Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Maret 2013

Sakura The Love without Name

III. No Name (Tokio’s Feeling)
Aku berdiri mematung menunggu jawaban Kazumi. Aku tahu dia pasti tidak akan menerima ini, tapi aku benar-benar harus menyelesaikan hubungan kami. Aku menatapnya pasti. Ucapanku tadi pasti membuatnya sangat terkejut. Wajahnya terlihat sedikit pucat, mungkin ia memang benar-benar terkejut. Dia tidak tahu, sebenarnya memutuskan hubungan kami, juga terasa berat bagiku. Sudah setahun kami berpacaran, tapi hatiku masih tidak berpaling dari Sakura, padahal aku sudah melukainya, dan harus membencinya. Aku jadi tidak dapat memahami perasaanku sendiri. Sekarang, Sakura berada di dekatku, ini jadi semakin sulit buatku.
Kazumi masih terdiam. Wajahnya malah terlihat semakin bingung. Mungkinkah ia tidak memperhatikan ucapanku tadi. Apa aku harus mengulangnya sekali lagi?
“Apa yang kau katakan tadi? Maaf aku tidak mendengarnya,”
Dugaanku tepat, dia memang terlalu terkejut. Aku harus mengulangi perkataanku. Sekarang, sepertinya akulah yang tidak sanggup mengatakannya. Ayolah Tokio, kau harus menetapkan hatimu!
“Kazumi, maaf, aku ingin mengakhiri hubungan kita,”
Ya Tuhan, maafkanlah aku. Lagi-lagi aku melukai seseorang yang kusayangi, tapi aku harus melakukan ini. Harus, tidak boleh tidak.
“Maksudmu kita putus?”
Kenapa dia tidak mengerti juga? Ah, ini benar-benar menyiksaku.
“Ya, seperti itulah, tapi tenang saja kita akan tetap menjadi teman, apa kau keberatan?”
“Teman? Kau mengakhiri hubungan kita begitu saja? Apa aku melakukan kesalahan?”
Kazumi, kau benar-benar sedang menyiksaku, ya? Kau tidak melakukan kesalahan apapun, sebaliknya, akulah yang telah membuat kesalahan terbesar. Mengizinkan Sakura tinggal di rumahku, itulah kesalahan terbesarku.
“Kazumi, kau tidak melakukan kesalahan apa pun, dan ini tidak ada hubungannya dengan apa yang telah kau lakukan,”
“Lalu, kenapa tiba-tiba kau memutuskan hal ini? Apa kau menyukai gadis lain?”
Deg. Ucapan Kazumi seakan menusukku. Padahal, sebelum kami jadian, aku sudah memberitahunya bahwa aku masih tidak dapat melupakan seseorang yang kusayangi.
“Apa kau bertemu dengannya? Dengan gadis yang tidak dapat kau lupakan itu?”
Apa-apaan ini, kenapa ia bisa mengetahui pikiranku? Ah, aku benar-benar merasa bersalah padanya. Kazumi, maafkanlah pria bodoh dihadapanmu ini.
“Ya, tebakanmu tepat, dia kembali kehidupanku, bahkan sangat dekat denganku,”
“Dekat? Dia datang ke Tokyo? Dan tinggal di sini?”
Bahkan lebih dekat dari yang kau bayangkan Kazumi. Dekat sekali, sampai aku merasa tersiksa karena harus berusaha membencinya.
“Tepatnya, dia tinggal di rumahku,”
Aku benci memberitahukan ini padamu.
“Di rumahmu? Maksudnya kalian tinggal serumah? Apa yang terjadi? Kenapa bisa begitu?”
Kazumi, ternyata kau benar-benar sedang menyiksaku. Apakah kau dapat memaafkanku jika aku menceritakan semuanya padamu?
“Ya, kami tinggal serumah, nenek yang merawatnya sudah tiada, rumahnya disita, jadi aku mengizinkannya tinggal di rumahku sampai ia dapat menyewa apartemen, aku benar-benar minta maaf padamu, Kazumi,”
“Lalu karena ia tinggal serumah denganmu, kau mau mengakhiri hubungan kita?”
“Kazumi, aku...,”
Ini adalah situasi yang ingin segera kulewati, tapi kenapa waktu terasa begitu lama. Aku tidak sanggup mengingat apa yang aku lakukan pada Sakura, dan aku tak dapat mengabaikannya begitu saja. Sekarang, aku harus memberitahu Kazumi tentang perasaanku pada Sakura. Ini benar-benar menyulitkan. Bukankah dengan cara ini, sama saja aku melukai Kazumi?
“Mengapa kau terus-menerus melukai orang yang kau sayangi?”
Aku melakukannya lagi, ibu, kenapa? Kenapa aku terus melukai orang-orang yang kusayangi? Waktu kecil aku melukai ayah, lalu Sakura dan kini aku melukai Kazumi. Kenapa aku terus seperti ini? Tapi, aku harus menyelesaikan ini, jika tidak, aku yakin Kazumi akan lebih terluka.
“Maaf Kazumi, aku takut akan melukaimu, aku takut kau akan menangis dihadapanku karena aku tidak dapat melupakan Sakura, aku takut kau tidak akan menerima jika aku berpaling pada Sakura, aku hanya tidak yakin dengan diriku sendiri, aku benar-benar pria bodoh, jadi jika kau marah padaku, marahi saja aku, kau campakan aku juga tidak apa-apa, aku akan menerima apapun yang akan kau lakukan,”
Kazumi, maafkanlah aku. Aku tetap menatap Kazumi dengan yakin. Aku memperhatikan wajahnnya yang kini tidak sepucat tadi. Wajahnya berubah lebih tenang, dan... TERSENYUM? Dia tersenyum? Kenapa? Apa ada yang aneh dengan perkataanku tadi?
“Haha- kau ini bicara apa? Aku mengerti perasaanmu pada Sakura, aku juga mengerti perasaanmu padaku, terima kasih jika kau melakukan ini agar aku tidak semakin terluka, tapi aku tahu perasaanmu pada Sakura lebih besar daripada perasaanmu padaku, jadi aku tidak akan marah padamu, aku juga tidak akan mencampakkanmu atau pura-pura tidak mengenalmu atau hal-hal bodoh lainnya, bukankah kau bilang kita tetap akan menjadi teman?”
“Ah, ya, kita tetap teman,”
“Ya, bagiku itu cukup, aku akan bahagia jika kau bahagia,”
Kazumi, kau gadis terbaik yang pernah kukenal. Kau sangat baik. Kebaikanmu itulah yang membuatku mau menerimamu sebagai orang yang mengisi hatiku setahun terakhir ini. Aku rasa, aku bukanlah pria yang pantas untukmu.
“Kau benar-benar baik,”
“Kau tidak perlu mengatakan hal itu, jika kau perlu bantuanku, aku akan selalu siap membantumu, kau mengerti?”
“Ya, aku pasti akan sangat membutuhkan pertolonganmu,”
“Tentu saja. Jadi, kau tidak perlu sungkan menceritakan masalahmu padaku, walaupun kita sudah putus, kita tetap teman,”
Wajahnya kembali ceria, walau terlihat sedikit dipaksakan. Kini, Kazumi tersenyum padaku, senyuman seorang teman, bukan lagi seorang kekasih. Aku tahu, mungkin saat ini, tersenyum adalah hal yang paling sulit ia lakukan, tapi ia melakukannya untuk menenangkan diriku. Ia selalu melakukannya, selalu tersenyum padaku seperti saat ini.
“Kazumi, ayo pulang, kau akan kuantar,”
“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, maaf, lain kali aku pasti terima ajakanmu itu, aku pulang dulu, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, ok?”
Aku membalas senyumannya. Ia membalikkan badannya, pergi meninggalkanku. Dari jauh, aku dapat melihat tubuhnya bergetar. Aku tahu ia pasti sedang menangis. Dia sengaja menahan air matanya agar aku tak melihatnya menangis. Benar-benar gadis baik, wanita yang paling baik. Aku masih menatapnya yang semakin jauh, tubuhnya masih terlihat bergetar. Ini pasti sangat berat untuknya, tapi aku yakin, gadis seperti Kazumi pasti tidak akan terus berada dalam kesedihan. Aku yakin, besok ia akan datang ke kantor dengan senyuman yang terkembang di bibirnya dan menyapa semua pegawai dengan ceria seperti biasanya. Kazumi, aku berharap kau dapat menemukan cintamu, yaitu pria yang lebih baik daripada aku dan lebih pantas bersamamu.
...
Ini hari terburuk. Aku benar-benar sial. Tadi, aku melukai Kazumi, dan membuatnya menangis, sekarang, saat aku sampai di rumah, Sakura gagal menyiapkan makan malam unntukku, dan malah mengatakan hal aneh. Ah, tapi aku sama sekali tidak bisa memarahinya, walau sikapnya membuatku pusing. Dia menyambut kedatanganku, menyuruhku memilih, mau mandi atau makan dulu, menyiapkan air untukku mandi, apa dia pikir kami ini pasangan pengantin baru? Tapi tingkahnya yang menyebalkan itu malah membuatku jantungku berdebar-debar. Ini aneh, dan aku benci ini. Aku harus selalu membencinya, karena aku telah melukainya, dan aku tidak ingin melukainya lagi, bahkan aku tidak ingin dia mengingat apa yang kulakukan padanya.
Sekarang, aku malah mengajaknya makan malam di restoran. Situasi yang sebenarnya ingin kuhindari. Aku dan dia duduk berseberangan sambil menikmati hidangan ditemani musik jazz dan gemerlap bintang dibalik jendela yang berada di samping tempat duduk kami. Ini terlihat seperti kami adalah sepasang kekasih. Padahal aku ingin melupakan perasaanku padanya, padahal aku ingin membencinya, tapi kenapa tidak bisa, kenapa dia kembali ke hadapanku saat aku merasa bahwa aku sudah mulai melupakannya. Ini benar-benar membuat perasaanku jadi aneh.
“Kakak, aku minta maaf, aku gagal lagi, maafkan aku ya,”
“Kau tidak perlu minta maaf, bukankah sudah kubilang kau tidak perlu melakukan apapun?”
“Tapi, tetap saja, aku merasa bersalah, gara-gara aku gagal menyiapkan makan malam, kakak jadi mengeluarkan uang untuk kita makan,”
“Haha- kau ini aneh sekali, aku yang mengizinkanmu tinggal di rumahku, itu berarti, aku jugalah yang bertanggung jawab atas keperluanmu, seperti makan dan kamar, paling tidak kau mendapatkan perlakuan yang layak di rumahku,”
“Tapi, aku sudah berjanji untuk tidak merepotkan kakak,”
“Ini tidak merepotkanku, hei! Jangan meremehkanku, ya, kalau hanya mentraktirmu makan malam, aku masih sanggup,”
“Bukan itu maksudku, aku sama sekali tidak berfikir untuk merendahkan kakak, aku hanya...,”
“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan, lebih baik kau makan sebelum makanannya dingin,”
Aku memang bodoh. Seharusnya aku memarahinya karena ia mengabaikan janjinya untuk tidak merepotkanku, tapi yang sekarang kulakukan malah membuatnya tersenyum dengan manisnya kepadaku. Aku bahkan mengajaknya makan malam dan tidak melakukan apa-apa padanya, bahkan merasa kesal atas kesalahannya saja tidak. Sepertinya, melupakan Sakura dan membencinya adalah hal yang paling sulit bagiku, tapi berusaha mencintai dan menyayanginya juga terasa sama sulitnya. Semoga saja ia tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadaku atau semoga saja ia menyukai pria lain selain aku, karena aku tidak berhak mencintainya setelah apa yang aku lakukan padanya.
“Kakak? Kakak menyuruhku makan, tapi kakak sendiri tidak memakan makanan kakak,”
Ah, benar juga, karena aku memikirkan perasanku padanya, aku tidak sadar bahwa aku hanya mengaduk-aduk makananku tanpa memakannya. Pasti ia merasa aneh dengan sikapku. Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Dari kecil, aku sudah berusaha melupakannya sejak kejadian itu, tapi ia kembali lagi ke hadapanku saat ibu memutuskan untuk pindah ke Kyoto, dan sekarang, setelah aku kembali ke Tokyo dan berusaha melupakannya ia kembali lagi ke kehidupanku untuk kedua kalinya. Tuhan, kenapa Engkau tidak memisahkan kami untuk selamanya saja, agar aku tidak dapat melupakan perasaanku padanya dan menguburnya dalam-dalam.
Aku menatap wajahnya yang sedang menikmati makanannya. Ia terlihat ceria. Aku juga harus memakan makananku agar ia tidak curiga dengan apa yang kupikirkan sekarang ini. Bukankah hari ini ia mencari pekerjaan? Wajahnya tampak ceria, dan tadi, ia pulang telat. Kupikir ia sudah menemukan pekerjaan yang tepat, atau ia hanya berpura-pura ceria di hadapanku? Aku harus memastikannya.
“Bagaimana hari ini?”
“Bagaimana? Tentang apa?”
“Maksudku, apakah kau mendapat pekerjaan yang kau butuhkan?”
“Ah, iya, benar juga, aku belum menceritakannya pada kakak, aku berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah mini market, dan kakak tahu, mini market itu adalah milik perusahaan Keizo, perusahaan terbesar kelima di Jepang, bukankah itu hebat, kak?”
Perusahaan Keizo? Sepertinya aku pernah dengar. Perusahaan terbesar kelima se-Jepang, kalau tidak salah presdirnya, Matsumoto Keizo, sudah digantikan oleh anaknya, pewaris tunggal Keizo Group. Sepertinya perusahaan itu juga menaruh saham di perusahaan tempat kerjaku. Aku yakin, Kazumi sebagai seorang sekretaris perusahaan kami, pasti mengenal presdir perusahaan Keizo yang baru itu.
“Ya, itu hebat, perusahaan itu juga menaruh saham di perusahaan tempatku bekerja,”
“Benarkah? Apa kakak mengenal presdirnya?”
“Ah, tidak, mungkin temanku mengenalnya,”
“Kakak pasti akan terkejut melihat presdir,”
“Terkejut? Kenapa aku harus terkejut melihat presdir perusahaan Keizo, bukan karena ia kaya, maka aku akan terkejut, kan?”
“Maksudku bukan karena ia kaya kakak harus tekejut,”
“Lalu?”
Aku menatapnya heran.
“Karena ia pria yang sangat ramah, ia juga masih muda, mungkin seumuran dengan kakak, dan aku rasa, dia cukup tampan,”
Tampan? Dia mengatakan bahwa pria itu tampan? Tunggu, kenapa sepertinya aku merasa kesal? Seharusnya aku merasa senang, karena sepertinya dia akan menyukai pria itu, dan aku akan mudah untuk melupakan perasaanku padanya, tapi mengapa sekarang aku merasa kesal mendengar dia memuji pria lain? Ini benar-benar aneh. Aku jadi semakin tidak memahami diriku sendiri.
“Apa kau menyukainya?”
Sial. Kenapa aku malah menanyakan hal itu padanya? Bukankah itu terdengar seperti aku cemburu pada pria itu? Akh, aku benar-benar bodoh. Dengan melihat wajahnya saja, aku tahu pasti ia merasa heran dan terkejut dengan apa yang tadi aku tanyakan.
“Apa kakak sedang bercanda? Aku baru bertemunya pertama kali, tidak mungkin aku langsung menyukainya, ya, walaupun aku mengatakan kalau ia ramah dan tampan, tapi itu tidak mungkin, kan?”
Benar, tidak mungkin ia langsung menyukainya. Aku merasa sedikit lega. Lega? Kenapa aku harus merasa lega? Ah, ini menyebalkan.
“Kakak sendiri bagaimana?”
Hah? Bagaimana? Apa yang ia ingin tanyakan sebenarnya? Jantungku jadi berdegup cepat sekali. Tidak mungkin kan, ia menanyakan perasaanku padanya, dan aku juga tidak akan mungkin memberitahukan semua yang kulakukan padanya.
“Apa kakak menyukai seorang gadis di kantor?”
Deg. Pertanyaan itu tidak bisa aku jawab. Bagaimana kalau kubilang ada? Apakah ia akan terluka dan kecewa? Dan bagaimana jika kujawab tidak ada? Apakah ia akan mulai menyukaiku? Tapi aku tidak mau ia menyukaiku dan aku juga tidak mau ia terluka lagi karenaku. Aku tidak bisa menjawabnya, aku tidak bisa memilih salah satu dari jawaban itu. Rasanya, aku jadi semakin kesal. Aku ingin segera mengakhiri pembicaraan ini, pulang, lalu tidur sampai besok dan melupakan semua yang terjadi hari ini.
“ Tidak perlu dibahas, itu bukan urusanmu,”
...
Aku menghela nafas. Aku melakukannya lagi, aku mengatakan hal yang melukainya, itu sudah pasti. Sakura sama sekali tidak mengatakan apapun sejak aku menolak menjawab pertanyaannya tentang orang yang kusukai. Ia pasti sangat terkejut, dan aku harap itu dapat membuatnya membenciku, walau aku tidak mau itu terjadi.
Sakura bahkan tidak melingkarkan tangannya di pinggangku, padahal aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Dia tidak mengingatkanku untuk mengurangi kecepatan, ia diam seribu bahasa. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, tapi aku yakin ia pasti sangat terkejut atas jawabanku tadi. Aku mendapatkan wajahnya berubah pucat beberapa saat setelah aku mengatakan hal itu. Aku merasa sepertinya aku menjadi orang yang paling jahat sedunia. Aku jadi merasa bersalah padanya.
Aku menghentikan motor tepat di depan rumah, Sakura segera turun dari motor. Sepanjang perjalanan pulang tadi, dia benar-benar tidak bicara sepatah kata pun. Apa dia benar-benar tidak ingin bicara denganku lagi?
“Kakak,”
Suara Sakura menghancurkan prasangku. Aku menoleh padanya dengan wajah yang tetap tenang, padahal, harusnya aku menatapnya dengan wajah bersalah, tapi aku tidak dapat menunjukkan wajah seperti itu padanya.
“Maafkan aku jika mencampuri urusan kakak, aku tidak bermaksud begitu, kak,”
Ia meminta maaf padaku, padahal seharusnya akulah yang meminta maaf. Ini benar-benar aneh. Ia membuatku semakin merasa bersalah. Sekarang, aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya, bahkan, aku masih bisa bersikap tenang dan seperti tidak merasa bersalah. Ini menyebalkan. Sakura membuat pikiranku berputar-putar.
“Kau tidak perlu minta maaf,”
Hanya itu yang dapat keluar dari mulutku. Aku ini benar-benar jahat. Sakura tersenyum padaku. Aku semakin tidak mengerti. Setelah apa yang kukatakan padanya tadi, ia masih bisa tersenyum kepadaku? Ini tidak masuk akal.
“Kakak, apa aku benar-benar tidak boleh tahu nama kakak?”
Aku hanya terdiam mendengarnya. Aku menatapnya yang menunggu jawabanku. Wajahnya benar-benar manis. Kalau aku bisa memberitahunya siapa aku sebenarnya, pasti akan kulakukan, sayangnya, aku benar-benar tidak sanggup memberitahukannya.
“Ya, kau tidak perlu tahu, bagiku kau memanggilku ‘kakak’ juga tidak masalah,”
“Apa kakak tidak punya nama? Apa aku boleh memanggil kakak dengan sebutan ‘kakak tanpa nama’?”
Kini, aku menahan tawa mendengar perkataanya tadi. Apa yang ia pikirkan? Kenapa bisa-bisanya ia mau memanggilku dengan nama sekonyol itu? Kakak tanpa nama, kedengarannya aneh sekali.
“Kau ini ada-ada saja, aku tidak akan mengizinkanmu memanggilku dengan nama sekonyol itu, tidak akan pernah kuizinkan,”
“Tapi, aku kan tidak tahu nama kakak,”
“Sudah kubilang panggil saja aku ‘kakak’, itu terdengar lebih baik daripada kau tambahkan ‘tanpa nama’ di belakangnya, kau ini aneh sekali, haha-”
Aku tidak dapat menahan tawaku lagi. Ini konyol. Dia itu gadis aneh dan lucu. Dia membuatku tertawa terbahak-bahak.
Wajah Sakura merengut kesal. Tawaku bukannya reda, malah semakin keras. Dia ini aneh sekali. Melihatku terus tertawa, wajahnya menjadi semakin kesal. Berkali-kali dia memintaku menghentikan tawaku, tapi aku malah tertawa semakin keras. Aku rasa, mungkin hari ini tidak terlalu buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar