Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

XII. Love and name (Sakura’s Feeling)
Bus yang kutumpangi melaju cukup cepat. Aku harus segera kembali ke toko setelah mengambil barangku yang tertinggal di rumah kakak. Padahal, aku sudah tidak ingin menginjakkan kaki di rumah kakak, tapi liontin yang diberikan nenek tertinggal disana dan aku baru menyadarinya, aku memang ceroboh.
Aku turun tepat di halte dekat rumah kakak, aku hanya cukup berjalan sebentar untuk sampai di rumah kakak. Aku berdiri terpaku ketika samapi di depan rumahnya. Rasanya, sudah sangat lama aku tidak melihatnya sejak aku mengambil pindah. Tidak ada yang berubah dengan rumah ini, masih terawat sama seperti saat aku tinggal disini. Semua kenanganku bersama kakak di rumah ini masih dapat kuingat satu persatu. Aku seperti mengulang semua kenangan itu. Begitu indah, sampai aku merasa ingin menangis. Aku menyeka air mataku yang hampir menetes. Semua kebahagiaanku bersama kakak telah hancur setelah kakak menolakku, tapi kenangan indah saat bersamanya selalu teringat di benakku.
Aku menghela nafas, semoga saja mentalku siap untuk masuk ke rumah ini. Aku melangkah perlahan hingga sampai di depan pintu rumah. Aku kembali menghela nafas untuk menenangkan diriku, dan menekan bel, semoga saja kakak tidak ada di rumah.
Aku menunggu beberapa saat, tapi tidak ada jawaban, apa mungkin kakak memang tidak ada. Aku mencoba membunyikan bel sekali lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Aku memutar knop pintu, dan sedikit terkejut, pintunya tidak terkunci, tapi kenapa tidak ada jawaban.
“Permisi,”
Aku berusaha melihat ke dalam, tapi tidak nampak ada orang disini. Lebih baik aku masuk saja, mengambil liotinku lalu segera pergi sebelum kakak datang. Aku melangkah masuk ke kamar yang dulu aku tempati. Kamar ini sedikit berubah, mungkin kakak merubah tata letak perabotnya. Sebuah meja terletak di sudut kamar, meja itu tempatku menaruh barang-barang berharga di lacinnya, semoga saja kakak tidak memindahkan isi lacinya.
Aku membuka laci meja itu dan menemukan liotin yang kucari, aku tersenyum senang, untunglah kakak tidak memindahkannya, aku berniat menutup laci itu kembali, tapi aku melihat sebuah kartu yang menarik perhatianku. Aku mengambil kartu itu, aku menduga itu adalah kartu tanda pengenal, tapi milik siapa? Aku memperhatikan nama yang tertera di kartu itu. Tokio Hiroshi, nama yang tidak asing.
“Aku Sakura, kamu siapa?”
“Tokio, Tokio Hiroshi, salam kenal,”
Deg. Apa itu tadi? Bayangan apa itu? Itu seperti sosok anak laki-laki yang kulihat di bukit waktu itu. Siapa dia? Apakah dia Tokio Hiroshi? Apa hubungannya dengan kakak? Kepalaku terasa pusing. Aku mencoba megingat sesuatu tentang Tokio Hiroshi, sepertinya aku pernah mengenalnya. Anak laki-laki itu, dia yang kupanggil To-chan, bukan? Siapa? Apa hubungannya denganku?
Tiba-tiba aku merasa seperti berada di bukit tempatku melihat bayangan anak laki-laki itu. Seperti bayanganku waktu itu, diriku waktu kecil sedang bercakap-cakap dengan anak laki-laki itu. Aku tampak sangat bahagia tapi anak laki-laki itu bersikap tenang-tenang saja.
“Mmm..To-chan, aku ingin mengatakan sesuatu, apa boleh?”
“Katakan saja, tapi jangan panggil aku seperti itu, aku tidak mau,”
“Kenapa? Bukankah To-chan terkesan manis?”
“Aku tidak manis, jangan panggil begitu,”
“Tapi, kan, To-chan..,”
“Hey! Sudahlah cepat, apa yang mau kau katakan?”
Diriku waktu kecil terlihat gugup, apa yang akan dia akan katakan? Jantungku terasa berdebar-debar, ada apa denganku? Kenapa prasangku jadi buruk?
“Tokio, aku..,”
“Hey, cepatlah!”
“Tokio, aku menyukaimu,”
Apa? Apa yang kukatakan? Kenapa aku bisa mengatakan itu pada anak laki-laki itu? Apa hubungannya denganku? Siapa Tokio bagiku?
Tokio tampak terkejut mendengar ucapanku. Ia tampak memikirkan kata-kata untuk menjawabnya. Kenapa diriku waktu kecil dapat seberani itu mengatakan kata suka padanya?
“Kau ini bicara apa? Kau tidak tahu, ya? Aku itu membencimu,”
Aku tercekat mendengar jawaban Tokio, begitupun aku kecil, ia tampak terkejut dan terlihat pucat. Dirinya terlihat limbung. Perasaan ini sama seperti saat aku ditolak oleh kakak. Apa diriku waktu kecil juga merasa seperti itu? Apa yang akan terjadi setelah ini?
“Ayo pulang, jangan memmikirkan macam-macam,”
Aku kecil terlihat terhuyung-huyung, mungkin ia sangat terluka dengan kata-kata Tokio, dia tampak sangat pucat. Tiba-tiba tanah tempatnya berpijak longsor, ia tampak berteriak dan menggapai tepi bukit. Tokio mendengar teriakannya dan segera pergi ke arahnya. Ia tampak berusaha menolong aku kecil. Ia mengulurkan tangannya. Jantungku berdetak cepat sekali. Apa yang akan terjadi? Apa aku akan mati? Tapi bukankah sekarang aku masih hidup?
“Tokio.., tolong aku,”
“Tenanglah, jangan bergerak-gerak, ayo gapai tanganku,”
“Aku tidak bisa, Tokio,”
Aku kecil terdengar terisak-isak, wajahnya tampak sangat ketakutan. Tokio terus terlihat berusaha menolongku.
“Kau bisa, percayalah padaku,”
“Bukankah Tokio membenciku? Bagaimana aku bisa percaya Tokio?”
Aku kecil tampak sedikit ragu. Pegangannnya mengendur, ia kembali berteriak.
“Sudah jangan banyak bicara! Cepat raih tanganku,”
Aku kecil tampak berusaha meraih tangan Tokio. Ayo, cepatlah, kau bisa Sakura. Jantungku berdegup semakin cepat. Aku kecil menggapai tangan Tokio tapi kemudian terlepas, ia terjatuh dan berteriak memanggil Tokio. Aku menutup mataku. Apa ini? Apa yang kulihat ini? Aku jatuh? Lalu kenapa aku ada disini? Kenapa aku masih hidup? Kenapa aku tidak mengingat aku pernah jatuh ke jurang?
Tidak ingat? Aku hilang ingatan setelah itu, benarkah begitu? Aku memegang kepalaku, sakit. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berputar didalam kepalaku. Aku harus segera pergi dari sini dan melupakan bayangan tadi. Aku terhuyung-huyung. Aku jatuh tersungkur. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari selipan kartu pengenal itu. Foto. Ini fotoku waktu kecil dan yang disebelahnya wajah yang tidak asing. Itu, anak laki-laki itu, anak kecil disampingku itu Tokio. Aku membalik foto itu, ada tulisan dibelakangnya. Hiro dan Sakura. Hiro? Bukankah itu kakak? Aku semakin tidak mengerti. Apa kakak menyembunyikan sesuatu padaku?
Aku harus segera pergi dari sini. Aku mengambil kartu pengenal itu, mungkin aku dapat menyelidiki semua keanehan ini. Aku segera menuju pintu. Saat aku membuka pintu, kakak berdiri tepat di hadapanku, aku sangat terkejut, begitu pun dengannya. Kakak menatapku heran, aku segera berlalu melewati kakak, berusaha idak memperdulikannya, tapi kakak berhasil menggapai tanganku dan menggenngamnya. Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh ke arah kakak. Kepalaku masih terasa sangat pusing.
“Sakura, boleh kita bicara sebentar?”
“Maaf, kak, aku kesini hanya untuk mengambil barangku yang tertinggal, aku harus pergi sekarang, lain kali saja kakak bicara,”
Aku melepaskan genggaman kakak, dan segera pergi secepat mungkin. Kakak terdengar memanggil-manggilku, tapi aku tetap berjalan tanpa memperdulikannya. Aku harus mencaritahu apa yang sebenarnya disembunyikan kakak. Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku kecil dan apa hubungannya dengan kakak. Aku harus cari tahu tentang Tokio Hiroshi.
...
Aku berdiri di depan gedung tinggi, di atasnya tertulis ‘Miura Cooperation’, aku mencocokkannya dengan kartu tanda pengenal yang kutemukan di rumah kakak, sama. Aku terkejut setengah mati. Ini kantor tempat kakak bekerja. Apa Tokio Hiroshi teman kakak? Ataukah ia adalah kakak? Jantungku berdegup kencang. Sebenarnya apa yang kakak ketahui tentangku? Apapun itu, aku harus memastikan siapa sebenarnya orang bernama Tokio Hiroshi ini.
Aku masuk ke dalam gedung dan mendatangi bagian informasi kantor ini. Aku harap dugaanku tentang kakak salah. Aku harap ia tak ada hubungannya dengan Tokio Hiroshi. Petugas informasi itu tersenyum padaku. Aku masih terlihat tidak percaya degan semua ini sehingga terpaku di tempatku tanpa mengatakan apapun.
“Ada yang dapat saya bantu?”
“Ah, itu, saya ingin bertemu dengan Tokio Hiroshi, apa dia bekerja disini?”
“Benar, tuan Tokio bekerja di bagian advertising perusahaan ini, apa nona ada perlu dengannya, apa perlu saya menghubunginya?”
“Ah, tidah perlu, tunjukkan saja ruangannya, aku ingin memberikan surprise untuknya,”
Aku sedikit berbohong kepada petugas informasi itu. Dia tampak mengerti dan tersenyum, aku membalas senyumannya. Dia bersedia mengantarkanku ke ruangan Tokio Hiroshi. Jantungku bergegup semakin cepat. Aku sangat penasaran terhadap orang bernama Tokio Hiroshi itu, siapa dia sebenarnya.
Petugas informasi itu berhenti di depan sebuah ruangan. Aku hampir tidak percaya ia berhenti di depan ruangan itu. Aku dapat melihat orang didalam ruangan itu dari balik kaca. Aku benar-benar tidak percaya. Dia. Orang yang berada didalam ruangan itu adalah kakak. Kakak. Kenapa? Aku tidak percaya semua ini. Aku melihat nama yang tertera di pintu ruangan itu. Tokio Hiroshi. Tidak mungkin. Tokio hiroshi adalah kakak? Apa ini benar? Tidak mungkin.
“Nona?”
“Ah, ya”
“Ini ruangan tuan Tokio, seprtinya dia ada didalam, saya permisi,”
“Baik, terima kasih banyak,”
Petugas informasi itu meninggalkanku yang masih terpaku di depan ruangan menatap kakak yang ada di dalam ruangan itu. Kakak tampak sedang mengerjakan pekerjaannya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kakak adalah Tokio Hiroshi. Apa meksudnya? Apa yang kakak ketahui tentangku? Apa yang sebenarnya terjadi waktu aku kecil?
Aku terdiam memperhatikan kakak, tiba-tiba saja kakak mengalihkan pandangannya ke arahku, ia tampak terkejut, ia bngkit dari tempat duduknya dan segera berlari ke arah pintu dan membukanya. Aku seperti tidak sadarkan diri dan tetap berdiri di tempatku dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
“Sakura, kenapa kau ada disini?”
“Apa yang kakak sembunyikan dariku? Siapa kakak sebenarnya?”
Kakak tampak sangat terkejut mendengar pertanyaanku, ia terlihat salah tingkah. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Aku tidak percaya semua ini hingga rasanya dadaku terasa sesak sekali. Apa yang kakak sembunyikan dariku? Kenapa ia menyembunyikannya? Kakak melihat papan nama di pintu yang tertera namanya. Ia tidak berani menatapku. Aku jadi malas mengatakan apapun. Aku membalikkan badanku, lebih baik aku pergi tanpa mengatakan apapun pada kakak, mungkin lebih baik aku tidak tahu apapun tentang masa laluku. Aku menghela nafas berat dan berusaha berjalan cepat.
“Sakura, tunggu, aku akan jelaskan semuanya,”
Aku terkejut, aku tidak tahu kalau kakak mengejarku hingga keluar gedung, tapi aku berusaha tidak memperdulikannya dan terus berjalan. Kakak terus memanggilku. Aku berjalan semakin cepat. Aku harus cepat menghilang dari hadapan kakak. Aku menyebrang jalan dengan cepat agar tak terkejar kakak.
“Sakura, awas!”
Aku mendengar suara klakson mobil, terdengar sangat dekat. Aku menoleh ke sebelah kiri, sebuah mobil melaju cepat ke arahku. Aku terpaku di tempatku, tak dapat bergerak, entah apa yang ada di pikiranku. Mobil itu semakin dekat denganku, bukannya menghidar, aku malah berteriak sekerasnya-kerasnya, lututku rasanya lemas sekali, aku sama sekali tidak dapat bergerak. Kakak terus memanggil-manggilku, aku tidak begitu memperhatikannya. Aku menutup mataku.
“Kyaaaaaaa,”
Brak!
Jantungku berdegup cepat sekali. Tunggu. Jantungku masih berdegup? Lalu suara apa tadi? Bukankah aku tertabrak mobil? Kenapa aku tidak merasa sakit?
Aku membuka mataku dalam keadaan duduk tersungkur. Aku menatap ke bawah, aku merasa ada orang di pangkuanku. Kakak. Kakak terbaring berlumuran darah. Aku panik luar biasa. Aku menyentuh kepala kakak yang teluka parah. Bagaimana ini? Apa yang haus aku lakukan?
Orang-orang mulai datang berkumpul. Aku benar-benar panik. Tiba-tiba aku merasa tanganku digenggam kakak. Aku menggenggam tangan kakak erat, kakak masih bernafas. Syukurlah.
“Kakak, bertahanlah,”
Aku meminta tolong seseorang untuk memanggil ambulans. Semua orang yang mengerubungi kami tampak panik. Nafas kakak mulai tersengal-sengal. Tanpa sadar, aku mulai meneteskan air mata. Kakak menyeka air mataku dengan seluruh tenaganya yang tersisa.
“Sakura, maafkan aku, aku tidak mau kau membenciku, aku sangat merasa bersalah padamu, aku ingin mengatakan semuanya padamu sebelum kau mengetahuinya, tapi aku takut, maaf, maaf aku telah menghancurkan hidupmu, aku telah membuatmu terjatuh ke jurang hingga kau hilang ingatan dan aku menyembunyikannya darimu, maaf, a-aku min-minta ma-af, maafkan a-aku, a-aku mencintaimu,”
“Sudahlah, kak, jangan bicara lagi, kakak sudah kehabisan banyak darah,”
Kakak tersenyum menatapku, senyuman kakak yang paling indah yang pernah kulihat. Air mataku semakin deras mengalir. Kakak tersenyum melihatku menangis, tiba-tiba genggaman kakak mengendur, matanya mulai meredup dan akhirnya tertutup. Ia tak sadarkan diri. Aku semakin panik dan terus memanggil-manggilnya.
“Kakak, ayolah, kak, bangun,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar