V. Except you (Tokio’s Feeling)
Aku menutup layar laptopku. Pandanganku tertuju lurus ke luar jendela ruang kerjaku. Sudah lama aku tidak menatap langit cerah. Pikiranku seperti kembali ke situasi kemarin malam, saat aku melihat Sakura keluar dari mobil sedan berwarna metalic. Saat itu, pikiranku menerka-nerka apa yang terjadi. Aku ingin Sakura menjelaskan semuanya padaku. Aku ingin ia menjelaskan apa yang terjadi selama di perjalanan, kenapa ia dapat pulang dengan diantar oleh presdir Keizo, apa hubungan Sakura dengannya, aku ingin tahu semuanya, tapi Sakura tidak mengatakan apa pun padaku. Ia bahkan menolak saat aku ingin membahas perasaannya pada presdir Keizo.
Aku menghela nafas. Apa yang kulakukan benar-benar seperti orang bodoh. Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan. Perasaanku tidak pernah dapat dibohongi. Aku tahu seharusnya aku mengatakan hal ini pada Sakura. Aku tidak suka jika ia dekat dengan pria lain, tapi aku juga ingin menyukai pria lain selain aku. Aku mengerti, aku tidak pantas menyukainya dan seharusnya aku bersyukur jika ia dekat dengan pria lain. Aku mengerti perasaanku tapi pada saat yang sama, aku juga tidak dapat menerti perasaanku. Ini benar-benar membuatku sesak. Rasanya apa saja yang kulakukan jadi serba salah.
“Hey! Apa yang sedang kau pikirkan?”
Seketika, aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kazumi tengah berdiri di depan mejaku. Aku menatapnya heran. Aku yakin tidak ada yang mengetuk pintu ruanganku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kazumi dan pintu ruanganku bergantian. Kapan ia masuk?
“Hey! Aku bertanya padamu, Tokio Hiroshi,”
Aku tetap menatap heran ke arah Kazumi. Ia menghela nafas. Ia pasti merasa aneh melihat sikapku yang seperti orang bingung. Aku memang benar-benar sedang bingung dengan perasaanku. Wajah Kazumi seperti ingin mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, wajahnya terlihat penuh tanda tanya.
“Kazumi, kapan kau masuk ke ruanganku? Aku tidak mendengarmu mengetuk pintu dan tidak melihatmu masuk,”
Kazumi kembali menghela nafas. Ia memperhatikanku dengan tajam. Wajahnya tampak sedikit kesal. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.
“Bagaimana kau mau mendengarku mengetuk pintu dan melihatkku masuk ke ruanganmu, kalau kau saja tidak berada di ruanganmu ini,”
Kini, giliranku yang menghela nafas. Ia benar. Diriku memang seperti tidak berada disini, aku bahkan tidak tahu diriku berada dimana. Pikiranku tidak fokus. Kepalaku sepert berputar-putar, beruntung aku masih dapat menyelesaikan pekerjaanku dengan baik.
“Kau benar, aku memang sedang memikirkan sesuatu, dan itu membuatku pusing,”
“Biar kutebak, apa itu berhubungan dengan Sakura?”
Aku menundukkan kepalaku dan menggeser kursiku ke belakang. Kazumi selalu dapat menebak apa yang sedang kupikirkan. Ia seperti dapat melihat apa yang ada dalam kepalaku.
“Ada masalah apa dengan Sakura? Kau sudah menyatakan perasaanmu?”
Bagaimana aku bisa menyampaikan perasaanku padanya? Aku bahkan merasa aku tidak pantas dengannya. Bayanganku yang akan melukainya lagi selalu terbesit ketika aku bersamanya. Aku bahkan hampir tidak berani mencampuri urusannya. Aku selalu dibayangi rasa bersalah padanya.
“Aku tidak dapat menyatakannya, tidak akan dapat menyatakannya,”
Kazumi kembali menatapku dengan heran. Ia pasti tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Ia tahu siapa aku. Ia tahu sifatku dan semua hal tentangku. Jika, aku menyukai suatu hal, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkannya, tapi lain untuk masalah perasaanku pada Sakura. Walau aku menyukai Sakura, aku tidak akan pernah mendapatkannya, tepatnya, aku tidak pantas mendapatkannya.
“Bukankah ia berada di dekatmu? Aku rasa, kau bisa pasti dapat menyatakan perasaanmu itu padanya, ayolah, Hiro, bukankah kau selalu dapat melakukan hal yang tidak mungkin?”
“Ya, aku memang dapat melakukan hal yang tidak mungkin, tapi tidak untuk hal ini,”
“Hey! Ayolah, bukankah saat kau menyatakan perasaanmu padaku, kau dapat melakukannya, aku yakin, kau juga pasti dapat menyatakan perasaanmu pada Sakura,”
Ah, Kazumi tidak tahu apa yang sudah aku lakukan pada Sakura, hingga aku merasa tidak pantas untuknya. Aku telah melukainya, membuatnya hilang ingatan, dan menghancurkan hidupnya. Aku tidak bisa menyukainya begitu saja. Perasaanku pada Sakura tidak sama dengan perasaanku pada Kazumi. Aku sanggup menyatakan perasaanku pada Kazumi atau pada wanita lain yang kusukai, tapi tidak pada Sakura. Aku sanggup mencintai Kazumi atau wanita lain, tapi aku tidak dapat mencintai Sakura. Aku dapat berada dengan tenang di sisi Kazumi atau wanita lain, tapi di sisi Sakura, aku selalu gelisah. Aku bisa mendapatkan yang kumau kecuali Sakura. Ya, kecuali dia.
“Kazumi, maaf, aku pulang lebih dulu, sepertinya aku harus menenangkan diriku,”
“Hey! Kau belum mengatakan apa masalahmu dengan Sakura,”
Lagi-lagi aku menghela nafas. Ini hari yang berat bagiku.
“Tidak ada, ia hanya diantar pulang dengan pria lain semalam,”
“Dan kau cemburu?”
Aku segera manoleh ke arah Kazumi. Cemburu? Atas dasar apa aku harus cemburu? Aku tidak boleh menyukai Sakura, itu berarti aku juga tidak boleh cemburu dengan pria lain yang dekat dengannya. Aku memang merasa kesal saat melihatnya diantar oleh presdir Keizo, tapi bukan berarti aku cemburu padanya. Tunggu, jangan-jangan rasa kesalku itu bisa diartikan cemburu? Ah, aku jadi semakin kesal mengetahui hal ini. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kalau seperti ini, aku benar-benar seperti sedang disiksa oleh perasaanku sendiri.
“Benarkah kau cemburu?”
“Kazumi, hentikan! Jangan membahas hal itu lagi! Maaf, tapi sepertinya aku harus benar-benar pulang sekarang,”
Aku membuka pintu ruanganku dan segera keluar meninggalkan Kazumi yang tetap berdiri di tempatnya dengan pandangan heran. Aku pergi ke tempat parkir, mencari motorku, menyalakan mesinnya, dan melaju dengan kencang. Hal yang kubutuhkan sekarang adalah istirahat. Aku harus menenangkan diriku. Mungkin, aku tidak akan malam, dan langsung tidur di kamarku. Semoga saja Sakura belum pulang, jadi saat dia pulang nanti, aku tidak perlu melihatnya.
...
“Selamat ulang tahun!”
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Sekitarku terdengar ramai sekali. Aku kembali mengerjapkan mataku, berusaha mengumpulkan kesadaranku sepenuhya. Sebuah kue tart berukuran besar sudah berada di depan wajahku. Aku menoleh ke arah seseorang yang memegang kue itu. Kazumi. Ia tertawa melihatku yang masih sangat mengantuk, di sebelahnya, teman-temanku bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Aku menegakkan badanku. Aku benar-benar terkejut dengan kejutan mereka. Hebat, tapi aku merasa ada seseorang yang kurang, Sakura, dimana dia? Aku mengedarkan pandanganku. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku bertanya-tanya, apakah Kazumi dan teman-temanku meyebutkan namaku di hadapannya, kalau iya, apa ia mengingat semuanya? Bagaimana reaksinya?
“Hey, ayo tiup lilinnya dan buat permohonan, kami sudah menyiapkan ini untukmu, To. Uph”
Aku menutup mulut temanku, Asuka, dan menatapnya tajam. Ia tampak kebingungan dengan reaksiku. Aku kembali mengedarkan pandanganku, tapi aku tetap tidak menemukan Sakura. Aku melepaskan tanganku dari mulut Asuka, dan meletakkan jari telunjuk di depan bibirku. Wajah Asuka semakin bingung, begitu juga dengan Kazumi dan temanku yang lain. Mereka tidak mengetahui masalahku dan Sakura.
“Jangan memanggil namaku di sini,”
“Hah? Apa maksudmu? Kami tidak mengerti,”
“Ya, jangan sampai kalian memanggil namaku di rumahku, terutama jika ada Sakura,”
Mataku mengawasi depan kamarku, aku takut jika Sakura mendengar pembicaraan kami.
“Sakura? Gadis yang mebukakan pintu tadi, ya? Apa dia benar-benar tinggal di rumahmu?”
Aku menghela nafas,dan mengangguk. Wajah teman-temanku tampak sangat terkejut kecuali Kazumi, dia hanya tersenyum simpul. Kazumi menyuguhkan kue itu kembali ke hadapanku.
“Aku berani menjamin mereka tidak akan memanggil namamu di depan Sakura, walau aku tidak tahu alasannya, dan aku harap kau cepat meniup lilinnya dan membuat permohonan, tanganku sudah pegal sekali, kau tahu?”
Kazumi merengut kesal. Aku tahu dia hanya merajuk. Seketika itu kami tertawa karena ucapannya. Kazumi ikut tertawa. Kamarku jadi semakin ramai. Aku meniup lilin di atas kue itu dan mengucapkan permohonan. Aku berharap semoga perasaanku pada Sakura dapat tersampaikan. Aku juga tidak mengerti mengapa aku mengharapkan hal itu, padahal aku tahu, aku sama sekali tidak pantas menyatakan perasaanku pada Sakura. Semua hal yang kulakukan padanya pasti mebuatnya sangat terluka.
Kazumi menatap lurus padaku. Sepertinya, dia tahu isi permohonanku. Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya. Walau apapun yang terjadi Kazumi tetap menunjukkan kebaikannya yang tulus padaku. Asuka memberikanku pisau kue. Aku tertawa melihatnya. Dia itu benar-benar sudah lapar sepagi ini. Rasa kantukku belum hilang, mana mungkin memotong kue. Ah, dasar teman-teman yang menyusahkan, tapi tanpa mereka, aku tidak yakin aku akan hidup baik-baik saja. Paling tidak aku dapat melupakan masalah untuk sementara waktu.
Aku memotong kue itu dengan senyum yang dipaksakan. Seharusnya aku bahagia, tapi walau dapat melupakan Sakura untuk sementara waktu, aku tetap merasa takut. Aku takut jika teman-temanku ini juga terluka olehku. Aku menghela nafas diam-diam. Perasaanku jadi buruk.
“Siapa yang akan pertama kali akan kau berikan kue itu, ayo berikan!”
Sakura. Aku akan memberikan yang pertama untuk Sakura. Tunggu. Kenapa Sakura? Namanya langsung terbesit di benakknu saat Asuka menanyakan orang pertama yang akan kuberi kue. Aku kesal pada diriku sendiri, tapi aku ingin memberikan yang pertama untuk Sakura.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Asuka mengompori yang lain untuk menggodaku. Mereka terus bertanya-tanya siapa orang pertama yang akan kuberi kue. Aku melihat sekilas ke arah Kazumi, dia tampak kecewa, tapi ia tetap tersenyum. Kazumi pasti tahu siapa orang yang akan akau berikan kue pertama kali. Aku keluar dari kamarku, aku harus menemukan Sakura.
Aku pergi ke arah dapur, mungkin Sakura sedang menyiapkan sarapan, tapi saat aku sampai disana, aku tidak menemukannya. Aku pergi ke ruang depan, tapi ia juga tak disana. Kemana Sakura? Kenapa ia tidak ada dimana pun? Teman-temanku mengikuti kemana saja aku pergi untuk mencari Sakura. Sepertinya mereka belum mengerti siapa yang aku cari. Mereka menatapku yang mondar-mandir di rumah sendiri dengan tatapan heran. Kazumi hanya tersenyum, walau ia sadar bahwa teman-teman juga memperhatikannya. Mereka pasti heran aku tidak memberikan kue partama untuk Kazumi, tapi malah mencari-cari orang yang mereka tidak tahu. Wajar saja mereka bingung, karena tidak ada yang tahu bahwa Kazumi bukan pacarku lagi. Sekarang yang terpenting adalah dimana Sakura, aku tidak bisa menemukannya di seluruh bagian rumah. Dimana dia sebenarnya?
“Hey! Kau itu mencari siapa sih? Bukankah Kazumi itu ada di sampingmu,”
Asuka berisik. Sepertinya, dia itu benar-benar lapar. Aku menghela nafas. Berputar-putar di sekitar rumah membuatku pusing. Aku menatap pintu dengan pasrah. Apa dia keluar rumah? Sepagi ini untuk apa dia keluar rumah?
Aku terduduk di sofa ruang tamu, teman-teman menatapku semakin bingung. Beberapa saat kemudian, aku mendengar bunyi pintu terbuka, itu pasti Sakura. Aku segera melihat siapa orang yang membuka pintu itu, dan dugaanku tepat. Sakura melepaskan jaket dan sepatunya, tangannya tampak memegang sesuatu. Ia tampak kedinginan. Tentu saja, keluar sepagi ini pada saat musim dingin di Tokyo termasuk hal buruk. Aku segera menghampiri Sakura, ia tampak takut melihatku. Apa yang terjadi? Ia menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya. Dia menyembunyikan sesuatu padaku. Lihat saja, aku pasti akan segera mengetahuinya.
“Apa yang kau sembunyikan di belakangmu itu?”
Sakura tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Lagi-lagi aku menghela nafas. Sepertinya akhir-akhir ini, aku sering sekali melakukannya. Aku tidak dapat memarahi Sakura, tapi berkata lembut pun aku tidak bisa. Menjengkelkan. Aku mengulurkan kue yang sedari tadi aku pegang ke hadapannya. Ia melihatnya dengan heran dan tampak sedikit terkejut. Ia menunjuk dirinya, memastikan apakah memang benar kue itu untuknya. Aku mengangguk pasti, tapi wajahku tetap datar tanpa senyum. Teman-teman melihatku, Sakura, dan Kazumi bergantian. Aku bisa mengerti mengapa ekspresi mereka seperti itu. Kazumi sepertinya tidak menghiraukan hal itu, ia malah mengulurkan tangannya pada Sakura dan membawanya masuk.
Sakura dan Kazumi menyiapkan sarapan untuk kami. Beruntungnya hari ini adalah hari libur, jadi kami tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan. Pesta ulang tahun dadakanku ini pasti akan lebih lama dari yang kubayangkan. Asuka dan teman-teman yang lain menanyakan hubunganku yang sebenarnya dengan Kazumi dan Sakura. Aku merasa seperti kriminal yang sedang diinterogasi. Benar-benar pagi yang melelahkan.
...
“Selamat ulang tahun, kak,”
Sakura mengulurkan sebuah kotak berwarna cokelat padaku. Wajahnya tampak berkilau disinari cahaya bulan. Ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Aku terdiam sesaat menatapnya, aku terpesona menatap wajah bahagianya itu. Aku menundukkan kepalaku sesaat lalu mengangkatnya lagi sambil berdehem. Aku harus mengontrol perasaanku saat ini. Aku tidak boleh terlalu lama terpesona padanya, walau hatiku menolak presepsiku itu. Aku mengangkat sebelah alisku, seolah-olah bertanya apa maksud dari kotak itu. Sakura menunduk, pipinya tampak merona, sepertinya dia malu. Aku tersenyum simpul. Bagus, aku telah membuatnya salah tingkah. Jantungku terasa berdebar. Aku mengepalkan tanganku, mencoba mengatur hati dan pikiranku. Udara bertambah dingin. Sakura juga tampak kedinginan. Aku meraih tangannya. Ia mengangkat kepalanya, terkejut.
“Disini dingin, lebih baik kita masuk, dan mulai makan malam,”
“Ah, iya, tapi ini...,”
Aku mengambil kotak berwarna cokelat itu dari tangannya. Sakura masih terlihat terkejut, aku segera menariknya masuk ke dalam rumah, beruntung ia tidak menahanku. Tanganku masih menggenggamnya, rasanya hangat. Aku meliriknya diam-diam. Dia tampak sangat kedinginan. Aku mengalihkan pandangan ke tangannya. Seketika itu aku jadi merasa kesal padanya dan pada diriku sendiri. Dia tidak memakai sarung tangan di cuaca yang sedingin ini, dan aku tidak menyadari hal itu, padahal dari tadi aku menggenggam tangannya. Bodoh. Aku segera memasukkan tangannya yang masih kugenggam ke dalam saku mantelku. Ia tersentak dan langsung menatapku dengan salah tingkah. Ia berbisik memanggilku, tapi aku tidak menghiraukannya, aku tetap berusaha tenang dan menariknya masuk ke dalam.
Saat aku membuka pintu, Kazumi menatapku dengan terkejut. Sepertinya ia sedang memakai sepatunya, bersiap-siap pulang. Ia memperhatikanku dan Sakura. Pandangannya menangkap tangan Sakura yang kugenggam di dalam saku mantelku. Aku menghela nafas dan melepaskan tangan Sakura, ia segera menarik tangannya dari dalam saku mantelku. Wajahnya memerah. Aku menatapnya sekilas lalu menatap Kazumi yang tampak menahan tawa.
Kazumi menghampiri kami. Ia menatap Sakura yang menunduk dalam, aku yakin, ia pasti berusaha menahan malunya. Sebenarnya, aku juga merasa malu melakukan tindakan gegabah ini, tapi aku berusaha berwajah tenang, aku benar-benar harus meredam perasaanku ini. Kazumi tertawa sambil terus menatap Sakura, lalu ia menatapku dan juga tertawa. Menyebalkan. Apa dia pikir ini lucu? Dia masih saja tertawa. Heran, kapan dia mau berhenti? Tiba-tiba teman-temanku berdatangan ke ruang depan, tempat kami berada. Mungkin mereka mendengar suara tawa Kazumi yang belum juga berhenti. Aku kembali menghela nafas. Ya, Tuhan, ini benar-benar memalukan.
“Hey! Apa yang kalian lakukan di sana? Pestanya belum selesai, lagipula kemana saja kau dari tadi, To...,”
Kazumi segera menutup mulut Asuka, ia menatapnya dengan tatapan mangancam. Aku tersenyum kecut. Aku menatap Sakura, dia masih tertunduk. Aku rasa dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Asuka. Syukurlah.
“Kalian darimana, kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja, aku sampai bingung mencari kalian,”
Kazumi menggodaku dan Sakura diikuti yang lain. Aku tidak menjawab pertnyaan Kazumi. Konyol. Padahal, dia pernah menjadi pacarku, tapi mengapa ia bisa dengan tenangnya menggodaku yang sedang bersama wanita lain. Aku benar-benar heran. Sakura mengangkat wajahnya. Apa ia ingin menjelaskan yang terajadi pada Kazumi dan teman-teman? Ah, terserah dia saja.
“Maaf, aku yang meminta kakak untuk keluar sebentar, maaf membuat kalian khawatir,”
Sakura mengalihkan pandangan kepadaku. Aku mengetahui hal itu, tapi aku berusaha untuk tidak mengubah ekspresiku. Aku jadi kesal padanya mengingat ia tidak memakai sarung tangan tapi mengajakku keluar rumah.
“Kakak, maaf, aku mengajak kakak keluar hanya untuk memberikan hadiah, padahal cuaca sedingin ini, maafkan aku,”
“Bodoh, apa yang kau pikirkan? Kau keluar tanpa memakai sarung tangan, dan kau masih bisa berpikir untuk minta maaf padaku?”
Tiba-tiba saja emosiku meledak. Suaraku terdengar meninggi. Aku mencoba mengendalikannya, tapi sulit. Aku kesal dengan diriku sendiri. Saat aku mengepalkan tanganku, aku merasa seseorang menggenggam tanganku. Aku menoleh, dan menemukan Kazumi menatapku tajam, dia melepaskan tangannya. Kazumi memberi isyarat agar aku melihat Sakura, aku menurutinya. Sakura terlihat ketakutan. Ah, aku benar-benar bodoh. Aku melukai Sakura. Apa yang aku lakukan, padahal aku sudah berusaha untuk tidak memarahinya. Aku mengulurkan tanganku untuk meyentuh pundak Sakura, tapi Kazumi mendahuluiku. Ia menepuk-nepuk pundak Sakura dan menenangkannya.
“Jangan marah-marah sepeti itu, kendalikan emosimu, itu kan bukan kesalahan besar, lagipula dia sudah minta maaf, kau ini,”
Kazumi memukul lenganku. Ia memakai trik merajuknya lagi padaku. Aku berpura-pura merasa sakit, dan sepertinya ia tahu itu. Teman-teman tertawa melihat tingkah kami, begitu pula dengan Sakura. Syukurlah, ia sudah tak terlihat takut.
“Pesta ulang tahun yang menyenangkan, kami pulang dulu, oh, ya, lain kali kau harus memberitahu kami kalau kau punya adik yang cantik, haha-“
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Asuka. Sakura tersenyum malu-malu. Aku terpaku melihatnya. Menyebalkan, kenapa ia tampak manis sekali?
“Aku tidak memberitahu kalian karena aku yakin kalian akan berebut untuk menggodanya,”
Kami tertawa seketika. Asuka memukul lenganku. Beberapa saat kemudian, rumahku kembali sepi, hanya aku dan Sakura yang tersisa. Aku menutup pintu, Sakura berdiri tepat di belakangku. Sepertinya, ia memperhatikanku dengan seksama. Aku ragu dengan apa yang ia pikirkan. Apa mungkin, ia masih terkejut karena aku memarahinya. Aku membalikkan badanku, pada saat yang bersamaan dia menundukkan kepala. Sepertinya, dugaanku tepat. Aku menghela nafas lalu menghampirinya. Ia masih tak berani menatapku. Dia ini membuatku pusing saja.
“Maaf, aku sudah memarahimu, aku harap kau tidak melakukan hal itu lagi,”
“Kakak tidak perlu minta maaf, itu salahku karena tidak memakai sarung tangan, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,”
Aku menatapnya lekat-lekat, beruntung dia menyadarinya. Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. Payah. Sekarang, apalagi yang harus kukatakan padanya.
Aku memasukkan tanganku ke saku mantel dan menyentuh sesuatu. Apa ini? Kotak? Ah, aku baru ingat, aku belum membuka hadiah dari Sakura. Aku mengeluarkan kotak itu dari sakuku dan menunjukkannya pada Sakura. Ia tampak senang, seulas senyum terkembang di bibirnya. Aku memutar-mutar kotak itu dan mengamatinya. Aku mengira-ngira isi kotak itu. Aku melirik Sakura, dan ternyata dia sedang menertawakan tingkahku. Terkadang dia ini benar-benar menyebalkan.
“Apa isinya? Beritahu aku!”
“Kakak tidak akan tahu jika tidak membukanya, kan?”
Aku mengangkat sebelah alisku. Ya, dia benar, untuk tahu isinya, aku harus membukanya, karena aku tidak yakin dia mau memberitahuku. Aku melepas pita kotak itu dan membukanya. Terlihat sebuah benda mengkilat di dalamnya. Aku mengeluarkannya dari dalam kotak untuk melihatnya lebih jelas. Sebuah gantungan berbentuk segi empat dari logam bertuliskan ‘ganbatte’. Aku menatapnya heran. Kenapa Sakura memberiku ini? Aku menatap Sakura yang tersenyum penuh arti.
“Kenapa kau memberiku gantungan ini?”
Sakura mengulum senyumnya. Aku berharap dia tidak membuatku penasaran terlalu lama. Aku mengisyaratkannya untuk segera menjawab.
“ Karena akhir-akhir ini terlihat lelah sekali, jadi aku berharap kakak kembali bersemangat, aku membelinya dengan terburu-buru, aku tidak tahu kalau kakak berulang tahun hari ini, maaf jika kakak tidak suka,”
Aku tertawa mendengar jawabannya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang membuatku lelah adalah masalah perasaanku padanya. Aku selalu merasa takut akan melukainya lagi setiap aku bertemunya di rumah. Aku selalu memikirkan perasaanku kepadanya yang tidak akan tersampaikan. Aku selalu berusaha membencinya dan bersikap acuh padanya, tapi dia malah mengkhawatirkanku, ini benar-benar lucu. Sakura tampak heran melihatku tertawa. Dia tidak akan mengerti apa yanng membuatku tertawa. Aku tidak akan memberitahu alasanku tertawa padanya, walau ia menanyakannya sekalipun tidak akan kuberitahu.
“Kenapa kakak tertawa, apa ada yang aneh?”
“Tidak, tidak ada yang aneh, aku tertawa karena melihat tulisan di gantungan ini,”
Terpaksa aku berbohong padanya. Aku menghampirinya yang masih terlihat bingung. Aku menatapnya sambil tersenyum lalu mengelus kepalanya. Rambutnya sangat lembut. Aku tahu aku tidak boleh melakukan ini, tapi aku tidak dapat menahannya. Wajah Sakura memerah menatapku yang terus tersenyum padanya, ia lalu menundukkan kepalanya.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, gantungan ini akan kusimpan dengan baik,”
Sakura mengangkat kepalanya, ia menatapku malu-malu. Aku mengulum senyumku dan meninggalkannya yang masih terpaku. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini padanya. Sejak dulu sebenarnya perasaanku tetap sama, tidak pernah berubah, tapi aku selalu menipu diriku sendiri, hingga aku tak dapat menyatakannya lagi. Aku menoleh ke belakang, Sakura masih terdiam di tempatnya. Apa aku melukainya? Kuharap tidak, karena aku tidak ingin melukainya lagi. Aku bertekad, aku boleh jatuh cinta pada wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku boleh menyukai wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku boleh menyayangi wanita mana pun, kecuali Sakura. Aku masih menatap Sakura yang masih tak bergeming, ia pasti tidak sadar kalau aku memperhatikannya. Aku tersenyum sendu. Aku bersedia jatuh cinta pada wanita mana pun, kecuali padamu. Ya, kecuali kamu Sakura, aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta padamu, walau sepertinya itu sudah terjadi. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan menuju kamarku. Aku harap permohonanku saat ulang tahunku hari ini tidak akan terkabul, kalau itu terkabul, aku tidak yakin akan berbuat apa. Paling tidak, aku merasa ini adalah hari ulang tahunku yang paling indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar