X. Move on (Sakura’s Feeling)
Hatiku sakit, rasanya panas sekali seperti tersayat-sayat. Air mataku terus mengalir sejak pulang dari rumah kakak. Aku tidak menyangka akan melihat hal itu, aku tidak pernah tahu kakak dan kak Kazumi mempunyai hubungan yang sedekat itu. Aku benar-benar bodoh. Padahal, aku sudah berniat untuk melupakan perasaanku pada kakak, tapi saat aku melihatnya bersama kak Kazumi tadi, hatiku rasanya sakit sekali. Aku ingin memukul kakak sekeras-kerasnya, mengatakan bahwa ia seharusnya memberitahu alasannya menolakku, tapi aku tidak bisa, aku benar-benar tidak mungkin melakukan itu pada kakak.
Aku menatap kosong ke luar jendela, bus yang kutumpangi terasa berjalan sangat lambat, padahal aku ingin segera sampai apartemen dan melupakan apa yang kulihat hari ini. Rasanya cuaca terasa dingin sekali. Aku menghapus air mataku berkali-kali, tapi berkali-kali juga ia mengalir kembali. Aku tidak tauh sampai kapan aku terus begini. Tetap menyukai kakak, walaupun ia sudah menolakku dan melukaiku. Sampai kapan aku tetap menyukainya. Tuhan, kenapa aku tidak dapat mneyukai orang lain selainnya? Aku ingin melupakan kakak.
“Sakura, kau benar-benar bodoh,”
Aku menggumamkannya berkali-kali. Bodoh, aku bodoh, benar-benar bodoh. Mencintai lalu terluka, lalu sekarang, aku tetap mencintai. Kapan semuanya berakhir? Kapan aku dapat pergi dari bayang-bayang kakak?
Aku menghela nafas berkali-kali air mataku tetap tak mau berhanti. Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku tidak bisa terus bersama kakak? Padahal kukira kakak juga menyukaiku, tapi aku salah, itu hanya khayalanku saja. Seharusnya, aku tidak pernah menyukai kakak. Seharusnya, aku tidak pernah menyatakan perasaanku.
Aku harus dapat melupakan kakak. Aku harus yakin dapat menyukai orang lain selain kakak. Aku menghapus air mataku kembali dan menahan tangisku. Aku terisak-isak, sulit sekali menghentikan tangisku,tapi aku harus menghentikan ini. Tenanglah, Sakura, ini bukan akhir segalanya. Aku menepuk-nepuk dadaku. Aku bisa melakukan ini, aku akan melupakan kakak dan menyukai orang lain lalu kembali menjalani hidupku dengan bahagia.
...
“Akhir-akhir ini kau tampak semangat sekali,”
Aku menatap paman Yuzo dan tersenyum manis, dia tertawa melihat reaksiku. Sepertinya, sejak tadi ia memperhatikanku bekerja.
“Apa paman pikir begitu? Menurutku itu bagus,”
“Ya, dengan begitu, presdir akan semakin menyukaimu,”
Paman Yuzo tertawa setelah mengatakan itu, aku merengut kesal. Dasar, paman Yuzo selalu mengatakan hal yang tidak-tidak. Aku dan presdir memang dekat tapi hubungan kami bukan sepesang kekasih. Paman Yuzo selalu menggoda kami tentang hubungan kami itu. aku jadi sedikit kesal dengannya.
“Apa paman tidak bisa berhenti bercanda tentang hal itu?”
“Kau ini, kalian itu cocok, bukankah lebih baik kalian menjadi sepasang kekasih, menurutku itu bagus,”
“Paman!”
“Menurutku itu juga bagus, paman,”
Deg. Suara presdir. Aku membalikkan badanku, dugaanku tepat, itu memang presdir. Ia berjalan menghampiri aku dan paman. Aku tersenyum kecut melihatnya, paman tampak tertawa senang. Aku menatap paman kesal, giliran presdir yang tertawa melihat tingkahku. Aku jadi terlihat serba salah.
“Bagaimana, Sakura? Lihat, menurut presdir usulku itu juga bagus,”
Aku menghela nafas, mendengar ucapan paman membuatku kesal saja.
“Sudahlah, paman, jangan membahas hal itu,”
Presdir dan paman tertawa serempak mendengar ucapanku itu. aku jadi tidak mengerti dan menatap mereka heran, tapi mereka semakin tertawa keras. Aku mendengus kesal, lalu membalikkan badanku, berniat untuk pergi meninggalkan mereka.
“Kau mau kemana? Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“Sudah,”
Aku menjawab pertanyaan presdir tanpa menoleh dan tetap berjalan. Tiba-tiba aku merasa ada yang menahan tanganku. Aku menoleh dam mendapatkan presdir sedang menggenggam tanaganku erat. Aku menatapnya penug dengen tanda tanya.
“Kalau kau sudah selesai, apa aku boleh mengantarmu pulang, nona?”
Presdir tersenyum manis menggodaku, aku tertawa melihat tingkahnya yang memperlakukanku seperti nona bangsawan. Aku menggeleng-gelengkan kepala, aku mulai berpikir bahwa presdir pintar menggoda wanita. Paman Yuzo tertawa melihat kami, aku jadi merasa malu, aku segera melepaskan tanganku dari genggaman presdir, dan tersenyum manis.
“Kalau tuan tidak keberatan,”
...
Presdir terus bercanda denganku sepanjang perjalanan, aku jadi terus tertawa karenanya. Perjalanan kami jadi terasa sangat cepat, hingga tidak terasa kami sudah sampai di depan apartemenku. Sudah hampir sebulan aku tinggal di apartemen dan selama itu presdir cukup sering berkunjung untuk sekedar menemuiki atau mengantarku pulang kerja. Entah sejak kapan, aku tidak lagi terlalu memnikirkan kakak, walau terkadang jika mengingat kenangan manis bersama kakak, aku kembali menangis.
“Kau itu suka sekali melamun, ya?”
Aku tersadar dari lamunanku dan segera mengalihkan pandanganku ke arah presdir. Sepertinya benar apa yang dikatakan presdir, aku merasa akhir-akhir ini aku seing sekali melamun.
“Maaf, aku jadi mengabakan presdir, apa presdir mau masuk sebentar untuk minum teh?”
“Ah, lain kali saja, oh, ya, apa kau memberitahu alamat apartemenmu ini pada kakakmu itu?”
Aku menghela nafas, kenapa presdir harus menanyakan itu? Aku jadi ingat saat aku memberitahu kakak alamat apartemenku, tapi ia terlihat tidak perduli bahkan ia langsung masuk ke rumah dan menutup pintu. Benar-benar mengesalkan.
“Hey! Kau itu benar-benar suka melamun,”
“Maaf, maaf, oh, iya, tentang itu, aku memberitahunya pada kakak, tapi mungkin menurutnya itu tidak begitu penting,”
“Benarkah? Apa mungkin ia sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu?”
Ya, itu mungkin, walau aku tidak berharap begitu, tapi seertinya memang terlihat seperti itu. Seharusnya dengan begitu, aku dapat dengan mudh melupakan kakak, tapi aku tetap merasa sulit untuk melakukan itu. Sangat sulit untuk menghilangkan perasaanku padanya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu dan tidak mengerti dengannya,”
Presdir tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengulurkan tangannya lalu mengusap kepalaku sambil tersenyum manis. Entah mengapa, rasanya aku merasa jantungku berdebar keras. Aku hanya memandangnya dengan heran, ia tetap tersenyum manis tanpa memperdulikan keherananku.
“Tenanglah, kau cukup menatap jauh ke depan, kau cukup menutup matamu saat melihatnya, kau cukup melupakannya dan mencintai pria lain, aku yakin kau dapat melakukan itu, Sakura, walau kedengarannya sulit, tapi kau pasti bisa, jika kau merasa tidak mungkin melakukan itu, datanglah padaku, dan aku akan membantumu kapan pun kau membutuhkanku,”
Aku terpaku mendengar ucapan predir, tanpa kusadari air mataku mulai mengalir. Aku tidak tahu mengapa aku menangis, padahal aku tidak merasa sesak seperti saat kakak menolakku, aku juga tidak merasa sedih, dan tidak merasa senang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Aku tertawa menyadari air mataku tidak dapat berhenti, aku terus tertawa sambil mengusapnya. Presdir tersenyum melihat tingakahku yang aneh ini. Tiba-tiba ia mpenggapaiku dan memelukku, aku terkejut tapi tak sempat menahannya. Presdir memelukku erat.
“Menangislah sepuasmu, tidak apa-apa, aku hanya berharap kau akan lebih tenang di pelukanku,”
Aku terkejut sekaligus terharu mendengar ucapan presdir. Entahlah, aku jadi tidak mengerti perasaanku, rasanya tidak karuan dan campur aduk. Aku hanya menngis dalam pelukan presdir tanpa mengatakan apa pun. Air mataku, entah mengapa, semakin mengalir deras.
Aku tahu presdir menyukaiku, tapi aku tetap tidak dapat menyukai presdir, aku masih sering memikirkan kakak. Padahal, presdir begitu baik padaku, tapi aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apa pun padanya. Rasanya aku ingin meminta maaf padanya, tapi kata-kata maaf itu sulit sekali aku ucapkan.
Mungkin, lebih baik tetap begini. Aku terus menyukai kakak tanpa memperdulikan perasaan presdir, walau aku yakin presdir mengetahui hal itu, tapi ia hanya diam dan berpura-pura tidak tahu. Seharusnya, aku berusaha melupakan kakak dan berpindah hati ke presdir, tapi aku tidak dapat melakuka itu, walau apa pun yang dilakukan presdir untukku. Terkadang, aku berpikir aku seperti orang jahat jika melakukan itu, tapi aku tetap melakukannya, dan tidak berubah. Aku terus bergantung pada presdir tapi hatiku terus mencintai kakak. Aku seperti gadis yang tamak.
Aku terus menangis dalam pelukan presdir. Menyadari perasaanku yang sebenarnya sangat menakitkan. Aku seperti berada di tengah-tengah labirin yang membingungkan dan aku tidak dapat keluar dari sana. Aku sama sekali tidak dapat berpindah hati dari kakak, dan tanpa kusadari aku terus menyakiti presdir. Menyedihkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar