VIII. Heart break (Sakura’s Feeling)
Ilusi? Kakak mengatakan perasaanku hanya ilusi. Apa maksudnya? Pikiranku kosong. Aku hanya terdiam, tak bisa mengatakan apapun. Apa ini mimpi? Ini mimpi kan? Kakak tidak mungkin mengatakan itu padaku. Perasaanku bukan ilusi, ini kenyataan, aku yakin itu. Apa maksudnya itu? Apa itu berarti kakak menolak perasaanku? Rasanya hatiku sakit sekali. Rasanya menyesakkan mendengar ucapan kakak itu. Aku hampir tidak dapat bernafas. Rasanya benar-benar sesak.
Kakak berdiri dan meninggalkanku yang masih terpaku. Ia pergi begitu saja. Aku ingin menyusulnnya untuk menanyakan maksud perkataannya, tapi tubuhku terasa lemas sampai tak dapat bergerak. Ini terlalu cepat. Aku baru saja tertawa bersama kakak, tapi sekarang rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Kakak semakin jauh, tapi aku tetap diam di tempatku. Kepalaku terasa berat sekali.
Aku merasakan air mataku mulai mengenangi mataku. Setetes demi setetes jatuh mengalir di pipiku. Aku tidak bisa menahan rasa sesak ini. Air mataku tidak dapat berhenti. Apakah ini rasanya patah hati? Tidak, aku tidak patah hati. Aku merasa air mataku semakin deras. Sakit. Sakit sekali. Aku memukul-mukul pipiku. Ayolah Sakura, berhentilah menangis. Ini pasti hanya mimpi, kakak tidak mungkin mengatakan itu. aku tidak ingin percaya bahwa kakak yang mengatakan itu padaku. Berhentilah menangis. Sakit. Kenapa rasanya sakit sekali? Aku ingin teriak sekerasnya-kerasnya.
“Ah, ini mimpi Sakura, ini mimpi, kau tidak perlu mempercayainya, ini tidak nyata,”
Aku terus meneriakkan kata itu, tapi air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tidak dapat menahan rasa sesak ini. Aku mengenggam dadaku, berharap rasa sakit itu menghilang, tapi harapanku sia-sia, rasanya semaakin sakit.
Kenapa? Aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya, aku tidak mengatakan perasaanku. Aku terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan kakak, tapi aku yakin perasaanku bukan ilusi, aku yakin sekali. Seharusnya, kakak tidak mengatakan itu. Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Itu bukan kakak, bukan, kakak tidak mungkin mengatakan hal yang sangat menykitkan seperti itu. aku ingin mempercayai hal itu, aku ingin percaya bahwa itu bukan kakak, bahwa itu hanya mimpi, tapi aku bahkan tidak dapat terbangun dari mimpi buruk ini. Aku benar-benar mengerti bahwa ini nyata, tapi ini terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa pulang ke rumah dalam keadaan hati yang seperti ini, bahkan air mataku belum juga dapat berhenti. Rasa sakit itu benar-benar menyiksaku hingga terasa ke seluruh tubuhku. Apa yang harus kulakukan?
Aku mencoba untuk berdiri, tapi aku terjatuh. Aku kembali mencobanya, tapi terjatuh lagi. Aku teriak sekeras-kerasnya. Sakura kau harus sanggup bangkit, ayolah! Aku bahkan tak kuat mempercayai hatiku sendiri. Berhentilah menangis. Aku mohon. Tuhan, tolonglah aku, aku mohon, aku ingin menghilangkan rasa sakit ini.
Aku kembali mencoba berdiri, dan akhirnya aku berhasil, walau aku merasa tubuhku berat sekali. Kepalaku seperti berputar. Air mataku belum juga dapat berhenti, itu membuatku pusing. Tubuhku limbung.
Aku berusaha untuk turun bukit. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa sulit melakukannya. Berkali-kali aku jatuh lalu bangun kembali. Tubuhku benar-benar lemas. Aku berjalan perlahan dengan air mata yang belum juga mengering. Semakin jauh aku berjalan, entah mengapa air mataku semakin deras mengalir.
“Ayolah Sakura, ayo bangkit, kau bisa, ini bukan akhir semuanya, aahh,”
Sesak. Walau aku berteriak sekeras mungkin, rasa sesak dan sakit itu tidak juga hilang. Aku tidak bisa menyemangati diriku sendiri. Bagaimana caranya agar aku melupakan semua yang terjadi tadi? Tolonglah. Seseorang tolong aku.
“Sakura, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?”
Aku mengangkat kepalaku dan mendapatkan presdir mengulurkan tangannya dengan wajah khawatir. Kenapa presdir ada disini? Aku ingin menanyakan hal itu, tapi rasanya suaraku tidak dapat keluar. Aku menyambut uluran tangan presdir, ia membantuku untuk berdiri. Kakiku terasa sakit, mungkin tersayat ranting-ranting saat aku turun bukit tadi. Aku baru merasakan sakitnya sekarang, mungkin karena aku hanya merasa sakit di hatiku sejak tadi.
Aku meringis kesakitan, sepertinya presdir menyadari itu. Ia berlutut dan memeriksa luka di kakiku. Ia menghela nafas, dan berdiri kembali lalu membalikkan badannya membelakangiku. Aku masih terdiam di tempatku. Tubuhku masih terasa lemas dan rasanya kepalaku seperti kosong.
“Ayo naik ke atas tubuhku, aku akan menggendongmu,”
Deg. Ini seperti apa yang dilakukan kakak waktu aku tersesat. Entah mengapa, tiba-tiba aku melihat presdir seperti kakak. Air mataku kembali mengalir. Rasa sesak itu kemabali lagi setelah aku sempat menghilangkannya. Andai saja saat ini kakak yang ingin menggendongku, tapi itu tidak mungkin. Dia baru saja menolakku, dan sekarang aku sadar itu nyata.
“Hei! Kenapa kau malah menangis? kau tidak akan bisa berjalan dengan kaki seperti itu, cepatlah naik! Aku akan membawamu ke mobil dan mengantarmu pulang,”
Aku mengapus air mataku, tapi ia mengalir kembali, tidak dapat berhenti. Presdir menggerakkan tangannya, memberiku isyarat untuk naik ke punggungnya. Terpaksa, aku naik dan berpegangan erat pada presdir.
...
Mataku menatap kosong keluar jendela mobil. Pikiranku entah pergi kemana. Rasanya aku diantara sadar dan tidak. Semuanya berlalu dengan cepat. Aku hampir tak dapat mempercayainya. Beruntung, presdir tidak bertanya apa-apa padaku. Ia hanya diam dan tenang menyetir.
Jika, aku pulang ke rumah, lalu apa yang akan kulakukan? Aku tidak bisa bertemu kakak sekarang. Aku tidak akan sanggup melihatnya. Jikalau kakak sudah tertidur saat aku pulang nanti, aku tetap tidak dapat bertemu muka dengannya besok pagi. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus pergi dari rumah kakak, tapi tidak mungkin mencari apartemen selarut ini. Aku harus kemana sekarang?
Aku menatap presdir yang tetap tenang menyetir tanpa bicara sepatah kata pun. Jalanan yang dilalui oleh kami adalah jalan untuk ke rumah kakak. Aku tidak mau pulang, itulah yang harus kusampaikan pada presdir, tapi aku tidak mau membuatnya khawatir. Aku menghela nafas, mencoba meyakinkan diriku. Aku harus mengatakannya, mungkin saja presdir dapat memberi solusi untukku.
“Aku tidak mau pulang, bisakah presdir putar balik?”
Presdir menatapku penuh tanda tanya. Dugaanku tepat, wajahnya berubah menjadi khawatir. Ia pasti mengira-ngira alasanku menolak pulang. Presdir menghentikan mobilnya.
“Apa yang terjadi? Apa ada masalah dengan kakakmu itu?”
Aku kembali menghela nafas, rasanya kejadian saat kakak menolakku tadi. Tiba-tiba rasa sakit itu kembali lagi. Dadaku terasa sesak. Air mataku mulai menggenangi mataku. Pandanganku jadi sedikit buram. Aku mengalihkan pandanganku ke arah presdir, sepertinya ia menyadari bahwa aku hampir menangis.
“Kau menangis? Ada apa sebenarnya? Ceritakanlah padaku, mungkin aku dapat membantumu, Sakura,”
Air mataku mulai menetes, presdir mengulurkan tangan untuk meghapusnya. Aku semakin terisak. Bagaimana aku menceritakannya pada presdir? Mengingatnya saja membuatku merasa sangat sesak. Aku tidak sanggup menceritakannya.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat, kuharap kau dapat menenangkan dirimu dan menceritakan semuanya padaku,”
Aku hanya dapat mengangguk sambil terus terisak. Presdir kembali memegang setir dan memutar balik arah mobil. Aku tidak tahu ia akan membawamu kemana, tapi aku berharap aku benar-benar dapat menenangkan diriku disana, lagipula saat ini, aku hanya dapat mengandalkan presdir untuk membawaku jauh dari kakak.
Aku menatap presdir penuh harap dan kecewa. Aku kecewa karena pada saat ini bukan kakak yang ada di sampingku seperti biasanya. Bukan kakak yang menghiburku, melainkan kakaklah yang membuatku seperti ini, kakak yang melukaiku. Mungkin, mulai saat ini kakak bukan lagi malaikat pelindungku.
...
Aku terpaku menalatap kela-kelip lampu kota. Sudah cukup lama aku terdiam menatapi pemandangan ini. Hatiku merasa sedikit tenang, rasa sakit itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Rasa dingin yang harusnya aku rasakan, sama sekali tidak dapat kurasakan. Presdir membawaku ke jembatan ini dan menemaniku tanpa bicara apa-apa. Aku rasa, aku sudah merepotkannya, padahal ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Paling tidak, aku seharusnya menceritakan sedikit pada presdir. Aku menghela nafas, mencari kata yang tepat untuk memulainya. Aku menatap presdir yang kini menyuguhkan segelas kopi panas, aku tersenyum dan menerimanya. Ia benar-benar baik, tidak seharusnya aku mendiamkannya seperti ini.
“Kakak menolak perasaanku, dia bilang itu hanya ilusi, aku benar-benar bodoh, ya, hanya aku yang merasa senang saat bertamunya, aku sama sekali tidak memperdulikan perasaannya padaku, haha-“
“Kenapa kau malah tertawa? aku rasa wajar jika kau menangis seperti tadi, sudah seharusnya kau menangis sekeras-kerasnya jika kau memang mencintainya,”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah presdir dengan terkejut. Presdir seperti dapat menebak isi hatiku. Rasanya hatiku menjadi damai setelah mendengar ucapannya.
“Terima kasih banyak, tapi sepertinya air mataku sudah kering, aku terlalu lama menangis tadi,”
Presdir tersenyum tulus, aku juga membalasnya dengan senyuman yang termanis. Dia mengusap rambutku sambil terus tersenyum. Aku merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Senyum presdir terlihat sangat tulus dan penuh kehangatan. Entah mengapa, aku jadi ingin menangis lagi.
“Kalau kau masih ingin menangis, menangislah, menangislah sepuas-puasnya, hingga kau dapat menghilangkan rasa sakit itu, aku akan selalu ada untuk membendung kesedihanmu itu,”
Aku tertawa mendengar ucapannya, ia sudah terlalu baik padaku. Tanpa kusadari air mataku mengalir lagi. Aku benar-benar bingung, kenapa aku menangis lagi, sedangkan aku masih tertawa, aku benar-benar merasa menjadi orang aneh. Aku merasakan diriku lega sekali, rasa sakit itu hilang bersama air mataku yang terus mengalir. Presdir tersenyum melihat tngkahku itu. Ia mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku. Mungkin, semalaman aku akan terus menangis seperti ini.
“Lalu malam ini kau akan pulang kemana?”
Aku menggelengkan kepala, aku benar-benar tidak tahu harus kemana setelah ini, sedangkan aku benar-benar tidak siap bertemu kakak. Presdir terlihat sedikit berpikir, lalu menepukkan kedua tangannya.
“Malam ini kau menginaplah di apartemenku, besok aku akan menemanimu mencari apartemen, kau tidak mau kembali ke rumah kakakmu itu kan? Kau setuju?”
Aku cukup terkejjut dengan ide itu, tapi kurasa hanya ide itulah yang paling memungkinkan. Aku menatap presdir ragu-ragu. Aku memang berniat pindah dari rumah kakak, dan mencari apartemen, tapi aku tidak terpikir olehku untuk menginap di rumah presdir. Presdir mungkin sadar dengan apa yang aku khawatirkan. Ia tertawa dan menepuk pundakku.
“Tenang saja, di apartemenku ada adik perempuanku, kau akan tidur dengannya malam ini, aku yakin ia tidak akan keberatan, kau setuju, kan?”
Akhirnya, ak mengangguk setuju dan mengikuti presdir pulang ke apartemennya. Semoga saja tidak ada lagi hal buruk yang terjadi. Hari ini aku merasa lelah sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar