Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

XI. Don’t Touch My Girl (Tokio’s Feeling)
Tanpa kusadari, aku mencengkram stang motorku. Aku benar-benar kesal melihat pemandangan di depanku. Sial. Jangan sentuh Sakura, dia milikku. Rasanya amarahku meletup-letup dan naik sampai kepala. Aku terus melihatnya dengan mata penuh amarah, tapi aku tetap tidak beranjak dari tempatku.
Benar-benar menyebalkan. Padahal, aku berniat untuk mengunjungi apartemen Sakura yang baru untuk menanyakan keadaannya dan meminta maaf, tapi aku malah melihat hal yang paling tidak ingin kulihat. Hal yang sangat kutakutkan akan terjadi dan yang paling kubenci.
Keizo masih memeluk Sakura dengan erat. Argh, kenapa saat ini aku sama sekali tidak dapat melakukan apa pun? Mengesalkan. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh dan merasa sangat kesal, tapi tak berbuat apa-apa. Aku seperti pria malang yang menyedihkan, benar-benar mengesalkan.
Aku menghela nafas, dan berusaha berpikir jernih, menenangkan marahku. Seharusnya, aku tidak perlu sekesal ini. Aku sudah menolak Sakura, dan menginginkannya menjauh dariku, jadi seharusnya aku senang melihatnya dengan pria lain, tapi perasaanku saat ini tidak seperti itu, aneh sekali. Rasanya aku benar-benar kesal sampai ingin memukul pria yang memeluk Sakura. Aku ingin memukulnya dan menjauhkannya dari Sakura sejauh-jauhnya, tapi aku tidak melakukan itu dan tidak akan dapat melakukannya
Nafasku rasanya menggebu-gebu, hatiku rasanya panas sekali, tapi aku hanya diam tak bergerak. Sekarang, aku tidak punya hak untuk marah. Aku sudah melukai Sakura, dan itu berarti Sakura sudah tidak ada hubungan apa pun denganku. Urusannya bukanlah urusannya. Seharusnya, aku tidak mencampuri apa pun yang ia lakukan, aku tidak ada kaitannya.
Aku menutup mataku dan menghirup udara sampai aku merasa benar-benar tenang. Aku mengalihkan pandanganku dari mereka, beruntung, mereka tidak menyadari kehadiranku, itu lebih baik. Aku harus segera pergi dari sini dan menenangkan diriku, melupakan apa yang kulihat, seakan-akan aku memang tidak pernah melihatnnya. Aku segera menyalakan mesin motor dan mengendarainya secepat mungkin.
...
“Bukankah itu yang kau inginkan?”
Kazumi berbicara tanpa melihat ke arahku, ia seperti tidak perduli dengan ceritaku tentang apa yang kulihat semalam di depan apartemen Sakura. Aku menghela nafas. Aku sedikit kesal dengan sikapnya itu, tapi ucapannya benar, jadi seharusnya aku kesal dengan diriku sendiri. Aku terdiam sesaat, memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
“Ya, aku memang menginginkan itu, tapi entah mengapa rasanya aku kesal sekali,”
Kazumi mengalihkan pandangannya ke arahku, tatapannya seperti menyalahkanku. Aku hanya terdiam dan manghindari tatapannya itu. Kazumi seperti sedang mengintrogasiku layaknya buronan. Aku menghela nafas, dan tetap tidak berani menatap Kazumi.
“Kau tidak punya hk untuk keesal atau marah, kau tahu itu, kan?”
“Ya, aku sangat mengerti itu, tapi, Kazumi, aku...”
“Seharusnya kau mengatakan ini pada Sakura, bukan padaku,”
Aku tercekat mendengar ide Kazumi. Itu adalah ide tergila. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa aku kesal melihatnya dipeluk pria lain, sedangkan aku sudah menolak perasaannya? Aku memandang Kazumi dengan ragu, tapi ia tetap tidak mengubah tatapan menyalahkannya itu. Aku merasa serba salah.
“Kazumi, kau tahu, kan, aku tidak...”
“Tidak mungkin melakukannya? Jika kau belum mencobanya, kau tidak akan pernah tahu, Tokio, jadi kusarankan kau untuk mencobanya,”
Aku kembali menghela nafas, Kazumi tampak seperti menantangku. Benar-benar tantangan yang sulit. Jika aku melakukan itu, apakah ada harapan Sakura akan memaafkanku? Lalu jika dia memang memaafkanku, apa rasa bersalahku ini akan dengan mudah menghilang? Lagi-lagi aku menatap Kazumi dengan ragu. Kazumi tidak merubah tatapan menantangnya padaku. Aku hanya tertawa karena menyadari bahwa ide itu gila. Kazumi terlihat seperti merendahkanku. Mungkin, ia berpikir aku adalah pria paling pengecut di dunia ini.
“ Kau tetap tidak mau mencobanya?”
“Kazumi, bagaimana jik ia memaafkanku? Bagaimana caranya aku menghilangkan rasa bersalahku ini? Aku tidak mungkin melakukan itu, memikirkannya saja sudah membuatku gila, aku tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi setelah itu, kau mengerti itu, kan?”
“Lalu, kau akan selalu bersembunyi dari resiko itu? Kau tidak akan mendapatkan apa pun jika terus menghindar, percayalah, itu hanya akan menyakiti dirimu juga Sakura,”
Aku terpaku dan terdiam,mencoba mencerna ucapan Kazumi dengan baik dan jelas. Dia benar, seratus persen benar. Aku mencintai sakura sebesar apapun tidak akan pernah tersampaikan padanya, malah sebaliknya, dengan cinta itulah aku melukai dirinya dan diriku sendiri. Terus berulang seperti itu. Sejak aku bertemu dengan Sakura pertama kali aku sudah melakukan itu, menyembunyikan perasaanku dan terus mendorongnya menjauh dengan melukainya. Seketika, aku teringat ucapan ibu, itu terus terngiang di telingaku seperti mantra.
“Mengapa kau selalu melukai orang yang kau sayangi?”
Kata-kata itu terus menempel di ingatanku, jawabannya tetap tidak kudapatkan. Aku memegang kepalaku, rasanya semua memori saat aku melukai orang yang kusayangi terulang kembali di depan mataku. Saat ayah tertabrak mobil karena melindungiku yang hampir tertabrak, saat ibu menderita sakit parah karena sangat merindukan ayah hingga tak mau makan, dan saat aku mencelakai Sakura hingga ia hilang ingatan dan tidak pernah lagi bertemu kedua orangtuanya, semuanya dapat kulihat kembali dalam benakku. Tanpa kusadari, air mataku menetes. Aku menatap telapak tanganku, tidak dapat kubayangkan berapa kesalahan yang telah kulakukan jika kau menghitungnya. Seharusnya, diriku ini pantas dikucilkan semua orang, atau mungkin dibunuh saja agar semua kesalahanku dapat hilang seketika. Air mataku mulai mengalir deras, aku menghapusnya dan berusaha tertawa untuk menghentikannya. Kazumi tampak memperhatikanku yang tiba-tiba menangis. Mengesalkan, ini sudah kedua kalinya aku terlihat memalukan di depannya. Paling tidak, kali ini, aku harus segera pergi untuk menghindari pertanyaannya.
“Kazumi, maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang,”
Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan meninggalkan Kazumi yang masih terlihat heran melihat perubahan sikapku. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, tiba-tiba aku mendengarnya memamanggilku, aku segera menoleh ke belakang.
“Tokio, kau harus ingat, jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi, pikirkan baik-baik, kalau kau butuh aku temui aku kapanpun, kau mengerti?”
Aku hanya membalas dengan seulas senyum. Sepertinya, Kazumi jadi sedikit mengkhawatirkanku, tapi aku masih tidak dapat memahami diriku sendiri. Aku kembali berjalan meninggalkan Kazumi dengan rasa berat di dadaku.
...
Lagi-lagi aku harus melihatnya bersama orang yang kusayangi. Sebenarnya, apa yang ia rencanakan. Emosiku seperti dipermainkannya, benar-benar mengesalkan. Saat itu aku melihatnya memeluk Sakura, sekarang, aku melihatnya bercakap-cakap dengan akrab bersama Kazumi. Siapa sebenarnya dia? Apa ia sengaja melakukan ini untuk memancing emosiku? Tanpa sadar, aku mengepalkan kedua tanganku. Darahku naik ke kepala dan rasanya hatiku panas sekali. Kakiku seperti berjalan sendiri ke arahnya dan Kazumi yang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Amarahku benar-benar memuncak. Langkahku semakin lama semakin dekat. Aku yakin mereka pasti menyadari kehadiranku.
Keizo menatapku dengan terkejut, tapi itu sudah terlambat, pukulanku terlanjur mendarat di rahangnya. Kazumi tampak tercekat, tapi aku terlanjur kalap dan terus memukuli keizo tanpa henti. Kazumi mulai panik melihatku yang terus memukuli Keizo walau ia tidak melawan. Keizo hanya berusaha menghindari pukulanku, tapi aku sudah tidak perduli, aku tetap memukulnya tanpa ampun. Aku tidak perduli dia tahu atau tidak, alasan mengapa aku memukulnya. Aku hanya memukulnya terus dngan amarah yang semakin memuncak.
“Hentikan! Tokio, hentikan! Kau ini apa-apaan?!”
Kazumi terus berteriak untuk menghentikanku, tapi aku terus melanjutkannya tanpa memperdulikannya. Orang-orang sekitar kami juga mulai ikut panik. Mereka tampak ingin menghentikanku, tapi tiba-tiba saja, Keizo membalas pukulanku tepat di wajahku. Aku menyentuh bagian yang ia pukul, setetes darah segar menempel di jariku. Aku menatap Keizo dengan murka, tapi ia terlihat heran dengan sikapku.
“Apa alasanmu memukulku tiba-tiba? Jelaskan padaku!”
Aku tersenyum licik padanya. Seharusnya, dia tahu alasannya. Aku tertawa seakan menantangnya. Benar-benar mengesalkan. Amarahku tidak kunjung reda, aku kembali mengepalkan tanganku. Keizo tampak menuntut jawaban dari pertanyaannya.
“Kau itu benar-benar tidak tahu malu, ya? Waktu itu kau memeluk Sakura, lalu sekarang kau dapat dengan tenangnya bercakap-cakap dengan Kazumi, kau itu pria macam apa, hah?”
Bukannya memikirkan apa yang kuucapkan, Keizo malah tertawa keras. Ia terlihat seperti sedang merendahkanku. Aku menatapnya heran sekaligus semakin kesal. Apa-apaan dia, apa maksudnya ia tertawa? Aku berusaha menahan amarahku untuk menunggunya menjelaskan maksud tertawanya.
“Kau memperhatikan Sakura? Bukankah, kau yang menolaknya, apa kau masih punya hak untuk marah jika ia dekat dengan pria lain?”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Aku benar-benar tidak dapat membalas ucapannya itu. ia kembali tertawa. Sepertinya, ia menyadari bahwa aku tidak dapat membalas ucpannya.
“Kau tahu, sedalam apa kau melukai Sakura? Kau pikir dengan memukuliku maka luka Sakura akan menghilang? Jadi, siapa yang sebenarnya tidak tahu malu? Aku atau kau?”
Mata Keizo tampak merendahkanku. Dia tertawa semakin keras, dan terdengar menantangku. Aku masih terpaku untuk mencerna semua ucapan Keizo. Aku merasa kesal, menyadari bahwa semua ucapannya itu benar. Seharusnya, aku tidak mengurusi urusan Sakura lagi, dia bukan milikku, bukan siapa-siapa bagiku, tapi di hatiku yang paling dalam, aku masih menyimpan perasaan padanya.
“Jika kau ingin mencampuri urusan Sakura, pikirkanlah lagi, apa hubunganmu dengan Sakura? Dan bagaimana perasaannya saat ini padamu?”
Kepalan tanganku semakin mengeras, tapi aku tidak sempat memukul Keizo kembali karena ia sudah terlanjur meninggalkanku dan Kazumi yang masih terdiam di tempat kami. Tiba-tiba, Kazumi menggenggam tanganku yang masih mengepal. Mungkin, ia menyadari perasaanku saat ini. Kepalan tanganku lama-lama mengendur. Aku berusaha menenangkan emosiku. Rasanya, aku seperti berada di jalan buntu, tak tahu harus melangkah kemana.
“Dia benar, kau harus memastikan perasaanmu pada Sakura, kau harus menjelaskan semuanya, dan apapun resikonya, kau harus siap menanggungnya, oh, ya, sekedar informasi, aku dan Keizo sudah berteman sejak lima tahun yang lalu, jadi kau tidak perlu curiga dengan hubungan kami, kuharap kali ini kau tidak salah memilih keputusan,”
Setelah mengatakan itu, Kazumi mengambil tasnya dan segera meninggalkanku sendirian. Aku mematung dan mencoba memahami semua ucapan Keizo dan Kazumi. Sepertinya, suatu hari aku akan hancur dengan sendirinya, jika terus tidak mengubah semua keputusanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar