Aku tidak akan melupakan wajah itu, wajah perempuan yang kini berdiri di depanku. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Pandanganku tetap tertuju kaku menatapnya. Tuhan, musibah apalagi ini, kenapa anak itu kembali lagi, kenapa ia berdiri dengan polosnya di hadapanku. Aku tetap mematung, walau aku sadar, gadis itu pasti terheran-heran melihat sikapku. Ah, ini membuat kepalaku pusing, aku bahkan tak bisa berpikir jernih, bahkan air mataku yang sejak semenit lalu masih mengalir deras, kini kering begitu saja. Seperti tidak ada yang terjadi selama seminggu ini, seperti saat ibu mengenalkanku pada gadis ini untuk kedua kalinya.“Tokio, dia Sakura, bukankah dia gadis yang manis?”
Ucapan ibu saat itu berputar-putar di kepalaku, tapi aku tetap berdiri mematung. Kepalaku tetap kosong. Aku terkejut, dan aku benci ini, aku benci gadis ini menampakkan diri di hadapanku, aku benar-benar benci ini.
“Kakak,”
Ah, menyebalkan sekali. Apa yang harus kulakukan? Kenapa ia datang ke tempatku? Kenapa ia ada di Tokyo dan bukan di Kyoto?
“Kakak,”
Ini hari yang menyebalkan bagiku. Aku tak mau ia disini. Aku benci jika ia melihatku, aku benci ia tersenyum padaku. Sekarang, kenapa ia disini?
“Kakak, kakak, kakaaakk,”
Apa? Siapa yang memanggilku kakak? Ah.ya, anak ini. Dia memanggilku apa tadi? Kakak?
“Kakak, apa kakak mendengarku?”
Benar, dialah yang memanggilku kakak, saking terkejutnya, aku bahkan tak mendengar ia memangilku. Aku segera tersadar.
“Ah,ya, maaf kau...,”
“Sakura, aku Hana Sakura, kakak ingat?”
“Ah,iya, aku ingat, kau... kenapa ada di Tokyo?”
“Itu... aku benar-benar minta maaf, aku berniat untuk bertemu bibi, aku benar-benar tidak tahu bibi sudah...,”
Ucapannya terhenti, matanya yang bulat mengalihkan pandangannya ke sebuah makam tak jauh dari tempatku berdiri. Makam bertuliskan nama ibuku.
“Ah, itu salahku, aku tidak memberi tahumu lebih awal, jika kau tahu ibu sudah tiada, kau tidak perlu jauh-jauh..., ”
“Apa maksud kakak? Seharusnya tanpa kakak beri tahu pun, aku tetap mencari kabar kalian, tapi aku sama sekali tidak mengetahui apa pun”
Suaranya mulai terdengar sendu. Ia berjalan pelan menuju makam ibu. Aku melihat bulir-bulir air memenuhi kelopak matanya. Ia mulai terisak. Aku benar-benar membencinya, kenapa ia harus menangis? Kenapa ia harus sedih dengan kematian ibuku? Itu ibuku, yang pergi itu ibuku, bukan ibunya? Kenapa ia sesedih itu?
“Bibi, maafkan aku...,”
Ia mulai menangis terisak-isak. Hey! Kenapa kau menangis? Itu ibuku, sudah kukatakan itu ibuku. Hatiku benar-benar membenci ini, tapi aku tetap tak melakukan apapun, hanya mematung di tempatku. Anak itu mengusap nisan di makam ibu. Ah, Apa yang ia lakukan?
“Bibi, aku benar-benar minta maaf, padahal bibi sudah melakukan semuanya untukku, padahal bibi sudah melindungi diriku, padahal selama ini bibi yang selalu terseyum kepadaku, tapi aku sama sekali tak melakukan apapun, bahkan aku tak bisa menbantu bibi pada saat bibi membutuhkanku, aku benar-benar minta maaf, bi, aku...,”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Aku benar-banar heran, apa yang sebenarnya ia pikirkan, kenapa ia benar-benar mempedulikan ibuku, kenapa ia mengatakan hal itu. Ah, aku benar-benar kesal tapi aku juga sangat tersentuh mendengar ucapannya. Kenapa ia harus kembali kesini, kenapa ia kembali ke kehidupanku.
“Aku benar-benar ingin bertemu bibi, aku merindukan bibi dan kakak, maafkan aku, bi..”
Apa yang ia katakan? Kenapa ia merindukanku? Dan ibu? Lelucon apa ini? Ah, ini membuatku kesal. Gadis ini benar-benar tak mengerti mengapa aku tak mau melihatnya. Menyebalkan. Sekarang, ia malah tersenyum padaku.
“Kakak, apa kakak tidak apa-apa?”
“Apa maksudmu?”
“Apa kakak tidak merasa kesepian tanpa bibi?”
“Aku? Tentu saja tidak, aku sudah merasakan ini selama seminggu, dan aku tetap baik-baik saja, kau tak usah mengkhawatirkanku,”
Apa-apaan dia? Dia bermaksud menanyakan keadaanku? Yang benar saja. Aku benar-benar tak mengerti gadis ini. Bukankah, seharusnya dia memikirkan dirinya sendiri?
“Aku hanya berpikir kakak pasti merasa sedih, bukankah bibi adalah keluarga kakak satu-satunya?”
“Haha- kau itu kenapa bisa-bisanya berpikir seperti itu? Daripada kau memikirkanku, bagaimana denganmu? Kenapa kau tak segera pulang ke Kyoto? Bukankah kau sudah melihat makam ibuku?”
“Aku tidak mungkin pulang, aku sudah tak punya tempat tinggal di Kyoto”
“Apa? Apa yang terjadi dengan nenek yang merawatmu selama ini?”
“Itu... sebenarnya tiga hari yang lalu, nenekku juga meninggalkanku, rumah yang kami tinggali disita, yang terpikir olehku hanya bibi dan kakak yang waktu dulu tinggal di sebelah rumah kami, jadi...,”
“Maksudmu, kau akan tinggal disini?”
“Itu... tadinya aku memang berpikir begitu, tapi mengetahui bibi sudah tiada, aku akan berusaha semampuku untuk tinggal di Tokyo”
Dia akan tinggal di Tokyo. Dimana? Apa dia tidak berpikir bahwa ia seorang wanita, bukankah tidak mungkin ia tinggal di sembarang tempat.
“Aku akan segera pergi, mungkin aku akan mulai mencari kerja dan aku...,”
“Tunggu! Maksudmu kau akan mecari tempat tinggal di Tokyo? Sendiri?”
“Iya, kak”
Gadis ini benar-benar bodoh. Apa ia tidak berpikir bahaya apa yang akan mengahampirinya?
“ Tinggallah disini,”
“Apa?”
“Aku bilang kau boleh tinggal disini,”
“Kakak mengizinkanku tinggal di rumah kakak?”
“Ya, itu lebih aman daripada kau tinggal di jalanan atau tempat-tempat yang berbahaya bagimu,”
“Tapi, aku yakin tidak apa-apa jika aku mencari tempat tinggal sendiri, aku akan bekerja sampai aku dapat menyewa apartemen,”
“Lalu sebelum itu kau akan tinggal dimana? Apa rencanamu?”
“Aku mungkin akan beristirahat di taman kota, semalam aku juga tertidur di taman kota dan itu cukup aman”
Gadis ini benar-benar menyebalkan. Kenapa ia mengkhawatirkanku tetapi mengabaikan dirinya? Bodoh.
“Hey! Kau itu wanita, apa kau tidak mengerti hal itu, tinggallah disini sampai kau dapat menyewa apartemen,”
“Apa tidak apa-apa? Kakak...,”
Benar-benar menyebalkan.
“Aku tidak keberatan kalau kau tinggal disini, kau bisa memakai kamar ibu, tenang saja kamarku dan kamar ibu cukup jauh jaraknya, jadi berhentilah bertanya,”
Dia benar-benar membuatku kesal. Walau aku ingin membantunya, dia tetap saja banyak bicara. Gadis yang menyebalkan. Dari dulu ia tidak pernah berubah, selalu banyak bicara.
“Baiklah, terima kasih banyak kak, aku akan bekerja keras agar cepat menyewa apartemen. Aku juga akan mengerjakan pekerjaan rumah, aku akan memasakkan makanan untuk kakak, menyiapkan air untuk mandi...,”
“Hey!”
“Membersihkan lantai...,”
“Hey!”
“Mengelap meja...,”
“Hey!”
“Merapikan kamar, aku juga akan mencuci pakaian, lalu...,”
Gadis ini benar-benar banyak bicara.
“HEY! Cukup! Kau tak perlu melakukan apapun!”
“Tapi, aku takut merepotkan kakak,”
“Kau tidak akan merepotkanku, benar, kan? Atau memang kau berniat merepotkanku?”
“Tidak, aku tidak akan merepotkan kakak, aku pasti tidak akan merepotkan kakak!”
“Bagus! Bawa barang-barangmu ke dalam, aku akan menunjukkan kamarmu!”
“Ah, baik! Terima kasih banyak, kak, aku pasti akan bekerja keras!”
“Ya,ya, kau harus berusaha keras,”
Gadis itu kini tersenyum yakin kepadaku. Aku tidak pernah menyangka anak perempuan yang menangis di depanku dulu, tumbuh menjadi gadis yang seberani ini. Aku hanya menatapnya sekilas saat ia berusaha membawa barang-barangnya ke dalam rumahku, gadis yang aku lihat saat itu benar-benar terlihat yakin dengan kehidupan yang akan ia jalani nanti. Mungkin, keputusanku mengizinkannya tinggal di rumahku sangat tidak tepat, tapi aku berpikir bagaimana ia dapat hidup dengan aman di luar sana, walau ia gadis seberani apapun, bagiku dia tetaplah gadis kecil yang lemah dan menyebalkan. Tidak mungkin ia baik-baik saja tinggal di luar sana.
Aku membawanya ke kamar ibu. Seminggu ini aku tak pernah membuka kamar ini. Bagiku keberadaan ibu sudah hilang dari rumah ini, dan aku tak mau terlarut dalam kesedihan atas kepergian ibu. Gadis itu malah terlihat senang memasuki ke kamar ibu. Ia menatap ke sekeliling dengan wajah takjub. Mulutnya terbuka sedikit, pandangannya berputar ke sekeliling ruangan. Dasar gadis aneh. Apa yang istimewa dari kamar ini. Bukankah kamar ini hanya berisi satu tempat tidur single dan satu lemari pakaian, bahkan kamar ini tidak begitu luas. Aku benar-benar tidak mengerti dengannya.
Dia tidak berubah. Walau aku sudah melukainya, mungkin ia tidak akan pernah berubah. Ia tetap seperti dulu, tetap seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya, saat aku menganggapnya gadis kecil yang benar-benar menyebalkan. Walau aku bertemunya lagi dengan rasa bersalah, dia tetap tidak berubah. Itu benar-benar membuatku kesal.
“Kakak,”
“iya?”
“Nama kakak siapa? Sejak aku bertemu kakak waktu kecil, aku tidak pernah tahu nama kakak, kalau boleh aku tahu, siapa nama kakak?”
Benar juga. Aku tak pernah memberi tahu namaku sejak saat itu, aku takut ia mengenaliku. Aku benci ia menanyakan namaku, aku benar-benar tak mau ia mengenaliku dan mengingat semuanya. Ucapan ibu saat itu memang benar.
“Mengapa kau terus-menerus melukai orang yang kau sayangi?”
Ibu. Ya, sampai sekarang akupun belum mengetahui jawabannya. Mengapa? Mengapa aku selalu melakukan hal itu?
“Kakak? Apa aku boleh tahu?”
“Ah, ya? Itu...,”
Sial. Apa yang harus aku katakan? Aku tidak mungkin memberi tahu namaku. Ya, aku tidak akan memberi tahukannya.
“Panggil saja aku seperti kau memanggilku selama ini,”
“Memanggil kakak dengan ‘kakak’? Aku harus memanggilmu kakak? Tanpa tahu nama kakak?”
“ Ya, panggil saja aku ‘kakak’, kau tak perlu tahu namaku,”
“Kenapa?”
“Tidak apa, itu tidak terlalu penting,”
Benar-benar menyebalkan. Sekarang, akulah yang sepertinya terlihat bodoh. Menyuruhnya memanggilku kakak tanpa ia tahu namaku, bukankah itu benar-benar terlihat bahwa aku tidak mau ia mengenaliku. Menyebalkan.
Ia menatapku dengan heran. Aku hanya berdehem sambil meninggalkannya yang sedang menggumamkan sesuatu. Mungkin ia sedang menggumamkan kata ‘kakak’ berkali-kali. Mulutnya terlihat seperti orang yang sedang membaca mantra, terbuka, tertutup, terbuka, tertutup. Aneh, benar-benar aneh, tapi sayangnya, hal itu malah terlihat lucu dan manis dalam pandanganku. Sepertinya hari ini, aku sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar