VII. Aishiteru (Tokio’s Feeling)
“Sakura, kau tahu bukit yang ada di belakang sekolah kita?”
Sakura mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. Aku sudah mengira ia pasti tidak tahu. Padahal dia sudah cukup lama tinggal di daerah ini, dia memang anak yang buta arah. Aku menghela nafas dan ikut menggelengkan kepala, bukan karena aku tidak tahu tapi aku tidak percaya perkiraanku tentangnya itu benar. Dasar Sakura si gadis bodoh dan payah.
“Memangnya ada apa disana? Aku tidak tahu ada bukit di belakang sekolah kita, aku pikir tidak ada bukit di Tokyo,”
“Kau ini memang payah, kau seperti baru sehari tinggal di Tokyo, bukit itu memang jauh dari pusat kota tapi kan bukit itu ada di belakang sekolah kita, masa kau tidak tahu, payah!”
Sakura merengut kesal, aku menjulurkan lidahku untuk meledeknya. Huh, dasar anak payah. Ia semakin terlihat kesal, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Aku tidak mau melanjutkan pembicaraanku dengan Sakura. Bicara dengannya hanya membuatku lelah saja, benar-benar membuang waktu. Tiba-tiba tangan Sakura menghentikanku yang sedang merapikan buku. Aku menatapnya bingung, ia tersenyum memohon. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke buku-bukuku. Ia menarik-narik lenganku, merajuk. Menyebalkan.
“Ayolah, kau kan sudah tahu aku belum pernah kesana, ayo ajak aku kesana,”
Aku menghela nafas. Inilah sebabnya aku tidak bisa menang darinya, jika ia memaksa, pasti ia merajuk dengan tersenyum manis padaku. Menyulitkanku saja.
“Iya, iya, aku akan mengajakmu kesana, besok sepulang sekolah aku tunggu di gerbang belakang, jangan sampai telat, kalau kau telat, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi,”
“Siap, kapten!”
Sakura tersenyum gembira, aku hanya membalasnya dengan seulas senyum terpaksa. Aku mengambil tasku dan pergi meninggalkannya yang masih tersenyum dengan lebarnya. Anak payah dan aneh, dia membuatku kesal saja.
...
Seluruh kota Tokyo terlihat kecil dari sini. Awan terlihat seperti lukisan yang sangat indah berkilauan. Sinar matahari menyeruak masuk melalui celah-celah pohon, terlihat seperti pantulan cahaya yang menyilaukan. Aku meletakkan tanganku di atas pelipisku. Silau. Aku teringat saat aku membawa Sakura ke bukit ini. Ia tak berhenti tersenyum takjub sejak sampai disini. Ia melihat sudut kota yang terlihat hingga berkali-kali tanpa bosan. Tanpa sadar, aku tersenyum karena mengingat ekspresi wajahnya saat itu. Dia terlihat sangat polos waktu itu. Dalam pandanganku, saat itu dialah anak perempuan yang paling manis, walau aku terkadang kesal padanya. Setiap ia tersenyum, rasanya hatiku sangat damai, tapi pada waktu yang sama juga kesal karena menyadari bahwa ia menyukaiku. Dulu, aku tidak mempunyai perasaan apapun pada Sakura, bagiku dia hanya anak perempuan yang menyebalkan dan selalu mengikutiku kemana pun, anak yang sering sekali menyulitkanku. Tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mencelakainya, melukainya, bahkan menghancurkan masa kecilnya. Di bukit inilah semua perasaanku tercampur aduk. Kejadian menyenangkan juga menyedihkan terjadi pada waktu yang sama di bukit ini. Kejadian yang sangat cepat berganti, dari tawa menjadi tangis.
Aku menghela nafas sambil menyandarkan tubuhku di sebuah batang pohon. Angin yang berhembus masih menemaniku. Perasaanku sekarang seperti berlari kemana-mana. Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan dengan Sakura. Berulang kali aku mencoba membencinya, tapi berulang kali juga, aku merasakan jantungku berdebar saat bersamanya. Perasaan damai saat melihatnya tersenyum tidak pernah hilang. Kejadian malam itu membuatku semakin sulit membencinya. Aku bahkan tanpa sadar memberitahu namaku padanya, walau itu hanya penggalan dari namaku, dan aku yakin ia tidak akan menyadari bahwa namaku sebenarnya adalah Tokio Hiroshi. Entah mengapa aku terpikir untuk memberitahunya nama panggilan ayah untukku. Hiro, penggalan kata dari Hiroshi.
Hal yang membuatku bingung adalah mengapa Sakura ada di bukit ini malam itu, dan orang yang bersamanya malam itu membuatku makin bingung. Kenapa presdir Keizo mengajaknya ke bukit ini? Aku tidak pernah tahu ada yang pernah ke bukit ini selain aku dan Sakura kecil. Sebenarnya, siapa presdir Keizo. Ah, pikiranku muluk sekali. Bukit ini kan bukan milikku, pasti ada orang lain selainku yang megetahui keberadaannya. Aku kembali menghela nafas. Semakin aku pikirkan, aku malah semakin tidak menemukan jawabannya. Bukan masalah presdir mengetahui bukit ini, tapi masalah mengapa Sakura bisa pingsan di bukit ini. Apa yang membuat kepalanya sakit dan pingsan? Aku sama sekali tidak mengerti.
Aku mengadahkan tangan, sebuah daun yang gugur jatuh ke atas tanganku. Aku memperhatikannya dengan seksama. Daun rapuh yang tertiup angin, ia tidak bisa melawan kerasnya angin yang menghatamnya, hingga akhirnya jatuh tanpa melawan. Aku rasa, suatu saat aku pun akan seprti daun itu, jatuh karena tak sanggup menahan cobaan yang menekan batinku. Semakin lama aku hidup, aku rasa akan semakin banyak orang yang kulukai. Aku ingin mengubah hal itu, tapi sulit sekali melakukannya.
Aku mengangkat kepalaku, menatap awan yanag terlihat sangat cerah, bertolak belakang dengan hatiku yang selalu gelap. Aku merasa diriku hampa, tapi aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengisinya. Menyimpan perasaan tak tentu ini benar-benar melelahkan.
Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir sore. Aku ingat punya janji dengan Sakura hari ini, tapi aku merasa diriku belum siap bertemunya. Kejadian malam itu selalu terbayang di benakku. Aku jadi serba salah setiap bertemunya. Aku harus mengatur perasaanku sebelum bertemunya. Padahal kami bertemu setiap hari di rumah, tapi aku tetap merasa berdebar jika bertemunya. Aku tidak boleh seperti ini. Semakin dia berada dekat denganku, aku harus semakin membenci dan menjauhinya. Aku harus bersikap tenang seperti biasa. Apapun yang terjadi dan apapun yang dikatakan Sakura, aku harus mengacuhkannya, aku harus menyikapinya dengan tenang dan biasa saja. Ya, aku harus melakukan itu.
Aku menegakkan tubuhku. Aku rasa aku sudah bisa mengendalikan diriku. Aku harus siap bertemu dengan Sakura, apapun yang terjadi. Aku berjalan perlahan menuruni bukit. Setiap langkah, aku menghela nafasku. Aku harap dengan cara itu, aku dapat benar-enar tenang saat brtemunya.
Aku mengira-ngira untuk apa Sakura meminta waktu untuk bertamuku, padahal kami dapat bertemu setiap hari di rumah. Apa yang ingin ia rencanakan? Aku melihat tanggal di jam tanganku. Hari ini bukan ulang tahunku, dan aku yakin juga bukan ulang tahunnya. Tanggal 14, bulan 2, memangnya ini hari apa? Tunggu, 14 februari. Aku menelan ludah, terkejut mengetahui bahwa hari ini adalah valentine. Prasangkaku jadi buruk.
Aku harus menghindari pertemuan ini. Aku harus ke tempat lain dan berpura-pura tidak ingat jika akan bertemunya. Aku segera mengambil helmku dan menaiki motor. Aku harus pergi ke mana saja, jika bisa, aku akan pulang tengah malam nanti, jadi Sakura tidak bisa bertemu denganku hari ini. Rencana yang sempurna.
“Kak Hiro!”
Hampir saja aku menyalakan mesin motor, tiba-tiba aku mendengar suara Sakura. Aku menelan ludah, semoga saja hanya suaranya yang mirip, tapi dia memanggil ‘kak Hiro’, semoga saja aku salah dengar. Aku menoleh ke sumber suara, jantungku berdebar keras. Aku hampir tidak bisa berpikir ketika menemukan sosok Sakura yang berjalan menghampiriku. Dugaanku benar, memang Sakura yang memanggilku. Hancur sudah rencanaku.
Sakura menghampiriku dengan senyum terkembang di bibirnya, ia kelihatan sangat senang. Aku melepas helmku dan dengan terpaksa, turun dari motor. Sakura membawa sebuah kantung kertas di tangannya, aku sudah menduga isinya, walau aku berharap bukan cokelat yang ia bawa. Aku berdiri di depan motorku dengan wajah setenang mungkin. Sakura harus menganggapku bersikap seperti biasa, walau sebenarnya jantungku rasanya seperti mau meledak
“Kakak mau kemana? Apakah kakak baru turun dari bukit ini?”
“Ya, aku baru saja mau pulang, apa yang kau lakukan disini?”
“Kakak pulang sangat lama jadi aku mengira-ngira ke mana kakak pergi, ternyata perkiraanku benar, kakak memang ada disini,”
Mataku rasanya seperti membesar saking terkejutnya. Kenapa ia bisa mengira aku ada disini? Aku hanya mengajaknya satu kali yaitu waktu ia kecil dan sebelum kejadian itu. Apakah ia mengingat sesuatu tentang bukit ini? Tidak, mungkin saja dia ngat aku bertemunya disini malam itu, jadi pasti ia berpikir aku sering kesini.
“Ya, aku cukup sering kesini, tapi seharusnya kau tunggu saja di rumah, kau tidak perlu datang kesini mencariku,”
Sakura tertawa, tapi menundukkan kepalanya, seakan mnta maaf. Aku sempat terpaku melihatnya. Dia memang gadis aneh yang manis. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya, beruntung, aku segera menghilangkan senyum itu ketika ia kembali mengangkat kepalanya.
“Maaf, kak, aku terlalu senang sampai rasanya lama sekali waktu kalau aku menunggu kakak di rumah,”
Entah mengapa, ia segera menutup mulutnya dengan tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Aku tertawa kecil melihat sikapnya yang spontan itu. Sakura sepertinya menyadari bahwa aku menertawainya. Wajahnya memerah seketika. Dia terlihat malu sekali. Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku dan mengusap kepalanya. Sakura menatapku dengan heran, aku segera sadar dan menarik tanganku kembali. Aku bodoh sekali, seharusnya aku tidak melakukan itu. Sakura kembali menunduk malu, tapi beberapa saat kemudian, ia menghela nafas dan mengangkat kepalanya kembali. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kalau begitu, ayo kita pulang!”
Aku menyembunyikan rasa penasaranku. Aku tidak boleh memberikannya kesempatan untuk memberikanku cokelat atau apapun, walau aku tidak tahu apa yang ingin ia lakukan, tapi prasangkaku sekarang benar-benar buruk. Aku takut situasi yang tidak kuinginkan terjadi lagi.
“Kakak, tunggu sebentar, aku ingin mengobrol dengan kakak disini sebentar lagi, boleh kan?”
“Kenapa tidak di rumah saja?”
“Ah, kalau di rumah, aku takut aku malah tidak bisa mengatakan apapun, tidak apa-apa kan, kak? Sebentar saja, aku mohon,”
Ia tersenyum merajuk seperti saat dia memintaku untuk membawanya ke bukit ini. Kalau ia sudah seperti ini, aku benar-benar sulit melawannya. Aku menghela nafas dan menatapnya dengan tatapan mengancam. Ia tetap tersenyum merajuk dengan polosnya. Dasar pemaksa. Aku tidak bisa menang melawannya.
“Terserah kau sajalah, ayo naik ke atas, kau ini membuatku lelah saja,”
Bukannya meminta maaf, ia malah tersenyum semakin lebar mendengar perkataanku. Aku tidak habis pikir dengannya. Benar-benar gadis menyebalkan.
Aku berjalan kembali menaiki bukit, Sakura mengikutiku dari belakang. Terkadang ia tersandung batu-batu kecil, tapi aku tidak menghiraukannya. Ia terkihat kesal beberapa saat lalu kembali tersenyum senang. Lagi-lagi hal itu membuatku tersenyum sedikit.
Aku sudah sampai di puncak bukit, dan menatap langit yang hampir gelap. Aku mengalihkan pandangan ke Sakura, ia masih tertatih-tatih menaiki bukit, tapi wajahnya kelihatan bersemangat sekali. Aku jadi tertawa melihatnya. Rasa penasaranku tentang apa yang ingin ia katakan padaku jadi semakin besar, aku berharap itu bukan hal yang harus kubenci.
Sakura berhasil mencapai bukit dengan terengah-engah, aku bertepuk tangan melihatnya, tapi ia malah merengut kesal, membuatku kembali tertawa. Ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon sambil terus menatap kesal ke arahku. Aku mengangkat bahuku dan mengatur wajah seakan-akan sedang merendahkannya, tapi ia malah tertawa melihat tingkahku itu. Aneh. Sekarang, dia malah duduk di atas batang pohon yang sudah rubuh. Dasar, sebenarnya apa yang ia ingin katakan? Harus berapa lama aku menunggunya bicara.
“Apa kakak mempunyai kenangan di bukit ini?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya, tapi aku segera menenangkan diriku kembali. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Jarak kami menjadi cukup dekat. Sebenanya, aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya, tubuhku seperti bergerak sendiri menghampirinya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kenanganku itu penting untukmu?”
Aku berkata ketus lagi padanya. Hal yang aku tidak mengerti samapai sekarang adalah mengapa aku bisa dengan tenang bersikap ketus pada Sakura, sementara jantungku berdebar sangat kencang. Aku jadi seperti orang aneh di depannya.
“Ah, tidak, aku hanya ingin memastikan bayangan yang terbesit di benakku pada malam itu,”
Bayangan? Apa itu sebagian dari ingatannya yang hilang? Apa ia mengingat sesuatu tentangku? Gawat. Aku benar-benar takut jika ingatannya kembali.
“Bayangan apa yang terbesit di benakmu itu?”
“Seorang gadis kecil dan anak laki-laki yang sedang bercengkrama di bukit ini, gadis kecil itu terlihat seperti aku, tapi aku merasa tidak mengenal anak laki-laki yang bersamanya, dan kakak tahu, yang membuatku semakin bingung adalah ekspresi gadis kecil itu yang terlihat sangat gembira,padahal aku yakin aku tidak pernah terlihat sesenang itu saat bersama anak laki-laki,”
Tidak mungkin. Bayangan yang ia lihat itu adalah kejadian waktu itu, saat semuanya mulai berubah. Kenapa ingatan itu kembali? Kepalaku terasa berat. Perasaan takut itu kembali menghantuiku. Tuhan, dapatkah kau buat ia melupakan hal itu? Aku berusaha mengendalikan pikiran yang berkecamuk di benakku. Aku harus tetap terlihat tenang, jangan membuatnya curiga padaku.
“Mungkin itu memang ingatan masa kecilmu, wajar, kan , jika kau tidak mengingatnya, itu sudah cukup lama,”
Aku mencoba berdalih agar ia tidak terlalu memikirkan hal itu.
“Benar kata kakak, itu pasti masa kecilku yang mungkin aku lupakan, sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya, kan?”
Aku mengangguk, mengiyakan. Bagus. Sudah seharusnya ia tidak memikirkannya, kalau ia memikirkannya, itu hanya membuatku sulit saja.
“Tapi, kak...,”
Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, cemas dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“Aku berpikir dan mungkin berharap anak laki-laki itu adalah kakak,”
Apa? Aku semakin terkejut, tapi Sakura malah semakin tersenyum senang. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Situasi ini menyulitkanku.
“Kenapa kau berharap itu aku? Mana mungkin itu aku, jangan berharap yang tidak-tidak,”
Sakura tertawa melihat reaksiku. Aku tetap menatapnya dengan datar. Aku harus menyembuyikan keterkejutanku ini.
“Tidak apa, maaf jika aku lancang, tapi aku ingin menyerahkan sesuatu pada kakak,”
Sakura mengambil tas kertas yang tadi dipegangnya, ia terlihat berusaha mengeluarkan isinya. Aku dengan cemas dan takut menunggunya membuka isi tas itu. Semoga saja itu bukan cokelat, tapi ternyata harapanku itu hancur saat Sakura mengeluarkan kotak berbentuk hati dan berwwrna pink dari tas itu. Aku yakin sekali itu adalah cokelat. Sial. Ini membuatku jadi kesal.
“Ini untuk kakak, aku sudah berusaha membuatnya dengan sepenuh hati, maaf jika ternyata rasanya tidak enak,”
Aku tidak mengatakan apapun dan tidak melakukan apa pun, rasanya aku kesal sekali. Aku ingin sekali menerimanya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menghancurkan cokelat itu berkeping-keping. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya perasaan kesal yang kini ada di hatiku. Aku kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa mengambil sikap.
“Dan ada satu hal lagi yang ingin kukatakan pada kakak,”
Wajah Sakura tampak memerah. Pikiranku jadi semakin buruk. Apalagi yang ingin ia katakan sekarang? Rasanya aku benar-benar ingin pergi dari sini secepatnya.
“Kak, aku...,”
Aku benar-benar kesal. Aku benci situasi ini.
“Aku mencintai kakak, sudah lama aku menyimpan perasaan ini, aku benar-benar mencintai kakak,”
“Itu hanya ilusimu saja,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar