Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

VI. Hiro (Sakura’s Feeling)
Aku menggenggam tanganku. Ingatanku kembali ke saat kakak menggenggam tanganku. Aku merasa, rasa hangat itu masih tersisa di tanganku. Tangan kakak yang besar menggenggam tanganku erat, sangat hangat, bahkan walau tak memakai sarung tangan aku tidak merasa dingin sedikit pun. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Kemarin malam benar-benar malam yang indah, aku masih dapat merasakan bahagianya sampai sekarang. Kakak, apakah mungkin ia juga menyukaiku? Aku selalu berharap seperti itu, dan jika itu terjadi, aku yakin akan menjadi wanita yang paling bahagia. Aku benar-benar bahagia. Dari kemarin malam, aku terus tersenyum. Seandainya, malam itu tidak cepat berakhir, dan kakak tidak melepaskan tanganku, semakin indahnya hari itu. Kakak tidak terlihat dingin seperti biasanya, aku merasa kakak malam itu sangat hangat. Aku benar-benar tidak dapat berhenti tersenyum. Aku sangat senang, rasanya seperti mimpi.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Aku tersentak, segera aku menoleh ke arah suara. Paman Yuzo tersenyum menggodaku. Ia berdehem. Aku menundukkan kepalaku, malunya, paman menemukanku sedang melamun sambil tersenyum sendiri. Ah, pasti aku kelihatan seperti orang aneh. Aku bodoh.
“Maaf, aku akan kembali bekerja,”
“Tunggu dulu, kau harus...,”
Bruk. Aku menabrak seseorang. Gawat. Beruntung, aku sedang tidak membawa barang. Aku segera berdiri, menoleh ke arah orang yang kutabrak. Seketika, aku terkejut, aku menutup mulutku, hampir berteriak. Presdir menatapku tajam. Lagi-lagi aku menabraknya. Ya, Tuhan, aku dalam masalah, aku bisa dikeluarkan. Aku membungkukkan badan dalam-dalam.
“Maaf, maafkan aku, presdir Keizo, maaf, tolong beri aku kesempatan lagi, tolong maafkanlah aku, maaf, tolong jangan pecat aku, presdir,”
Aku menutup mataku. Bayangan buruk menghantui pikiranku. Ya, Tuhan, tolonglah aku. Tiba-tiba aku mendengar suara tawa. Aku melirik ke arah presdir dan menemukannya tertawa terbahak-bahak.
“Haha- sudahlah, tegapkan badanmu, sudah, aku tidak akan memecatmu,”
Presdir menutup mulutnya, menahan tawa, tapi sepertinya tidak berhasil, ia terus saja tertawa. Aku benar-benar malu. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku kembali menundukkan kepalaku. Pipiku rasanya panas sekali, malunya. Ini benar-benar memalukan. Paman menepuk pundakku sambil berdehem. Aku tetap tak berkutik. Pikiranku jadi kosong karena terlalu malu.
“Aku baru ingin menyuruhmu mengangkat kepala, tapi kau sudah terlanjur menabrak presdir, kau ini, berhati-hatilah, ayo angkat kepalamu!”
Paman menepuk pundakku lagi lalu menghampiri presdir. Aku mengangkat kepalaku dengan rasa takut bercampur malu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Presdir masih tertawa. Dia tampak berusaha menahan tawanya lagi. Aku berusaha tersenyum padanya, tapi ia malah tertawa lebih keras. Bagaimana ini?
“Kenapa kau sering sekali menabrakku, sih?”
“Aku kan baru melakukannya dua kali, ini yang terakhir, presdir, aku berjanji,”
Aku tersenyum memohon padanya, tapi ia kembali tertawa. Ada apa dengannya? Ah, aku jadi serba salah. Paman ikut tertawa, tapi kemudian meninggalkan kami berdua sambil mengedipkan sebelah mata padaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Presdir tertawa dan aku harus menahan malu, sama sekali tidak bagus. Rasanya aku kesal sendiri. Presdir, kumohon berhentilah tertawa.
“Maaf, maaf, aku menertawaimu, kau itu polos sekali, aku sama sekali tidak dapat menahan tawaku,”
Aku mengerucutkan bibirku. Menyebalkan. Sebenarnya, apa yang lucu? Aku semakin tidak mengerti. Kenapa presdir mengatakan bahwa aku polos? Apa memang begitu? Beberapa saat kemudian, presdir berhenti tertawa. Sepertinya, dia melihatku yang tampak kesal. Ia menegapkan tubuhnya dan merapikan jasnya.
“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan kejadian tadi, tenang saja, aku tidak akan memecatmu, karena kau sedang tidak membawa barang, lain kali berhati-hatilah, dan angkat kepalamu jika berjalan, kau mengerti?”
“Baik, aku akan berhati-hati lain kali, terima kasih banyak,”
“Kau tidak perlu berterima kasih, tapi aku rasa kau harus dapat hukuman karena kau menabrakku,”
Aku menatap presdir dengan terkejut. Hukuman? Apa yang harus aku lakukan untuk membayar kesalahanku? Presdir mengulum senyumnya. Ia tampak seperti sedang menggodaku. Jantungku berdegup kencang, ketakutan. Ya, Tuhan hukuman apa yang akan ia berikan? Tolonglah aku.
“Kalau aku boleh tahu, apa hukumannya, presdir?”
“Tentu saja kau harus tahu, hukumannya adalah kau harus makan malam bersamaku malam ini, bagaimana?”
“Makan malam? Dengan presdir? Itu hukumanku?”
“Yap, tepat sekali, dan aku harap kau tidak menolaknya,”
Presdir tersenyum meyakinkan. Aku menatapnya heran dan tidak percaya. Kenapa ia menghukumku dengan makan malam bersamanya? Ah, sudahlah, presdir sudah terlalu baik padaku, lagipula jika ini hukuman, berarti aku harus melakukannya. Aku tersenyum pada presdir dan mengangguk pasti. Presdir tampak senang.
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu sepulang kerja, oh, ya, kau tidak boleh kabur, mengerti?”
“Tenang saja aku tidak akan kabur, aku akan menunggu presdir dengan senang hati,”
...
Aku mengaduk-aduk makananku. Presdir menatapku lekat-lekat. Aku tidak mau menatapnya, karena aku tidak yakin dapat membalas tatapannya. Aku tetap mengaduk-aduk makananku tanpa memakannya. Sepertinya, hukuman ini sangat berat bagiku. Tadinya aku mengira, makan malam dengan presdir bukanlah hal yang buruk, tapi ternyata aku salah, presdir membuatku berdebar-debar, dan menurutku itu sama sekali tidak bagus. Aku benar-benar gugup, tidak tahu harus mengatakan apa. Beberapa menit berlalu, tapi situasi diantara kami tetap hening, hanya musik jazz yang terdengar mengalun dari atas panggung. Aku menunduk menatap makananku. Aku merasa presdir menatapku dengan penuh arti. Ah, perasaanku campur aduk. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Kau tidak suka makanannya? Apa kau mau menggantinya?”
Deg. Sumpit di tanganku hampir jatuh. Aku mengankat kepalaku dan menatap presdir, ia tersenyum. Senyumannya sungguh menawan. Aku berusaha membalas senyumannya, sulit sekali. Akhirnya, aku berhasil membalas senyumannya, walau pasti terlihat terpaksa.
“Tidak, ini enak, enak sekali, aku baru saja mau memakannya, presdir tenang saja,”
Aku tertawa terbata, benar-benar gugup. Sepertinya, presdir menyadari kegugupanku. Ia mulai memakan makanannya setelah mempersilahkanku untuk menikmati makananku. Syukurlah, presdir berhenti menatapku dengan tatapan penuh arti itu.
Saat kami sedang menikmati hidangan, tiba-tiba presdir meletakkan sumpitnya dan mengambil serbet. Aku segera mengalihkan pandanganku kepada presdir. Dia tampak mengelap sekitar mulutnya. Aku melihat hidangan di depan presdir, ia masih menyisakan hidangan itu. Aku ikut melakukan hal yang sama dengan presdir. Kini, presdir tersenyum dan kembali menatapku dengan penuh arti, tapi aku tak mengerti maksud tatapannya itu.
“Bagaimana dengan kakakmu? Apa dia baik-baik saja?”
Aku merasa seperti tersedak. Kejadian kemarin malam seperti terulang lagi. Kakak menggenggam tanganku dan menarikku masuk ke rumah. Seketika itu pipiku terasa panas. Presdir seperti menyadari wajahku yang tiba-tiba memerah. Memalukan, kenapa aku selalu terlihat memalukan di depan presdir?
“Apa terjadi sesuatu antara kau dan kakakmu?”
Aku segera menggelengkan kepalaku. Presdir tidak boleh menyadari apa yang kupikirkan.
“Tidak, tidak ada, dan kakak baik-baik saja, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan kakak, ah, presdir jangan berpikir yang tidak-tidak,”
“Dari ekspresimu, sepertinya kau sedang berbohong,”
Hah? Aku terkejut mendengar ucapan presdir. Ia tersenyum seakan menyindirku. Aku tersenyum kecut. Apa aku memang tidak bisa berbohong? Menyebalkan.
“Ternyata benar kalau kau menyukai kakakmu itu,”
Aku segera menggelengkan kepalaku keras. Presdir menatapku penuh tanda tanya.
“Itu tidak benar, kan sudah kubilang, presdir jangan berpikir macam-macam,”
Presdir tertawa mendengar ucapanku. Bodoh, kenapa aku harus bersikeras untuk membohongi presdir. Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum kecut.
“Haha- kau ini benar-benar tidak bisa berbohong, kau tahu? Lagipula, kenapa kau bersikeras untuk membohongiku tentang perasaanmu itu? Kau ini aneh sekali,”
Itulah yang aku tidak tahu. Sebenarnya, untuk apa aku membohongi presdir tentang perasaanku pada kakak. Aku kembali menunduk. Aku tidak tahu alasan mengapa presdir tidak boleh megetahui perasaanku pada kakak.
“Maafkan aku, tapi aku mohon persdir tidak membicarakan hal itu lagi,”
“Ya, aku juga minta maaf padamu, sebenarnya aku juga tidak ingin tahu tentang perasaanmu padanya, tapi entah mengapa aku ingin menanyakannya, maaf jika membuatmu gugup,”
Presdir tersenyum tulus padaku. Aku memperhatikannya berubah sedikit sedih. Lagi-lagi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada presdir.
“Kau tidak menghabiskan makananmu? Kenapa?”
“Presdir sendiri tidak menghabiskannya, kenapa?”
Aku tersenyum menyindirnya, tapi ia kembali tertawa. Ia merapikan jasnya, seperti bersiap untuk pergi. Aku mengambil tas tanganku. Kini, ia mengannguk padaku.
“Kalau kau juga sudah selesai, ayo kita pergi, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu,”
“Baik, tapi kita akan kemana? Aku takut kakak khawatir jika aku tidak segera pulang,”
“Tenang saja kau tidak akan pulang larut malam, aku pastikan itu,”
Presdir memanggil sekretarisnya dan menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan kami. Setelah itu, presdir menghampiriku dan mengulurkan tangannya tapi aku tidak menyambutnya, tetap tak bergeming. Presdir terlihat heran melihat reaksiku, tapi kemudian ia berdehem dan menarik tangannya kembali. Ia pergi lebih dulu setelah memberi isyarat kepadaku, aku mengikutinya dari belakang.
...
Aku menatap kagum melihat pemandangan di depanku. Aku dapat melihat seluruh kota Tokyo dari atas bukit ini. Lampu-lampu bangunan terlihat berkelip seperti bintang. Kaca-kaca bagaikan memantulkan sinar rembulan. Suara bising jalan terdengar seperti alunan musik yang menemani malam yang sepi. Benar-benar indah. Udara dingin tidak membuatku enggan untuk terus berdiri di atas bukit ini. Ini luar biasa indah.
“Ini indah sekali, lihat, Tokyo terlihat seperti gugusan bintang, kau lihat kan, To-chan,”
“Kau ini bodoh, ya, mana mungkin Tokyo seperti gugusan bintang, menurutku ini tidak lebih indah dari pemandangan di Kyoto,”
“Kau pernah tinggal di Kyoto?”
“Ya, dulu nenekku tinggal disana, tapi sekarang, ia juga pindah ke Tokyo,”
“Tapi menurutku ini benar-benar indah,”
“Kau ini, terserah kau sajalah,”
Aku tersentak. Apa itu tadi? Baru saja, aku seperti melihat dua anak yang sedang bercengkrama disini. Siapa mereka? Kenapa tiba-tiba bayangan mereka terbesit di benakku? Seorang anak perempuan yang terlihat seperti diriku, dan seorang anak laki-laki bernama To-chan? Siapa To-chan? Kenapa aku berada disini dengannya dan bercengkrama dengan akrab? Kapan hal itu terjadi? Ah, kepalaku sakit sekali. Pikiranku seperti berada dimana-mana dalam satu waktu. Sakit. Aku memegang kepalaku. Sakit sekali. Ada apa denganku?
“Sakura, kau tidak apa-apa? Sakura kau baik-baik saja, ada apa?”
Presdir menyentuh lengnku. Aku menoleh ke arahnya, wajahnya terlihat khawatir. Ah, kepalaku sakit sekali. Semakin aku berpikir semakin sakit.
“Hey, Sakura! Kau kenapa? Apa kepalamu sakit?”
Aku tidak dapat berbicara apa-apa, aku hanya mengangguk lemah. Ah, kenapa aku tiba-tiba begini? Aku sudah merepotkan presdir.
“Aku akan memapahmu ke mobil, ayo, pegang tanganku, hati-hati,”
Aku memegang tangan presdir dengan erat. Kepalaku masih terasa sakit. Rasanya, aku hampir pingsan. Dari jauh, aku melihat samar-samar bayangan seorang pria. Siapa? Aku yakin itu bukan presdir karena presdir ada di sampingku sambil terus memapahku menuruni bukit ini, lalu siapa laki-laki itu?
“Sakura, Presdir Keizo?! Apa yang kalian lakukan, ah, Sakura, apa yang terjadi padanya?”
Suara kakak. Aku mendengarnya dengan jelas, ia bertanya pada presdir tentang keadaanku. Pendengaranku mulai samar. Sepertinya, presdir mencoba menjelaskan keadaanku pada kakak. Sepertinya, aku mulai tak sadarkan diri. Kakak tolong bawa aku pulang segera. Aku ingin mengatakan itu, tapi aku seperti tak sanggup melakukannya. Ah, kesadaranku semakin menghilang.
...
Aku berusaha membuka mataku. Aku dimana? Aku mencium wangi yang tak asing. Ini wangi tubuh kakak. Benar, aku yakin tidak salah mengenalinya. Aku berusaha mengangkat kepalaku, sakit, aku sulit melakukannya. Sepertinya, kepalaku disandarkan di pundak kakak. Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengangkat kepalaku, rasanya masih sedikit pusing. Aku mengaduh, rasanya kepalaku berat sekali.
“Kau sudah sadar Sakura?”
Kakak menatap ke arahku, tapi pandanganku masih kabur. Wajah kakak terlihat sangat khawatir. Ah, aku ingat, tadi aku pergi ke bukit dengan presdir dan melihat bayangan itu, saat itulah kepalaku terasa sakit sekali. Aku kembali berusaha mengangkat kepalaku, tapi tiba-tiba tangan kakak menahannya. Ah, kenapa? aku harus segera bangun agar tidak membuatnya khawatir.
“Jangan langsung mengangkat kepalamu, bodoh, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu kepalamu pasti sakit sekali, jadi memaksakan diri untuk langsung bangun, kau ini baru saja pingsan, kau tahu?”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Setiap aku dalam masalah pasti kakak selalu ada untukku. Saat aku tersesat, saat presdir hampir melakukan sesuatu padaku, dan kini saat kepalaku terasa sakit sekali. Kakak benar-benar malaikat pelindungku. Aku yakin aku tidak salah menyukai kakak.
Tiba-tiba aku teringat dengan bayangan anak laki-laki yang bercengkrama dengan diriku di bukit tadi. Aku tidak ingat siapa anak itu, tapi saat aku melihat bayangannya tadi, aku merasa ada rasa hangat yang menjalar di tubuhku. Diriku waktu kecil yang aku lihat bersamanya juga tampak merasakan bahagia. Dari wajahnya saja, aku sudah dapat menduga bahwa diriku saat itu sangat bahagia bersama anak laki-laki itu, tapi siapa dia? Aku mencoba mengingat-ingat bayangan pada saat aku memanggilnya. To-chan. Ya, aku memanggilnya To-chan. Apakah itu kakak? Atau aku pernah menyukai seseorang selain kakak? Tapi, aku yakin aku tidak pernah terlihat sebahagia itu kecuali saat aku bersama kakak. Aku mencoba menatap kakak, wajahnnya tetap tenang seperti biasanya. Aku sangat berharap anak laki-laki itu adalah kakak, walau aku tidak mengingat kapan hal itu terjadi. Harapan itu membuatku tersenyum tanpa sadar.
“Kakak, apa aku benar-benar tidak boleh mengetahui nama kakak, walau hanya nama kecil kakak, atau panggilan kakak? Apa benar-benar tidak boleh?”
“Hey, kau baru saja sadar, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?”
“Tapi, akhir-akhir ini aku selalu memikirkan hal itu, aku rasa, jika aku mengetahui nama kakak, aku akan dapat semakin akrab dengan kakak, aku mohon beritahu aku nama kakak,”
Kakak menghela nafas, lalu menatapku dengan pasrah. Aku mencoba memasang senyum semanis mungkin. Kakak kembali mengalihkan pandangannya dariku. Dia kembali menghela nafas. Sepertinya, kakak sedang memikirkannya matan-matang. Ayolah, beritahu aku namamu, sedikit saja, aku mohon.
“Hiro,”
Aku terdiam sesaat. Hiro. Dia memberitahu namanya. Syukurlah. Aku benar-benar beruntung. Nama yang indah. Hiro, aku akan selalu mengingat itu. aku tersenyum senang. Akhirnya, harapanku terkabul, kakak memberitahukannya. Ah, rasanya aku senang sekali sampai tak dapat berkata apa-apa, aku hanya dapat tersenyum terus. Kakak menatapku dengan heran.
“Sesenang itukah kau mengetahui namaku? Kau ini benar-benar gadis aneh,”
Aku hanya menanggapi ucapan kakak dengan senyuman yang terus terkembang di bibirku. Ya, walau hanya satu kata dari namanya, aku sudah sangat senang.
“Jadi, aku bisa memanggil kakak dengan ‘kak Hiro’, boleh, kan aku memanggil kakak begitu?”
“Ya, terserah kau saja, yang terpenting, apa kepalamu sudah lebih baik, kalau sudah, ayo berdiri, ini sudah malam, kita harus segera pulang,”
Aku mengangguk dan berdiri sesuai apa yang kakak suruh. Aku menaiki motor kakak, setelah ia memberiku isyarat untuk cepat naik. Kakak mengendarai motornya dengan perlahan, mungkin, ia takut terjadi sesuatu padaku. Aku masih tersenyum, tapi tiba-tiba aku merasa melupakan sesuatu. Ah, presdir. Bukankah aku tadi pergi bersama presdir, lalu bagaimana dengannya? Ah, sudahlah, mungkin ia sudah pulang lebih dulu. Aku mempererat peganganku pada kakak. Malam ini adalah malam terindah. Sepanjang malam ini aku akan menggumamkan kata itu, Hiro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar