap tersenyum manis.
“Terima kasih sudah menemaniku pulag, tapi bagaimana kau pulang?”
“Haha- kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku dapat pulang sendiri, oh, ya , mau kuberitahu sesuatu?”
“Apa? Katakan saja selama itu tidak menyinggungku,”
Aku menatap Kazumi dengan tatapan mengancam, ia tertawa melihtku da, menepuk pundakku dengan tangan kirinya, tangan kanannya masih kugenggam erat.
“Kau tahu, kesalahan terbesar adalah ketika cinta itu menipis, pikirkan apa yang ingin kau lakukan, kau tidak mau membuat kesalahan, kan?”
Aku terpaku takjub mendengarkan Kazumi, ia tersenyum manis sambil mengatakan itu semua. Rasanya hatiku menjadi sedikit lebih tenang. Tanpa sadar aku menarinya dan memeluknya erat. Aku yakin Kazumi pasti sangat terkejut, tapi aku tidak perduli, aku tetap memeluknya semakin erat.
“Maaf aku mengganggu,”
Aku mengalihkan pandanganku denagan terkejut. Kazumi segera melepaskan pelukanku. Sakura berdiri mematung di depan kami. Kami merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan kejahatn besar. Mata Sakura terlihat berkaca-kaca. Aku terdiam terpaku menatapnya sesaat lalu mengalihkan pandanganku. Saat ini, aku merasa menjadi kriminal. Aku tidak sanggup menatap langsung ke arah sakura. Aku jadi merasa serba salah. Kazumi juga tampak bersikap seperti itu. Ia jadi salah tingkah dan terlihat gugup.
“Akhirnya aku tahu alasan mengapa kakak menolakku,”
Aku tetap terdiam dan tidak menjelaskan apapun, aku tidak perduli apapun yang akan Sakura katakan. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya. Aku memang bodoh. Kazumi menatapku bingung, ia terlihat menuntutku untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Sakura, tapi aku tetap tutup mulut dan mengalihkan pandanganku dari Sakura. Kazumi menghela nafas, tak percaya padaku. Ia kembali menatap Sakura dan terlihat berusaha mengatur apa yang ingin ia katakan.
“Sakura ini tidak seperti yang kau lihat, ah, tidak, dia memelukku bukan karena itu, ini tidak seperti yang kau pikirkan, percayalah, aku dapat menjelaskannya,”
Sakura menghapus air matanya yang sempat mengalir, aku memperhatikannya sekilas dengan rasa bersalah, tapi aku tetap tidak melakukan apapun. Rasanya aku tampak seperti seorang pecundang, aku benar-benar bodoh. Sakura kembali menatapku dan kazumi. Aku hampir tidak percaya mendapatkannya tersenyum kepada kami sambil menahan tangis.
“Tidak apa, kak Kazumi tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku hanya ingin memberitahu pada kakak, mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen, aku sudah memindahkan sebagian barangku, sisanya aku ambil lain kali, terima kasih sudah mengizinkanku menumpang selama ini, sampai jumpa,”
Sakura membalikkan badannya setelah memberi salam padaku. Sekilas, aku melihat tubuhnya tampak bergetar, menahan tangis. Kazumi menarik-narik bajuku dan memberi isyarat agar aku mengejar Sakura, tapi aku mengacuhkannya dan tetap terdiam. Kazumi menatapku seakan tidak percaya lalu terlihat ingin mengejar Sakura. Aku mengulurkan tanganku untuk mencegahnya, Kazumi tampak terkejut.
“Tidak perlu, kau tidak perlu mengejarnya, biarkan saja,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar