Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

I. Epilog (Tokio’s Feeling)
“Mengapa kau terus-menerus melukai orang yang kau sayangi?”
Suara ibu, terdengar sangat jelas. Aku mencoba membuka mataku. Sekelilingku terasa asing, aku seperti berada di dunia lain. Apa aku sudah mati? Aku mencari-cari seseorang untuk menjelaskan semua yang terjadi padaku, tapi aku tidak menemukan siapapun.
“Hiro, kau akan baik-baik saja,”
Aku mengerjapkan mataku. Apa aku tidak salah liat? Ayah. Tiba-tiba aku melihat sosok ayah, jelas sekali, apa ini mimpi? Apa yang terjadi?
“Ayah, apa aku sudah mati?”
“Maumu bagaimana? Kau masih ingin hidup, kan? Bukankah ada hal yang harus kau selesaikan?”
Ayah tersenyum tulus. Aku berusaha mengingat hal itu. Sakura, ada hal yang harus kusampaikan pada Sakura, aku harus menyampaikannya sejelas-jelasnya. Aku menatap ayah penuh tanda tanya. Rasa bersalahku padanya bangkit kembali. Aku menatapnya sendu.
“Tidak perlu kau pikirkan, kau harus hidup, ada seorang gadis yang terus menunggumu,”
“Ayah, kenapa aku selalu melukai orang yang kusayangi? Aku melukai ayah, aku juga melukai ibu, kini, aku melukai Sakura, kenapa aku tidak dapat mengubah diriku yang seperti ini? Apa semua orang yang kulukai dapat memaafkanku?”
“Tidak ada yang kau lukai, semuanya hanyalah rasa bersalahmu saja, kau hanya menyalahkan dirimu sendiri karena kau menyanyangi mereka, kau menyayangi semua orang yang kau anggap telah kau lukai,”
Aku terpaku mendengar perkataan ayah. Aku tersenyum tapi sekaligus menangis. Semua yang kulakukan ini adalah karena aku menyayangi mereka. Perasaan ingin melindungi berubah menjadi sikap melukai. Aku berusaha menjauhkan semua orang yang kusayangi dari diriku sendiri karena aku ingin melindunginya dari diriku, dari berbagai hal buruk yang mungkin menimpaku. Aku melakukan itu semua karena aku menyayangi mereka, hanya saja aku salah dalam mengambil sikap. Aku benar-benar bodoh.
Tanpa sadar, aku meneteskan air mata, semakin lama semakin deras mengalir. Rasanya aku ingin meminta maaf pada semua orang yang kusayangi. Tiba-tiba, ada seseoang yang memelukku dengan hangat. Aku menoleh ke belakang dan menemukan sosok ibu yang tersenyum hangat padaku.
“Kau sudah menemukan jawabannya?”
“Ya, tapi aku tidak akan memberitahu ibu sekarang,”
Ibu mengangguk, aku tetap tersenyum menatapnya. Air mataku terus mengalir. Ibu menyeka air mataku dengan lembut lalu tersenyum tulus.
“Ya, beritahu ibu setelah kau kembali bersama Sakura, kau tidak akan membuatnya menunggu, kan? Pergilah, kau harus hidup bahagia, tanpa rasa bersalah,”
Bayangan ayah dan ibu mulai memudar dan menghilang. Aku melihat cahaya yang sangat terang mengiringi kepergian mereka. Aku magerjap-ngerjapkan mataku dan mendapatkan diriku berada disebuah ruangan putih. Sepertinya, Rumah sakit.
Aku kembali mengerjapkan mataku. Seluruh badanku rasanya sakit sekali terutama bagian kepala, benar-benar sakit. Aku mendapatkan sosok Sakura di hadapanku. Ia tersenyum sambil menangis, wajahnya tampak sangat khawatir. Aku berusaha membalas senyumannya walau hanya seulas.
“Kakak, ini Sakura, kakak ingat? Kakak ingat aku, kan? Aku tidak membenci kakak, aku tidak pernah membenci kakak, tolong, jangan lupakan aku, tidak perduli kakak sudah menyembunyikan masa laluku atau sudah menolakku, aku tetap tidak mau kakak melupakanku, aku sudah memaafkan kakak, aku mohon..,”
Aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya dan memberinya isyarat untuk tidak bicara lagi. Aku sudah mengerti apa yang ingin ia katakan. Aku tersenyum tulus ke arahnya. Akhirnya, aku dapat merasa lega menatap wajah gadis yang kini tampak mengkhawatirkanku. Rasanya semua rasa bersalahku dan bebanku karena menanggungnya hilang seketika.
“Aku mencintaimu,”
Sakura tampak terkejut, ia tampak tidak percaya. Aku terus tersenyum, rasanya aku bahagia sekali dapat melihatnya.
“Sakura, aku benar-benar mencintaimu,”
“Kakak, kakak bicara apa, sih?”
“Kau tidak dengar? Biar kuulang berkali-kali, aku mencintaimu, sampai mati aku mencintaimu, aku mencintaimu, Sakura,”
“Kakak, hentikan, iya aku dengar, jangan diulang berkali-kali, aku malu,”
Aku tertawa kecil melihat reaksinya. Wajahnya memerah, tersipu malu. Benar-benar manis. Aku menggenggam tangannya erat. Rasanya hatiku damai sekali.
...
Diatas segalanya jujurlah pada diri sendiri artinya setiap kapan pun, kondisi apa pun, selama itu positif, jujurlah pada diri sendiri. Mungkin, itulah pelajaran yang dapat kuambil dari semua yang telah terjadi. Seharusnya, dari awal aku tidak membohongi Sakura, juga tidak membohongi perasaanku. Walau aku berniat melindunginya tapi langkahku yang salah membuatnya terluka, tapi semuanya telah berakhir bahagia.
Aku mengusap batu nisan ibu dan tersenyum menatapnya. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi makam ibu. Aku merindukannya. Aku menghela nafas, tapi nafasku terasa ringan sekali.
“Ibu, aku ingin memberitahu jawaban pertanyaan ibu, aku melukai orang yang kusayangi karena aku ingin melindunginya, aku tidak ingin ia tersakiti olehku, aku tidak ingin ia tidak bahagia bersamaku, tapi kini aku sadar bahwa apa yang kulakukan untuk melindunginya itu salah, yang kulakkukan bukan melindunginya tapi melukainya dan tanpa sadar aku terus melakukannya, tapi, kini aku akan mengubahnya, bu, aku tidak akan melukainya lagi, aku akan melindunginya dengan tulus dan dengan kasih sayang, itu yang diajarkan ibu, benar, kan?”
Aku bersimpuh di depan makam ibu. Mungkin, di alam sana, ibu membenarkan semua ucapanku sambil tersenyum bahagia. Angin berhembus lembut seperti mngusap wajahku, aku menutup mataku untuk merasakan kesejukannya. Rasanya hatiku benar-benar damai.
“Ayah!”
Aku menoleh ke arah anak kecil yang memaggilku ayah. Tokio Hatsuki, putra pertamaku dan Sakura, berlari kecil ke arahku. Aku membungkukkan badan seraya menyambutnya. Dia menghantamku kuat lalu memelukku dan merajuk. Aku mengusap-usap kepalanya. Sakura tampak berjalan mengkutinya, ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Ayah, setelah ini kita mau kemana? Nenek dan kakek pasti sudah puas melihatku, ayo kita jalan-jalan ke tempat lain,”
“Memangnya, Hatsuki mau pergi kemana?”
“Terserah ayah,”
Aku tertawa beberapa saat lalu mengalihkan pandanganku ke arah Sakura, dan tersenyum licik, ia tampak heran. Aku menatap Hatsuki lekat-lekat dan tersenyum yakin.
“Bagaimana kalau kita lihat bunga Sakura? Hari ini Sakura mulai mekar, bukan?”
“Asyik,”
Hatsuki tersenyum lebar, Sakura tertawa kecil setelah mendengar rencanaku. Kami berjalan bersama meninggalkan makam ibu dan ayah. Aku menatap Sakura dengan lembut, sepertinya ia tidak menyadari jika aku memperhatikannya. Tiba-tiba handphone Sakura berdering, ia segera mengangkatnya.
“Iya, Benarkah? Syukurlah. Selamat, ya, presdir, iya, aku akan memberitahukannya,”
Aku menatap Sakura dengan heran. Sepertinya, ia mengerti maksudku. Senyumnya merekah indah, tampak sangat senang, aku jadi semakin heran.
“Itu tadi presdir, dia mengabarkan bahwa minggu ini ia akan menikah,”
“Dengan siapa?”
“Dengan kak Kazumi, benar-benar keajaiban, bukan,”
Aku terkejut sekaligus senang. Aku berharap Keizo adalah pria yang tepat dan pantas untuk Kazumi. Semoga saja, semuanya berakhir bahagia dan indah.
Aku menatap wajah Sakura penuh arti. Dia gadis yang hebat. Ia tidak tahu namaku, tapi masih dapat jatuh cinta padaku dan cintanya begitu tulus. Walau aku sudah melukainya dan menolaknya, ia tetap menyimpan hatinya untukku. Walau ia hilang ingatan, tapi ia dapat kembali mencintaiku untuk kedua kalinya.
“Sakura, kenapa kau masih mencintaiku walau tak tahu siapa aku sebenarnya,”
Sakura tampak heran, ia segera menutup telinga Hatsuki. Hatsuki terlihat bingung tapi tidak memberontak dan tetap tenang.
“Kenapa baru tanya sekarang?”
Aku mengangkat bahuku, ia tertawa. Hatsuki mulai terlihat penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Aku meletakkan jari telunjuk di depan bibirku untuk memberi isyarat pada Hatsuki untuk tidak berisik, ia mengangguk patuh.
“Bagiku cinta tidak perlu nama dan tidak ada kata terluka karena cinta, apa jawabanku itu cukup?”
“Ya, aku rasa cukup, tapi, aku punya satu syarat untuk cinta,”
“Apa itu?”
“Kalau kau mencintaiku, jangan pernah pergi lagi dariku,”
Sakura tersenyum dan mengangguk pasti, aku juga tersenyum lega. Hatsuki berusaha melepaskan tangan Sakura dari telinganya, ia mulai merajuk, meminta kami untuk mempercepat langkah. Aku dan Sakura tertawa bersama. Kami berjalan beriringan bersama ditemani kelopak-kelopak bunga Sakura yang berguguran. Indah sekali.
-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar